Membangun Peradaban Berkeadilan

Naskah_Kuno – Babad Limbangan
Naskah_Kuno – Babad Limbangan

Kecamatan : Garut Kota

Nama pemegang naskah : R. Sulaeman Anggapradja
Tempat naskah : Jln Ciledug 225 Kel. Kota Kulon. Kec Garut Kota
Asal naskah : warisan
Ukuran naskah : 20.5 x 32 cm
Ruang tulisan : 17 x 17 cm
Keadaan naskah : baik
Tebal naskah : 16 Halaman
Jumlah baris per halaman : 39 baris
Jumlah baris halaman awal dan akhir : 39 dan 23 baris
Huruf : Latin
Ukuran huruf : sedang
Warna tinta : hitam
Bekas pena : agak tajam
Pemakaian tanda baca : ada
Kejelasan tulisan : jelas
Bahan naskah : kertas bergaris ukuran folio
Cap kertas : tidak ada
Warna kertas : putih
Keadaan kertas : agak tebal, halus
Cara penulisan : timbal balik
Bentuk karangan : puisi

Ringkasan isi :
Pada zaman dahulu kala Prabu Layaran Wangi (Prabu Siliwangi) dari kerajaan Pakuan Raharja mempunyai seorang pembantu bernama Aki Panyumpit. Setiap hari Aki Panyumpit diberi tugas berburu binatang dengan menggunakan alat sumpit (panah) dan busur.

Pada suatu hari Aki Panyumpit pergi berburu ke arah Timur. Sampai tengah hari ia belum memperoleh hasil buruannya, padahal telah banyak bukit dan gunung didaki. Sesampainya di puncak gunung, ia mencium wewangian dan melihat sesuatu yang bersinar di sebelah Utara pinggir sungai Cipancar. Ternyata harum wewangian dan sinar itu keluar dari badan seorang putrid yang sedang mandi serta mengaku putra Sunan Rumenggong, yaitu Putri Rambut Kasih penguasa daerah Limbangan.
Peristiwa pertemuan dengan Nyi Putri dari Limbangan dikisahkan oleh Aki Panyumpit kepada Prabu Layaran Wangi. Berdasarkan peristiwa itu Prabu Layaran Wangi menamai gunung itu Gunung Haruman (haruman = wangi). Prabu Layaran Wangi bermaksud memperistri putrid dari Limbangan. Ia mengirimkan Gajah Manggala dan Arya Gajah (keduanya pembesar Pakuan Raharja).

Aki Panyumpit serta sejumlah pengiring bersenjata lengkap untuk meminang putri tersebut dengan pesan lamaran itu harus berhasil dan jangan kembali sebelum berhasil. Kendatipun pada awalnya Nyi Putri menolak lamaran tetapi setelah berhasil dinasehati Sunan Rumenggong, ayahnya, akhirnya menerima dijadikan istri oleh Prabu Layaran Wangi.
Selang 10 tahun antaranya, Nyi Putri (Rambut Kasih) mempunyai dua orang putra dari Raja Pakuan Raharja, yaitu Basudewa dan Liman Senjaya. Kedua anak itu dibawa ke Limbangan oleh Sunan Rumenggong (kakeknya) dan kemudian dijadikan kepala daerah di sana. Basudewa menjadi penguasa Limbangan dengan gelar Prabu Basudewa dan Liman Senjaya penguasa daerah Dayeuh Luhur di sebelah Selatan dengan gelar Preabu Liman Senjaya.

Di kemudian hari Prabu Liman Senjaya setelah beristri membuka tanah, membuat babakan pidayeuheun (kota) dan lama kelamaan dibangun sebuha Negara dengan nama Dayeuh Manggung. Negara baru ini bisa berkembang sehingga dikenal baik oleh tetangga-tetangganya, seperti Sangiang Mayok, Tibanganten, Mandalaputang. Dayeuh Manggung terkenal karena keahlian dalam membuat tenunan. Rajanya yang lain yang termashur adalah Sunan Ranggalawe.
Diposkan oleh BLOG@ERYC90′s di 19:37 0 komentar
Label: Naskah_Kuno – Babad Limbangan
Naskah_Kuno – Suryaningrat
Naskah_Kuno – Suryaningrat

Kecamatan : Balubur Limbangan

Nama pemegang naskah : Duki bin Saleh
Tempat naskah : Desa Cigagade
Asal naskah : salinan
Ukuran naskah : 17 x 22 cm
Ruang tulisan : 14 x 18 cm
Keadaan naskah : baik
Tebal naskah : 269 Halaman
Jumlah baris per halaman : 13 baris
Jumlah baris halaman awal dan akhir : 12 dan 10 baris
Huruf : Arab/Pegon
Ukuran huruf : sedang
Warna tinta : hitam
Bekas pena : agak tajam
Pemakaian tanda baca : ada
Kejelasan tulisan : jelas
Bahan naskah : kertas bergaris
Cap kertas : tidak ada
Warna kertas : putih kekuning-kuningan
Keadaan kertas : tipis halus
Cara penulisan : timbal balik
Bentuk karangan : puisi

Ringkasan isi :
Tersebutlah sebuah kerajaan yang bernama Banurungsit. Kerajaan itu diperintah oleh seorang raja bernama Suryanagara. Ia mempunyai seorang putra bernama Suryaningrat. Suryaningrat beristri Ningrumkusumah, putra patih. Setelah Raja Suryanagara meninggal, Raden Suryaningrat diangkat menjadi raja. Ternyata pengangkatan tersebut tidak dikehendaki oleh Raja Duryan. Kerajaan Banurungsit diserang Raja Duryan yang mendapat dukungan rakyat Banurungsit. Dalam peperangan yang terjadi Suryaningrat kalah, lalu ditangkap dan dipenjarakan sedangkan istrinya, Ningrumkusumah dipaksa untuk menjadi istri raja Duryan.

Dengan menggunakan ilmu sirep, Ningrumkusumah berhasil membebaskan suaminya. Kemudian mereka melarikan diri ke hutan. Mereka terus berkelana sampai akhirnya tiba di wilayah negara Durselam. Ketika sedang mandi di sebuah Taman yang indah, Ningrumkusumah dilihat patih Indra Bumi yang ditugaskan oleh raja Durselam mencarikan wanita cantik untuk dijadikan istrinya. Dalam perjalanan menuju ibukota Durselam, Suryaningrat ditenggelamkan ke dalam sungai oleh Demang Langlaung. Meskipun suaminya Suryaningrat telah tenggelam dibawa arus sungai, Ningrumkusumah mencari suaminya menyusuri sungai. Dalam perjalanan mencari suaminya, Ningrumkusumah mendapat keris pusaka bernama Bantal Nogar dari seorang pertapa berasal dari tanah Arab yang bernama Syeh Rukman. Menurut petunjuk pertapa untuk dapat bertemu kembali dengan suami, Ningrumkusumah harus menyamar menjadi seorang laki-laki dengan nama Raden Rukmantara. Raden Rukmantara terlibat perang dengan pasukan Duryan yang menguasai Banurungsit. Raja Duryan sedang mencari Raden Suryaningrat dan Ningrumkusumah. Dalam perang tersebut Raden Rukmantara menang.

Raden Rukmantara melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan ia sempat ke Negara Erum yang diperintah oleh Sri Amangkurat. Raja ini mempunyai seorang putri cantik bernama Ratna Wulan. Ratna Wulan jatuh cinta kepada Raden Rukmantara yang tidak mengetahui bahwa sebetulnya orang itu adalah wanita. Raden Rukmantara pura-pura mau. Akhirnya mereka menikah. Raden Rukmantara diangkat menjadi raja negara Erum.

Prabu Kandi, raja negara Esam, yang ditolak lamarannya oleh putri Ratna Wulan menantang perang kepada negara Erum. Raden Rukmantara berhasil mengalahkan Prabu Kandi berkat tuah senjata pemberian Syeh Rukman. Prabu Kandi sendiri yang telah dikalahkan oleh Rukmantara dipaksa untuk menganut agama Islam.

Raden Suryaningrat yang hanyut di sungai telah sampai ke sebuah puli Peri yang dikuasai oleh Naga Giri. Raden Suryaningrat dapat meninggalkan Nusa Ipri dan sampailah ke negara Erum. Raden Rukmantara alias putri Ningrumkusumah yang sedang mencari suaminya membuat sayembara di negara Erum dengan memasang gambarnya yang sedang menangisi Raden Suryaningrat. Barangsiapa yang melihat gambarnya yang sedang menangis harus membawanya ke istana. Melalui gambar tersebut Raden Suryaningrat dapat bertemu kembali dengan istrinya, Ningrumkusumah. Selanjutnya Ratna Wulan dijadikan istri kedua oleh Raden Suryaningrat.

Ringkas cerita,setelah semua musuh dapat dikalahkan dan mereka diampuni bahkan diangkat menjadi senapati di negara asal masing-masing, Raden Suryaningrat dengan istrinya hidup tentram di negara Banurungsit.
Diposkan oleh BLOG@ERYC90′s di 19:36 0 komentar
Label: Naskah_Kuno – Suryaningrat
Naskah_Kuno – Batara Kala
Naskah_Kuno – Batara Kala

Kecamatan : Sukawening

Nama Pemegang naskah : Adang
Tempat naskah : Kp. Cieunteung Desa Mekarluyu
Asal naskah : warisan
Ukuran naskah : 17 x 22 cm
Ruang tulisan : 13 x 16 cm
Keadaan naskah : tidak utuh
Tebal naskah : 32 Halaman
Jumlah baris per halaman : 14 baris
Jumlah baris halaman awal dan akhir : -
Huruf : Arab/Pegon
Ukuran huruf : sedang
Warna tinta : hitam
Bekas pena : tumpul
Pemakaian tanda baca : ada
Kejelasan tulisan : jelas
Bahan naskah : kertas tidak bergaris
Cap kertas : tidak ada
Warna kertas : kecoklat-coklatan
Keadaan kertas : tipis agak halus
Cara penulisan : timbal balik
Bentuk karangan : puisi

Ringkasan Isi :
Keadaan di Sorgaloka kacau balau akibat ulah seorang putri di bumi bernama Dewi Tanara melakukan Tapabrata di Gunung Marabu. Dewi Tanara ingin bersuamikan seseorang yang suka disembah tetapi tidak diberi kewajiban untuk menyembah. Turunlah Batara Guru dari Sorgaloka karena merasa bahwa dirinyalah yang dimaksudkan oleh Dewi Tanara.

Batara Guru berubah wujud menjadi seorang raksasa ketika mengejar-ngejar Dewi Tanara karena melihat paha Dewi Tanara raksasa terjatuh dan meneteskan sperma sehingga jatuh ke tanah. Raksasa sadar bahwa ia adalah Batara Guru dan berjanji tidak akan mengejar-ngejar lagi asal wujudnya dikembalikan ke wujud semula. Saat itu juga Batara Guru kembali dari wujud raksasa ke wujud semula. Kemudian Batara Guru pulang ke Sorgaloka sedangkan Dewi Tanara kembali ke negrinya. Keadaan di Sorgaloka kembali tenteram, Batara Narada disuruh Batara Guru untuk mengamankan spermanya yang jatuh ke tanah, akan tetapi setelah sperma itu dibuang ke laut malah menjelma menjadi seorang raksasa yang bernama Batara Kala.

Batara Kala diberitahu oleh Semar bahwa Batara Guru adalah ayahnya. Pergilah Batara Kala ke negeri Sorgaloka menjumpai Batara Guru dan minta makanan dari jenis daging manusia. Batara Guru mengabulkan permintaannya dengan syarat hanya beberapa dari jenis daging manusia diantaranya ialah orang yang berstatus anak tunggal, orang yang berstatus kadana kadini ( hanya bersaudara kakak beradik laki-laki dan perempuan atau perempuan dan laki-laki ), orang yang berstatus nanggung bugang (kakak dan adik meninggal dunia), orang yang berstatus anak mungku (hanya tiga bersaudara dua perempuan satu laki-laki atau sebaliknya), orang-oarang yang dilahirkan pada waktu malam hari, orang-orang yang bepergian pada waktu maghrib, akan tetapi batara Guru memberikan larangan bahwa orang yang sedang berada di arena pagelaran wayang, tidak boleh dimakan.
Orang-orang di bumi kalang kabut, takut kepada Batara Kala, Batara Guru bingung memikirkan nasib manusia di bumi yang ketakutan kepada Batara Kala dan mungkin akan habis dimakan olehnya. Maka turunlah Batara Guru dengan rombongannya ke bumi menyamar menjadi kelompok penabuh wayang. Batara Guru sendiri menjadi dalangnya, dengan sebutan dayang Longlongan.
Diposkan oleh BLOG@ERYC90′s di 19:35 1 komentar
Naskah_Kuno – Kitab Etangan
Naskah_Kuno – Kitab Etangan

Kecamatan : Sukawening

Nama pemegang naskah : Adang
Tempat naskah : Kp. Cieunteung Desa Mekarluyu
Asal naskah : warisan
Ukuran naskah : 17 x 21 cm
Ruang tulisan : 14 x 18 cm
Keadaan naskah : sebagian rusak
Tebal naskah : 20 Halaman
Jumlah baris per halaman : 13 baris
Jumlah baris halaman awal dan akhir : 12 dan 13 baris
Huruf : Arab/Pegon
Ukuran huruf : besar
Warna tinta : hitam
Bekas pena : tumpul
Pemakaian tanda baca : ada
Kejelasan tulisan : jelas
Bahan naskah : kertas tidak bergaris
Cap kertas : tidak ada
Warna kertas : kuning kecoklat-coklatan
Keadaan kertas : tebal, keras, halus
Cara penulisan : timbal balik
Bentuk karangan : prosa dan prosa liris

Ringkasan isi :
Naskah kitab etangan dipergunakan sebagai sumber petunjuk apabila hendak melakukan suatu pekerjaan, baik pekerjaan yang berhubungan dengan pertanian maupun dengan urusan bepergian, perjodohan serta urusan-urusan lainnya. Pemegang naskah khususnya, serta sebagian masyarakat sekitar pada umumnya banyak mempercayai akan kebenaran petunjuk kitab itu. Oleh karena itu kitab tersebut sangat dipusti-pusti.
Hal-hal yang terkandung didalamnya adalah :
1.Tentang waktu bulan dan hari, hala yang berhubungan dengan waktu naas ( sial ) dan kejayaan atau keberhasilan atas sesuatu. Perhitungannya dilakukan pada awal atao sebelum pekerjaan mulai.
2.Jampe ( jampi ), jangjawokan ( mantra ), dan do?a.
3.Beberapa table yang berisikan tentang pernasiban, baik dan buruk.
Diposkan oleh BLOG@ERYC90′s di 19:34 0 komentar
Naskah_Kuno – Suryakanta
Ringkasan isi:
Adalah sebuah kerajaan Tanjung Karoban Bagendir yang jauhnya dari kerajaan Banurungsit tujuh bulan perjalanan. Raja Tanjung Karoban Bagendir bernama Dengali dengan patihnya Dungala yang kedua-duanya siluman. Raja Dengali mempunyai istri dua orang, Kala Andayang dan Kala Jahar. Pada suatu hari Raja Dengali didatangi oleh Emban Turga, Emban melaporkan bahwa kerajaan Nusantara baru saja dikalahkan oleh Raden Suryaningrat dari kerajaan Erum. Emban Turka terpikat oleh ketampanan dan kegagahan Raden Suryaningrat. Tatkala ia menyatakan cintanya ,serta merta ditolak oleh Raden Suryaningrat, bahkan Emban Turga diusir. Emban Turga mohon bantuan Raja Dengali agar memperoleh Raden Suryanigrat untuk dijadikan suami. Raja Dengali menjanjikan akan membantu menangkap Raden Suryaningrat. Ia menyuruh seorang raksasa untuk mencuri putra mahkotanya bernama Suryakanta. Raden Suryakanta dapat diculik ketika sedang bermain ditaman. Maka hebohlah kerajaan Erum dan Nusantara karena kehilangan putra mahkota. Istri raja yang bernama Ningrumkusumah diusir karena dianggap dialah yang menjadi sebab hilangnya Raden Suryakanta. Ningrumkusumah pergi tanpa tujuan. Dalam perjalanannya ia sampai ke tempat pertapaan Pandita Syeh Rukmin,yang memberitahu bahwa ia telah difitnah oleh seseorang yang bernama Jamawati.
Untuk membalas dendam kepada yang memfitnah dan mendapatkan kembali Raden Suryakanta yang diculik atas perintah Raja Dengali, Ningrumkusumah harus berganti nama menjadi Jaya Komara Diningrat atau Jaya Lalana Di Ningrat. menyamar seolah-olah menjadi laki-laki.

Ningrumkusumah alias Jaya Komara dapat membunuh Raja Dengali dan Emban Turga. Tetapi untuk menemukan kembali Raden Suryakanta,ia harus mengalami bermacam-macam kesengsaraan dan peperangan. Dalam peperangan yang terjadi, Ningrukusumah selalu menang. Di setiap negara yang dikalahkannya, raja dan pemeluknya diharuskan memeluk agama Islam, diantaranya kerajaan Yunan, Turki, Raja Bahrain, Raja Gosman. Prabu Suryaningrat sepeninggalan Ningrumkusumah jatuh sakit. Ia selalu teringat kepada istrinya dan menyesali kepergiannya. Ditambah lagi putra kesayangannya Suryakanta belum ditemukan juga. Ia tidak menyangka bahwa Ningrumkusumah telah difitnah oleh Jamawati, istrinya yang lain.

Lama-kelamaan Raja Suryaningrat mengetahui dari seorang mentri bahwa Jamawati lah yang telah memfitnah Ningrumkusumah. Raden Suryaningrat sangat marah kepada Jamawati dan terbukalah bahwa yang telah mencuri Suryakanta adalah Raja Dengali atas permintaan Emban Turga.

Raden Suryaningrat menantang perang kepada Raja Dengali dari Kerajaan Tanjung Karoban Bagendir. Berkat kegagahan Ningrumkusumah dan Ratna Wulan (keduanya istri Raden Suryaningrat), Dengali dikalahkan dan Suryakanta kembali.
Diposkan oleh BLOG@ERYC90′s di 19:32 0 komentar
IMAM JA’FAR ASH-SHADIEQ
Ja’far ash-Shadiq

Imam Syi’ah
Dua Belas Imam

——————————————————————————–

Ali bin Abi Thalib

Hasan al-Mujtaba

Husain asy-Syahid

Ali Zainal Abidin

Muhammad al-Baqir

Ja’far ash-Shadiq

Musa al-Kadzim

Ali ar-Ridha

Muhammad al-Jawad

Ali al-Hadi

Hasan al-Asykari

Muhammad al-Mahdi

——————————————————————————–

Ja’far ash-Shadiq (Bahasa Arab: جعفر الصادق), nama lengkapnya adalah Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abu Thalib, adalah Imam ke-6 dalam tradisi Islam Syi’ah. Ia lahir di Madinah pada tanggal 17 Rabiul Awwal 83 Hijriyah / 20 April 702 Masehi (M), dan meninggal pada tanggal 25 Syawal 148 Hijriyah / 13 Desember 765 M. Ja’far yang juga dikenal dengan julukan Abu Abdillah dimakamkan di Pekuburan Baqi’, Madinah. Ia merupakan ahli ilmu agama dan ahli hukum Islam (fiqih). Aturan-aturan yang dikeluarkannya menjadi dasar utama bagi mazhab Ja’fari atau Dua Belas Imam; ia pun dihormati dan menjadi guru bagi kalangan Sunni karena riwayat yang menyatakan bahwa ia menjadi guru bagi Abu Hanifah (pendiri Mazhab Hanafi) dan Malik bin Anas (pendiri Mazhab Maliki). Perbedaan tentang siapa yang menjadi Imam setelahnya menjadikan mazhab Ismailiyah berbeda pandangan dengan mazhab Dua Belas Imam.

Daftar isi
1 Kelahiran dan kehidupan keluarga
1.1 Kelahiran
1.2 Keluarga
1.3 Keturunan
1.3.1 Anak laki-laki
1.3.2 Anak perempuan
1.4 Kehidupan awal
1.5 Meninggalnya
2 Masa keimaman
3 Perkembangan Mazhab Dua Belas Imam
3.1 Perkembangan pesat Mazhab Dua Belas Imam
3.2 Murid-murid Ja’far ash-Shadiq
3.3 Sasaran dari khalifah yang berkuasa
3.4 Penangkapannya
4 Riwayat mengenai Ja’far ash-Shadiq
4.1 Dari Malik bin Anas
4.2 Dari Abu Hanifah
4.3 Imam Ja’far ash-Shadiq sering berkata
5 Referensi
6 Pranala Luar
7 Anekdot

Kelahiran dan kehidupan keluarga

Kelahiran
Ia dilahirkan di Madinah pada tanggal 17 Rabiul Awwal 83 Hijriyah atau kurang lebih pada tanggal 20 April 702 Masehi. Ia merupakan anak sulung dari Muhammad al-Baqir, sedangkan ibunya bernama Fatimah (beberapa riwayat menyatakan Ummu Farwah) binti al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar. Melalui garis ibu, ia dua kali merupakan keturunan Abu Bakar, karena al-Qasim menikahi putri pamannya, Abdullah bin Abu Bakar. Ia dilahirkan pada masa pemerintahan Abdul-Malik bin Marwan, dari Bani Umayyah.

Keluarga
Ia memiliki saudara satu ibu yang bernama Abdullah bin Muhammad. Sedangkan saudara lainnya yang berlainan ibu adalah Ibrahim dan Ubaydullah yang beribukan Umm Hakim binti Asid bin al-Mughirah. Ali dan Zaynab beribukan wanita hamba sahaya, dan Umm Salamah yang beribukan wanita hamba pula.

Keturunan

Anak laki-laki
Isma’il bin Ja’far (Imam ke-7 menurut Ismailiyah)
Abdullah al-Afthah bin Ja’far
Musa bin Ja’far (Imam ke-7 menurut Dua Belas Imam)
Ishaq bin Ja’far
Muhammad al-Dhibbaja bin Ja’far
Abbas bin Ja’far
Ali bin Ja’far

Anak perempuan
Fatimah binti Ja’far
Asma binti Ja’far
Ummu Farwah binti Ja’far

Kehidupan awal
Sejak kecil hingga berusia sembilan belas tahun, ia dididik langsung oleh ayahnya. Setelah kepergian ayahnya yang syahid pada tahun 114 H, ia menggantikan posisi ayahnya sebagai Imam bagi kalangan Muslim Syi’ah.

Pada masa remajanya, Ja’far ash-Shadiq, turut menyaksikan kejahatan dinasti Bani Umayyah seperti Al-Walid I (86-89 H) dan Sulaiman (96-99 H). Kedua-dua bersaudara inilah yang terlibat dalam konspirasi untuk meracuni Ali Zainal Abidin, pada tahun 95 Hijriyah. Saat itu Ja’far ash-Shadiq baru berusia kira-kira 12 tahun. Ia juga dapat menyaksikan keadilan Umar II (99-101 H). Pada masa remajanya Ja’far ash-Shadiq menyaksikan puncak kekuasaan dan kejatuhan dari Bani Umayyah.

Meninggalnya
Ia meninggal pada tanggal 25 Syawal 148 Hijriyah atau kurang lebih pada tanggal 4 Desember 765 Masehi di Madinah, menurut riwayat dari kalangan Syi’ah, dengan diracun atas perintah Khalifah Mansur al-Dawaliki dari Bani Abbasiyah.

Mendengar berita meninggalnya Ja’far ash-Shadiq, Al-Mansur menulis surat kepada gubernur Madinah, memerintahkannya untuk pergi ke rumah Imam dengan dalih menyatakan belasungkawa kepada keluarganya, meminta pesan-pesan Imam dan wasiatnya serta membacanya. Siapapun yang dipilih oleh Imam sebagai pewaris dan penerus harus dipenggal kepalanya seketika. Tentunya tujuan Al-Mansur adalah untuk mengakhiri seluruh masalah keimaman dan aspirasi kaum Syi’ah. Ketika gubernur Madinah melaksanakan perintah tersebut dan membacakan pesan terakhir dan wasiatnya, ia mengetahui bahwa Imam telah memilih empat orang dan bukan satu orang untuk melaksanakan amanat dan wasiatnya yang terakhir; yaitu khalifah sendiri, gubernur Madinah, Abdullah Aftah putranya yang sulung, dan Musa al-Kadzim putranya yang bungsu. Dengan demikian rencana Al-Mansur menjadi gagal.

Ia dimakamkan di pekuburan Baqi’, Madinah, berdekatan dengan Hasan bin Ali, Ali Zainal Abidin, dan ayahnya Muhammad al-Baqir.

Masa keimaman
Situasi politik di zaman itu sangat menguntungkannya, sebab di saat itu terjadi pergolakan politik di antara dua kelompok yaitu Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah yang saling berebut kekuasaan. Dalam situasi politik yang labil inilah Ja’far ash-Shadiq mampu menyebarkan dakwah Islam dengan lebih leluasa. Dakwah yang dilakukannya meluas ke segenap penjuru, sehingga digambarkan muridnya berjumlah empat ribu orang, yang terdiri dari para ulama, para ahli hukum dan bidang lainnya seperti, Abu Musa Jabir Ibn Hayyan, di Eropa dikenal dengan nama Geber, seorang ahli matematika dan kimia, Hisyam bin al-Hakam, Mu’min Thaq seorang ulama yang disegani, serta berbagai ulama Sunni seperti Sofyan ats-Tsauri, Abu Hanifah (pendiri Mazhab Hanafi), al-Qodi As-Sukuni, Malik bin Anas (pendiri Mazhab Maliki) dan lain-lain.

Di zaman Imam Ja’far, terjadi pergolakan politik dimana rakyat sudah jenuh berada di bawah kekuasaan Bani Umayyah dan muak melihat kekejaman dan penindasan yang mereka lakukan selama ini. Situasi yang kacau dan pemerintahan yang mulai goyah dimanfaatkan oleh Bani Abbasiyah yang juga berambisi kepada kekuasaan. Kemudian mereka berkampanye dengan berkedok sebagai “para penuntut balas dari Bani Hasyim”.

Bani Umayyah akhirnya tumbang dan Bani Abbasiyah mulai membuka kedoknya serta merebut kekuasaan dari Bani Umayyah. Kejatuhan Bani Umayyah serta munculnya Bani Abbasiyah membawa babak baru dalam sejarah. Selang beberapa waktu, ternyata Bani Abbasiyah memusuhi Ahlul Bait dan membunuh pengikutnya. Imam Ja’far juga tidak luput dari sasaran pembunuhan. Pada 25 Syawal 148 H, Al-Mansur membuat Imam syahid dengan meracunnya.

“Imam Ja’far bin Muhammad, putra Imam kelima, lahir pada tahun 83 H/702 M. Dia wafat pada tahun 148 H/757 M, dan menurut riwayat kalangan Syi’ah diracun dan dibunuh karena intrik Al-Mansur, khalifah Bani Abbasiyah. Setelah ayahnya wafat dia menjadi Imam keenam atas titah Illahi dan fatwa para pendahulunya.” [1]

Perkembangan Mazhab Dua Belas Imam

Perkembangan pesat Mazhab Dua Belas Imam
Selama masa keimaman Ja’far ash-Shadiq inilah, mazhab Syi’ah Dua Belas Imam atau dikenal juga Imamiah mengalami kesempatan yang lebih besar dan iklim yang menguntungkan baginya untuk mengembangkan ajaran-ajaran agama. Ini dimungkinkan akibat pergolakan di berbagai negeri Islam, terutama bangkitnya kaum Muswaddah untuk menggulingkan kekhalifahan Bani Umayyah, dan perang berdarah yang akhirnya membawa keruntuhan dan kemusnahan Bani Umayyah. Kesempatan yang lebih besar bagi ajaran Syi’ah juga merupakan hasil dari landasan yang menguntungkan, yang diciptakan Imam ke-5 selama 20 tahun masa keimamannya melalui pengembangan ajaran Islam yang benar dan pengetahuan Ahlul Bait. Sampai sekarang pun mazhab Syi’ah Imamiah juga dikenal dengan mazhab Ja’fari.

Murid-murid Ja’far ash-Shadiq
Imam telah memanfaatkan kesempatan ini untuk mengembangkan berbagai pengetahuan keagamaan sampai saat terakhir dari keimamannya yang bersamaan dengan akhir Bani Umayyah dan awal dari kekhalifahan Bani Abbasiyah. Ia mendidik banyak sarjana dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan aqliah (intelektual) dan naqliah (agama) seperti:

Zararah,
Muhammad bin Muslim,
Mukmin Thaq,
Hisyam bin Hakam,
Aban bin Taghlib,
Hisyam bin Salim,
Huraiz,
Hisyam Kaibi Nassabah, dan
Abu Musa Jabir Ibn Hayyan, ahli kimia. (di Eropa dikenal dengan nama Geber)
Bahkan beberapa sarjana terkemuka Sunni seperti:

Sofyan ats-Tsauri,
Abu Hanifah (pendiri Madzhab Hanafi),
Qadhi Sukuni,
Qodhi Abu Bakhtari,
Malik bin Anas (pendiri Madzhab Maliki)
Mereka beroleh kehormatan menjadi murid-muridnya. Disebutkan bahwa kelas-kelas dan majelis-majelis pengajaranya menghasilkan empat ribu sarjana hadist dan ilmu pengetahuan lain. Jumlah hadist yang terkumpul dari Imam ke-5 dan ke-6, lebih banyak dari seluruh hadits yang pernah dicatat dari Imam lainnya.

Sasaran dari khalifah yang berkuasa
Tetapi menjelang akhir hayatnya, ia menjadi sasaran pembatasan-pembatasan yang dibuat atas dirinya oleh Al-Mansur, khalifah Bani Abbasiyah, yang memerintahkan penyiksaan dan pembunuhan yang kejam terhadap keturunan Nabi, yang merupakan kaum Syi’ah, hingga tindakan-tindakannya bahkan melampaui kekejaman Bani Umayyah. Atas perintahnya mereka ditangkap dalam kelompok-kelompok, beberapa dan mereka dibuang dalam penjara yang gelap dan disiksa sampai mati, sedangkan yang lain dipancung atau dikubur hidup-hidup atau ditempatkan di bawah atau di antara dinding-dinding yang dibangun di atas mereka.

Penangkapannya
Hisyam, khalifah Bani Umayyah, telah memerintahkan untuk menangkap Imam ke-6 dan dibawa ke Damaskus. Belakangan, Imam ditangkap oleh As-Saffah, khalifah Bani Abbasiyah dan dibawa ke Iraq. Akhirnya Al-Mansur menangkapnya lagi dan dibawa ke Samarra, Iraq untuk diawasi dan dengan segala cara mereka melakukan tindakan lalim dan kurang hormat dan berkali-kali merencanakan untuk membunuhnya. Kemudian Imam diizinkan kembali ke Madinah, di mana dia menghabiskan sisa hidupnya di Madinah, sampai dia diracun dan dibunuh melalui upaya rahasia Al-Mansur.

Riwayat mengenai Ja’far ash-Shadiq

Dari Malik bin Anas
Imam Malik menceritakan pribadi Imam Ja’far ash-Shadiq dalam kitab Tahdhib al-Tahdhib, Jilid 2, hlm. 104:

“Aku sering mengunjungi ash-Shadiq. Aku tidak pernah menemui beliau kecuali dalam salah satu daripada keadaan-keadaan ini:
beliau sedang shalat,
beliau sedang berpuasa,
beliau sedang membaca kitab suci al-Qur’an.
Aku tidak pernah melihat beliau meriwayatkan sebuah hadits dari Nabi SAW tanpa taharah. Beliau seorang yang paling bertaqwa, warak, dan amat terpelajar selepas zaman Nabi Muhammad SAW. Tidak ada mata yang pernah, tidak ada telinga yang pernah mendengar dan hati ini tidak pernah terlintas akan seseorang yang lebih utama (afdhal) melebihi Ja’far bin Muhammad dalam ibadah, kewarakan dan ilmu pengetahuannya.”

Dari Abu Hanifah
Pada suatu ketika khalifah Al-Mansur dari Bani Abbasiyah ingin mengadakan perdebatan antara Abu Hanifah dengan Imam Ja’far ash-Shadiq AS. Khalifah bertujuan untuk menunjukkan kepada Abu Hanifah bahwa banyak orang sangat tertarik kepada Imam Ja’far bin Muhammad karena ilmu pengetahuannya yang luas itu. Khalifah Al-Mansur meminta Abu Hanifah menyediakan pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk diajukan kepada Imam Ja’afar bin Muhammad AS di dalam perdebatan itu nanti. Sebenarnya Al-Mansur telah merencanakan untuk mengalahkan Imam Ja’far bin Muhammad, dengan cara itu dan membuktikan kepada orang banyak bahwa Ja’far bin Muhammad tidaklah luas ilmunya.

Menurut Abu Hanifah,

“Al-Mansur meminta aku datang ke istananya ketika aku tidak berada di Hirah. Ketika aku masuk ke istananya, aku melihat Ja’far bin Muhammad duduk di sisi Al-Mansur. Ketika aku memandang Ja’far bin Muhammad, jantungku bergoncang kuat, rasa getar dan takut menyelubungi diriku terhadap Ja’far bin Muhammad lebih daripada Al-Mansur. Setelah memberikan salam, Al-Mansur memintaku duduk dan beliau memperkenalkanku kepada Ja’far bin Muhammad. Kemudian Al-Mansur memintaku mengemukakan pertanyaan-pertanyaan kepada Ja’far bin Muhammad. Aku pun mengemukakan pertanyaan demi pertanyaan dan beliau menjawabnya satu persatu, mengeluarkan bukan saja pendapat ahli-ahli fiqih Iraq dan Madinah tetapi juga mengemukakan pandangannya sendiri, baik beliau menerima atau menolak pendapat-pendapat orang lain itu sehingga beliau selesai menjawab semua empat puluh pertanyaan sulit yang telah aku sediakan untuknya.”
Abu Hanifah berkata lagi,

“Tidakkah telah aku katakan bahwa dalam soal keilmuan, orang yang paling alim dan mengetahui adalah orang yang mengetahui pendapat-pendapat orang lain?”
Lantaran pengalaman itu, Abu Hanifah berkata,

“Aku tidak pernah melihat seorang ahli fiqih yang paling alim selain Ja’far bin Muhammad.” [2]

Imam Ja’far ash-Shadiq sering berkata
“Hadist-hadist yang aku keluarkan adalah hadits-hadits dari bapakku. Hadist-hadist dari bapakku adalah dari kakekku. Hadist-hadist dari kakekku adalah dari Ali bin Abi Thalib, Amirul Mu’minin. Hadist-hadist dari Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib adalah hadist-hadist dari Rasulullah SAW dan hadist-hadist dari Rasulullah SAW adalah wahyu Allah Azza Wa Jalla.” [3]

Referensi
^ Thabathaba’i dalam “Islam Syiah (Asal-Usul dan Perkembangannya), hal. 233-234-235
^ Muwaffaq, Manaqib Abu Hanifah, Jilid I, hlm. 173; Dzahabi, Tadhkiratul Huffadz, Jilid I, hlm. 157
^ Al-Kulaini,al-Kafi, Juzuk I, hadith 154-14

Pranala Luar
Imam Keenam
Biografi Imam Keenam oleh Sheikh al-Mufid
Biografi Imam Ja’far dari kalangan Salafi

Anekdot
Wikiquote memiliki koleksi kutipan yang berkaitan dengan:
Ja’far ash-ShadiqSeseorang pernah sekali meminta Ja’far untuk memperlihatkan Tuhan kepadanya. Imam berkata, “Lihat ke Matahari!” Orang itu berkata bahwa ia tidak dapat melihat matahari karena terlalu terang. Ja’far berkata, “Kalau kamu tidak dapat melihat yang diciptakan, bagaimana kamu merasa dapat melihat Pencipta?”
Diperoleh dari “http://id.wikipedia.org/wiki/Ja%27far_ash-Shadiq”
Diposkan oleh BLOG@ERYC90′s di 19:30 0 komentar
Naskah_Kuno – Babad Godog
Ringkasan isi :
Naskah ini berisi cerita tentang kisah seorang tokoh yang bernama Keyan Santang: putra Raja Padjajaran Sewu. Prabu Siliwangi, yang gagah perkasa kemudian masuk Islam. Ia menyebarkan agama baru yang dianutnya itu di Pulau Jawa dan menetap di Godog. Suci Kecamatan Karangpawitan Garut sampai akhir hayatnya. Nama-nama lain yang disandang tokoh itu adalah Gagak Lumayung, Garantang Sentra. Pangeran Gagak Lumiring. Sunan Rakhmat, dan Sunan Bidayah.

Pada suatu hari Keyan Santang berdatang sembah kepada ayahandanya. Ia ingin menyampaikan sesuatu yakni hasrat hatinya untuk dapat melihat darah sendiri. Kemudian baginda memanggil para ahli nujum untuk menanyakan siapa gerangan orang yang sanggup memenuhi keinginan Keyan Santang seperti yang diucapkannya tadi. Para ahli nujum tidak seorang pun yang dapat menjawab pertanyaan raja. Tetapi kemudian seorang kakek yang sudah tua renta dating menghadap baginda raja dan berkata. ? Daulat tuanku, hamba hendak menghabarkan kepada tuanku bahwa sebenarnya ada orang yang dapat memperlihatkan darah raja putra itu. Ialah Baginda Ali di Mekah.?

Prabu Siliwangi bertanya,?Siapa kiranya yang akan unggul bila anakku bertarung dengan dia?? Selesai pertanyaan itu diucapkan, maka tanpa memperlihatkan jawaban kakek itu pun lenyap dari pandangan. Menurut yang empunya cerita, kakek itu tak lain adalah Malaikat Jibril.

Nama Baginda Ali terkesan pada hati Keyan Santang. Sekarang ia ingin mencari orang yang memiliki nama itu ke Mekah. Setelah meminta izin dari Prabu Siliwangi dan menyetujuinya untuk berangkat, maka Keyan Santang terbang. Namun ia belum tahu jalan ke Mekah. Baru saja ia tinggal landas, di atasnya terdengar suara tanpa wujud sumbernya, ?Engkau bernama Geranta Sentra!?

Setelah itu tampak olehnya seorang putri yang sangat cantik turun dari langit. Terjadilah percakapan antara Keyan Santang dengan putri itu. Kemudian putrid itu minta kepada Keyan Santang agar diambilkan bintang-bintang dari langit. Setelah selesai mengucapkan permintaannya itu, maka hilanglah putri itu. Ingin memenuhi permintaan sang putri, Keyan Santang bertambah tinggi terbangnya, ia bermaksud akan memetik bintang. Tetapi malah bintang itu berterbangan jauh ke langit. Keyan Santang tidak putus asa, ia terus mengejar bintang itu hingga akhirnya ia sampai di atas Mekah. Karena Keyan santang demikian bernafsunya ia ingin dapat menangkap salah satu bintang, maka langit di atas Mekah pun menjadi hingar bingar. Suara gaduh itu membuat baginda Ali ingin melihat keadaan langit.

Tak lama kemudian bertemulah Baginda Ali dengan Keyan Santang. Terjadilah percakapan antara mereka. Kata Baginda Ali ,?Kau dapat mengambil bintang, asal kau tahu dahulu mantranya. ?Keyan Santang menanyakan bagaimana bunyi mantra itu. Kemudian Baginda Ali mengucapkan mantra yang berbunyi. ?Allohusoli ala nu dimakbul Sayidina Muhammad?. Setelah Keyan Santang mengucapkan mantra itu, ia dapat menangkap bintang dari langit. Ternyata bintang itu berupa untaian tasbih.
Diketahui akhirnya oleh putra raja Padjadjaran itu bahwa yang mengajarkan mantra itu adalah baginda Ali yang tengah dicarinya. Timbul keinginan Keyan Santang untuk mengajak bertarung dengan Baginda Ali. Tetapi Baginda Ali sudah tidak ada. Keyan Santang hanya bertemu dengan seorang tua bangka yang sedang membawa tungked (tongkat) dan tiang mesjid. Terjadilah percakapan antara Keyan Santang dengan orang tua itu . Keyan Santang mencoba untuk mencabut tongkat yang ditancapkan oleh orang tua tadi, tetapi tidak berhasil Setelah diketahui bahwa orang tua itu tidak lain adalah Baginda Ali, maka Keyan Santang pun menyatakan takluk dan kemudia mau memeluk agama Islam. Keyan Santang berganti nama menjadi Sunan Rakhmat atau Sunan Bidayah.

Keyan Santang pun memeiliki tugas untuk menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Prabu Siliwangi menolak bahkan tidak mau memeluk agama Islam. Kemudian dengan jalan menembus bumi raja Padjadjaran itu pergi dari Padjadjaran Sewu. Sementara itu para bangsawan Padjadjaran bersalin rupa menjadi bermacam-macam jenis harimau. Sedangkan keraton serta merta berubah menjadi hutan belantara. Konon harimau-harimau itu menuju hutan Sancang mengikuti Prabu Siliwangi.

Sementara itu Sunan Rahkmat meng-Islamkan rakyat yang ada di Batulayang, Lebak Agung, Lebak Wangi, Curug Fogdog, Curug Sempur, dan Padusunan. Sewaktu itu Sunan Rakhmat kawin dengan Nyi Puger Wangi yang berasal dari Puger. Dari Puger Wangi Sunan Rakhmat mempunyai anak kembar, kedua-duanya laki-laki, kakaknya bernama Ali Muhammad dan adiknya Pangeran Ali Akbar. Sayang sekali tak lama kemudian setelah melahirkan Nyi Puger Wangi meninggal dunia.

Dalam kesedihan karena ditinggal istri, Sunan Rakhmat terus menyiarkan agama Islam di Karang Serang, Cilageni, Dayeuh Handap, Dayeuh Manggung, Cimalati, Cisieur, Cikupa, Cikaso, Pagaden, Haur Panggung, Cilolohan, warung Manuk, Kadeunghalang, dan Cihaurbeuti. Pada suatu saat pernah pula Sunan Rakhmat berangkat lagi ke Mekah.

Waktu akan pulang lagi ke Jawa, Sunan Rakhmat dibekali tanah Mekah yang dimasukan ke dalam peti. Di dalam peti itu diletakkan pula sebuah buli-buli berisi air zam-zam. Selain itu Sunan Rakhmat diberi hadiah kuda Sembrani oleh ratu Jin dan Jabalkop.

Alkisah disebutkan bila peti itu gesah (bergoyang) di suatu tempat di Pulau Jawa, maka itulah tandanya Sunan Rakhmat mesti berhenti. Di sanalah ia mesti bermukim. Adapun menurut yang empunya cerita, tempat bergoyangnya peti itu di Godog. Itulah sebabnya Sunan Rakhmat yang nama aslinya Keyan Satang dimakamkan di Godog Karangpawitan Garut.
Diposkan oleh BLOG@ERYC90′s di 19:29 0 komentar
SYECH DATUK KAHFIE
Syekh Datuk Kahfi

Syekh Datuk Kahfi (dikenal juga dengan nama Syekh Idhofi atau Syekh Nurul Jati) adalah tokoh penyebar Islam di wilayah yang sekarang dikenal dengan Cirebon dan leluhur dari raja-raja Sumedang.

Beliau pertama kali menyebarkan ajaran Islam di daerah Amparan Jati. Syekh Datuk Kahfi merupakan buyut dari Pangeran Santri (Ki Gedeng Sumedang), penguasa di Kerajaan Sumedang Larang, Jawa Barat, dan putera dari Syekh Datuk Ahmad. Beliau juga merupakan keturunan dari Amir Abdullah Khan.

Silsilah
Di bawah ini merupakan silsilah Syekh Datuk Kahfi yang bersambung dengan Sayyid Alawi bin Muhammad Sohib Mirbath hingga Ahmad al-Muhajir bin Isa ar-Rumi (Hadramaut, Yaman) dan seterusnya hingga Imam Husain, cucu Nabi Muhammad SAW yang syahid terbunuh dalam pembantaian di Padang Karbala, Iraq.

Nabi Muhammad SAW, berputeri

Sayidah Fatimah az-Zahra manikah dengan Imam Ali bin Abi Thalib, berputera
Imam Husain a.s, berputera
Imam Ali Zainal Abidin, berputera
Muhammad al-Baqir, berputera
Imam Ja’far ash-Shadiq, berputera
Ali al-Uraidhi, berputera
Muhammad al-Naqib, berputera
Isa al-Rumi, berputera
Ahmad al-Muhajir, berputera
Ubaidillah, berputera
Alawi, berputera
Muhammad, berputera
Alawi, berputera
Ali Khali’ Qosam, berputera
Muhammad Sahib Mirbath, berputera
Sayid Alwi, berputera
Sayid Abdul Malik, berputera
Sayid Amir Abdullah Khan (Azamat Khan), berputera
Sayid Abdul Kadir, berputera
Maulana Isa, berputera
Syekh Datuk Ahmad, berputera
Syekh Datuk Kahfi

Sebagai guru
Syekh Datuk Kahfi merupakan guru dari Pangeran Walangsungsang dan Nyai Rara Santang (Syarifah Muda’im), yaitu putera dan puteri dari Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi), raja Kerajaan Pajajaran, Jawa Barat. Syekh Datuk Kahfi wafat dan dimakamkan di Gunung Jati, bersamaan dengan makam Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), Pangeran Pasarean, dan raja-raja Kesultanan Cirebon lainnya.

Diperoleh dari “http://id.wikipedia.org/wiki/Syekh_Datuk_Kahfi”
Diposkan oleh BLOG@ERYC90′s di 19:27 0 komentar
KERADJAAN SEMEDANG LARANG
Kerajaan Sumedang Larang

Kerajaan Sumedang Larang adalah salah satu kerajaan Islam yang diperkirakan berdiri sejak abad ke-15 Masehi di Jawa Barat, Indonesia. Popularitas kerajaan ini tidak sebesar popularitas kerajaan Demak, Mataram, Banten dan Cirebon dalam literatur sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Tapi, keberadaan kerajaan ini merupakan bukti sejarah yang sangat kuat pengaruhnya dalam penyebaran Islam di Jawa Barat, sebagaimana yang dilakukan oleh Kerajaan Cirebon dan Kerajaan Banten.

Daftar isi
1 Sejarah
2 Asal-mula nama
3 Pemerintahan berdaulat
3.1 Prabu Agung Resi Cakrabuana (950 M)
3.2 Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri
3.3 Prabu Geusan Ulun
4 Pemerintahan di bawah Mataram
4.1 Dipati Rangga Gempol
4.2 Dipati Rangga Gede
4.3 Dipati Ukur
5 Pembagian wilayah kerajaan
6 Peninggalan budaya
7 Pranala luar
8 Referensi

Sejarah
Kerajaan Sumedang Larang (kini Kabupaten Sumedang) adalah salah satu dari berbagai kerajaan Sunda yang ada di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Terdapat kerajaan Sunda lainnya seperti Kerajaan Pajajaran yang juga masih berkaitan erat dengan kerajaan sebelumnya yaitu (Kerajaan Sunda-Galuh), namun keberadaan Kerajaan Pajajaran berakhir di wilayah Pakuan, Bogor, karena serangan aliansi kerajaan-kerajaan Cirebon, Banten dan Demak (Jawa Tengah). Sejak itu, Sumedang Larang dianggap menjadi penerus Pajajaran dan menjadi kerajaan yang memiliki otonomi luas untuk menentukan nasibnya sendiri.

Asal-mula nama
Kerajaan Sumedang Larang berasal dari pecahan kerajaan Sunda-Galuh yang beragama Hindu, yang didirikan oleh Prabu Geusan Ulun Aji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Pajajaran, Bogor. Seiring dengan perubahan zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang mengalami beberapa perubahan. Yang pertama yaitu Kerajaan Tembong Agung (Tembong artinya nampak dan Agung artinya luhur) dipimpin oleh Prabu Guru Aji Putih pada abad ke XII. Kemudian pada masa zaman Prabu Tajimalela, diganti menjadi Himbar Buana, yang berarti menerangi alam, Prabu Tajimalela pernah berkata “Insun medal; Insun madangan”. Artinya Aku dilahirkan; Aku menerangi. Kata Sumedang diambil dari kata Insun Madangan yang berubah pengucapannya menjadi Sun Madang yang selanjutnya menjadi Sumedang. Ada juga yang berpendapat berasal dari kata Insun Medal yang berubah pengucapannya menjadi Sumedang dan Larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingnya.

Pemerintahan berdaulat

[sunting] Prabu Agung Resi Cakrabuana (950 M)
Prabu Agung Resi Cakrabuana atau lebih dikenal Prabu Tajimalela dianggap sebagai pokok berdirinya Kerajaan Sumedang. Pada awal berdiri bernama Kerajaan Tembong Agung dengan ibukota di Leuwihideung (sekarang Kecamatan Darmaraja). Beliau punya tiga putra yaitu Prabu Lembu Agung, Prabu Gajah Agung, dan Sunan Geusan Ulun.

Berdasarkan Layang Darmaraja, Prabu Tajimalela memberi perintah kepada kedua putranya (Prabu Lembu Agung dan Prabu Gajah Agung), yang satu menjadi raja dan yang lain menjadi wakilnya (patih). Tapi keduanya tidak bersedia menjadi raja. Oleh karena itu, Prabu Tajimalela memberi ujian kepada kedua putranya jika kalah harus menjadi raja. Kedua putranya diperintahkan pergi ke Gunung Nurmala (sekarang Gunung Sangkanjaya). Keduanya diberi perintah harus menjaga sebilah pedang dan kelapa muda (duwegan/degan). Tetapi, Prabu Gajah Agung karena sangat kehausan beliau membelah dan meminum air kelapa muda tersebut sehingga beliau dinyatakan kalah dan harus menjadi raja Kerajaan Sumedang Larang tetapi wilayah ibu kota harus mencari sendiri. Sedangkan Prabu Lembu Agung tetap di Leuwihideung, menjadi raja sementara yang biasa disebut juga Prabu Lembu Peteng Aji untuk sekedar memenuhi wasiat Prabu Tajimalela. Setelah itu Kerajaan Sumedang Larang diserahkan kepada Prabu Gajah Agung dan Prabu Lembu Agung menjadi resi. Prabu Lembu Agung dan pera keturunannya tetap berada di Darmaraja. Sedangkan Sunan Geusan Ulun dan keturunannya tersebar di Limbangan, Karawang, dan Brebes.

Setelah Prabu Gajah Agung menjadi raja maka kerajaan dipindahkan ke Ciguling. Ia dimakamkan di Cicanting Kecamatan Darmaraja. Ia mempunyai dua orang putra, pertama Ratu Istri Rajamantri, menikah dengan Prabu Siliwangi dan mengikuti suaminya pindah ke Pakuan Pajajaran. Kedua Sunan Guling, yang melanjutkan menjadi raja di Kerajaan Sumedang Larang. Setelah Sunan Guling meninggal kemudian dilanjutkan oleh putra tunggalnya yaitu Sunan Tuakan. Setelah itu kerajaan dipimpin oleh putrinya yaitu Nyi Mas Ratu Patuakan. Nyi Mas Ratu Patuakan mempunyai suami yaitu Sunan Corenda, putra Sunan Parung, cucu Prabu Siliwangi (Prabu Ratu Dewata). Nyi Mas Ratu Patuakan mempunyai seorang putri bernama Nyi Mas Ratu Inten Dewata (1530-1578), yang setelah ia meninggal menggantikannya menjadi ratu dengan gelar Ratu Pucuk Umun.

Ratu Pucuk Umun menikah dengan Pangeran Kusumahdinata, putra Pangeran Pamalekaran (Dipati Teterung), putra Aria Damar Sultan Palembang keturunan Majapahit. Ibunya Ratu Martasari/Nyi Mas Ranggawulung, keturunan Sunan Gunung Jati dari Cirebon. Pangeran Kusumahdinata lebih dikenal dengan julukan Pangeran Santri karena asalnya yang dari pesantren dan perilakunya yang sangat alim. Dengan pernikahan tersebut berakhirlah masa kerajaan Hindu di Sumedang Larang. Sejak itulah mulai menyebarnya agama Islam di wilayah Sumedang Larang.

Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri
Pada pertengahan abad ke-16, mulailah corak agama Islam mewarnai perkembangan Sumedang Larang. Ratu Pucuk Umun, seorang wanita keturunan raja-raja Sumedang kuno yang merupakan seorang Sunda muslimah; menikahi Pangeran Santri (1505-1579 M) yang bergelar Ki Gedeng Sumedang dan memerintah Sumedang Larang bersama-sama serta menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut. Pangeran Santri adalah cucu dari Syekh Maulana Abdurahman (Sunan Panjunan) dan cicit dari Syekh Datuk Kahfi, seorang ulama keturunan Arab Hadramaut yang berasal dari Mekkah dan menyebarkan agama Islam di berbagai penjuru daerah di kerajaan Sunda. Pernikahan Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umun ini melahirkan Prabu Geusan Ulun atau dikenal dengan Prabu Angkawijaya. Pada masa Ratu Pucuk Umun, ibukota Kerajaan Sumedang Larang dipindahkan dari Ciguling ke Kutamaya.

Dari pernikahan Ratu Pucuk Umun dengan Pangeran Santri memiliki enam orang anak, yaitu :

Pangeran Angkawijaya (yang tekenal dengan gelar Prabu Geusan Ulun)
Kiyai Rangga Haji, yang mengalahkan Aria Kuda Panjalu ti Narimbang, supaya memeluk agama Islam.
Kiyai Demang Watang di Walakung.
Santowaan Wirakusumah, yang keturunannya berada di Pagaden dan Pamanukan, Subang.
Santowaan Cikeruh.
Santowaan Awiluar.
Ratu Pucuk Umun dimakamkan di Gunung Ciung Pasarean Gede di Kota Sumedang.

Prabu Geusan Ulun
Prabu Geusan Ulun (1580-1608 M) dinobatkan untuk menggantikan kekuasaan ayahnya, Pangeran Santri. Beliau menetapkan Kutamaya sebagai ibukota kerajaan Sumedang Larang, yang letaknya di bagian Barat kota. Wilayah kekuasaannya meliputi Kuningan, Bandung, Garut, Tasik, Sukabumi (Priangan) kecuali Galuh (Ciamis). Kerajaan Sumedang pada masa Prabu Geusan Ulun mengalami kemajuan yang pesat di bidang sosial, budaya, agama, militer dan politik pemerintahan. Setelah wafat pada tahun 1608, putera angkatnya, Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata atau Rangga Gempol I, yang dikenal dengan nama Raden Aria Suradiwangsa menggantikan kepemimpinannya.

Pada masa awal pemerintahan Prabu Geusan Ulun, Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan sedang dalam masa kehancurannya karena diserang oleh Kerajaan Banten yang dipimpin Sultan Maulana Yusuf dalam rangka menyebarkan Agama Islam. Oleh karena penyerangan itu Kerajaan Pajajaran hancur. Pada saat-saat kekalahan Kerajaan Pajajaran, Prabu Siliwangi sebelum meninggalkan Keraton beliau mengutus empat prajurit pilihan tangan kanan Prabu Siliwangi untuk pergi ke Kerajaan Sumedang dengan rakyat Pajajaran untuk mencari perlindungan yang disebut Kandaga Lante. Kandaga Lante tersebut menyerahkan mahkota emas simbol kekuasaan Raja Pajajaran, kalung bersusun dua dan tiga, serta perhiasan lainnya seperti benten, siger, tampekan, dan kilat bahu (pusaka tersebut masih tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun si Sumedang). Kandaga Lante yang menyerahkan tersebut empat orang yaitu Sanghyang Hawu atau Embah Jayaperkosa, Batara Dipati Wiradijaya atau Embah Nangganan, Sanghyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana atau Embah Terong Peot.

Walaupun pada waktu itu tempat penobatan raja direbut oleh pasukan Banten (wadyabala Banten) tetapi mahkota kerajaan terselamatkan. Dengan diberikannya mahkota tersebut kepada Prabu Geusan Ulun, maka dapat dianggap bahwa Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan menjadi bagian Kerajaan Sumedang Larang, sehingga wilayah Kerajaan Sumedang Larang menjadi luas. Batas wilayah baratnya Sungai Cisadane, batas wilayah timurnya Sungai Cipamali (kecuali Cirebon dan Jayakarta), batas sebelah utaranya Laut Jawa, dan batas sebelah selatannya Samudera Hindia.

Secara politik Kerajaan Sumedang Larang didesak oleh tiga musuh: yaitu Kerajaan Banten yang merasa terhina dan tidak menerima dengan pengangkatan Prabu Geusan Ulun sebagai pengganti Prabu Siliwangi; pasukan VOC di Jayakarta yang selalu mengganggu rakyat; dan Kesultanan Cirebon yang ditakutkan bergabung dengan Kesultanan Banten. Pada masa itu Kesultanan Mataram sedang pada masa kejayaannya, banyak kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara yang menyatakan bergabung kepada Mataram. Dengan tujuan politik pula akhirnya Prabu Geusan Ulun menyatakan bergabung dengan Kesultanan Mataram dan beliau pergi ke Demak dengan tujuan untuk mendalami agama Islam dengan diiringi empat prajurit setianya (Kandaga Lante). Setelah dari pesantren di Demak, sebelum pulang ke Sumedang ia mampir ke Cirebon untuk bertemu dengan Panembahan Ratu penguasa Cirebon, dan disambut dengan gembira karena mereka berdua sama-sama keturunan Sunan Gunung Jati.

Dengan sikap dan perilakunya yang sangat baik serta wajahnya yang rupawan, Prabu Geusan Ulun disenangi oleh penduduk di Cirebon. Permaisuri Panembahan Ratu yang bernama Ratu Harisbaya jatuh cinta kepada Prabu Geusan Ulun. Ketika dalam perjalanan pulang ternyata tanpa sepengetahuannya, Ratu Harisbaya ikut dalam rombongan, dam karena Ratu Harisbaya mengancam akan bunuh diri akhirnya dibawa pulang ke Sumedang. Karena kejadian itu, Panembahan Ratu marah besar dan mengirim pasukan untuk merebut kembali Ratu Harisbaya sehingga terjadi perang antara Cirebon dan Sumedang.

Akhirnya Sultan Agung dari Mataram meminta kepada Panembahan Ratu untuk berdamai dan menceraikan Ratu Harisbaya yang aslinya dari Pajang-Demak dan dinikahkan oleh Sultan Agung dengan Panembahan Ratu. Panembahan Ratu bersedia dengan syarat Sumedang menyerahkan wilayah sebelah barat Sungai Cilutung (sekarang Majalengka) untuk menjadi wilayah Cirebon. Karena peperangan itu pula ibukota dipindahkan ke Gunung Rengganis, yang sekarang disebut Dayeuh Luhur.

Prabu Geusan Ulun memiliki tiga orang istri: yang pertama Nyi Mas Cukang Gedeng Waru, putri Sunan Pada; yang kedua Ratu Harisbaya dari Cirebon, dan yang ketiga Nyi Mas Pasarean. Dari ketiga istrinya tersebut ia memiliki lima belas orang anak:

Pangeran Rangga Gede, yang merupakan cikal bakal bupati Sumedang
Raden Aria Wiraraja, di Lemahbeureum, Darmawangi
Kiyai Kadu Rangga Gede
Kiyai Rangga Patra Kalasa, di Cundukkayu
Raden Aria Rangga Pati, di Haurkuning
Raden Ngabehi Watang
Nyi Mas Demang Cipaku
Raden Ngabehi Martayuda, di Ciawi
Rd. Rangga Wiratama, di Cibeureum
Rd. Rangga Nitinagara, di Pagaden dan Pamanukan
Nyi Mas Rangga Pamade
Nyi Mas Dipati Ukur, di Bandung
Rd. Suridiwangsa, putra Ratu Harisbaya dari Panemabahan Ratu
Pangeran Tumenggung Tegalkalong
Rd. Kiyai Demang Cipaku, di Dayeuh Luhur.
Prabu Geusan Ulun merupakan raja terakhir Kerajaan Sumedang Larang, karena selanjutnya menjadi bagian Mataram dan pangkat raja turun menjadi adipati (bupati).

Pemerintahan di bawah Mataram

Dipati Rangga Gempol
Pada saat Rangga Gempol memegang kepemimpinan, pada tahun 1620 M Sumedang Larang dijadikannya wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung, dan statusnya sebagai ‘kerajaan’ dirubahnya menjadi ‘kadipaten’. Hal ini dilakukannya sebagai upaya menjadikan wilayah Sumedang sebagai wilayah pertahanan Mataram dari serangan Kerajaan Banten dan Belanda, yang sedang mengalami konflik dengan Mataram. Sultan Agung kemudian memberikan perintah kepada Rangga Gempol beserta pasukannya untuk memimpin penyerangan ke Sampang, Madura. Sedangkan pemerintahan untuk sementara diserahkan kepada adiknya, Dipati Rangga Gede.

Dipati Rangga Gede
Ketika setengah kekuatan militer kadipaten Sumedang Larang diperintahkan pergi ke Madura atas titah Sultan Agung, datanglah dari pasukan Kerajaan Banten untuk menyerbu. Karena Rangga Gede tidak mampu menahan serangan pasukan Banten, ia akhirnya melarikan diri. Kekalahan ini membuat marah Sultan Agung sehingga ia menahan Dipati Rangga Gede, dan pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada Dipati Ukur.

Dipati Ukur
Sekali lagi, Dipati Ukur diperintahkan oleh Sultan Agung untuk bersama-sama pasukan Mataram untuk menyerang dan merebut pertahanan Belanda di Batavia (Jakarta) yang pada akhirnya menemui kegagalan. Kekalahan pasukan Dipati Ukur ini tidak dilaporkan segera kepada Sultan Agung, diberitakan bahwa ia kabur dari pertanggung jawabannya dan akhirnya tertangkap dari persembunyiannya atas informasi mata-mata Sultan Agung yang berkuasa di wilayah Priangan.

Pembagian wilayah kerajaan
Setelah habis masa hukumannya, Dipati Rangga Gede diberikan kekuasaan kembali untuk memerintah di Sumedang. Sedangkan wilayah Priangan di luar Sumedang dan Galuh (Ciamis), oleh Mataram dibagi menjadi tiga bagian[1]:

Kabupaten Sukapura, dipimpin oleh Ki Wirawangsa Umbul Sukakerta, gelar Tumenggung Wiradegdaha/R. Wirawangsa,
Kabupaten Bandung, dipimpin oleh Ki Astamanggala Umbul Cihaurbeuti, gelar Tumenggung Wirangun-angun,
Kabupaten Parakanmuncang, dipimpin oleh Ki Somahita Umbul Sindangkasih, gelar Tumenggung Tanubaya.
Kesemua wilayah tersebut berada dibawah pengawasan Rangga Gede (atau Rangga Gempol II), yang sekaligus ditunjuk Mataram sebagai Wadana Bupati (kepala para bupati) Priangan.

Peninggalan budaya
Hingga kini, Sumedang masih berstatus kabupaten, sebagai sisa peninggalan konflik politik yang banyak diintervensi oleh Kerajaan Mataram pada masa itu. Adapun artefak sejarah berupa pusaka perang, atribut kerajaan, perlengkapan raja-raja dan naskah kuno peninggalan Kerajaan Sumedang Larang masih dapat dilihat secara umum di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang letaknya tepat di selatan alun-alun kota Sumedang, bersatu dengan Gedung Srimanganti dan bangunan pemerintah daerah setempat.

Pranala luar
Naskah Kuno-Sajarah Sukapura, dari Situs Pariwisata Pemerintah Kabupaten Garut Online

Referensi
^ Naskah Sajarah Sukapura. Pemegang naskah R. Sulaeman Anggapradja. Kota Kulon, Garut Kota, tanpa tahun.
Diposkan oleh BLOG@ERYC90′s di 19:21 0 komentar
Label: SUMEDANG
KERADJAAN PADJAJARAN
Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Pajajaran adalah sebuah kerajaan Hindu yang diperkirakan beribukotanya di Pakuan (Bogor) di Jawa Barat. Dalam naskah-naskah kuno nusantara, kerajaan ini sering pula disebut dengan nama Negeri Sunda, Pasundan, atau berdasarkan nama ibukotanya yaitu Pakuan Pajajaran. Beberapa catatan menyebutkan bahwa kerajaan ini didirikan tahun 923 oleh Sri Jayabhupati, seperti yang disebutkan dalam prasasti Sanghyang Tapak.

Sejarah kerajaan ini tidak dapat terlepas dari kerajaan-kerajaan pendahulunya di daerah Jawa Barat, yaitu Kerajaan Tarumanagara, Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh, dan Kawali. Hal ini karena pemerintahan Kerajaan Pajajaran merupakan kelanjutan dari kerajaan-kerajaan tersebut. Dari catatan-catatan sejarah yang ada, dapatlah ditelusuri jejak kerajaan ini; antara lain mengenai ibukota Pajajaran yaitu Pakuan. Mengenai raja-raja Kerajaan Pajajaran, terdapat perbedaan urutan antara naskah-naskah Babad Pajajaran, Carita Parahiangan, dan Carita Waruga Guru.

Selain naskah-naskah babad, Kerajaan Pajajaran juga meninggalkan sejumlah jejak peninggalan dari masa lalu, seperti:

Prasasti Batu Tulis, Bogor
Prasasti Sanghyang Tapak, Sukabumi
Prasasti Kawali, Ciamis
Tugu Perjanjian Portugis (padraõ), Kampung Tugu, Jakarta
Taman perburuan, yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor.

[sunting] Raja Raja Pajajaran
Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521)
Surawisesa (1521 – 1535)
Ratu Dewata (1535 – 1543)
Ratu Sakti (1543 – 1551)
Raga Mulya (1567 – 1579)
Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaan sunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten.

Berakhirnya jaman Pajajaran (1482 – 1579), ditandai dengan diboyongnya PALANGKA SRIMAN SRIWACANA (Tempat duduk tempat penobatan tahta) dari Pakuan ke Surasowan di Banten oleh pasukan MAULANA YUSUF.

Batu berukuran 200 x 160 x 20 cm itu terpaksa di boyong ke Banten karena tradisi politik waktu itu “mengharuskan” demikian. Pertama, dengan dirampasnya Palangka tersebut, di Pakuan tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru. Kedua, dengan memiliki Palangka itu, Maulana Yusuf merupakan penerus kekuasaan Pajajaran yang “sah” karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja.

Palangka Sriman Sriwacana sendiri saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surasowan di Banten. Karena mengkilap, orang Banten menyebutnya WATU GIGILANG. Kata Gigilang berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.

Saat itu diperkirakan terdapat sejumlah punggawa istana yang meninggalkan kraton lalu menetap di daerah Lebak. Mereka menerapkan tata cara kehidupan lama yang ketat, dan sekarang mereka dikenal sebagai orang Baduy.
Diposkan oleh BLOG@ERYC90′s di 19:10 0 komentar
BOGOR KOTA TUA
Bogor Kota Tua

Diatas puncak gunung kapur di Ciampea Bogor terdapat sebuah makom (petilasan), belum diketahui pasti tempat tersebut petilasan siapa, tetapi makom tersebut berada di puncak gunung kapur dimana puncaknya sendiri adalah batu-batu karang laut seperti umumnya batu karang yang ada di laut. Mungkin dahulu daerah tersebut memang sebuah bagian dari laut yang terendam sesudah jaman es mencair. Mungkin juga di tempat tersebut sudah ada peradaban pada saat air laut mulai surut.

Sayang sekali cerita itu tidak didukung dengan fakta-fakta serta cerita-cerita sejarah, atau mungkin fakta sejarah itu saat ini belum tergali/belum ditemukan.

Kampung Muara dekat tempat prasasti Ciaruteun dan Telapak Gajah ditemukan, dahulu merupakan sebuah “Kota pelabuhan sungai” yang bandarnya terletak di tepi pertemuan Cisadane dengan Cianten. Menurut cerita, dahulu di dekat gunung kapur tersebut memang merupakan suatu pelabuhan yang biasa dikenal dengan nama dermaga, barangkali itulah sebabnya di sekitar Kampus IPB sekarang disebut daerah Darmaga. Hingga awal abad ke 19 tempat tersebut memang masih digunakan sebagai pelabuhan terutama oleh para pedagang bambu.

Kerajaan-kerajaan yang berhubungan dengan sejarah kota Bogor diantaranya adalah:

Kerajaan Salaka Nagara, rajanya bernama Dewawarman (I – VIII), tidak diketahui pasti kapan kerajaan ini berdiri, letak kerajaan Salaka Nagara ini diperkirakan berada di sekitar Pandeglang Banten, namun ada juga yang beranggapan bahwa letak Salaka Nagara ada di kaki gunung Salak di sebelah Barat kota Bogor. Menurut cerita kerajaan ini didirikan oleh seseorang yang bernama Aki Tirem, yang kemudian keturunannya mendirikan kerajaan Salaka Nagara, konon nama gunung Salak diambil dari asal kata Salaka.
Pada catatan sejarah India, para cendekiawan India telah menulis tentang nama Dwipantara atau kerajaan Jawa Dwipa di pulau Jawa sekitar 200 SM. Dan dari catatan itupun diketahui bahwa Kerajaan Taruma menguasai Jawa sekitar tahun 400 M. Salakanagara (kota Perak) pernah pula disebutkan dalam catatan yang disebut sebagai ARGYRE oleh Ptolemeus pada tahun 150 M.

Dari peninggalan sejarah yang berhasil ditemukan hingga saat ini, asal mula kota Bogor dapat ditelusuri mulai dari Ciaruteun, Ciampea. Di Ciaruteun terdapat sebuah prasasti peninggalan kerajaan Taruma Nagara (358 – 669 M), prasasti tersebut diperkirakan dibuat pada tahun 450 M, jauh sebelum Kerajaan Pajajaran dan Majapahit serta kerajaan-kerajaan lainnya berdiri di Indonesia. Letak prasasti itu sendiri saat ini sudah dipindahkan, semula prasasti itu berada di tengah-tengah sungai Ciaruteun yang kemudian dipindahkan ke tepi karena prasasti tersebut beberapa kali terbawa arus pada saat banjir bandang di sungai Ciaruteun.
Selain itu di area yang sama terdapat pula prasasti lainnya yang biasa disebut dengan prasasti Tapak Gajah. Prasasti ini diperkirakan dibuat bersamaan dengan prasasti yang ada di sungai Ciaruteun. Arti dari isi prasasti ini kira-kira: “Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa”
Di salahsatu bagian kaki gunung Salak ada pula ditemukan sebuah prasasti di desa Jambu kampung Pasirgintung kecamatan Nanggung, oleh karena itu biasa disebut dengan Prasasti Jambu. Pada prasasti ini terukir 2 telapak kaki dan 2 baris huruf palawa dalam bahasa sansekerta, kemungkinan prasasti ini dibuat pada masa yang hampir bersamaan pula dengan dengan Prasasti Ciaruteun. Prasasti ini bertuliskan: “Yang termashur serta setia kepada tugasnya ialah raja yang tiada taranya bernama Sri Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju perisainya tidak dapat ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua jejak telapak kaki ini, yang selalu berhasil menghancurkan benteng musuh, yang selalu menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia kepadanya), tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya”.

Pada prasasti Ciaruteun dipahat juga sepasang telapak kaki serta tulisan dengan huruf palawa dalam bahasa sansekerta, bunyi tulisan tersebut kira-kira “Inilah telapak kaki yang mulia Sang Purnawarman Raja Negeri Taruma yang gagah berani, yang menguasai dunia sebagai telapak kaki Dewa Wisnu”

Tidak diketahui dengan pasti mengapa prasasti-prasasti tersebut ada di daerah itu, apakah karena pusat pemerintahannya ada disana atau tempat tersebut merupakan salah satu tempat penting pada masa itu yang berada dikawasan kerajaan.

Pada masa Kerajaan Taruma Nagara kerajaan ini diperintah oleh 12 orang raja, berkuasa dari tahun 358 – 669 M.
Kerajaan Sunda, nama baru dari kerajaan Taruma Nagara, diperintah 28 orang raja, tahun 669 – 1333 M. Pada masa ini, kerajaan tersebut dipecah menjadi 2 bagian, di sebelah Barat bernama kerajaan Sunda dan di sebelah Timur bernama kerajaan Galuh dengan sungai Citarum sebagai batasnya.
Kerajaan Kawali, diperintah oleh 6 orang raja, tahun 1333 – 1482 M.
Kerajaan-kerajaan diatas adalah kerajaan-kerajaan yang dipimpin oleh “garis keturunan” yang sama.

Kerajaan Taruma didirikan oleh Jayasingawarman, keturunan-keturunan raja Kerajaan Taruma pergi ke luar wilayah kerajaan serta membentuk kerajaan-kerajaan baru di wilayah lain. Ini terlihat dari berdirinya kerajaan-kerajaan baru yang lebih “muda” usianya dibandingkan dengan kerajaan Taruma Nagara. Pada masa abad ke 7 hingga abad ke 14 kerajaan Sriwijaya berkembang di Sumatera. Penjelajah Tiongkok yang bernama I Ching pernah mengunjungi ibukotanya yaitu Palembang sekitar tahun 670. Pada abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan di Jawa Timur yaitu Majapahit. Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, yang bernama Gajah Mada berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu. Mungkin karena senioritas atau karena kekerabatan atau juga karena sebab lainnya, kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh tidak pernah dikuasai oleh kerajaan Majapahit.
Ada 2 orang keturunan Taruma Nagara yang menjadi raja besar diluar tanah Sunda:
1. Sanjaya / Rakeyan Jamri / Prabu Harisdama, raja ke 2 Kerajaan Sunda (723 – 732M), menjadi raja di Kerajaan Mataram (732 – 760M). Ia adalah pendiri Kerajaan Mataram Kuno, dan sekaligus pendiri Wangsa Sanjaya.
2. Raden Wijaya, penerus sah Kerajaan Sunda ke – 27, yang lahir di Pakuan, menjadi Raja Majapahit pertama (1293 – 1309 M).
Selain itu dikisahkan pula bahwa Putri Sobakancana anak dari Linggawarman, raja Taruma Nagara terakhir menjadi isteri Dapuntahyang Srijayanasa yang kemudian mendirikan kerajaan Sriwijaya di Sumatera.
Di bawah kekuasaan Purnawarman terdapat 48 raja-raja daerah yang kekuasaannya membentang dari Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada Pandeglang) sampai ke Purwalingga (sekarang Purbalingga) di Jawa Tengah. Secara tradisional Ci Pamali (Kali Brebes) memang dianggap batas kekuasaan raja-raja penguasa Jawa bagian Barat pada masa silam.
Kerajaan Galuh Pakuan (516 – 852 M), berada di sekitar wilayah kota Ciamis sekarang. Pendiri kerajaan Galuh adalah keturunan raja Taruma Nagara yang pergi menuju sekitar Selatan Jawa. Kerajaan Galuh didirikan oleh cicit dari Manikmaya, menantu Suryawarman (raja Taruma Nagara ke 7). Ada sebagian dari keturunan raja Galuh (yang juga keturunan Taruma Nagara) yang kemudian kembali menuju Utara dan mendirikan kerajaan dengan nama baru Pakuan Pajajaran. Sedangkan sebagian lainnya pergi menuju Timur untuk kemudian mendirikan kerajaan-kerajaan baru di wilayah Jawa Tengah (Sanjaya, mendirikan Mataram) dan Jawa Timur (Raden Wijaya, mendirikan Majapahit).

Kerajaan Pakuan Pajajaran biasa disebut kerajaan Pajajaran saja (1482 – 1579 M). Pada masa kejayaannya kerajaan ini diperintah oleh seorang raja yang sangat terkenal yaitu Sri Baduga Maharaja dengan gelar Prabu Siliwangi dinobatkan sebagai raja pada usia 18 tahun. Raja tersebut terkenal dengan “ajaran dari leluhur yang dijunjung tinggi yang mengejar kesejahteraan”.

Pusat kota Pajajaran ini terdapat di sekitar wilayah Batutulis sekarang, ini diketahui dari ditemukannya sisa-sisa bekas bangunan istana yang ditemukan di sekitar wilayah itu. Ini terungkap dalam ekspedisi yang dilakukan pihak VOC sebelum menguasai suatu wilayah baru.

Untuk kesejahteraan rakyatnya yang sebagian besar bertani dan juga untuk menghalangi serangan pihak musuh maka pada masa itu dibuat sebuat sodetan sungai yang sekarang dikenal dengan nama kali Cidepit dan Cipakancilan. Sungai Cidepit dan Cipakancilan adalah sungai buatan yang sumber airnya berasal dari sungai Cisadane.

Sama seperti kerajaan sebelumnya, kerajaan Pajajaran sendiri pada masa kejayaannya sudah menjalin hubungan dagang dengan negara-negara di Asia, Timur Tengah serta Eropa. Pelabuhan lautnya ada di Sunda Kalapa yang kemudian berubah nama menjadi Batavia dan kemudian berubah lagi menjadi Jakarta yang sekarang.

Prabu Siliwangi memiliki beberapa orang anak dari beberapa orang isteri. Dari istrinya yang bernama Kentring Manik Mayang Sunda (beragama Islam) (puteri Prabu Susuktunggal, raja kerajaan Sunda) keturunan-keturunannya pergi mengembara serta membangun wilayah pesisir Utara di wilayah Karawang. Dari istrinya yang bernama Subang Larang (beragama Islam) (puteri Ki Gedeng Tapa yang menjadi raja Singapura), Prabu Siliwangi memiliki 3 orang anak yaitu Kian Santang, Lara Santang dan Cakrabuana. Kian Santang adalah anaknya yang paling sakti serta memiliki ilmu yang sangat tinggi, konon dalam menuntut ilmu Islam Kian Santang mengembara hingga ke Timur Tengah. Ada juga kisah yang menceritakan bahwa Kian Santang dapat pergi menuju Pelabuanratu melalui sebuah goa besar yang terdapat di sungai Ciliwung (dulu bernama cihaliwung). Letak goa itu sendiri sampai sekarang belum ada yang berhasil menemukannya, tetapi dari mitos yang berkembang letak goa itu berada di leuwi sipatahunan, sebuah bagian sungai yang paling dalam yang sekarang berada di tengah-tengah lokasi kebun raya Bogor. Bagi kalangan spiritual, leuwi sipatahunan ini konon memiliki aura misteri yang sangat kuat. Lara Santang mengembara hingga ke Sumatera dan daratan Asia, menyebarkan agama Islam yang di Sumatera dikenal dengan nama Ibu Syarifah Mudaif. Lara Santang adalah ibu dari Syarif Hidayatullah, raja Cirebon yang pada tahun 1579 ikut menyerang ke Pajajaran. Cakrabuana mengembara di sekitar wilayah Cirebon, menurut cerita versi Pajajaran beliau yang mendirikan asal muasal kota Cirebon.

Perbedaan yang mencolok antara Ibu Subang Larang dengan Ibu Kentring Manik Mayang Sunda adalah keunggulannya yang berbeda; Ibu Subang Larang mencerminkan sosok ibu yang idealnya seperti seorang ibu sedangkan Ibu Kentring Manik Mayang Sunda mencerminkan sosok seorang wanita yang perkasa dan mandiri. Bagi sebagian orang Bogor, Ibu Subang Larang-lah yang biasa disebut dengan nama Ibu Ratu bukan Nyai Roro Kidul seperti yang diyakini sebagian masyarakat.
Menurut cerita, Prabu Siliwangi tidak meninggal dunia tetapi beliau menghilang (sunda:ngahiyang), karena itulah makam Prabu Siliwangi tidak pernah ditemukan hingga saat ini. Legenda masyarakat yang berkembang mengatakan bahwa Prabu Siliwangi menghilang dan kadang-kadang menampakan diri dengan wujud seekor harimau besar. Mungkin ini dihubungkan dengan seorang anggota ekspedisi pimpinan Scipio pada tahun 1687 yang diterkam harimau besar di tepi sungai Cisadane di sekitar prasasti Batutulis.

Pada masa masa kejayaan Kerajaan Pajajaran ada 4 orang patih Pajajaran yang terkenal:
Ranggagading, paling sakti dan bertindak sebagai pimpinan para patih, petilasan Ranggagading dapat ditemukan di desa Cipinang Gading di Batutulis Bogor. Entah bagaimana cerita ini bermula tapi ada sebagian orang yang mempercayai bahwa Ranggagading-lah yang selama ini disebut-sebut sebagai patih Gajahmada di kerajaan Majapahit.
Ranggawulung, petilasannya ada di dekat kota Subang
Ranggadipa, petilasannya ada di dekat kaki gunung kapur Ciampea
Ranggasukma, hingga saat ini petilasannya belum ditemukan

Di sekitar kota Bogor banyak “nama-nama lama” peninggalan bekas kerajaan Pajajaran pada saat masih berdiri, misalnya Lawang Gintung, Lawang Saketeng, Pamoyanan, Pasirkuda, Cibalagung, Pagentongan, Balekambang, Panaragan, Pagelaran dan lain-lain.

Peninggalan kerajaan Pajajaran yang terkenal adalah prasasti Batutulis, isi prasasti ini kira-kira berarti: “Semoga selamat, ini adalah tanda peringatan untuk Prabu Ratu almarhum. Dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana dinobatkan dia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran. Sri sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit pertahanan Pakuan, dia putra Rahiyang Dewa Niskala yang dipusarakan di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang dipusarakan ke Nusalarang. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, undakan untuk hutan Samida dan Sahiyang Talaga Rena Mahawijaya. Dibuat dalam saka 1455.” Selain prasasti banyak pula peninggalan-peninggalan kerajaan Pajajaran yang ditemukan di sekitar komplek ini, salah satunya adalah bangunan sisa kerajaan Pajajaran (ditemukan oleh Scipio, seorang ekspedisi Belanda pada tahun 1687) pada saat sesudah dibumihanguskan pada tahun 1579 oleh Kerajaan Banten (Maulana Yusuf) yang berkoalisi dengan Kesultanan Cirebon (Syarief Hidayatullah).
Kerajaan Pajajaran dibumihanguskan oleh Kerajaan Banten dan Cirebon karena Raja Pajajaran pada saat itu menolak untuk di-Islamkan, agama “resmi” kerajaan yang dianut saat itu adalah agama Sunda (Sunda Wiwitan?). Konon agama Sunda memang tidak mensyaratkan untuk membangun tempat peribadatan khusus, oleh karena itu maka sisa-sisa peninggalan yang berupa bangunan mirip candi hampir tidak ditemukan di Jawa Barat.

Pada saat pembumihangusan, raja terakhir kerajaan Pajajaran yang bernama Raga Mulya (1567 – 1579) ikut tewas terbunuh dan sebagian dari para pangeran yang tidak terbunuh lari menuju pakidulan, Selatan Bogor (desa Sirnaresmi di sekitar Pelabuanratu) untuk kemudian menuju ke arah pakulonan, menuju ke Barat (sekarang propinsi Banten), menurut cerita ada anggapan bahwa kemungkinan mereka inilah yang menjadi cikal bakal dari masyarakat Badui yang kita kenal sekarang.

Prasasti Batutulis dibuat oleh Prabu Surawisesa pada tahun 1533 M dengan maksud memperingati jasa-jasa ayahandanya Sri Baduga Maharaja atau yang lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi yang sakti. Selain itu di Batutulis tersebut adalah tempat upacara dilantiknya raja-raja Pajajaran yang disebut dengan upacara Kuwerabhakti.

Sri Baduga Maharaja adalah raja Pajajaran terbesar yang memerintah dari tahun 1482 sampai 1521 M. Pelantikan Sri Baduga Maharaja sebagai raja Pajajaran itu sendiri dilakukan pada saat Sri Baduga Maharaja memindahkan ibukota kerajaan dari Galuh ke Pajajaran (Bogor) pada tanggal 3 Juni 1482. Maka tanggal itulah yang kemudian secara resmi oleh pemerintah ditetapkan sebagai hari jadi kota Bogor, walapun ada juga yang mengganggap bahwa tanggal tersebut terlalu “muda” untuk dijadikan penetapan hari jadi sebuah kota sesusia kota Bogor.

Konon kehancuran kerajaan Pajajaran disebabkan pula oleh adanya penghianatan dari “orang dalam” yang merasa tidak puas dengan kepemimpinan Raga Mulya (Suryakancana). Setelah kehancuran kerajaan Pajajaran pada tahun 1579 dan larinya para pangeran kerajaan maka terputuslah sejarah kerajaan ini. Sesuai tradisi, kursi singgasana milik kerajaan Pajajaran oleh Maulana Yusuf ikut diboyong menuju Banten yang secara simbolis menyatakan bahwa kerajaan Pajajaran tidak akan berdiri lagi. Inipun menandakan bahwa kekuasaan kerajaan Pajajaran sebenarnya telah beralih ke Maulana Yusuf dari Banten. Terlebih dengan berdirinya VOC beberapa tahun kemudian yaitu tahun 1602 yang memanfaatkan perbedaan pendapat dan perpecahan diantara kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia, maka berakhirlah sudah masa kerajaan Pajajaran.
Pada tahun 1681 Belanda menandatangani kesepakatan dengan kesultanan Cirebon dan tahun 1684 Belanda menandatangani kesepakatan dengan kesultanan Banten. Maka ditetapkanlah batas wilayahnya yaitu sungai Cisadane, untuk itu dilakukan sebuah ekspedisi untuk mencari sisa-sisa kerajaan Pajajaran pada tahun 1687 seperti diceritakan diatas.

Cerita ini sebagian bersumber dari catatan dan fakta sejarah dan sebagian lagi dari sebuah cerita yang diceritakan dan diceritakan lagi serta diceritakan lagi secara turun temurun oleh para pangeran kerajaan yang berhasil melarikan diri hingga kemudian cerita ini berubah menjadi sebuah cerita rakyat dan kemudian ada yang berkembang menjadi sebuah mitos.

Tidak seperti kisah sejarah “versi pemerintah” yang terdapat dalam buku-buku sejarah SD, SMP dan SMA bahwa yang selama ini selalu disebut-sebut sebagai awal mula peradaban di Indonesia (pulau Jawa) adalah Kerajaan Mataram kuno. Dalam buku sejarah “versi pemerintah” tersebut sedikit sekali tulisan tentang kerajaan Tarumanagara bahkan kerajaan Pajajaran tidak disebutkan samasekali. Maka dalam uraian singkat ini kami mencoba menggali lebih dalam lagi ke masa sebelum adanya Kerajaan Mataram agar tidak ada fakta sejarah yang diputarbalikan hanya demi sebuah kepentingan segelintir orang.

Demikian sejarah singkat kota tua Bogor. Tulisan ini memang hanya menceritakan dari awal sejarah dapat terungkap sampai dengan hari jadi kota Bogor. Kesalahan serta kurang lengkapnya nama, tahun dan lokasi kejadian sejarah bukanlah sebuah kesengajaan tapi semata-mata karena kurang lengkapnya referensi kami.

Silsilah kerajaan di Jawa Barat

KERAJAAN SALAKANAGARA

Masa pemerintahan kerajaan ini dari tahun 200 SM (menurut catatan sejarah dari India yang menyebutnya sebagai Java Dwipa) sampai tahun 362 M. Tokoh awal dari kerajaan ini bernama Aki Tirem. Kerajaan ini berkedudukan di Teluk Lada Pandeglang namun ada juga yang menyatakan kerajaan ini berkedudukan di sebelah Barat Kota Bogor di kaki gunung Salak, konon nama gunung Salak diambil dari kata Salaka.

1. Dewawarman I
2. Dewawarman II
3. Dewawarman III
4. Dewawarman IV
5. Dewawarman V
6. Dewawarman VI
7. Dewawarman VII
8. Dewawarman VIII

KERAJAAN TARUMANAGARA

1. Jayasingawarman (358 – 382) dia adalah menantu dari Dewawarman VIII
2. Dharmayawarman (382 – 395)
3. Purnawarman (395 – 434)
4. Wisnuwarman (434 – 455)
5. Indrawarman (455 – 515)
6. Candrawarman (515 – 535)
7. Suryawarman (535 – 561)
Tahun 526 menantu Suryawarman yang bernama Manikmaya mendirikan kerajaan baru di wilayah Timur (dekat Nagreg Garut) yang kemudian cicit dari Manikmaya yang bernama Wretikandayun mendirikan kerajaan baru tahun 612 yang kemudian dikenal dengan nama kerajaan Galuh.
8. Kertawarman (561 – 628)
9. Sudhawarman (628 – 639)
10. Hariwangsawarman (639 – 640)
11. Nagajayawarman (640 – 666)
12. Linggawarman (666 – 669)
Anak Linggawarman yang bernama Sobakancana menikah dengan Daputahyang Srijayanasa yang kemudian mendirikan kerajaan Sriwijaya. Anaknya yang bernama Manasih menikah dengan Tarusbawa yang kemudian melanjutkan kerajaan Tarumanagara dengan nama kerajaan Sunda. Karena Tarusbawa merubah nama kerajaan Tarumanagara menjadi kerajaan Sunda maka Wretikandayun pada tahun 612 menyatakan kerajaan Galuh adalah sebagai kerajaan yang berdiri sendiri bukan dibawah kekuasaan kerajaan Sunda walaupun sebenarnya kerajaan-kerajaan itu diperintah oleh garis keturunan yang sama hanya ibukotanya saja yang berpindah-pindah (Sunda, Pakuan, Galuh, Kawali, Saunggalah).

KERAJAAN SUNDA/GALUH/SAUNGGALAH/PAKUAN

1. Tarusbawa (670 – 723)
2. Sanjaya/Harisdarma/Rakeyan Jamri (723 –732) ibu dari Sanjaya adalah putri Sanaha dari Kalingga sedangkan ayahnya adalah Bratasenawa (raja ke 3 kerajaan Galuh) Sanjaya adalah cicit dari Wretikandayun (kerajaan Galuh) Sanjaya kemudian menikah dengan anak perempuan Tarusbawa yang bernama Tejakancana.
3. Rakeyan Panabaran/Tamperan Barmawijaya (732 – 739) adalah anak Sanjaya dari istrinya Tejakancana. Sanjaya sendiri sebagai penerus ke 2 kerajaan Sunda kemudian memilih berkedudukan di Kalingga yang kemudian mendirikan kerajaan Mataram Kuno dan wangsa Sanjaya (mulai 732)
4. Rakeyan Banga (739 – 766)
5. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766 – 783)
6. Prabu Gilingwesi (783 – 795)
7. Pucukbumi Darmeswara (795 – 819)
8. Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus (819 – 891)
9. Prabu Darmaraksa (891 – 895)
10. Windusakti Prabu Dewageng (895 – 913)
11. Rakeyan Kemuning Gading Prabu Pucukwesi (913 – 916)
12. Rakeyan Jayagiri Prabu Wanayasa (916 – 942)
13. Prabu Resi Atmayadarma Hariwangsa (942 – 954)
14. Limbur Kancana (954 – 964)
15. Prabu Munding Ganawirya (964 – 973)
16. Prabu Jayagiri Rakeyan Wulung Gadung (973 – 989)
17. Prabu Brajawisesa (989 – 1012)
18. Prabu Dewa Sanghyang (1012 – 1019)
19. Prabu Sanghyang Ageng (1019 – 1030)
20. Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati (1030 – 1042) Ayah Sri Jayabupati (Sanghyang Ageng) menikah dengan putri dari Sriwijaya (ibu dari Sri Jayabupati) sedangkan Sri Jayabupati sendiri menikah dengan putri Dharmawangsa (adik Dewi Laksmi istri dari Airlangga)
21. Raja Sunda XXI
22. Raja Sunda XXII
23. Raja Sunda XXIII
24. Raja Sunda XXIV
25. Prabu Guru Dharmasiksa
26. Rakeyan Jayadarma, istri Rakeyan Jayadarma adalah Dyah Singamurti/Dyah Lembu Tal anak dari Mahesa Campaka, Mahesa Campaka adalah anak dari Mahesa Wongateleng, Mahesa Wongateleng adalah anak dari Ken Arok dan Ken Dedes dari kerajaan Singasari.
Anak Rakeyan Jayadarma dengan Dyah Singamurti bernama Sang Nararya Sanggrama Wijaya atau lebih dikenal dengan nama Raden Wijaya. Karena Jayadarma meninggal di usia muda dan Dyah Singamurti tidak mau tinggal lebih lama di Pakuan maka pindahlah Dyah Singamurti dan anaknya Raden Wijaya ke Jawa Timur yang kemudian Raden Wijaya menjadi Raja Majapahit pertama.
27. Prabu Ragasuci (1297 – 1303) dia adalah adik dari Rakeyan Jayadarma. Istri Ragasuci bernama Dara Puspa seorang putri dari Kerajaan Melayu. Dara Puspa adalah adik Dara Kencana (yang menikah dengan Kertanegara dari Singasari).
28. Prabu Citraganda (1303 – 1311)
29. Prabu Lingga Dewata (1311 – 1333)
30. Prabu Ajigunawisesa (1333 – 1340) menantu Prabu Lingga Dewata
31. Prabu Maharaja Lingga Buana (1340 – 1357)
32. Prabu Mangkubumi Suradipati/Prabu Bunisora (1357 – 1371) adik Lingga Buana
33. Prabu Raja Wastu/Niskala Wastu Kancana (1371 – 1475) anak dari Prabu Lingga Buana. Istri pertamanya bernama Larasarkati dari Lampung memiliki anak bernama Sang Haliwungan setelah menjadi Raja Sunda bergelar Prabu Susuktunggal. Permaisuri keduanya adalah Mayangsari putri sulung Prabu Mangkubumi Suradipati/Bunisora memiliki anak yang bernama Ningrat Kancana setelah menjadi Raja Galuh bergelar Prabu Dewaniskala.
Setelah Prabu Raja Wastu meninggal dunia kerajaan dipecah menjadi 2 dengan hak serta wewenang yang sama, Prabu Susuktunggal menjadi raja di kerajaan Sunda sedangkan Prabu Dewaniskala menjadi raja di kerajaan Galuh.
Putra Prabu Dewaniskala bernama Jayadewata, mula-mula menikah dengan Ambetkasih putri dari Ki Gedeng Sindangkasih kemudian menikah lagi dengan Subanglarang (putri Ki Gedeng Tapa yang menjadi raja Singapura) setelah itu ia menikah lagi dengan Kentringmanik Mayang Sunda, putri Prabu Susuktunggal.
Pada tahun 1482 Prabu Dewaniskala menyerahkan kekuasaan kerajaan Galuh kepada puteranya (Jayadewata), demikian pula dengan Prabu Susuktunggal, ia menyerahkan tahta kerajaan kepada menantunya (Jayadewata), maka jadilah Jayadewata sebagai penguasa kerajaan Galuh dan Sunda dengan gelar Sri Baduga Maharaja atau yang lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi.

KERAJAAN PAJAJARAN

1. Sri Baduga Maharaja/Prabu Siliwangi (1482 – 1521)
Pada masa inilah kerajaan Pajajaran mengalami kemajuan serta kemakmuran.
2. Surawisesa (1521 – 1535)
3. Ratu Dewata (1535 – 1543)
4. Ratu Sakti (1543 – 1551)
5. Raga Mulya (1551 – 1579)
Sekelumit tentang kisah kerajaan Pajajaran sampai dengan tanggal penetapan hari jadi kota Bogor telah ditulis dibagian awal dari tulisan ini.

Penutup

Kami berharap kisah/cerita/fakta sejarah dapat diungkap dengan proporsional karena selama ini saya dan juga bangsa Indonesia lainnya merasa telah “tertipu” oleh politik Soeharto yang mengagung-agungkan orang Jawa/Mataram dengan menyembunyikan fakta sejarah yang sebenarnya hanya untuk kepentingan politiknya saja. Mengapa tidak pernah disebutkan bahwa wangsa Sanjaya pendiri Mataram Kuno adalah seorang putra Sunda? Demikian pula dengan sejarah Majapahit, kenapa tidak pernah pula disebutkan bahwa Raden Wijaya raja pertama Majapahit adalah seorang putera Sunda? dan sumpah Palapa-nya Gajahmada, apakah Majapahit pernah berhasil menguasai Sunda dan Galuh? Jawabannya: tidak pernah. Siapa sebenarnya Gajahmada? Dimana dia lahir? Siapa nama orangtuanya? Kapan dia meninggal? Dimana dia dimakamkan? Tidak ada seorangpun yang tahu pasti, oleh karena itulah maka ada orang yang beranggapan bahwa Ranggagading dari Pakuan-lah yang selama ini disebut-sebut sebagai Gajahmada patih kerajaan Majapahit. Mungkin sama seperti tokoh Si Kabayan, tidak ada yang tahu asal usulnya, jadi siapapun boleh saja mengatakan bahwa di kampung merekalah adanya makam Kabayan.

Bila kita bandingkan dengan kerajaan-kerajaan lain di Indonesia, maka kerajaan Salakanagara di Jawa Barat-lah yang pantas dikatakan sebagai kerajaan tua, dan dari situlah seharusnya asal muasal sejarah Indonesia ini diungkapkan dengan benar.

Mudah-mudahan kejadian “penipuan sejarah” tidak terulang lagi dimasa yang akan datang, terlepas dari keuntungan politik yang akan diperoleh, walau bagaimananpun juga masyarakat tentu akan lebih menghargai informasi yang jujur.

Tadinya saya hanya mencari-cari asal-usul nama jalan di seputaran Dago, yaitu jalan Purnawarman, Sawunggaling, Mundinglaya, Ciungwanara, Ranggagading, Ranggamalela, Ranggagempol, Hariangbanga, Geusan Ulun, Adipati Kertabumi, Dipati Ukur, Suryakancana, Wira Angunangun, Ariajipang, Prabu Dimuntur, Bahureksa, Wastukancana, Gajah Lumantung, Sulanjana, Badaksinga, Bagusrangin, Panatayuda, dan Singaperbangsa. Tidak banyak yang saya dapat dari pencarian Google, juga tidak punya buku referensi untuk saya dongengkan kembali. Jadi hanya saya tulis asal-usul Sunda saja, mungkin nanti saya temukan juga dongeng atau pun sejarah tentang nama-nama jalan di atas.

Disadur, diringkas, dipotong dan didongengkan kembali oleh saya dari situs catatan sejarah kota Bogor. Silakan baca langsung sumbernya jika anda berminat membaca lebih detil.

Nama Sunda mulai digunakan oleh Maharaja Purnawarman dalam tahun 397M untuk menyebut ibukota kerajaan yang didirikannya, Tarumanagara. Tarusbawa, penguasa Tarumanagara yang ke-13 ingin mengembalikan keharuman Tarumanagara yang semakin menurun di purasaba (ibukota) Sundapura. Pada tahun 670M ia mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda (selanjutnya punya nama lain yang menunjukkan wilayah/pemerintahan yang sama seperti Galuh, Kawali, Pakuan atau Pajajaran).

Peristiwa ini dijadikan alasan oleh Kerajaan Galuh untuk memisahkan negaranya dari kekuasaan Tarusbawa. Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan perang saudara, Maharaja Tarusbawa menerima tuntutan Raja Galuh. Akhirnya kawasan Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Sungai Citarum sebagai batas (Cianjur ke Barat wilayah Sunda, Bandung ke Timur wilayah Galuh).

Menurut sejarah kota Ciamis pembagian wilayah Sunda-Galuh adalah sebagai berikut:

Pajajaran berlokasi di Bogor beribukota Pakuan
Galuh Pakuan beribukota di Kawali
Galuh Sindula yang berlokasi di Lakbok dan beribukota Medang Gili
Galuh Rahyang berlokasi di Brebes dengan ibukota Medang Pangramesan
Galuh Kalangon berlokasi di Roban beribukota Medang Pangramesan
Galuh Lalean berlokasi di Cilacap beribukota di Medang Kamulan
Galuh Pataruman berlokasi di Banjarsari beribukota Banjar Pataruman
Galuh Kalingga berlokasi di Bojong beribukota Karangkamulyan
Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung beribukota Bagolo
Galuh Kumara berlokasi di Tegal beribukota di Medangkamulyan
Tarusbawa bersahabat baik dengan raja Galuh Bratasenawa atau Sena. Purbasora –yang termasuk cucu pendiri Galuh– melancarkan perebutan tahta Galuh di tahun 716M karena merasa lebih berhak naik tahta daripada Sena. Sena melarikan diri ke Kalingga (istri Sena; Sanaha, adalah cucu Maharani Sima ratu Kalingga).

Sanjaya, anak Sena, ingin menuntut balas kepada Purbasora. Sanjaya mendapat mandat memimpin Kerajaan Sunda karena ia adalah menantu Tarusbawa. Galuh yang dipimpin Purbasora diserang habis-habisan hingga yang selamat hanya satu senapati kerajaan, yaitu Balangantrang.

Sanjaya yang hanya berniat balas dendam terpaksa harus naik tahta juga sebagai Raja Galuh, sebagai Raja Sunda ia pun harus berada di Sundapura. Sunda-Galuh disatukan kembali hingga akhirnya Galuh diserahkan kepada tangan kanannya yaitu Premana Dikusuma yang beristri Naganingrum yang memiliki anak bernama Surotama alias Manarah.

Premana Dikusuma adalah cucu Purbasora, harus tunduk kepada Sanjaya yang membunuh kakeknya, tapi juga hormat karena Sanjaya disegani, bahkan disebut rajaresi karena nilai keagamaannya yang kuat dan memiliki sifat seperti Purnawarman. Premana menikah dengan Dewi Pangreyep –keluarga kerajaan Sunda– sebagai ikatan politik.

Di tahun 732M Sanjaya mewarisi tahta Kerajaan Medang dari orang tuanya. Sebelum ia meninggalkan kawasan Jawa Barat, ia mengatur pembagian kekuasaan antara putranya, Tamperan dan Resiguru Demunawan. Sunda dan Galuh menjadi kekuasaan Tamperan, sedangkan Kerajaan Kuningan dan Galunggung diperintah oleh Resiguru Demunawan.

Premana akhirnya lebih sering bertapa dan urusan kerajaan dipegang oleh Tamperan yang merupakan ‘mata dan telinga’ bagi Sanjaya. Tamperan terlibat skandal dengan Pangreyep hingga lahirlah Banga (dalam cerita rakyat disebut Hariangbanga). Tamperan menyuruh pembunuh bayaran membunuh Premana yang bertapa yang akhirnya pembunuh itu dibunuh juga, tapi semuanya tercium oleh Balangantrang.

Balangantrang dengan Manarah merencanakan balas dendam. Dalam cerita rakyat Manarah dikenal sebagai Ciung Wanara. Bersama pasukan Geger Sunten yang dibangun di wilayah Kuningan Manarah menyerang Galuh dalam semalam, semua ditawan kecuali Banga dibebaskan. Namun kemudian Banga membebaskan kedua orang tuanya hingga terjadi pertempuran yang mengakibatkan Tamperan dan Pangreyep tewas serta Banga kalah menyerah.

Perang saudara tersebut terdengar oleh Sanjaya yang memimpin Medang atas titah ayahnya. Sanjaya kemudian menyerang Manarah tapi Manarah sudah bersiap-siap, perang terjadi lagi namun dilerai oleh Demunawan, dan akhirnya disepakati Galuh diserahkan kepada Manarah dan Sunda kepada Banga.

Konflik terus terjadi, kehadiran orang Galuh sebagai Raja Sunda di Pakuan waktu itu belum dapat diterima secara umum, sama halnya dengan kehadiran Sanjaya dan Tamperan sebagai orang Sunda di Galuh. Karena konflik tersebut, tiap Raja Sunda yang baru selalu memperhitungkan tempat kedudukan yang akan dipilihnya menjadi pusat pemerintahan. Dengan demikian, pusat pemerintahan itu berpindah-pindah dari barat ke timur dan sebaliknya. Antara tahun 895M sampai tahun 1311M kawasan Jawa Barat diramaikan sewaktu-waktu oleh iring-iringan rombongan raja baru yang pindah tempat.

Dari segi budaya orang Sunda dikenal sebagai orang gunung karena banyak menetap di kaki gunung dan orang Galuh sebagai orang air. Dari faktor inilah secara turun temurun dongeng Sakadang Monyet jeung Sakadang Kuya disampaikan.

Hingga pemerintahan Ragasuci (1297M–1303M) gejala ibukota mulai bergeser ke arah timur ke Saunggalah hingga sering disebut Kawali (kuali tempat air). Ragasuci sebenarnya bukan putra mahkota. Raja sebelumnya, yaitu Jayadarma, beristrikan Dyah Singamurti dari Jawa Timur dan memiliki putra mahkota Sanggramawijaya, lebih dikenal sebagai Raden Wijaya, lahir di Pakuan. Jayadarma kemudian wafat tapi istrinya dan Raden Wijaya tidak ingin tinggal di Pakuan, kembali ke Jawa Timur.

Kelak Raden Wijaya mendirikan Majapahit yang besar, hingga jaman Hayam Wuruk dan Gajah Mada mempersatukan seluruh nusantara, kecuali kerajaan Sunda yang saat itu dipimpin Linggabuana, yang gugur bersama anak gadisnya Dyah Pitaloka Citraresmi pada perang Bubat tahun 1357M. Sejak peristiwa Bubat, kerabat keraton Kawali ditabukan berjodoh dengan kerabat keraton Majapahit.

Menurut Kidung Sundayana, inti kisah Perang Bubat adalah sebagai berikut (dikutip dari JawaPalace):

Tersebut negara Majapahit dengan raja Hayam Wuruk, putra perkasa kesayangan seluruh rakyat, konon ceritanya penjelmaan dewa Kama, berbudi luhur, arif bijaksana, tetapi juga bagaikan singa dalam peperangan. Inilah raja terbesar di seluruh Jawa bergelar Rajasanagara. Daerah taklukannya sampai Papua dan menjadi sanjungan empu Prapanca dalam Negarakertagama. Makmur negaranya, kondang kemana-mana. Namun sang raja belum kawin rupanya. Mengapa demikian? Ternyata belum dijumpai seorang permaisuri. Konon ceritanya, ia menginginkan isteri yang bisa dihormati dan dicintai rakyat dan kebanggaan raja Majapahit. Dalam pencarian seorang calon permaisuri inilah terdengar khabar putri Sunda nan cantik jelita yang mengawali dari Kidung Sundayana.

Apakah arti kehormatan dan keharuman sang raja yang bertumpuk dipundaknya, seluruh Nusantara sujud di hadapannya. Tetapi engkau satu, jiwanya yang senantiasa menjerit meminta pada yang kuasa akan kehadiran jodohnya. Terdengarlah khabar bahwa ada raja Sunda (Kerajaan Kahuripan) yang memiliki putri nan cantik rupawan dengan nama Diah Pitaloka Citrasemi.

Setelah selesai musyawarah sang raja Hayam Wuruk mengutus untuk meminang putri Sunda tersebut melalui perantara yang bernama tuan Anepaken, utusan sang raja tiba di kerajaan Sunda. Setelah lamaran diterima, direstuilah putrinya untuk di pinang sang prabu Hayam Wuruk. Ratusan rakyat menghantar sang putri beserta raja dan punggawa menuju pantai, tapi tiba-tiba dilihatnya laut berwarna merah bagaikan darah. Ini diartikan tanda-tanda buruk bahwa diperkirakan putri raja ini tidak akan kembali lagi ke tanah airnya. Tanda ini tidak dihiraukan, dengan tetap berprasangka baik kepada raja tanah Jawa yang akan menjadi menantunya.

Sepuluh hari telah berlalu sampailah di desa Bubat, yaitu tempat penyambutan dari kerajaan Majapahit bertemu. Semuanya bergembira kecuali Gajahmada, yang berkeberatan menyambut putri raja Kahuripan tersebut, dimana ia menganggap putri tersebut akan “dihadiahkan” kepada sang raja. Sedangkan dari pihak kerajaan Sunda, putri tersebut akan “di pinang” oleh sang raja. Dalam dialog antara utusan dari kerajaan Sunda dengan patih Gajahmada, terjadi saling ketersinggungan dan berakibat terjadinya sesuatu peperangan besar antara keduanya sampai terbunuhnya raja Sunda dan putri Diah Pitaloka oleh karena bunuh diri. Setelah selesai pertempuran, datanglah sang Hayam Wuruk yang mendapati calon pinangannya telah meninggal, sehingga sang raja tak dapat menanggung kepedihan hatinya, yang tak lama kemudian akhirnya mangkat. Demikian inti Kidung.

Sunda-Galuh kemudian dipimpin oleh Niskala Wastukancana, turun temurun hingga beberapa puluh tahun kemudian Kerajaan Sunda mengalami keemasan pada masa Sri Baduga Maharaja, Sunda-Galuh dalam prasasti disebut sebagai Pajajaran dan Sri Baduga disebut oleh rakyat sebagai Siliwangi, dan kembali ibukota pindah ke barat.

Menurut sumber Portugis, di seluruh kerajaan, Pajajaran memiliki kira-kira 100.000 prajurit. Raja sendiri memiliki pasukan gajah sebanyak 40 ekor. Di laut, Pajajaran hanya memiliki 6 buah Jung (kapal laut model Cina) untuk perdagangan antar-pulaunya (saat itu perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai 4000 ekor/tahun).

Selain tahun 1511 Portugis menguasai Malaka, VOC masuk Sunda Kalapa, Kerajaan Islam Banten, Cirebon dan Demak semakin tumbuh membuat kerajaan besar Sunda-Galuh Pajajaran semakin terpuruk hingga perlahan-lahan pudar, ditambah dengan hubungan dagang Pajajaran-Portugis dicurigai kerajaan di sekeliling Pajajaran. Stop.

Lanjut!

Setelah Kerajaan Sunda-Galuh-Pajajaran memudar kerajaan-kerajaan kecil di bawah kekuasaan Pajajaran mulai bangkit dan berdiri-sendiri, salah satunya adalah Kerajaan Sumedang Larang (ibukotanya kini menjadi Kota Sumedang). Kerajaan Sumedang Larang didirikan oleh Prabu Geusan Ulun Adji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan kembali ke Pakuan Pajajaran, Bogor.

Kerajaan Sumedang pada masa Prabu Geusan Ulun mengalami kemajuan yang pesat di bidang sosial, budaya, agama (terutama penyebaran Islam), militer dan politik pemerintahan. Setelah wafat pada tahun 1608, putranya, Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata/Rangga Gempol I atau yang dikenal dengan Raden Aria Suradiwangsa naik tahta. Namun, pada saat Rangga Gempol memegang kepemimpinan, pada tahun 1620M Sumedang Larang dijadikan wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung, dan statusnya sebagai ‘kerajaan’ diubah menjadi ‘kabupaten’.

Sultan Agung memberi perintah kepada Rangga Gempol I beserta pasukannya untuk memimpin penyerangan ke Sampang, Madura. Sedangkan pemerintahan sementara diserahkan kepada adiknya, Dipati Rangga Gede. Hingga suatu ketika, pasukan Kerajan Banten datang menyerbu dan karena setengah kekuatan militer kabupaten Sumedang Larang diberangkatkan ke Madura atas titah Sultan Agung, Rangga Gede tidak mampu menahan serangan pasukan Banten dan akhirnya melarikan diri. Kekalahan ini membuat marah Sultan Agung sehingga ia menahan Dipati Rangga Gede, dan pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada Dipati Ukur. Sekali lagi, Dipati Ukur diperintahkan oleh Sultan Agung untuk bersama-sama pasukan Mataram untuk menyerang dan merebut pertahanan Belanda di Batavia (Jakarta) yang pada akhirnya menemui kegagalan. Kekalahan pasukan Dipati Ukur ini tidak dilaporkan segera kepada Sultan Agung, diberitakan bahwa ia kabur dari pertanggungjawabannya dan akhirnya tertangkap dari persembunyiannya atas informasi mata-mata Sultan Agung yang berkuasa di wilayah Priangan.

Setelah habis masa hukumannya, Dipati Rangga Gede diberikan kekuasaan kembali untuk memerintah di Sumedang, sedangkan wilayah Priangan di luar Sumedang dan Galuh (Ciamis) dibagi kepada tiga bagian; Pertama, Kabupaten Bandung, yang dipimpin oleh Tumenggung Wiraangunangun, kedua, Kabupaten Parakanmuncang oleh Tanubaya dan ketiga, kabupaten Sukapura yang dipimpin oleh Tumenggung Wiradegdaha atau R. Wirawangsa atau dikenal dengan “Dalem Sawidak” karena memiliki anak yang sangat banyak.

Selanjutnya Sultan Agung mengutus Penembahan Galuh bernama R.A.A. Wirasuta yang bergelar Adipati Panatayuda atau Adipati Kertabumi III (anak Prabu Dimuntur, keturunan Geusan Ulun) untuk menduduki Rangkas Sumedang (Sebelah Timur Citarum). Selain itu juga mendirikan benteng pertahanan di Tanjungpura, Adiarsa, Parakansapi dan Kuta Tandingan. Setelah mendirikan benteng tersebut Adipati Kertabumi III kemudian kembali ke Galuh dan wafat. Nama Rangkas Sumedang itu sendiri berubah menjadi Karawang karena kondisi daerahnya berawa-rawa, karawaan.

Sultan Agung Mataram kemudian mengangkat putra Adipati Kertabumi III, yakni Adipati Kertabumi IV menjadi Dalem (Bupati) di Karawang, pada Tahun 1656M. Adipati Kertabumi IV ini juga dikenal sebagai Panembahan Singaperbangsa atau Eyang Manggung, dengan ibu kota di Udug-udug. Pada masa pemerintahan R. Anom Wirasuta putra Panembahan Singaperbangsa yang bergelar R.A.A. Panatayuda I antara Tahun 1679M dan 1721M ibu kota Karawang dari Udug-udug pindah ke Karawang. Stop.

Jadi nama jalan Sawunggaling, Mundinglaya, Ranggagading, Ranggamalela, Suryakancana, Ariajipang, Bahureksa, Gajah Lumantung, Sulanjana, Badaksinga dan Bagusrangin belum saya temukan dongeng atau sejarahnya, sebagian –kalau tidak salah ingat– adalah tokoh-tokoh dalam cerita rakyat Lutung Kasarung.

SUNDA NUSANTARA SEBAGAI INDUK BANGSA

Sunda Nusantara merupakan salah satu sejarah yang sangat perlu kita pelajari dan kita ungkap bersama.
Dengan sepintas orang dikacaukan dengan nama Sunda Kelapa. Pada dasarnya walaupun ada kemiripan nama, tetapi mempunyai makna lain. Sunda Kelapa identik dengan Batavia, Betawi, Jayakarta, Jakarta sebagi Ibu Kota Negara Kesatuan Negara Republik Indonesia sekarang ini.

Sedangkan Sunda Nusantara merupakan suatu Negara yang berbentuk Kerajaan dengan Pemerintahannya berdasarkan Konstitusi Parlementer Demokrasi Sejati Reformasi Kerakyatan dan Kemakmuran Bangsa Sunda Tanah Air di daratan Sunda Nusantara.
Wilayah: Sunda Nusantara memiliki wilayah yang terbentang dari barat sampai timur dari Jawa sampai dengan Papuniginia (Irian), bentangan dari selatan sampai dengan utara, mulai dari Timor sampai dengan selat Malaka-Singapura.

[Sisanya dihapus, hanya copy paste dari http://www.mail-archive.com/kisunda@yahoogroups.com/msg04126.html%5D

Suryakencana adalah nama seorang putra Pangeran Aria Wiratanudatar (pendiri kota Cianjur) yang beristrikan seorang putri jin. Pangeran Suryakencana memiliki dua putra yaitu: Prabu Sakti dan Prabu Siliwangi.
arKawasan Gunung Gede merupakan tempat bersemayam Pangeran Suryakencana. Beliau bersama rakyat jin menjadikan alun2 sebagai lumbung padi yang disebut Leuit Salawe, Salawe Jajar, dan kebun kelapa salawe tangkal, salawe manggar.

Petilasan singgasana Pangeran Suryakencana berupa sebuah batu besar berbentuk pelana. Hingga kini, petilasan tersebut masih berada di tengah alun-alun, dan disebut Batu Dongdang yang dijaga oleh Embah Layang Gading. Sumber air yang berada ditengah alun-alun, dahulu merupakan jamban untuk keperluan minum dan mandi.

Di dalam hutan yang mengitari Alun-alun Surya Kencana ini ada sebuah situs kuburan kuno tempat bersemayam Prabu Siliwangi. Pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi yang menguasai Jawa Barat, terjadi peperangan melawan Majapahit. Selain itu Prabu Siliwangi juga harus berperang melawan Kerajaan Kesultanan Banten. Setelah menderita kekalahan yang sangat hebat Prabu Siliwangi melarikan diri bersama para pengikutnya ke Gunung Gede.

Sekitar gunung Gede banyak terdapat petilasan peninggalan bersejarah yang dianggap sakral oleh sebagian peziarah, seperti petilasan Pangeran Suryakencana, putri jin dan Prabu Siliwangi. Kawah Gunung Gede yang terdiri dari, Kawah Ratu, Kawah Lanang, dan Kawah Wadon, dijaga oleh Embah Kalijaga. Embah Serah adalah penjaga Lawang Seketeng (pintu jaga) yang terdiri atas dua buah batu besar. Pintu jaga tersebut berada di Batu Kukus, sebelum lokasi air terjun panas yang menuju kearah puncak.

Eyang Jayakusumah adalah penjaga Gunung Sela yang berada disebelah utara puncak Gunung Gede. Sedangkan Eyang Jayarahmatan dan Embah Kadok menjaga dua buah batu dihalaman parkir kendaraan wisatawan kawasan cibodas. Batu tersebut pernah dihancurkan, namun bor mesin tidak mampu menghancurkannya. Dalam kawasan Kebun Raya Cibodas, terdapat petilasan/ makam Eyang Haji Mintarasa.

Pangeran Suryakencana menyimpan hartanya dalam sebuah gua lawa/walet yang berada di sekitar air terjun Cibeureum. Gua tersebut dijaga oleh Embah Dalem Cikundul. Tepat berada di tengah-tengah air terjun Cibeureum ini terdapat sebuah batu besar yang konon adalah perwujudan seorang pertapa sakti yang karena bertapa sangat lama dan tekun sehingga berubah menjadi batu. Pada hari kiamat nanti barulah ia akan kembali berubah menjadi manusia.

Hari gini masih ada yang mau memproklamirkan Kerajaan Sunda Nusantara di Bogor beberapa waktu yang lalu. Bila mereka belajar sejarah, sudah ada 2 penerus sah dari tahta KERAJAAN SUNDA tempo dulu yang menjadi raja besar di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Yaitu, Raja ke 2, SANJAYA / Rakeyan Jamri / Prabu Harisdama (Raja Sunda di tahun 723 – 732M), yang kemudian menjadi raja di Kerajaan MATARAM (Hindu) (732 – 760M), dan 1 lagi, RADEN WIJAYA, penerus sah Kerajaan Sunda ke – 27, yang lahir di Pakuan, menjadi Raja MAJAPAHIT pertama (1293 – 1309 M).

SANJAYA / Rakeyan Jamri / Prabu Harisdama (723 – 732M)
Cicit Wretikandayun, pendiri kerajaan Galuh, ini bernama RAKEYAN JAMRI. Sebagai penguasa Kerajaan Sunda ia dikenal dengan nama PRABU HARISDARMA dan kemudian setelah menguasai Kerajaan Galuh ia lebih dikenal dengan SANJAYA.
Ibu dari Sanjaya adalah SANAHA, cucu Maharani SIMA of KALINGGA / Kerajaan MEDANG.
Ayah dari Sanjaya adalah Bratasenawa / SENA / SANNA, raja GALUH ke 3, teman dekat Tarusbawa. Sena di tahun 716 M dikudeta dari tahta GALUH oleh Purbasora. Purbasora dan Sena adalah saudara satu ibu, tapi lain ayah.
Sebagai ahli waris Kalingga, SANJAYA kemudian menjadi penguasa Kalingga Utara yang disebut Bumi MATARAM dalam tahun 732 M. Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada puteranya dari TEJAKENCANA, TAMPERAN atau RAKEYAN PANARABAN.

RADEN WIJAYA, Raja MAJAPAHIT pertama (1293 – 1309 M).
Menurut PUSTAKA RAJYARAJYA i BHUMI NUSANTARA parwa II sarga 3:
RAKEYAN JAYADARMA, anak PRABU DHARMASIKSA (Raja Kerajaan Sunda ke 25), adalah menantu MAHISA CAMPAKA di Jawa Timur karena ia berjodoh dengan DYAH SINGAMURTI alias DYAH LEMBU TAL.
Mahisa Campaka adalah anak dari MAHISA WONGATELENG, yang merupakan anak dari KEN ANGROK dan KEN DEDES dari kerajaan SINGHASARI.
Mahisa Campaka dan Dyah Lembu Tal berputera SANG NARARYA SANGGRAMAWIJAYA atau lebih dikenal dengan nama RADEN WIJAYA (lahir di PAKUAN). Dengan kata lain, Raden Wijaya adalah turunan ke 4 dari Ken Angrok, dari pihak ibu.
Karena RAKEYAN JAYADARMA wafat dalam usia muda, Lembu Tal tidak bersedia tinggal lebih lama di Pakuan. Akhirnya Raden Wijaya dan ibunya diantarkan ke Jawa Timur. Dalam BABAD TANAH JAWI, Wijaya disebut pula JAKA SUSURUH yang kemudian menjadi Raja MAJAPAHIT yang pertama.
Kematian Jayadarma mengosongkan kedudukan putera mahkota karena Wijaya berada di Jawa Timur
Jadi, sebenarnya, RADEN WIJAYA, Raja MAJAPAHIT pertama, adalah penerus sah dari tahta Kerajaan Sunda yang ke-27.

GENEAOLOGY OF THE EMPEROR OF SUNDA NUSANTARA-
THE SUNDA ARCHIPELAGO -SUNDA MAINLAND-
SUNDA PASIFIC-SUNDA MALAY-ASIA MINOR.

130 Yr. AC
————
SERI BADUGA MAHARAJA ——-Ibu Kota
PRABU MAHADEWA DEWA WARMAN Kerajaan di
————————- Salaka Nagara
I (Ujung Kulon
II Bantan/Banten)
III
IV
!
!
!
_______________________!____________________________
| | ! | | |
(1) (2) (3)VII (4) (5) (6)
NYAI RATU MENDANG ! PRABU PRABU PRABU
RARA KAMOLAN ! MULA- ADITYA- BRAM-
PURBASARI PRABU ! WARMAN WARMAN BANGAN
ATAU SYALENDRA/ !
NYAI RATU (PRABU !
RARA KIDUL BRAWIJAYA) !
!
VIII
!
!
SERI BADUGA MAHARAJA
PRABU
NISKALA WASTU KENCANA
!
!
SERI BADUGA MAHARAJA
PRABU —–1467-1474
WANGI ANGGALARANG
(SILIWANGI)
!
!
_____________________!_____________________
| ! |
PANGERAN ! PANGERAN
PRABU ! PRABU
SINGAPORE ! MALAKA
!
!
SERI BADUGA MAHARAJA
DEWA TAPRANA PRABU GURU RATU HAJI
(PRABU SILIWANGI)
(1474-1513)
MENIKAH DENGAN PUTERI SUMBANG KRANCANG
SULTAN MALAKA
!
!
!
NYAI RATU RARA SANTANG
(Al Syarifah Siti Muda’im)
wafat di Madinah 1528
MENIKAH DENGAN SYARIEF ABDULLAH AL MISRI
(RAJA MESIR)
GE KE XXII
GUSTI RASUL MUHAMMAD SAW
!
!
!
(1513-1552)
KAISAR
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA
SUSUHUNAN SYARIEF HIDAYATULLAH AL MISRI
(SUNAN GUNUNG JATI/JATI PURBA)
Ibu kota di Charuban/Cirebon dan
dikenal oleh negara-negara di dunia
MENIKAH
CROWN PRINCE
KANJENG GUSTI RATU PREMBAYUN
(PUTERI TERTUA MAHARAJA/KESULTANAN
DEMAK, EMPEROR SULTAN FATAH
PUTERA TERTUA
dari KERAJAAN MAJAPAHIT:
EMPEROR PRABU BRAWIJAYA V)
!
!
______________________!
| !
PANGERAN !
JAPARA !
WAFAT DI BANTAN !
!
(1552-1570)
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA
SUSUHUNAN SYARIEF MAULANA HASANUDIN AL MISRI/
MAULANA SABA KIN-KING
Ibu kota dipindahkan dari Charuban(Cirebon)
ke Taruma Nagara (Sunda Kelapa)
!
!
(1570-1580)
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA
SUSUHUNAN SYARIEF MAULANA YUSUF AL MISRI
!
!
(1580-1596)
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA
SUSUHUNAN SYARIEF MAULANA MUHAMMAD AL MISRI
!
!
(1596-1640)
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA
SUSUHUNAN ABUL MAFACHIR RACHMATULLAH AL MISRI
!
!
(1640-1651)
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA
SUSUHUNAN ABUL MA’ALI ACHMAD RACHMATULLAH AL MISRI/
KYAI AGENG TIRTAYASA
!
!
(1651-1675)
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA
KANJENG SULTAN AGUNG ABUL TATGHI ABDUL FATAH AL MISRI/
KAISAR SULTAN WANGI AGENG TIRTAYASA
!
!
(1675-1687)
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA
KAISAR SULTAN ABUN NAZAR ABDUL KAHAR AL MISRI
!
!
(1690-1733)
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA
KAISAR SULTAN ZAINUL ABIDIN AL MISRI
!
!
(1733-1747)
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA
KAISAR SULTAN
ABUL FATAH MUHAMMAD SYAFEI ZAINUL ARIFIN AL MISRI
!
!
(1753-1777)
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA
KAISAR SULTAN ZAINUL ASIKIN AL MISRI
!
!
(1777-1802)
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA
KAISAR SULTAN MAHA ALI’OEDDIN AL MISRI
!
!
(1802-1810-1811)
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA
KAISAR SULTAN ACHMAD AL MISRI
berkedudukan
di Istana Merdeka,Istana Cipanas,Istana Bogor,
Istana Serosowan Bantan
(Inti sejarah kedatangan
SIR THOMAS STANFORD RAFLLES (France)/1811
1808-1815:
Belanda merupakan bagian dari pendudukan Perancis)
di tipu oleh STANFORD RAFLLES
ditinggal sendirian
di pulau Banda Maluku (Sunda Kecil Sunda Nusantara)
dengan tangan diikat
Wafat : 1840 di Desa Burakan Rembang Jawa Tengah
!
!
!
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA
KAISAR SULTAN ABDULAH AL MISRI
berkedudukan di Istana Cipanas, Bogor
wafat 1860
!
!
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA
PANGERAN GUNAWAN MARTAKUSUMAH AL MISRI
!
!
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA
PANGERAN ABDULLAH HALIM PRAWITA PURNAMA AL MISRI
!
!
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA
KAISAR SULTAN
ABUL MAFACHIR MOEHAMMAD HEROENINGRAT SILIWANGI AL MISRI
WAFAT DI BOGOR 12 NOVEMBER 1989
!
!
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA
KANJENG GUSTI PANGERAN
HADIPATI HARYA RACHMATULLAH HEROENINGRAT
SILIWANGI AL MISRI II/
HIS IMPERIAL MAJESTY SERI PADUKA YANG MAHA MULYA
BAGINDA MAHARAJA MAJESTY KAISER KANGJENG MAHA PAGUSTEN
EMPEROR SULTAN AGUNG MAHA PRABU SYARIEF ABUL MAFACHIR
MOEHAMMAD HEROENINGRAT SILIWANGI AL MISRI II
(lahir di Jakarta 30 september 1963)
Legal Crown of THE Monarchies of the Sovereign
Emperor of the Sovereign Empire of Sunda-Sunda Maindland-
The Sunda-Archipelago or the Sunda-Nusantara-Pasific-
a Greater part of the Pasific-the Mountain-Pasific
in the part of-the Pasific Sunda-Malay-Asia-Minor.
The Empire Parlementer was
Manual Democratie, Basically the Religons and Humanity
************************************
**Ketikan ini sumbangsih pemerhati sejarah yang perlu di pelajari dan di teliti lebih dalam akan Sejarah Sunda Nusantara Induk Bangsa (akar sejarah Ibu pertiwi kita) yang hingga kini belum dapat terselesaikan. Informasi Sejarah/Silsilah Kerajaan Sunda Nusantara ini di dapat dari dokumen resmi Al Misri II di Jakarta. Semoga Informasi ini dapat bermanfaat untuk mengenal lebih jauh akar sejarah ibu pertiwi kita.

Maaf ada yang salah pengetikan dalam silsilah Kerajaan Sunda Nusantara yang seharusnya

130 Yr. AC
————
SERI BADUGA MAHARAJA ——-Ibu Kota
PRABU MAHADEWA DEWA WARMAN Kerajaan di
————————- Salaka Nagara
I (Ujung Kulon
II Bantan/Banten)
III
IV
V
VI
!
_______________________!____________________________
| | ! | | |
(1) (2) (3)VII (4) (5) (6)
NYAI RATU MENDANG ! PRABU PRABU PRABU
RARA KAMOLAN ! MULA- ADITYA- BRAM-
PURBASARI PRABU ! WARMAN WARMAN BANGAN
ATAU SYALENDRA/ !
NYAI RATU (PRABU !
RARA KIDUL BRAWIJAYA) !
!
VIII
!
!
dst

PERCAYA ATAU TIDAK PERCAYA KERAJAAN SUNDA NUSANTARA ADA YANG TAK LUPUT DARI KUASA TUHAN YANG MAHA ESA (Allah SWT)

Ketikan ini merupakan sumbangsih pemerhati sejarah dan sebagai sebagian pembuktian serta pengetahuan yang harus perlu di teliti lebih dalam, akan keberadaan dari Kerajaan Maharaja Sunda, Benua Sunda, Sunda Nusantara (atau Sunda Archipelago;Sunda Besar dan Sunda Kecil) Sunda Pacific, Sunda Malay, Asia Minor dengan mencakup seluruh kesatuan wilayah Sunda (Teritorrial Integrity), Sunda Territory, Sunda Geography adalah merupakan bukti atau fakta yang tidak dapat dibantah/dipungkiri/diubah/disembunyikan/dihilangkan sejak berabad-abad yang lalu, pada masa sekarang, masa yang akan datang bahkan hingga akhir zaman sekalipun; kita tak dapat lari dari kenyataan sejarah : WE CANNOT ESCAPE FROM HISTORY (ABRAHAM LINCOLN)

Informasi ini menunjukkan sepak terjang seorang Kaisar Kerajaan Sunda Nusantara yang berjuang untuk meluruskan sejarah dan kemakmuran rakyatnya sebagai amanat Ayahnya dan para leluhur Kaisar Sunda Nusantara. Keberadaan Kerajaan Sunda Nusantara sebagai Induk bangsa dan akar sejarah ibu pertiwi kita semenjak wafatnya Al Misri II keberadaannya tercoreng buruk oleh sekelompok orang. Keluarga Kerajaan Sunda Nusantara bukan lah orang tidak berpendidikan yang di beritakan di media masa. Walaupun keberadaanya tidak di perhatikan oleh Pemerintah RI bahkan kabarnya di tindas oleh sekelompok orang militan di Curug sekitar tahun 1976. Syukur Alhamdulilah berkat perjuangan untuk hidup, keturunan Al Misri dan Al Misri II dapat sekolah di luar negri dan di beberapa Universitas ternama di Indonesia dan berkerja di berbagai instansi pemerintah. Semenjak wafatnya Al Misri II pihak keluarga kerajaan bersepakat untuk tidak melanjutkan perjuangannya karena tidak bisa mengemban amanah yang berat itu jadi pihak Keluarga bersepakat untuk mengembalikan masalah ini ke pemerintah Republik Indonesia. Kemunculan berita adanya sebuah organisasi sunda nusantara merupakan sekelompok orang yang sangat berani mau mencoba bermain api politik padahal dari pihak keluarga kerajaan sepakat tidak mempermasalahkan ini kembali semenjak wafatnya Al Misri II. Ketika pemberitaan munculnya FKMSN saya melihat di Metro TV bahwa wartawan Metro TV mencoba mencari fakta di balik itu dengan mengunjungi salah satu keluarga Kerajaan Sunda Nusantara di Jakarta dan di Bogor dan tanggapan dari salah satu Keluarga Kerajaan yang namanya hampir serupa dengan nama panjang Al Misri II. Beliau mengatakan Tanya saja kepada pemerintah RI dan mengenai kemunculan FKMS beliau berkata saya baru tau itu di TV dan saya tidak pernah bergabung dengan forum itu bahkan tidak pernah kenal dengan mereka.

Ketikan di bawah ini adalah informasi keberadaan Kaisar yang telah dipublikasikan di berbabagai surat kabar nasional maupun internasional seperti yang saya dapat dari Koran Merdeka dan Inti jaya pada tanggal 4 oktober 1998 dan Inti Jaya 20-26 November 1998 dengan judul Penguasa Mengkhianati Bangsa Sendiri, Datang Seorang Kaisar, Persatukan Indonesia(Koran Inti Jaya) dan Indonesia Menduduki Wilayah Kekuasaan Wilayah Saya (Koran Merdeka)

Kekaisaran Sunda Nusantara yang dulu megah dan termasyur, kini tinggal kenangan dan puing-puing bangunan. Bangunan indah dan tumpukan puing-puing itu meninggalkan panorama wisata yang menarik. Karena itu bangunan kekaisaran tersebut dijadikan objek wisata terpesona . Di tengah krisis bangsa yang berkepanjangan saat ini, muncul pengakuan seorang laki-laki berusia 36 tahun sebagai Kaisar Sunda Nusantara asal Bogor, Jawa Barat, keturunan Prabu Siliwangi yang bergelar Kaisar Maharaja Syarief Abul Mafachir Muhammad Heroeningrat Al Misri II. Kaisar Al Misri II, pria setengah baya yang tampak parlente, berwibawa dan mengaku berdarah biru, kekaisaran Sunda Nusantara terus mengalir dalam denyut nadinya. Pengakuan laki-laki setengah baya sebagai keturunan kaisar tersebut terlihat ketika Inti Jaya mencoba mendapatkan silsilah kaisar sampai pada garis Al Misri II yang berjuang untuk menyelesaikan sengketa wilayah kekaisaran dengan Indonesia. Kepada Inti Jaya, Al Misri II mengisahkan panjang lebar bahwa beliau sebagai kaisar Sunda Nusantara keturunan dari Raja Maharaja Sultan Ahmad (tahun 1810) keturunan dari Prabu siliwangi dan Brawijaya V Mojopahit. Putra dari almarhum yang wafat pada usia 85 tahun dan dimakamkan di Curug , Tanggerang tanggal 12 November 1989 di Bogor. Disebutkan gelar yang diembannya hingga kini adalah Majesty Sri Paduka Yang Mulia Baginda Maharaja Kaisar Kanjeng Pangusten Emperor Sultan Agung Prabu Syarief abul Mafachir Heroeningrat Siliwangi Al Misri II.
Saya siap bertanggung jawab bila terjadi sesuatu di kemudian hari. “katanya dengan suara tegas. Terasa aneh memang, karena fenomena ini seperti menegaskan kehadiran seorang yang mengada-ada selama ini, di wilayah Sunda, kekuasaan kerajaan jelas sudah terkubur sejarah. Tinggal puing-puing, tempat dan bangunan yang tak lebih dari sekedar obyek wisata. Al Misri II mengaku kemunculannya kembali, setelah sekian lama menahan diri karena kehidupan politik dan upaya demoktratisasi di Indonesia tidak banyak menyelesaikan masalah. Untuk menuju penyelesaian, katanya Indonesia harus menganut sistem Negara Monarki democrat Parlementer. Dengan sistem ini katanya yang memerintah adalah seorang Perdana Menteri dan Kaisar sebagai symbol kesatuan bangsa di Nusantara. Pikiran dan Inspirasi itu muncul dari sanubari sang kaisar ketika melihat drama sengketa wilayah kekuasaan Kekaisaran Nusantara dengan Indonesia hingga saat ini.

Bangsa dan Negara Indonesia saat ini tengah di landa berbagai krisis. Cobaan demi cobaan bangkit lewat berbagai peristiwa berdarah merengut banyak korban jiwa. Korban kekerasan selama reformasi menjadi beban bagi bangsa dan Negara. Mereka gugur ditangan saudaranya sendiri yang berbasiskan kekerasan oknum-okmun aparat di balik penguasa yang tidak bertanggung jawab. “Sebaliknya penguasa janganlah mengkhianati bangsa sendiri, karena nantinya berdampak pada memecah belah suku bangsa. “tegas Al Misri II, putra mahkota keturunan Prabu Siliwangi terakhir kepada Inti Jaya, di Jakarta.

Lebih lanjut dikatakannya, bila krisis semakin memanas, lalu dihadapi dengan kekerasan bahkan terkesan mengandu domba masyarakat, maka sebaiknya diselesaikan dengan kepala dingin. “Rakyat kita di masa sebelum reformasi maupun di tengah reformasi tidak pernah menikmati hidup secara normal. Mereka selalu bertemankan kesulitan, kesusahan sembako. Karena pemerintah atau siapa saja yang merasa memiliki kekuatan untuk mengandu domba rakyat dengan uang. “ujarnya.

Menanggapi adegan politik serta permainan pasar yang menyulitkan ekonomi rakyat kecil, Al Misri II Kaisar Sunda Nusantara mengatakan, semuanya bermula dari ulah pemerintah. Karena itu, sebaiknya jangan menyesengkarakan rakyat yang sudah jatuh tertimpa tangga lagi.

Sebagai bangsa Sunda Nusantara yang sejarahnya direkayasa Belanda, menurut Al Misri II, membuat Indonesia saling bermusuhan dan mengotak-kotakan bangsa ini. “Ini sangat disayangkan karena perlu dijaga kesinambungan. Dengan modal persatuan dan kesatuan bangsa sangat diharapkan agar bangsa ini tidak hancur hanya akibat ulah satu orang. “tutur Kaisar Sunda Nusantara itu tadi. Karena itu lanjutnya, agar bangsa ini tidak hancur, sebaiknya pemerintah sebagai pemimpin jangan lupa mereformasi diri.

Untuk membantu mengatasi kesulitan ekonomi bangsa, putra mahkota Keturunan Syah Prabu siliwangi terakhir, Kaisar Sunda Nusantara Maha Prabu Syarief Abul Mafachir Moehammad Heroeningrat ( Al Misri II) terus melakukan negoisasi internasional dengan dunia luar guna mendapatkan dana memperbaiki kehidupan rakyat. Rakyat bangsa Indonesia sebagai titipan dari Kerajaan Sunda Nusantara yang kini menjadi Indonesia., Al Misri II, katanya, punya kewajiban moral yang tinggi guna memperbaiki nasib bangsanya. Hal itu di tempuhnya sebagai panggilan pengabdian untuk melanjutkan perjuangannya ayahnya yang telah mempersatukan nusantara pada abad 16 hingga 18 SM (Sebelum Masehi).

Rakyat di era reformasi ini katanya, tertindas oleh penguasa baik rezim lama terutama titipan kekuasaan kepada rezim penerusnya kini “Janganlah melonggarkan krisis ini sampai berlarut, Karena akan menjadi incaran bangsa lain untuk bisa menjajah dan menguasai bangsa kita. “Ujarnya.

Hendaknya krisis bangsa tidak sampai membelah bangsa menjadi bagian-bagian. Karena Kepulauan Nusantara , katanya, dipersatukan dengan perjuangan mati-matian oleh para Kaisar dahulu. Al Misri II, yang menentang konsep Negara federal.

Dikatakan, bila Indonesia yang sudah bersatu, lalu kemudian dipecah belah hanya kepentingan politik individu, maka akan sulit untuk dipersatukan. “Sejarah bangsa yang telah dimanipulasi penguasa zaman pra-reformasi hingga kini harus kembali diluruskan ,”harapnya.

Berdasarkan dokumen-dokumen tentang Kerajaan Sunda Nusantara, Al Misri II sebenarnya seseorang laki-laki biasa, bapak dua anak. Sambil memeperlihatkan dokumen berupa sejumlah catatan yang dibawa sekretarisnya Al Misri II menegaskan beliau memiliki wilayah kekuasaan dari tahta Kaisar Maharaja Sunda Nusantara . Dokumen yang dilengkapi stempel Kerajaan Maharaja Sunda Nusantara, memperlihatkan kekuasaan Kekaisaran mencakup kepulauan Sunda Besar : Jawa., Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua Guniea (Irian), juga termasuk Sunda Kecil Madura, Bali, Flores, lombok, Maluku, dan Tmor (Timor Timur). Wilayah itu merupakan keutuhan dan kedaulatan kekaisaran Maharaja Sunda dari tahun 1810. Kaisarnya waktu itu Seri Baginda Kaisar Maharaja sultan Achmad yang ditipu oleh Thomas Stanford Raffles. Ia ditinggalkan sendirian ketika diajak berburu di pulau Sunda Banda, “jelasnya yakin. Seluruh wilayah Nusantara, tambahnya , dikuasai Raffles dengan cara menipu , lalu kekuasaan diberikan pada Williem Herman Daendels tahun 1816. Dalam perjalanan sejarah, akhirnya seluruh wilayah dikuasai Republik Indonesia yang merupakan Negara baru karangan Prof Adolf Bastian seorang Jerman berkewaganegaraan Belanda. Data tersebut oleh Al Misri II di jadikan sebagai dasar untuk mempermasalahkan kependudukan RI di atas wilayah kekuasaannya. Tak tanggung-tanggung beliau sudah membawa sengketa wilayah kekaisaran dengan Indonesia ke Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York dan kasusnya sedang diproses. Lebih lanjut dikatakan baginya, seluruh wilayah kedaulatan kekaisaran akan diambil alih. Karena semua itu diambil secara tidak sah menurut hukum internasional dan hukum alam sejak tahun 1945. Tak hanya itu, Al Misri II meminta pembayaran dari penghasilan dan pendapatan atas wilayah kesatuan Negara kerajaan Sunda. Termasuk pengembalian hak milik pribadi keluarga Kerajaan. Serta menuntut dikembalikannya Istana Merdeka, Istana Bogor, Istana Cipanas, dan Istana Surosoan Banten milik Kerajaannya

Keberadaan Al Misri II di jaman Order Baru sangat di takuti keberadaannya. Kerena itu tidak heran jika beberapa anggota keluarga Al Misri II pernah mendekap di sel karena di curigai akan berbuat makar. Namun keberadaan mereka diakui dunia Internasional, maka penahanannya tidak lebih dari 2 hari. Di tempat yang sama Al Misri II melalui sekretaris pribadinya , Menunjukkan CD (Corps Diplomatics). Dengan kartu CD yang isinya Simbol, bendera, keterangan, cap kerajaan, dan tanda tangan kaisar dapat dengan mudah dalam urusannya ke luar negeri. Karenanya, kata beliau, CD telah diuji kebenarannya saat dirinya membuat paspor Ke Brunei Darussalam. Diakuinya, hanya dalam waktu 3 jam semuanya telah selesai. Hal itu tak lain dari pengakuan hukum-hukum internasional yang mengakui keberadaan kekaisaran Sunda Nusantara. Al Misri II pernah melayangkan surat kepada pemerintah RI tahun 1976-1995. Mereka mengirimkan sebuah resolusi pada Menteri Dalam Negeri, Ketua DPR/MPR. Tanggal 14 April 1993 juga melayangkan resolusi pada masa Soeharto berkuasa sebagai ketua gerakan Non Blok, di Istana Merdeka. Belum lama ini, menurutnya sebuah resolusi juga dikirim kepada Presiden BJ Habibie. Kepada Merdeka surat tersebut diperlihatkan dan tertera nomor 99. Ed/ Rmaha/ Internat: Resol/Internat Settl/ South SE Asia, 14 September 1998 Very Imeddiate To Day Top Secret, dengan tanda terima oleh Mubaro lewat SekNeg. Menyertai surat tersebut juga diberikan surat untuk DPR/MPR, Menteri Dalam Negeri yang dilengkapi dengan nomor surat sesuai dengan missi kaisar. Menurutnya Raja Al Misri II mempunyai hubungan diplomatic dengan kerajaan-kerajaan di dunia seperti Inggris, Jepang, dan Belanda.
Selain itu Al Misri II selalu mengutamakan hubungan baik dengan pemerintah RI dengan berkunjung ke kediaman beberapa Tokoh Nasional dan diplomasi ke beberapa Negara melalui surat dan kunjungannya. Wallahualam biis sawab.

UNTUK PARA PEMIMPIN,TOKOH, dan
RAKYAT SEBANGSA SETANAH AIR (INDONESIA,sejak 1945-sekarang)

Sumber :
Dokumen dan Nasehat/Pesan langsung sebelum wafatnya
Alm Al-Misri II di Jakarta Sunda (TARUMANEGARA)
(SUNDA KELAPA)
Dari :
Pariban di Jakarta Sunda (TARUMANEGARA) (SUNDA KELAPA)

Bismillahirrohmannirrohiim

REFORMASI/NASEHAT yang perlu disampaikan, oleh dan dari pimpinan yang tertinggi Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan KERAJAAN MAHARAJA SUNDA-SUNDA NUSANTARA-
SUNDA ARCHIPELAGO or SUNDA PASIFIC or SUNDA MINDLAND or SUNDA MALAY or ASIA MINOR (Induk Bangsa dan Akar sejarah bangsa atau Bangsa yang sengaja di hilangkan Pra Perang Dunia Ke II) :
Alm.SERI BADUGA MAHARAJA KANJENG GUSTI PANGERAN HADIPATI HARYA RACHMATULLAH HEROENINGRAT SILIWANGI AL MISRI II atau HIS IMPERIAL MAJESTY SERI PADUKA YANG MAHA MULYA BAGINDA MAHARAJA MAJESTY KAISER KANGJENG MAHA PAGUSTEN EMPEROR SULTAN AGUNG MAHA PRABU SYARIEF ABUL MAFACHIR MOEHAMMAD HEROENINGRAT SILIWANGI AL MISRI (Al Misri II)
Legal Crown of The Monarchies of the Sovereign Emperor of the Sovereign Empire of Sunda-Sunda Maindland-The Sunda-Archipelago or the Sunda-Nusantara-Pasific-a Greater part of the Pasific-the Mountain-Pasific
in the part of-the Pasific Sunda-Malay-Asia-Minor.
The Empire Parlementer was Manual Democratie, Basically the Religons and Humanity

*)Reformasi di Negeri ini adalah merupakan gaung dari hakikatnya suatu KE-BENAR-AN yang mutlak. Kebenaran yang tidak akan pernah bisa DI-SALAH-KAN, disepanjang waktu selama dunia ini masih berputar, dan matahari tetap terbit, adalah hakikatnya Swara Mahardika yang selama ini TER-KALAH-KAN oleh sebuah kepentingan Politik dan Kemerdekaan yang hanya sebuah retorika belaka.
*)Rintangan pasti datang menghadang, cobaan pasti datang menghujam namun yakinlah bahwa KE-BENAR-AN AKAN TETAP MENANG. Sebuah Falsafah, yang saya percaya bahwa kita semua sama-sama yakini yaitu: CEPAT atau LAMBAT KE-BENAR-AN AKAN TETAP MENANG.
*)Situasi dan kondisi tatanan pemerintahan yang telah kehilangan kepercayaan dari hampir sebagian Rakyat, serta terpuruknya keadaan Ekonomi Nasional yang mewujudkan kondisi Dis-integrasi sosial yang kita sama-sama tak dapat pungkiri bahwa tidak terlepas kemungkinan rentan terhadap Dis-integrasi Bangsa bisa saja terjadi.
*)Hilangnya JATI DIRI BANGSA (Kebebasan berbicara dan berpendapat telah menyimpang dari makna sesungguhnya, sehingga menimbulkan situasi dan kondisi bangsa ini, sepertinya sudah tidak lagi mengganggap bahwa KONSTITUSI di negeri ini masih ada)
*)Reformasi bukan untuk merusak kepentingan Rakyat – Reformasi bukan untuk memecah belah Persatuan dan Kesatuan Bangsa – Reformasi bukan untuk kepentingan golongan – Reformasi bukan untuk merubah Etika dan Budaya Bangsa – Reformasi bukan untuk merubah Idiologi Panca Sila dan Undang – undang Dasar ‘45 – Reformasi bukan untuk memberikan kebebasan negara lain mencampuri urusan dalam negeri. Akan tetapi Reformasi adalah untuk MEM-BENAR-KAN KE-BENAR-AN secara total. Melaksanakan keta’atan pada UUD’45 dengan benar – Melaksanakan falsafah bangsa dengan benar – Ber ETIKA dan Ber BUDAYA yang benar – Ber BANGSA dan Ber NEGARA yang benar didalam suatu keta’atan bersama pada tatanan yang tentu saja benar, sesuai sebagaimana yang dikehendaki reformasi itu sendiri.
*)Hilangnya stabilitas Politik dan Keamanan – Hilangnya Kepercayaan Rakyat Banyak – Hilangnya kekuatan ekonomi bangsa – Hilangnya Harga diri bangsa (Yang kelangsungan hidupnya hanya ada tergantung pada bentuk pinjaman dari negara lain )
*)Telah terjadi Dis Integrasi Sosial
*)KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme) yang TIDAK JELAS kriterianya sehingga meng-kaburkan makna yang sesungguhnya, dan akan dapat menimbulkan ke simpang siuran dalam berpendapat…,
*)TANDA TANYA BESAR terhadap diantara kebimbangan dan kegelisahan yang berkepanjangan terhadap sebuah bayangan Harapan Hidup yang lebih baik di masa yang akan datang, sebagai rakyat dari suatu Bangsa yang Merdeka

Kesimpulan :
SEGERA MENGAMBIL/MENENTUKAN SIKAP APA YANG MESTI DAN HARUS DIPERBUAT UNTUK KEPENTINGAN BANGSA DAN NEGERI INI SESUAI SEPERTI APA YANG DIKEHENDAKI OLEH REFORMASI – SIAPA YANG MESTI DAN HARUS BERBUAT ITU – DAN BAGAIMANA CARANYA TANPA MEMPERTIMBANGKAN KEPENTINGAN INDIVIDU MAUPUN GOLONGAN DENGAN CATATAN KITA ADALAH SATU NUSA DAN SATU BANGSA DENGAN MEMPELAJARI MASA LALU APA DAN BAGAIMANA BANGSA DAN NEGARA INI HIDUP BERBANGSA DAN BERNEGARA DALAM KEJAYAAN DIMATA DUNIA.

Idea/Pendapat :
·)Benarkan Ke-Benar-an Sejarah Bangsa (Karena didalamnya terkandung suatu hikmah yang dapat dijadikan pedoman dalam menentukan sikap…berfikir).
”WE CAN NOT ESCAPE FROM HISTORY” (Abraham Lincoln).
·)Kembalikan segala sesuatu yang hilang dari bangsa dan negeri ini. (Etika dan Budaya Bangsa – Moral Bangsa – Perjuangan Bangsa – Tanggung Jawab sebagai Bangsa – Identitas Bangsa dengan segala Budi Pekertinya- Dan sebagainya.)
·)Kembalikan AGAMA pada tempatnya yang Hak.
·)Wujudkan secara jernih Persatuan dan Kesatuan Nasional dengan menghargai (Saling menghargai) Hak Hak Azasi Manusianya secara se-utuhnya (Manusia dari sebuah bangsa yang memiliki Etika dan Budaya diseluruh Kepulauan Nusantara dari Sabang hingga Marauke ini)
·)Tentukan sebuah system untuk Tatanan berbangsa dan bernegara tanpa campur tangan Negara lain (Hak suatu Bangsa dari sebuah negara yang Merdeka sesuai KAA 1955 di Bandung, atau pasti ada terdapat dalam International Role of Law, atau silahkan dicari oleh dan dari Disiplin Ilmu)

TTD
(SERI BADUGA MAHARAJA KANJENG GUSTI PANGERAN HADIPATI HARYA RACHMATULLAH HEROENINGRAT SILIWANGI AL MISRI II atau HIS IMPERIAL MAJESTY SERI PADUKA YANG MAHA MULYA BAGINDA MAHARAJA MAJESTY KAISER KANGJENG MAHA PAGUSTEN EMPEROR SULTAN AGUNG MAHA PRABU SYARIEF ABUL MAFACHIR MOEHAMMAD HEROENINGRAT SILIWANGI AL MISRI (Al Misri II)

************************************
NATION
———
SUATU KE-BANGSA-AN DARI SEBUAH BANGSA DISUATU
WILAYAH INTERNASIONAL (INTERNATIONAL INTEGRITY)
YANG MERDEKA

KEPULAUAN SUNDA NUSANTARA/SUNDA ARCHIPELAGO
———————————–
!
!
!
!
130 Yr.AC
———–
1. SUNDA ARCHIPELAGO or
2. SUNDA MAINDLAND or
3. SUNDA MALAY or
4. SUNDA PACIFIC or
5. ASIA MINOR
————————————-
!
!
!
KEP. SUNDA BESAR
(Malacca-Andalas-Borneo-Celebes-Java-New Guinea (Papua New Guinea))
KEP. SUNDA KECIL
(Molucca-Bali-Lombok-Sumbawa-Sumba-Flores-Timor-(NTB-NTT))
——————————————————–
!
!
!
BENUA SUNDA
—————-
!
!
!
!
THE GREATER SUNDA ISLAND
——————————–
!
!
!
INTERNATIONAL TERRITORIAL INTEGRITY
———————————————–
!
!
!
!
MAINS NATION/
INDUK BANGSA
—————-
NATION

Assalamualaikum, Wr Wb
sinareng hurmat,
kahatur ka sadaya anu ngiring dina iyeu situs, nepangkeun jisim abdi wasta R Wijaya Kusumah Khodamul ummah Al_ fakir R Wijaya Kusumah, asli sukabumi jawa_barat, sateacan kuring ngiring nambihan ieu babad, langkung ti payun kuring ngahaturkeun nuhun ka kang jay nu tos ngiring ngaguar babad sunda, nu denget ieu masih pabalieut.kanggo tambihan kuring masihan bongbolong ka sadayana urang sunda, saumpamina peryogi silsilah kerajaan Padjajaran ti awal dugi ka ayeuna nu masih jumeneng, babadna aya di cinunuk – wanaraja – Garut.
mung perkawis silsilah anu di guar ku Pariban,kahade ulah di percaya kumargi eta SESAT DAN MENYESATKAN. malih denget ieu jalmi anu ngaku – Raja padjajaran, Prabu, titisan Soekarno, nuju di adili di Pengadilan Negeri cibadak Sukabumi- jawa Barat.
anu katelah KASUS ROMO.
anu penting ayeunamah yen saha – saha jalma anu ngaku urang sunda, tareh Padjajaran kudu silih asih, silih asah, silih asuh, sauyunan. ulah bangga ku payung butut, namung kudu diteang elmu na para karuhun urang, kunaon pangna Prabu Jaya DewataPrana dipasihan gelar Prabu Siliwangi, kunaon pangna prabu Walangsungsang disebut prabu cakrabuana, Gentar bumi, jeng 47 julukan sanesna, kunaon Prabu Surawisesa disebut Prabu mundinglaya dikusumah,sadayana dipikaasih, dipika cinta di mumule ku urang Sunda…?nyaeta ku Elmuna, ku Sifatna, Ku Welas asihna ka sasama jalma, lain ukur ka Urang Sunda hungkul tapi ka sagala mahluk Hirup.hayu babarengan teangan Tarekat Wali,sangkan urang jadi jalma nu di pikaridho ku Allah SWT,mun bisa kakarak urang bisa neruskeun perjuangan para Karuhun Urang, kakarak didinya bakal nitis ilmuna ( lain Ruh )para karuhun, kakarak didinya urang bagal menang Layang Salaka Domas nu dijaga ku Guriang Tujuh ( lain barang tapi Elmu Laduni ). ieu kabeh boal bisa mun eweh Rohmat Allah SWT.
SIAPKEUN WADAHNA HEULA…KAKARA ISINA NYOCOR SORANGAN KALAYAN IZIN,RIDHO,WIDI GUSTI ALLAH SWT.
Diposkan oleh BLOG@ERYC90′s di 19:00 0 komentar
Label: OLD CITY’S
CIKAL BAKAL BOGOR
Tah di dinya, ku andika adegkeun eta dayeuh
laju ngaranan Bogor
sabab bogor teh hartina tunggul kawung
(Di tempat itu, dirikanlah olehmu sebuah kota
lalu beri nama Bogor
sebab bogor itu artinya pokok enau)

Ari tunggul kawung
emang ge euweuh hartina
euweuh soteh ceuk nu teu ngarti
(Pokok enau itu
memang tak ada artinya
terutama,bagi mereka yang tidak paham)

Ari sababna, ngaran mudu Bogor
sabab bogor mah dijieun suluh teu daek hurung
teu melepes tapi ngelun
haseupna teu mahi dipake muput
(Sebabnya harus bernama Bogor?
sebab bogor itu dibuat kayu bakar tak mau menyala
tapitidak padam, terus membara
asapnya tak cukup untuk “muput”)

Tapi amun dijieun tetengger
sanggup nungkulan windu
kuat milangan mangsa
(Tapi kalau dijadikan penyangga rumah
mampu melampaui waktu
sanggup melintasi zaman)

Amun kadupak
matak borok nu ngadupakna
moalgeuwat cageur tah inyana
(Kalau tersenggol
bisa membuat koreng yang menyenggolnya
membuat koreng yang lama sembuhnya)

Amun katajong?
mantak bohak nu najongna
moal geuwat waras tah cokorna
(Kalau tertendang?
bisa melukai yang mendangnya
itu kaki akan lama sembuhnya)

Tapi, amun dijieun kekesed?
sing nyaraho
isukan jaga pageto
bakal harudang pating kodongkang
nu ngawarah si calutak
(Tapi, kalau dibuat keset?
Semuanya harus tahu
besok atau lusa
bakal bangkit berkeliaran
menasehati yang tidak sopan)

Tah kitu!
ngaranan ku andika eta dayeuh
Dayeuh Bogor!
(Begitulah
beri nama olehmu itu kota
Kota Bogor)

[Pantun Pa Cilong, "Ngadegna Dayeuh Pajajaran"]

Pantun di atas menjadi dasar yang paling kuat tentang kenapa nama kota itu dinamakan “Bogor”. Seperti diketahui, sampai saat ini ada empat pendapat tentang asal nama Bogor :

1. Berasal dari salah ucap orang Sunda untuk “Buitenzorg” yaitu nama resmi Bogor pada masa penjajahan Belanda.

2. Berasal dari “Baghar atau baqar” yang berarti sapi karena di dalam Kebun Raya ada sebuah patung sapi.

3. Berasal dari kata “Bokor” yaitu sejenis bakul logam tanpa alasan yang jelas.

4. Asli bernama Bogor yang artinya “tunggul kawung” (enau atau aren).

Pendapat bahwa Bogor berasal dari “buitenzorg” adalah dugaan intelek yang mengira lidah orang Sunda sedemikian kakunya dengan mengambil perumpamaan melesetnya “Batavia” menjadi “Batawi”. Akan tetapi bila kita perhatikan bagaimana orang Sunda mengucapkan “sikenhes” untuk “ziekenhuis” (rumah sakit) atau “bes” untuk “buis” (pipa) atau “boreh” untuk “boreg” (jaminan), maka berdasarkan gejala bahasa tersebut, seharusnya orang Sunda melafalkan “buitenzorg” menjadi “betensoreh”. Jadi dugaan “buitenzorg” menjadi Bogor terlalu dikira-kira.

Pendapat kedua (“baghar atau baqar”) berdasarkan kenyataan adanya pengaruh bahasa Arab di daerah sekitar Pekojan. Orang Sunda akrab dengan bahasa Arab lewat agama Islam, akan tetapi belum pernah ada bunyi BA dari bahasa Arab menjadi BO. Selain itu, dugaannya mengandung kelemahan dari segi urutan waktu. Kata Bogor telah ada sebelum Kebun Raya dibuat, sedangkan arca sapi itu berasal dari kolam kuno Kotabaru yang dipindahkan ke dalam Kebun Raya oleh Dr. Frideriech dalam pertengahan abad 19.

Pendapat ketiga (asal kata “bokor”) juga mengandung kelemahan karena bokor itu sendiri adalah kata Sunda asli yang keasliannya cukup terjamin. Meskipun demikian, perubahan bunyi “K” menjadi “G” tanpa menimbulkan perubahan arti dapat ditemui pada kata “kumasep” dan “angkeuhan” yang sering diucapkan menjadi “gumasep” (merasa cakep/centil) dan “anggeuhan”(tempat bersandar atau bernaung). Jadi bisa saja Bogor memang berasal dari Bokor. Akan tetapi, tak ada seorangpun yang biasa mengartikan “Bogor” sama dengan “bokor”.

Pendapat keempat kita temukan dalam pantun Bogor yang sudah disebutkan di awal tulisan. Dalam lakon itu dikemukakan bahwa kata “bogor” berarti “tunggul kawung”. Keadaan yang sama dapat ditemui pada nama tempat “Tunggilis” yang terletak di tepi jalan antara Cileungsi dengan Jonggol. Kata “tunggilis” berarti tunggul atau pokok pinang yang secara kiasan diartikan menyendiri atau hidup sebatang kara.

Di Jawa Barat banyak tempat bernama Bogor, seperti yang bisa ditemukan di Sumedang dan Garut. Demikian pula di Jawa Tengah, sebagaimana dicatat Prof. Veth dalam buku Java. Dengan demikian memang agak sulit menerima teori “buitenzorg”,”baghar” dan “bokor”.

Bogor selain berarti tunggul enau, juga berarti daging pohon kawung yang biasa dijadikan sagu (di daerah Bekasi). Dalam bahasa Jawa “Bogor” berati pohon enau dan kata kerja “dibogor” berarti disadap. Dalam bahasa Jawa Kuno, “pabogoran” berarti kebun enau. Dalam bahasa Sunda umum, menurut Coolsma, “Bogor” berarti “droogetapte kawoeng”(pohon enau yang telah habis disadap) atau “bladerlooze en taklooze boom” (pohon yang tak berdaun dan tak bercabang). Jadi sama dengan pengertian kata “pugur” atau “pogor”.

Akan tetapi dalam bahasa Sunda “muguran” dengan “mogoran” berbeda arti. Yang pertama dikenakan kepada pohon yang mulai berjatuhan daunnya karena menua, yang kedua berarti bermalam di rumah wanita dalam makna yang kurang susila. Pendapat desas-desus bahwa Bogor itu berarti “pamogoran” bisa dianggap terlalu iseng.

Nama Bogor dapat ditemui pada sebuah dokumen tertanggal 7 April 1752. Dalam dokumen tersebut tercantum nama Ngabei Raksacandra sebagai “hoofd van de negorij Bogor” (kepala kampung Bogor). Dalam tahun tersebut ibukota Kabupaten Bogor masih berkedudukan di Tanah Baru. Dua tahun kemudian, Bupati Demang Wiranata mengajukan permohonan kepada Gubernur Jacob Mossel agar diizinkan mendirikan rumah tempat tinggal di Sukahati di dekat “Buitenzorg”. Kelak karena di depan rumah Bupati Bogor tersebut terdapat sebuah kolam besar (empang), maka nama “Sukahati” diganti menjadi “Empang”.

Pada tahun 1752 tersebut, di Kota Bogor belum ada orang asing, kecuali Belanda. Kebun Raya sendiri baru didirikan tahun 1817 sehingga teori “arca sapi” tidak dapat diterima sebagai asal-usul nama Bogor. Letak Kampung Bogor yang awal itu di dalam Kebun Raya. Ada di lokasi tanaman kaktus sekarang. Adapun pasar yang didirikan di kampung tersebut oleh penduduk disebut Pasar Bogor. Maka, tak pelak, papan nama “Pasar Baru Bogor” yang ada sekarang sebenarnya agak mengganggu rangkaian historis ini.
Diposkan oleh BLOG@ERYC90′s di 18:56 0 komentar
Label: BOGOR CIKAL BAKAL
RENUNG
Wawancara Permadi, SH:
Satrio Piningit Akan Muncul

——————————————————————————–
Ramalan kadang diperlukan manusia. Bisa untuk hiburan, sekadar ingin tahu, menguatkan sugesti, atau juga, untuk kepentingan politik–meski kadangkala hasilnya meleset. Salah satu tokoh yang laris ditanya perkara ramal-meramal, dan kadang hasilnya sedikit ampuh, siapa lagi jika bukan Permadi, SH., 56 tahun. Tokoh yang gemar berpakaian serba gelap ini sepertinya tak pernah luput dari incaran pers untuk soal macam begini. “Saya tahu pasti pers akan mendatangi saya bila mau akhir tahun,” tuturnya pada suatu kesempatan.
Kendati demikian, sarjana hukum lulusan Universitas Indonesia ini tetap saja mau mengeluarkan jurus-jurus ramalnya. Dan ketika Hani Pudjiarti dan Bina Bektiati dari TEMPO Interaktif datang ke rumahnya yang antik dan penuh dengan kicauan cucakrawa di Kayu Putih, Rawamangun, Jakarta, pada 10 Desember kemarin, Permadi pun bicara nyaris tanpa henti. Ia lalu menyebut tahun 1997 sebagai tahun ketidak-pastian. Apa pasal? Bagaimana ia mendasarkan setiap ramalannya? Berikut petikannya.

——————————————————————————–

Bagaimana ramalan Anda tentang situasi dalam negeri pada tahun 1997?

Memprediksikan Indonesia tidak bisa terlepas dari kondisi makro dunia internasional dan makro jagad raya yang lebih luas: tata surya kita. Beberapa tahun terakhir ini, tata surya kita mengalami gangguan. Yaitu terjadi konjungsi antara planet Saturnus-Neptunus- Bumi. Akibat terlalu lamanya konjungsi yang diselesaikan pada 1995 kemarin, maka yang diterima bumi ini sampai 1998, berupa keberingasan alam dan manusia. Ditambah terjadinya gerhana matahari dan gerhana bulan. Menurut perhitungan Jawa, bulan ini dan tahun berikutnya akan terjadi tabrakan antara planet Yupiter dan komet-komet Levistra.
Peristiwa itu akan menyebabkan terjadinya pengaruh bencana alam yang lama, yakni sejak 1990 sampai 1998 nanti. Dunia akan penuh dengan berbagai gejolak yang ditimbulkan oleh alam dan manusia. Misalnya: banjir, timbulnya penyakit mewabah , keberingasan individu, perkosaaan, perampokan, tawuran, perang lokal dan internasional. Sejak 1990 kejadian ini sudah dimulai dan berlanjut sampai 1998. Klimaksnya akan kita temui pada 1997. Hanya saja, tahun 1997 nanti boleh dikata the unpredictable years. Maksudnya, tahun yang tidak bisa diprediksi keseluruhannya secara ilmiah, baik di bidang ekonomi, politik, sosial, hankam dan sebagainya. Kalau di Indonesia sendiri, karena pengaruh konjungsinya belum berakhir sejak 1995 kemarin, maka sampai 1997 nanti gejala-gejala bumi makin panas.

Kalau begitu, kondisi di seluruh dunia bisa kacau?

Ya. Karena dunia sudah kacau. Ini ditandai dengan maraknya dunia yang sudah menimbulkan kerusuhan-kerusuhan seperti pemboman, teroris, pembunuhan separatis dan sebagainya. Ini tersebar dari Yugoslavia, Afrika, Timur Tengah dan di Indonesia sendiri. Pokoknya, tidak ada negara yang tidak ribut. Nah, hari-hari yang semakin mendekati klimaksnya menjelang tahun 1997, sebagai tahun yang sulit diramalkan, maka tak ada satu ilmu pun termasuk ilmunya Habibe yang mampu menguasai perubahan -perubahan alam secara tepat.
Mengapa dibilang tahun yang tak bisa diprediksikan secara ilmiah?

Di sana ada hal-hal yang tak bisa ditebak dan dicegah, seperti hancurnya bumi oleh komet, mencairnya kutub-kutub es, dan sebagainya. Karena semua belum ada yang mampu menanggulanginya, sehingga akan terulang lagi kasus Sodom dan Gomorah, kasus Nabi Nuh. Pokoknya, akan bangkit soal kesewenangan di lapisan dunia. Di Indonesia juga begitu. Yang salah dibenarkan dan yang benar disalahkan. Lihat kasus Marsinah, kasus 27 Juli, kasus Udin dan sebagainya. Semuanya dilakukan oleh political egineering (rekayasa politik) yang dirancang menjadi bermakna negatif. Rekayasa bahkan menjustifikasi kesalahan menjadi kebenaran. Perlakuan manusia terhadap manusia ini sudah menimbulkan keprihatinan,dan penderitaan luar biasa. Mereka menjadi gampang marah, tidak mampu mengekspresikan kebaikan karena ketakutan yang diterima.
Bisakah sekarang disebut sebagai zaman edan? Contohnya?

Ciri-ciri zaman edan menurut bait-bait syair Joyoboyo, ya, persis seperti sekarang. Bait itu mengatakan, bila sistim pemerintahnya, para penguasanya, bertindak sewenang-wenang , yang di atas menjilat dan menindas yang di bawah, korupsi merajalela, rakyat kecil hanya bisa menangis, moral akan rusak, maka menunjukkan ke arah sana. Semua ini sebenarnya sudah tergambar pada seribu tahun lalu, yang menyebutkan, besok tumakaning (kalau sudah sampai, Red) zaman edan. Akan banyak anak tanpa bapak, orang laki-laki jadi perempuan, dan orang perempuan menjadi laki-laki, laki-laki kehilangan keperwiraannya, orang perempuan kehilangan rasa malunya. Akan terjadi perkosaan, pembunuhan, dan sebagainya.
Kalau Pak Harto, akan menjadi Presiden lagi atau tidak?

Kalau menurut prediksi saya, tidak.
Bahkan tidak akan menyelesaikan tahun ini?

Ya.
Mengapa tidak menyelesaikan?

Karena saya yakin bila Pak Harto harus mundur, itu mungkin. Jika dilihat usianya, bisa saja sakit. Arahnya ke ketidakmampuan beliau seperti Deng Xoping, atau Kim Il Sung yang meninggal dan putra mahkotanya belum tentu mempunyai potensi yang sama. Seperti juga Yeltsin (yang terserang jantung) dan sebagainya. Semua muncul karena hukum alam dan hukum manusia saling memperebutkan kue yang sudah mulai bisa diperebutkan dan penjaganya mulai lengah.
Bila Pak Harto tidak mampu menyelesaikan jabatannya ini, apa yang akan terjadi?

Saya kembalikan ke Joyoboyo. Karena, ramalan itu mengatakan: kalau puncak zaman edan sudah dicapai, yang terjadi, penyelesaiannya, adalah goro-goro. Gejolak sosial pakemnya Joyoboyo.
Apakah tahun depan kerusuhan antar agama akan terjadi?

Sebagai tahun yang sulit diduga, hal-hal itu akan mewarnai tidak hanya di Indonesia, tetapi seluruh dunia. Contoh, dengan dijatuhkanya Benazir Bhutto di Pakistan, tidak akan membuat ketenangan, karena dalam satu tahun mendatang akan diteruskan dengan pergolakan-pergolakan. India bergejolak, juga di Myanmar, dan sebagainya. Setelah keluar dari penjara, pernah saya katakan akan terjadi perang besar di Timur Tengah. Orang-orang mentertawakan saya, karena yang terjadi justru perdamaian antara Israel dengan Palestina. Tapi kalau mau jujur, dibalik perdamaian itulah awal dari peperangan akan datang. Ini dimulai dengan pembunuhan para juru damai oleh rakyatnya sendiri seperti Anwar Sadat, Yitzhak Rabin, Simon Peres. Hal-hal yang tidak terduga ini akan memungkinkan terjadinya perang agama, perang politik, dan akibatnya pun sampai ke Indonesia.
Adakah cara untuk mencegahnya?

Tidak ada. Karena seperti yang difirmankan Tuhan: pada zaman Nabi Muhammad akan Kuturunkan seorang penyelamat yang akan menghancurkan jahiliyah, begitu juga zaman Musa, Fir’aun, Nabi Nuh, dan zaman Kristus. Jadi sesungguhnya sudah diberitahukan di Indonesia akan menyaksikan munculnya Ratu Adil atau Satrio Pingitan. Jongko Joyoboyo sudah menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia ini suatu saat akan mempunyai pemimpin yang adil, mau memakmurkan rakyatnya. Mitos-mitos ini banyak sekali diungkap dari mitos Joyoboyo atau sebagai mitosnya kebangkitan kembali Majapahit dan mitos Notonegoro.
Apa isi penting mitos Notonegoro?

Umumnya mempunyai penafsiran cukup luas dan bisa kita analisa secara politik. Maksudnya, bahwa pemimpin Indonesia nama belakangnya Notonegoro. Yang pertama no kebetulan Soekarno, kedua to – Soeharto. Orang lalu tercekam yang ketiga lalu pakai no. Tetapi ada juga jongko-jongko mengatakan Indonesia sebelum masyarakat adil dan makmur ini cuma punya tiga pemimpin yang disebut Satrio Kinengjoro (satria yang dipenjara, Red), Mukti Wibowo (baik dan berwibawa, Red) dan Satrio Piningit. Kebetulan Satrio Kinengjoronya sudah Bung Karno yang selama hidupnya banyak dipenjara. Dan Satrio Mukti Wibowonya Pak Harto yang kaya raya. Sekarang tinggal menunggu Satrio Piningit ya kebetulan tinggal pakai suku kata Negoro. Orangnya apakah Wardiman Djojonegoro, Mochtar Djojonegoro, atau siapa pun.
Kemudian, sekarang, faktor no ketiga ini siapa yang berfungsi menimbulkan goro-goro apakah Tri Sutrisno, Moerdiono, atau Hartono? Kalau Hartono mempunyai potensi untuk no yang ketiga. Sebelum Hartono muncul, saya sudah ngomong, bahwa yang akan menjadi Satrio Piningit ini adalah gabungan dari Soekarno dan Soeharto. Apakah karakternya atau namanya. Lah, kebetulan kok Hartono ini mempunyai gabungan dari Harto dan Soekarno. Dilihat dari hari lahirnya pun sangat berpotensi. Soekarno lahir 6 juni 1901. Soeharto lahir 8 juni 1921. Dan, Hartono lahir 10 juni 1941. Ya urutanya klop. 6, 8 ,10 serta 01, 21, 41. Jadi, dia berpotensi untuk menjadi no ketiga yang menimbulkan goro-goro, baru muncul Satrio Piningit. Ini teori spritual saya sebagai wong jowo yang ngotak ngatik kathuk (sekadar mencocok-cocokan saja, Red)

Menurut Anda, siapa Satrio Piningit itu?

Ya, kalau namanya diketahui bukan Satrio Piningit. Yang jelas sekarang banyak orang merasanya begitu. Sebut saja Habibie — Harmoko pun begitu. Bahkan, Sri Bintang Pamukas pun sama. Saya beri contoh, antara Soekarno dan Soeharto adalah setengah piningit. Soekarno, kemunculanya sudah diketahui orang sejak dia muda. Cokro Aminoto, Agus Salim dan tokoh-tokoh pergerakan lainnya sudah paham bila anak muda inilah yang akan menjadi pemimpin. Jadi, kemunculannya sudah diketahui. Tapi, soal tindak tanduknya tidak dapat diketahui. Tiba-tiba keluar dari PBB, bikin Ganevo, dan sebagainya.
Sebaliknya, Soeharto, kemunculannya tidak diketahui dan ndak (ada yang) ngira Pak Harto bisa jadi presiden berhadapan dengan A. Yani, Juanda dan Chairul Saleh. Tetapi, tindakannya semua orang sudah pada tahu, pidatonya mesti begini. Jadi, diapun setengah piningit. Nah yang nanti munculnya tidak diketahui dan tindakanya pun tidak diketahui. Kelak dialah yang akan membesarkan Indonesia tetapi juga akan memakai ajaran Soekarno untuk kebesaran bangsa dan keyakinan Sukarno untuk menjadikan Indonesia sebagai mercusuar dunia. Kelak dunia ini akan hancur, tetapi Indonesia sudah konsolidasi terlebih dahulu dengan Satrio Piningit yang akan menjadikannya negara besar Nusantara seperti mitosnya masyarakat Jawa.

Kalau menurut jongko Joyoboyo, siapa itu Satrio Piningit?

Satrio Piningit itu adalah seorang yang masih berdarah Majapahit. Sebab, kemunculannya berkaitan dengan munculnya kembali kebangkitan Majapahit setelah 500 tahun lalu. Dan kemudian orang banyak yang mengaku-aku dirinya Satrio Piningit . Tetapi dikatakan dalam jongko Joyoboyo, Satrio Piningit ini adalah seorang Majapahit yang berilmu untuk keadilan dan kebenaran orang banyak. Sehingga, disebut Ratu Adil. Dalam perjalan hidupnya, ia sering mengalami kesengsaraan, selalu dipermalukan, sering kesapar ( bernasib malang dan susah, Red), kesandung. Makanya, dia mendapat predikat Satrio Wiragung (ksatria yang agung, Red). Karena hidupnya dipermalukan terus oleh masyarakat, maka dia mempunyai kekuatan seperti nabi. Jadi, dirinya sudah ada, mungkin sudah membaur. Karena waktunya sangat dekat, saya ndak tahu . Sebab kalau saya tahu sudah bukan Satrio Piningit lagi.
Kemunculan Ratu Adil akan ditandai dengan meletusnya gunung Karakatau?

Memang didalam jongko Joyoboyo disebutkan gunung-gunung akan meletus nanti. Seperti, Krakatau, Slamet, dan terakhir gunung Merapi. Yang aneh, dalam jongko Joyoboyo tersebut, disebutkan laharnya akan ke kota Yogya. Padahal, selama ini hanya menuju Magelang. Pada tahun 1994 itu laharnya memang mulai ke kota Yogya, tapi hanya sedikit. Ini semua seperti yang sudah diramalkan 1000 tahun yang lalu sebagai akhir dari segala puncak zaman edan.
Kembali ke Pak Harto. Bila beliau tidak dapat menyelesaikanya akhir jabatan nya pada tahun 1998, apakah akan ada periode yang meminta banyak korban ?

Ya. Kalau referensi saya kembali ke Joyoboyo, ya, memang itu yang akan terjadi goro-goro itu. Dan ini memang tahap milenium ketiga yang memungkinkan selama tiga tahun sejak 1995 sebagai masa transisi kita. Yang jelas penghancuran itu bukan hanya di Indonesia tetapi juga diseluruh dunia oleh alam.
Apakah Satrio Piningit itu laki-laki?

Belum tentu. Seperti yang saya katakan tadi, Indonesia itu meluhurkan wanita sejak dulu. Wanita yang menjadi pemimpin tidak sedikit. Paling tidak, sergaraning nyowo( belahan jiwa, Bed) bisa dilihat dari Ken Dedes, Tri Buawana Tunggal Dewi, Ratu Kalinyamat, dan sebagainya. Mereka sangat hebat dan bagus. Contoh lain, Sultan Hamengkubuwono IX terikat pada ratu Kidul. Sukarno pun mengatakan keterikatannya pada wanita Inggit yang mendampinginya sampai ke gerbang kemerdekaan. Tidak sedikit pula wanita yang jadi raja, jadi panglima perang, seperti Nyi Ageng Serang, Dewi Sartika, Kartini, Cut Nya’ Dhien, dan sebagainya.
Kalau memang abad milenium ketiga ini dimulai dengan abad Aquarius memang menguntungkan wanita. Nggak heran melihat kemunculan Indira Gandhi, Margareth Teacher, nyonya Clinton, Aung San Suu Kyi, sampai Megawati. Jadi bisa dikatakan arah ke depan sebagai ladies’ years.

Menurut Anda, Megawati mampu jadi pemimpin ?

Setiap pemimpin Indonesia secara pribadi kualifikasi tidak ada yang mampu, kecuali, Bung Karno. Kalau Bung Karno itu sudah sampai saya mengkultuskannya karena sudah seperti dewa. Dia mempunyai pemahaman segala macam. Megawati, Tutut, Hartono, mereka pun masih begitu sempit soal pandangannya. Tetapi memang pemimpin Indonesia mempunyai suatu keistimewaan karena rakyat Indonesia yakin dia menerima wahyu.
Jadi, sekalipun Megawati itu secara kualifikasi individunya tidak mampu, tetapi kalau nanti dia terpilih, maka, akan didampingi konsep orang Jawa sebagai pemimpin yang dekat dengan para leluhurnya. Seperti halnya Bung Karno: mengapa bisa besar – karena diyakini oleh Gajah Mada yang mampu mempersatukan Indonesia ber-Bhineka Tunggal Ika beribu pulau, beribu etnis disatukan pada Sumpah Palapanya. Lalu, Pak Harto yang didampingi para leluhur tertentu sehingga mampu bertahan didalam segala guncangan.

Jejak Misteri Prabu Joyoboyo Di Kediri

Ramalan Joyoboyo oleh sebagian masyarakat Jawa hingga kini masih dipercayai. Isinya termasuk pergulatan sosial-politik di Tanah Jawa rentang masa lalu hingga kekinian. Sejumlah tokoh politik sering datang ke petilasannya. Ada yang menyelenggarakan kirab pusaka. Maklum, ada ramalan siapa presiden hasil Pemilu nanti.

Petilasan Raja Kadiri Prabu Sri Aji Joyoboyo di Desa Menang Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri masih ‘dipuja-puja’ oleh sekalangan orang. Di lokasi itulah diyakini sebagai tempat Prabu Joyoboyo melakukan moksa (jasadnya menghilang).

Prabu Joyoboyo dikenal sebagai raja Kadiri tersohor yang bertahta sekitar abad X. Berarti, pada masa sebelum Kerajaan Singosari di Malang maupun Majapahit di Mojokerto berdiri.

Raja ini juga terkenal dengan ramalannya yang populer, yakni buku primbon Ramalan Joyoboyo. Isi buku ramalan itu, di antaranya, mengenai pergulatan sosial-politik yang akan terjadi di Tanah Jawa rentang masa lalu hingga kekinian. Sebagian masyarakat Jawa hingga kini masih mempercayai ramalan tersebut.

Sebagai tempat yang disakralkan, petilasan Prabu Joyoboyo menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal. Apalagi yang tertarik dengan dunia mistik dan supranatural.

Tidak mengherankan, kalau petilasan Prabu Joyoboyo tak pernah sepi dari pengunjung. Terlebih-lebih lagi setiap malam Jumat Legi, pendopo hingga pelataran bangunan selalu dipadati orang-orang dari berbagai tempat.

Pengunjung tidak hanya dari sekitar Kediri saja, bahkan rombongan-rombongan dari Bali juga banyak yang datang ke sana. Konon, Empu Baradah yang hidup pada masa Prabu Joyoboyo, juga berasal dari Bali.

Wisatawan ada yang datang sekadar untuk melihat-lihat suasana saja. Tetapi, tidak sedikit pula yang berniat lain. Misalnya, agar mendapat keselamatan dan ketenangan hati, dimudahkan jalan rejeki, mudah mendapat jodoh, pangkat dan sebagainya.

Minggu tadi, saya berkunjung ke tempat itu untuk melihat lebih dekat. Saya berangkat pagi dari Surabaya mengendarai sepeda motor melewati Kota Mojokerto dan Jombang.

Jarak Surabaya – Kediri sekitar 100 kilometer. Supaya perjalanan lebih cepat, saya mengambil jalan pintas. Selepas dari Kota Jombang, lalu saya menerobos lewat jalan perdesaan di Kecamatan Plemahan dan Kecamatan Pagu.

Walaupun jalan ini melalui desa-desa, tetapi kondisinya cukup bagus. Kondisi jalan datar, lurus dan beraspal mulus. Di kanan kiri merupakan tanah pertanian dengan tanaman padi, tebu dan hortikultura.

Bagi yang belum pernah ke sana, sebaiknya melewati jalan yang dilalui kendaraan umum saja. Dari Surabaya langsung naik bus jurusan Kediri. Tiketnya cuma cuma Rp7.000-an. Baru setelah tiba di Kediri, ganti kendaraan yang lebih kecil.

Tepat tengah hari saya tiba di Desa Menang. Ternyata benar, tempat ini tak sepi dari orang. Ketika saya tiba tengah hari serombongan orang sudah ada di sana. Kata seorang penjaga, baru saja ada satu tokoh politik dari Jakarta berkunjung ke sana.

Belum lama ini, di petilasan ini juga diselenggarakan kirab pusaka yang dihadiri mantan presiden Abdurahman Wahid (Gur Dur) dan raja dari tujuh kerajaan di nusantara.

“Sekarang belum seberapa banyak. Nanti kalau tanggal 1 Syuro di sini padat sekali. Silakan datang, akan digelar satu acara,” ujar Amat Kandari, juru kunci petilasan.

Acara ritual selalu diadakan setiap tanggal 1 Syuro dalam penanggalan Jawa oleh kerabat keraton dari Solo. Ini merupakan acara paling besar.

Setelah mendapat penjelasan sejenak dari juru kunci, saya kemudian mengambil beberapa foto. Tetapi, baru beberapa jepretan, buru-buru ada seseorang memperingatkan agar minta izin lebih dulu kepada penunggu petilasan. Konon, penggambilan gambar tanpa seizin sering menemui kegagalan.

Petilasan Prabu Joyoboyo sendiri, hanyalah batu dikelilingi bangunan beton dan pagar keliling di pinggiran Desa Menang. Bangunan itu didirikan tahun 1970-an. Sebelumnya, petilasan itu hanya merupakan batu dan pepohonon.

Cerita-cerita dibalut mistik masih cukup kuat menyertai di seputar petilasan ini. Ketika saya masuk di kompleks petilasan, beberapa orang sudah ada di sana.

Sebagian duduk-duduk mendengarkan penjelasan juru kunci tentang buku Ramalan Joyoboyo. “Menurut buku ramalan Joyoboyo, presiden mendatang adalah orang yang papa. Artinya, ditingal kedua orangtuanya sejak kecil. Siapa itu, silakan cari sendiri,” ujar juru kunci tadi.

Pengunjung yang baru tiba, biasanya ditanya juru kunci apa maksud kedatangannya. Bagi pengunjung yang ingin melakukan hajat, akan diantar juru kunci hingga masuk ke petilasan untuk melakukan ritual tertentu.

Tetapi, kalau hanya sekadar berkunjung, hanya diizinkan melihat petilasan dari celah-celah beton. Di dalam pagar kompleks berdiri beberapa pohon besar yang bisa menyejukkan suasana.

Di komplek ini sebenarnya masih terdapat beberapa tempat yang diyakini sakral. Dua meter sebelah timur dari petilasan diyakini sebagai tempat Prabu Joyoboyo meletakan pakaian sebelum moksa. Lokasi ini disebut tempat tukar busana.

Duapuluh meter sebelah utara petilasan, terdapat bangunan mirip mahkota. Di tempat itulah diyakini dahulu digunakan sebagai tempat meletakkan mahkota raja.

Tidak jauh dari tempat ini, ada satu lokasi lagi yang dianggap sakral. Yakni, petilasan Resi Mayangkoro. Dari petilasan mahkota raja, kira-kira hanya 100 meter di sebelah timur.palopo abdurahman

“JONGKO JOYO BOYO”
==Ronggowarsito==

Iki sing dadi tandane zaman kolobendu (Ini yang menjadi tanda zaman
kehancuran)
1. Lindu ping pitu sedino (Gempa bumi 7 x sehari)
2. Lemah bengkah (Tanah pecah merekah)
3. Manungsa pating galuruh, akeh kang nandang lara (Manusia
berguguran, banyak yang ditimpa sakit)
4. Pagebluk rupo-rupo (Bencana bermacam-macam)
5. Mung setitik sing mari akeh-akehe pada mati (Hanya sedikit
yang sembuh, kebanyakan meninggal)
Zaman kalabendu iku wiwit yen, (Zaman ini ditandai dengan)
1. Wis ana kreto mlaku tampo jaran (Sudah ada kereta yang
berjalan tanpa kuda)
2. Tanah jawa kalungan wesi (Tanah Jawa dikelilingi besi (mungkin
maksudnya Rel kereta kali ya :Red))
3. Prau mlaku ing nduwur awang-awang (Perahu berjalan di atas
awan melayang layang)
4. Kali ilang kedunge (Sungai kehilangan danaunya)
5. Pasar ilang kumandange (Pasar kehilangan keramaianya)
6. Wong nemoni wolak-walik ing zaman (Manusia menemukan jaman
yang terbolak-balik)
7. Jaran doyan sambel (Kuda doyan makan sambal)
8. Wong wadon menganggo lanang (Orang perempuan mempergunakan
busana laki-laki)
Zaman kalabendu iku koyo-koyo zaman kasukan, zaman kanikmatan donya,
nanging zaman iku sabenere zaman ajur lan bubrahing donya. (Zaman
kalabendu itu seperti jaman yang menyenangkan, jaman kenikmatan dunia,
tetapi jaman itu sebenarnya jaman kehancuran dan berantakannya dunia)
1. Mulane akeh bapak lali anak (Oleh sebab itu banyak bapak
lupa sama anaknya)
2. Akeh anak wani ngalawan ibu lan nantang bapak (Banyak anak
yang berani melawan ibu dan menantang bapaknya)
3. Sedulur pada cidro cinidro (Sesama saudara saling
berkelahi)
4. Wong wadon ilang kawirangane, wong lanang ilang kaprawirane
(Perempuan kehilangan rasa malunya, Laki-laki kehilangan rasa
kejantanannya)
5. Akeh wong lanang ora duwe bojo (Banyak Laki laki tidak
punya istri)
6. Akeh wong wadon ora setia karo bojone (Banyak perempuan
yang tidak setia pada suaminya)
7. Akeh ibu pada ngedol anake (Banyak ibu yang menjual
anaknya)
8. Akeh wong wadon ngedol awakke (Banyak perempuan yang
menjual dirinya)
9. Akeh wong ijol bojo (Banyak orang yang tukar menukar
pasangan)
10. Akeh udan salah mongso (Sering terjadi hujan salah musim)
11. Akeh prawan tuwo (Banyak Perawan Tua)
12. Akeh rondo ngalairake anak (Banyak janda yang melahirkan
anak)
13. Akeh jabang bayi nggoleki bapake (Banyak bayi yang lahir
tanpa bapak)
14. Wong wodan ngalamar wong lanang (Perempuan melamar
laki-laki)
15. Wong lanang ngasorake, drajate dewe (Laki-laki
merendahkan derajatnya sendiri)
16. Akeh bocah kowar (Banyak anak lahir di luar nikah)
17. Rondo murah regane (Janda murah harganya)
18. Rondo ajine mung sak sen loro (Janda nilainya hanya satu
sen untuk dua)
19. Prawan rong sen loro (Perawan nilainya dua sen untuk dua)
20. Dudo pincang payu sangang wong (Duda berharga 9 orang)
Zamane zaman edan ( Zamannya Zaman Gila/Sinting)
1. Wong wadon nunggang jaran (Perempuan menunggang Kuda)
2. Wong lanang lungguh plengki (Laki-laki berpangku tangan)
3. Wong bener tenger-tenger (Orang yang benar cuma bisa
bengong)
4. Wong salah bungah-bungah (Orang yang melakukan kesalahan
berpesta pora)
5. Wong apik ditapik-tampik (Orang Baik disingkirkan)
6. Wong bejat munggah pangkat (Orang Yang kelakuannya bejat
malah naik pangkat)
7. Akeh ndandhang diunekake kuntul (Banyak komentar yang
tidak ada isinya)
8. Wong salah dianggap bener (Orang salah dianggap benar)
9. Wong lugu kebelenggu (Orang lugu dibelenggu)
10. Wong mulyo dikunjara (Orang mulia dipenjara)
11. Sing culika mulya, sing jujur kojur (Yang salah mulia,
yang jujur hancur)
12. Para laku dagang akeh sing keplanggrang (Pedagang banyak
yang menyeleweng)
13. Wong main akeh sing ndadi (Orang berjudi semakin menjadi)
14. Linak lijo linggo lica, lali anak lali bojo, lali tangga lali
konco (Lupa anak dan pasangan, lupa tetangga dan teman)
15. Duwit lan kringet mung dadi wolak-walik kertu (Uang dan
keringat hanya untuk berjudi)
16. Kertu gede dibukake, ngguyu pating cekakak (Kartu besar
dibuka, tertawa terbahak-bahak)
17. Ning mulih main kantonge kempes (Tapi waktu pulang main
kantongnya kosong)
18. Krugu bojo lan anak nangis ora di rewes (Denger anak istri
nangis tidak digubris)
Abote koyo ngopo sa bisa-bisane aja nganti wong kelut,keliring zaman
kalabendu iku.
(Berat seperti apapun jangan sampai kalut (lebih tepatnya) Seberat
apapun jangan sampai ikut larut dalam warna-warni zaman kalabendu)
Amargo zaman iku bakal sirno lan gantine joiku zaman ratu adil, zaman
kamulyan. Mula sing tatag, sing tabah, sing kukuh, jo kepranan ombyak
ing zaman Entenana zamanne kamulyan zamaning ratu adil
(Sebab jaman itu bakal sirna dan diganti dengan jaman Ratu adil, jaman
kemuliaan, karena itu jadilah manusia yang tegar, yang tabah, yang
kokoh, Jangan melakukan hal bodoh. Tunggulah jaman kemuliaan jamannya
Ratu adil)
Diposkan oleh BLOG@ERYC90′s di 18:51 0 komentar
Label: KI PERMADI
AMENANGI DJAMAN EDAN (JOYOBOYO)
AMENANGI DJAMAN EDAN (JOYOBOYO)

Pancen amenangi jaman edan,
sing ora edan ora kaduman.
Sing waras padha nggragas,
sing tani padha ditaleni.
Wong dora padha ura-ura.
Begjane sing eling lan waspada.
Ratu ora netepi janji,
musna prabawane lan kuwandane.
Akeh omah ing ndhuwur kuda.
Wong mangan wong,
kayu gilingan wesi padha doyan rinasa
enak kaya roti bolu.
Yen bakal nemoni jaman:
akeh janji ora ditetepi,
wong nrajang sumpahe dhewe.
Manungsa padha seneng tumindak ngalah
tan nindakake ukum Allah.
Bareng jahat diangkat-angkat,
bareng suci dibenci.
Akeh manungsa ngutamakake reyal,
lali sanak lali kadang.
Akeh bapa lali anak,
anak nladhung biyunge.
Sedulur padha cidra,
kulawarga padha curiga,
kanca dadi mungsuh,
manungsa lali asale.
Rukun ratu ora adil,
akeh pangkat sing jahat jahil.
Makarya sing apik manungsa padha isin.
Luwih utama ngapusi.
Kelakuan padha ganjil-ganjil.
Wegah makarya kapengin urip,
yen bengi padha ora bisa turu.
Wong dagang barange saya laris, bandhane ludhes.
Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan.
Akeh wong nyekel bandha uripe sangsara.
Sing edan bisa dandan.
Sing mbangkang bisa nggalang
omah gedhong magrong-magrong.
Wong waras kang adil uripe nggragas lan kapencil.
Sing ora bisa maling padha digething.
Sing pinter duraka padha dadi kanca.
Wong bener thenger-thenger,
wong salah bungah-bungah.
Akeh bandha muspra ora karuwan larine.
Akeh pangkat drajat padha minggat ora karuwan sababe.
Bumi saya suwe saya mungkret.
Bumi sekilan dipajegi.
Wong wadon nganggo panganggo lanang.
Iku tandhane kaya raja kang ngumbar hawa napsu,
ngumbar angkara murka,
nggedhekake duraka.
Wong apik ditampik,
wong jahat munggah pangkat.
Wong agung kesinggung,
wong ala pinuja-puja.
Wong wadon ilang kawanitane,
wong lanang ilang kaprawirane.
Akeh jago tanpa bojo.
Wanita padha ora setya,
laku sedheng bubrah jare gagah.
Akeh biyung adol anak,
akeh wanita adol awak.
Bojo ijol-ijolan jare jempolan.
Wong wadon nunggang jaran,
wong lanang numpang slendhang pelangi.
Randha loro, prawan saaga lima.
Akeh wong adol ngelmu.
Akeh wong ngaku-aku,
njaba putih njerone dhadhu.
Ngakune suci, sucine palsu.
Akeh bujuk.
Wektu iku dhandhang diunekake kuntul.
Wong salah dianggep bener,
pengkhianat nikmat,
durjana saya sampurna.
Wong lugu keblenggu,
wong mulya dikunjara,
sing curang garang,
sing jujur kojur.
Wong dagang keplanggrang,
wong judhi ndadi.
Akeh barang kharam,
akeh anak-anak kharam.
Prawan cilik padha nyidham.
Wanita nglanggar priya.
Isih bayi padha mbayi.
Sing priya padha ngasorake drajate dhewe.
Wong golek pangan kaya gabah den interi.
Sing klebat kliwat,
sing kasep keplesed.
Sing gedhe rame tanpa gawe,
sing cilik kecelik.
Sing anggak kalenggak.
Sing wedi padha mati,
nanging sing ngawur padha makmur,
sing ngati-ati sambate kepati-pati.
Cina olang-aling kepenthung
dibandhem blendhung,
melu Jawa sing padha eling.
Sing ora eling
padha milang-miling,
mloya-mlayu kaya maling,
tudang-tuding.
Mangro tingal padha digething.
Eling, ayo mulih padha manjing.
Akeh wong ijir,
akeh wong cethil.
Sing eman-eman
ora kaduman,
sing kaduman
ora aman.
Selot-selote besuk
ngancik tutupe taun,
dewa mbrastha malaning rat,
bakal ana dewa
angejawantah,
apangawak manungsa.
Apasuryan padha Bathara Kresna.
Awewatak Baladewa.
Agegaman trisula wedha.
Jinejer wolak-waliking jaman,
wong nyilih mbalekake,
wong utang mbayar.
Utang nyawa nyaur nyawa,
utang wirang nyaur wirang.
Akeh wong cinokot lemud mati.
Akeh swara aneh tanpa rupa.
Bala prewangan, makhluk alus padha baris,
padha rebut bebener garis.
Tan kasat mata tanpa rupa,
sing mandhegani putra Bathara Indra,
agegaman trisula wedha.
Momongane padha dadi nayakaning prang,
perange tanpa bala,
sekti mandraguna tanpa aji-aji.
Sadurunge teka ana tetenger lintang kemukus dawa ngaluk-aluk,
tumanja ana kidul sisih wetan bener, lawase pitung bengi.
Parak esuk banter,
ilange katut Bthara Surya,
jumedhul bebarengan karo sing wus mungkur.
Prihatine kawula kelantur-lantur.
Iku tandhane putra Bathara Indra wus katampa
lagi tumeka ing ngarcapada,
ambiyantu wong Jawa.
Dununge ana sikile redi Lawu sisih wetan.
Adhedukuh pindha Raden Gathutkaca,
arupa gupon dara tundha tiga.
Kaya manungsa asring angleledha,
apeparab Pangeraning Prang,
tan pakra anggone anyenyandhang,
nanging bisa nyembadani ruwet-rentenge wong sapirang-pirang.
Sing padha nyembah reca ndhaplang,
cina eling, Syeh-syeh pinaringan sabda gidrang-gidrang.
Putra kinasih swarga Sunan Lawu,
ya Kyai Brajamusthi,
ya Kresna,
ya Herumurti,
mumpuni sakehing laku,
nugel tanah Jawa kaping pindho.
Ngerehake sakabehing para jim,
setan, kumara, prewangan.
Para lelembut kabawah prentah
saeka praya kinen abebantu manungsa Jawa.
Padha asenjata trisula wedha,
kadherekake Sabdopalon Nayagenggong.
Pendhak Suro nguntapake kumara,
kumara kang wus katam nebus dosanira,
kaadhepake ngarsane kang Kuwasa.
Isih timur kaceluk wong tuwa,
pangiride Gathutkaca sayuta.
Idune idu geni, sabdane malati, sing bregudul mesthi mati.
Ora tuwa ora enom,
semono uga bayu wong ora ndayani.
Nyuwun apa bae mesthi sembada,
garise sabda ora gantalan dina.
Begja-begjane sing yakin
lan setya sabdanira.
Yen karsa sinuyutan wong satanah Jawa,
nanging pilih-pilih sapa waskitha pindha dewa.
Bisa nyumurupi laire embahira,
buyutira, canggahira, pindha lair bareng sadina.
Ora bisa diapusi
amarga bisa maca ati.
Wasis wegig waskitha
ngreti sadurunge winarah,
bisa priksa embah-embahira,
ngawuningani jaman tanah Jawa.
Ngreti garise siji-sijining umat,
tan kalepyan sumuruping gegaman.
Mula den udia satriya iki,
wus tan bapa tan bibi,
lola wus aputus wedha Jawa.
Mula ngendelake trisula wedha,
landhepe trisula :
pucuk arupa gegawe sirik agawe pepati utawa utang nyawa.
Sing tengah sirik agawe kapitunaning liyan,
sing pinggir tulak talak colong jupuk winaleran.
Sirik den wenehi ati melathi, bisa kasiku.
Senenge anyenyoba, aja kaina-ina.
Begja-begjane sing dipundhut,
ateges jantrane kaemong sira sabrayat.
Ingarsa begawan wong dudu pandhita.
Sinebut pandhita dudu dewa.
Sinebut dewa kaya manungsa,
kinen kaanggep manungsa sing seje daya.
Tan ana pitakonan binalekake,
tan ana jantra binalekake.
Kabeh kajarwakake nganti jlentreh
gawang-gawang terang ndrandang.
Aja gumun aja ngungun,
yaiku putrane Bathara Indra kang pambayun,
tur isih kuwasa nundhung setan.
Tumurune tirta brajamukti, pisah kaya ngundhuh.
Ya siji iki kang bisa njarwakake
utawa paring pituduh jangka kalaningsun.
Tan kena den apusi
amarga bisa manjing jroning ati.
Ana manungsa kaiden katemu,
uga ora ana jaman sing durung kalamangsane.
Aja serik aja gela
iku dudu waktunira,
ngangsua sumur ratu tanpa makutha.
Mula sing amenangi gek enggala den luru,
aja nganti jaman kandhas.
Madhepa den amarikelu.
Begja-begjane anak putu, iku dalan sing eling lan waspada,
ing jaman Kalabendu nyawa.
Aja nglarang dolan nglari wong apangawak dewa,
dewa apangawak manungsa.
Sapa sing ngalang-ngalangi bakal cures ludhes sabraja dlama kumara.
Aja kleru pandhita samudana, larinen pandhita asenjata trisula wedha.
Iku paringe dewa.
Ngluruge tanpa wadyabala.
Yen menang datan ngasorake liyan.
Para kawula padha suka-suka
amarga adiling Pangeran wus teka.
Ratune nyembah kawula, agegaman trisula wedha.
Para pandhita ya padha ngreja,
yaiku momongane Kaki sabdopalon sing wus adus wirang.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: