<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>SANGKAN PARANING DUMADI</title>
	<atom:link href="http://silsilahbpku.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://silsilahbpku.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com site</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 May 2011 12:50:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='silsilahbpku.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/a2c9e6d29e458a524a58558bf98a4f23?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>SANGKAN PARANING DUMADI</title>
		<link>http://silsilahbpku.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://silsilahbpku.wordpress.com/osd.xml" title="SANGKAN PARANING DUMADI" />
	<atom:link rel='hub' href='http://silsilahbpku.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>CIKAL BAKAL BOGOR</title>
		<link>http://silsilahbpku.wordpress.com/2011/01/03/cikal-bakal-bogor/</link>
		<comments>http://silsilahbpku.wordpress.com/2011/01/03/cikal-bakal-bogor/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Jan 2011 05:08:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>totokzemblem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silsilahbpku.wordpress.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Tah di dinya, ku andika adegkeun eta dayeuhlaju ngaranan Bogor sabab bogor teh hartina tunggul kawung (Di tempat itu, dirikanlah olehmu sebuah kota lalu beri nama Bogor sebab bogor itu artinya pokok enau)&#160; Ari tunggul kawung emang ge euweuh hartina euweuh soteh ceuk nu teu ngarti (Pokok enau itu memang tak ada artinya terutama,bagi mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silsilahbpku.wordpress.com&amp;blog=18742161&amp;post=53&amp;subd=silsilahbpku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>Tah di dinya, ku andika adegkeun eta dayeuhlaju ngaranan Bogor</h3>
<h3>sabab bogor teh hartina tunggul kawung</h3>
<div>(Di tempat itu, dirikanlah olehmu sebuah kota<br />
lalu beri nama Bogor<br />
sebab bogor itu artinya pokok enau)&nbsp;</p>
<p>Ari tunggul kawung<br />
emang ge euweuh hartina<br />
euweuh soteh ceuk nu teu ngarti<br />
(Pokok enau itu<br />
memang tak ada artinya<br />
terutama,bagi mereka yang tidak paham)</p>
<p>Ari sababna, ngaran mudu Bogor<br />
sabab bogor mah dijieun suluh teu daek hurung<br />
teu melepes tapi ngelun<br />
haseupna teu mahi dipake muput<br />
(Sebabnya harus bernama Bogor?<br />
sebab bogor itu dibuat kayu bakar tak mau menyala<br />
tapitidak padam, terus membara<br />
asapnya tak cukup untuk &#8220;muput&#8221;)</p>
<p>Tapi amun dijieun tetengger<br />
sanggup nungkulan windu<br />
kuat milangan mangsa<br />
(Tapi kalau dijadikan penyangga rumah<br />
mampu melampaui waktu<br />
sanggup melintasi zaman)</p>
<p>Amun kadupak<br />
matak borok nu ngadupakna<br />
moalgeuwat cageur tah inyana<br />
(Kalau tersenggol<br />
bisa membuat koreng yang menyenggolnya<br />
membuat koreng yang lama sembuhnya)</p>
<p>Amun katajong?<br />
mantak bohak nu najongna<br />
moal geuwat waras tah cokorna<br />
(Kalau tertendang?<br />
bisa melukai yang mendangnya<br />
itu kaki akan lama sembuhnya)</p>
<p>Tapi, amun dijieun kekesed?<br />
sing nyaraho<br />
isukan jaga pageto<br />
bakal harudang pating kodongkang<br />
nu ngawarah si calutak<br />
(Tapi, kalau dibuat keset?<br />
Semuanya harus tahu<br />
besok atau lusa<br />
bakal bangkit berkeliaran<br />
menasehati yang tidak sopan)</p>
<p>Tah kitu!<br />
ngaranan ku andika eta dayeuh<br />
Dayeuh Bogor!<br />
(Begitulah<br />
beri nama olehmu itu kota<br />
Kota Bogor)</p>
<p>[Pantun Pa Cilong, "Ngadegna Dayeuh Pajajaran"]</p>
<p>Pantun  di atas menjadi dasar yang paling kuat tentang kenapa nama kota itu  dinamakan &#8220;Bogor&#8221;. Seperti diketahui, sampai saat ini ada empat pendapat  tentang asal nama Bogor :</p>
<p>1. Berasal dari salah ucap orang Sunda untuk &#8220;Buitenzorg&#8221; yaitu nama resmi Bogor pada masa penjajahan Belanda.</p>
<p>2. Berasal dari &#8220;Baghar atau baqar&#8221; yang berarti sapi karena di dalam Kebun Raya ada sebuah patung sapi.</p>
<p>3. Berasal dari kata &#8220;Bokor&#8221; yaitu sejenis bakul logam tanpa alasan yang jelas.</p>
<p>4. Asli bernama Bogor yang artinya &#8220;tunggul kawung&#8221; (enau atau aren).</p>
<p>Pendapat  bahwa Bogor berasal dari &#8220;buitenzorg&#8221; adalah dugaan intelek yang  mengira lidah orang Sunda sedemikian kakunya dengan mengambil  perumpamaan melesetnya &#8220;Batavia&#8221; menjadi &#8220;Batawi&#8221;. Akan tetapi bila kita  perhatikan bagaimana orang Sunda mengucapkan &#8220;sikenhes&#8221; untuk  &#8220;ziekenhuis&#8221; (rumah sakit) atau &#8220;bes&#8221; untuk &#8220;buis&#8221; (pipa) atau &#8220;boreh&#8221;  untuk &#8220;boreg&#8221; (jaminan), maka berdasarkan gejala bahasa tersebut,  seharusnya orang Sunda melafalkan &#8220;buitenzorg&#8221; menjadi &#8220;betensoreh&#8221;.  Jadi dugaan &#8220;buitenzorg&#8221; menjadi Bogor terlalu dikira-kira.</p>
<p>Pendapat  kedua (&#8220;baghar atau baqar&#8221;) berdasarkan kenyataan adanya pengaruh  bahasa Arab di daerah sekitar Pekojan. Orang Sunda akrab dengan bahasa  Arab lewat agama Islam, akan tetapi belum pernah ada bunyi BA dari  bahasa Arab menjadi BO. Selain itu, dugaannya mengandung kelemahan dari  segi urutan waktu. Kata Bogor telah ada sebelum Kebun Raya dibuat,  sedangkan arca sapi itu berasal dari kolam kuno Kotabaru yang  dipindahkan ke dalam Kebun Raya oleh Dr. Frideriech dalam pertengahan  abad 19.</p>
<p>Pendapat ketiga (asal kata &#8220;bokor&#8221;) juga mengandung  kelemahan karena bokor itu sendiri adalah kata Sunda asli yang  keasliannya cukup terjamin. Meskipun demikian, perubahan bunyi &#8220;K&#8221;  menjadi &#8220;G&#8221; tanpa menimbulkan perubahan arti dapat ditemui pada kata  &#8220;kumasep&#8221; dan &#8220;angkeuhan&#8221; yang sering diucapkan menjadi &#8220;gumasep&#8221;  (merasa cakep/centil) dan &#8220;anggeuhan&#8221;(tempat bersandar atau bernaung).  Jadi bisa saja Bogor memang berasal dari Bokor. Akan tetapi, tak ada  seorangpun yang biasa mengartikan &#8220;Bogor&#8221; sama dengan &#8220;bokor&#8221;.</p>
<p>Pendapat  keempat kita temukan dalam pantun Bogor yang sudah disebutkan di awal  tulisan. Dalam lakon itu dikemukakan bahwa kata &#8220;bogor&#8221; berarti &#8220;tunggul  kawung&#8221;. Keadaan yang sama dapat ditemui pada nama tempat &#8220;Tunggilis&#8221;  yang terletak di tepi jalan antara Cileungsi dengan Jonggol. Kata  &#8220;tunggilis&#8221; berarti tunggul atau pokok pinang yang secara kiasan  diartikan menyendiri atau hidup sebatang kara.</p>
<p>Di Jawa Barat  banyak tempat bernama Bogor, seperti yang bisa ditemukan di Sumedang dan  Garut. Demikian pula di Jawa Tengah, sebagaimana dicatat Prof. Veth  dalam buku Java. Dengan demikian memang agak sulit menerima teori  &#8220;buitenzorg&#8221;,&#8221;baghar&#8221; dan &#8220;bokor&#8221;.</p>
<p>Bogor selain berarti tunggul  enau, juga berarti daging pohon kawung yang biasa dijadikan sagu (di  daerah Bekasi). Dalam bahasa Jawa &#8220;Bogor&#8221; berati pohon enau dan kata  kerja &#8220;dibogor&#8221; berarti disadap. Dalam bahasa Jawa Kuno, &#8220;pabogoran&#8221;  berarti kebun enau. Dalam bahasa Sunda umum, menurut Coolsma, &#8220;Bogor&#8221;  berarti &#8220;droogetapte kawoeng&#8221;(pohon enau yang telah habis disadap) atau  &#8220;bladerlooze en taklooze boom&#8221; (pohon yang tak berdaun dan tak  bercabang). Jadi sama dengan pengertian kata &#8220;pugur&#8221; atau &#8220;pogor&#8221;.</p>
<p>Akan  tetapi dalam bahasa Sunda &#8220;muguran&#8221; dengan &#8220;mogoran&#8221; berbeda arti. Yang  pertama dikenakan kepada pohon yang mulai berjatuhan daunnya karena  menua, yang kedua berarti bermalam di rumah wanita dalam makna yang  kurang susila. Pendapat desas-desus bahwa Bogor itu berarti &#8220;pamogoran&#8221;  bisa dianggap terlalu iseng.</p>
<p>Nama Bogor dapat ditemui pada sebuah  dokumen tertanggal 7 April 1752. Dalam dokumen tersebut tercantum nama  Ngabei Raksacandra sebagai &#8220;hoofd van de negorij Bogor&#8221; (kepala kampung  Bogor). Dalam tahun tersebut ibukota Kabupaten Bogor masih berkedudukan  di Tanah Baru. Dua tahun kemudian, Bupati Demang Wiranata mengajukan  permohonan kepada Gubernur Jacob Mossel agar diizinkan mendirikan rumah  tempat tinggal di Sukahati di dekat &#8220;Buitenzorg&#8221;. Kelak karena di depan  rumah Bupati Bogor tersebut terdapat sebuah kolam besar (empang), maka  nama &#8220;Sukahati&#8221; diganti menjadi &#8220;Empang&#8221;.</p>
<p>Pada tahun 1752  tersebut, di Kota Bogor belum ada orang asing, kecuali Belanda. Kebun  Raya sendiri baru didirikan tahun 1817 sehingga teori &#8220;arca sapi&#8221; tidak  dapat diterima sebagai asal-usul nama Bogor. Letak Kampung Bogor yang  awal itu di dalam Kebun Raya. Ada di lokasi tanaman kaktus sekarang.  Adapun pasar yang didirikan di kampung tersebut oleh penduduk disebut  Pasar Bogor. Maka, tak pelak, papan nama &#8220;Pasar Baru Bogor&#8221; yang ada  sekarang sebenarnya agak mengganggu rangkaian historis ini.</p>
</div>
<p>Diposkan oleh BLOG@ERYC90&#8242;s   di <a title="permanent link" rel="bookmark" href="http://blogeryc9.blogspot.com/2007/09/cikal-bakal-bogor.html"><abbr title="2007-09-19T18:56:00-07:00">18.56</abbr></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silsilahbpku.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silsilahbpku.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silsilahbpku.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silsilahbpku.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silsilahbpku.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silsilahbpku.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silsilahbpku.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silsilahbpku.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silsilahbpku.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silsilahbpku.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silsilahbpku.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silsilahbpku.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silsilahbpku.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silsilahbpku.wordpress.com/53/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silsilahbpku.wordpress.com&amp;blog=18742161&amp;post=53&amp;subd=silsilahbpku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silsilahbpku.wordpress.com/2011/01/03/cikal-bakal-bogor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bdd00ed24caa2a566054dc67d3293ca4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">totokzemblem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BOGOR KOTA TUA</title>
		<link>http://silsilahbpku.wordpress.com/2011/01/03/bogor-kota-tua/</link>
		<comments>http://silsilahbpku.wordpress.com/2011/01/03/bogor-kota-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Jan 2011 04:57:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>totokzemblem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silsilahbpku.wordpress.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[BOGOR KOTA TUA Bogor Kota Tua Diatas puncak gunung kapur di Ciampea Bogor terdapat sebuah makom (petilasan), belum diketahui pasti tempat tersebut petilasan siapa, tetapi makom tersebut berada di puncak gunung kapur dimana puncaknya sendiri adalah batu-batu karang laut seperti umumnya batu karang yang ada di laut. Mungkin dahulu daerah tersebut memang sebuah bagian dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silsilahbpku.wordpress.com&amp;blog=18742161&amp;post=50&amp;subd=silsilahbpku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>BOGOR KOTA TUA</h3>
<p>Bogor Kota Tua</p>
<p>Diatas puncak gunung kapur di Ciampea Bogor  terdapat sebuah makom (petilasan), belum diketahui pasti tempat tersebut  petilasan siapa, tetapi makom tersebut berada di puncak gunung kapur  dimana puncaknya sendiri adalah batu-batu karang laut seperti umumnya  batu karang yang ada di laut. Mungkin dahulu daerah tersebut memang  sebuah bagian dari laut yang terendam sesudah jaman es mencair. Mungkin  juga di tempat tersebut sudah ada peradaban pada saat air laut mulai  surut.</p>
<p>Sayang sekali cerita itu tidak didukung dengan fakta-fakta  serta cerita-cerita sejarah, atau mungkin fakta sejarah itu saat ini  belum tergali/belum ditemukan.</p>
<p>Kampung Muara dekat tempat  prasasti Ciaruteun dan Telapak Gajah ditemukan, dahulu merupakan sebuah  “Kota pelabuhan sungai” yang bandarnya terletak di tepi pertemuan  Cisadane dengan Cianten. Menurut cerita, dahulu di dekat gunung kapur  tersebut memang merupakan suatu pelabuhan yang biasa dikenal dengan nama  dermaga, barangkali itulah sebabnya di sekitar Kampus IPB sekarang  disebut daerah Darmaga. Hingga awal abad ke 19 tempat tersebut memang  masih digunakan sebagai pelabuhan terutama oleh para pedagang bambu.</p>
<p>Kerajaan-kerajaan yang berhubungan dengan sejarah kota Bogor diantaranya adalah:</p>
<p>Kerajaan  Salaka Nagara, rajanya bernama Dewawarman (I – VIII), tidak diketahui  pasti kapan kerajaan ini berdiri, letak kerajaan Salaka Nagara ini  diperkirakan berada di sekitar Pandeglang Banten, namun ada juga yang  beranggapan bahwa letak Salaka Nagara ada di kaki gunung Salak di  sebelah Barat kota Bogor. Menurut cerita kerajaan ini didirikan oleh  seseorang yang bernama Aki Tirem, yang kemudian keturunannya mendirikan  kerajaan Salaka Nagara, konon nama gunung Salak diambil dari asal kata  Salaka.<br />
Pada catatan sejarah India, para cendekiawan India telah  menulis tentang nama Dwipantara atau kerajaan Jawa Dwipa di pulau Jawa  sekitar 200 SM. Dan dari catatan itupun diketahui bahwa Kerajaan Taruma  menguasai Jawa sekitar tahun 400 M. Salakanagara (kota Perak) pernah  pula disebutkan dalam catatan yang disebut sebagai ARGYRE oleh Ptolemeus  pada tahun 150 M.</p>
<p>Dari peninggalan sejarah yang berhasil  ditemukan hingga saat ini, asal mula kota Bogor dapat ditelusuri mulai  dari Ciaruteun, Ciampea. Di Ciaruteun terdapat sebuah prasasti  peninggalan kerajaan Taruma Nagara (358 – 669 M), prasasti tersebut  diperkirakan dibuat pada tahun 450 M, jauh sebelum Kerajaan Pajajaran  dan Majapahit serta kerajaan-kerajaan lainnya berdiri di Indonesia.  Letak prasasti itu sendiri saat ini sudah dipindahkan, semula prasasti  itu berada di tengah-tengah sungai Ciaruteun yang kemudian dipindahkan  ke tepi karena prasasti tersebut beberapa kali terbawa arus pada saat  banjir bandang di sungai Ciaruteun.<br />
Selain itu di area yang sama  terdapat pula prasasti lainnya yang biasa disebut dengan prasasti Tapak  Gajah. Prasasti ini diperkirakan dibuat bersamaan dengan prasasti yang  ada di sungai Ciaruteun. Arti dari isi prasasti ini kira-kira: “Kedua  jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti  Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa”<br />
Di  salahsatu bagian kaki gunung Salak ada pula ditemukan sebuah prasasti di  desa Jambu kampung Pasirgintung kecamatan Nanggung, oleh karena itu  biasa disebut dengan Prasasti Jambu. Pada prasasti ini terukir 2 telapak  kaki dan 2 baris huruf palawa dalam bahasa sansekerta, kemungkinan  prasasti ini dibuat pada masa yang hampir bersamaan pula dengan dengan  Prasasti Ciaruteun. Prasasti ini bertuliskan: “Yang termashur serta  setia kepada tugasnya ialah raja yang tiada taranya bernama Sri  Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju perisainya tidak dapat  ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua jejak telapak  kaki ini, yang selalu berhasil menghancurkan benteng musuh, yang selalu  menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia kepadanya),  tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya”.</p>
<p>Pada prasasti  Ciaruteun dipahat juga sepasang telapak kaki serta tulisan dengan huruf  palawa dalam bahasa sansekerta, bunyi tulisan tersebut kira-kira “Inilah  telapak kaki yang mulia Sang Purnawarman Raja Negeri Taruma yang gagah  berani, yang menguasai dunia sebagai telapak kaki Dewa Wisnu”</p>
<p>Tidak  diketahui dengan pasti mengapa prasasti-prasasti tersebut ada di daerah  itu, apakah karena pusat pemerintahannya ada disana atau tempat  tersebut merupakan salah satu tempat penting pada masa itu yang berada  dikawasan kerajaan.</p>
<p>Pada masa Kerajaan Taruma Nagara kerajaan ini diperintah oleh 12 orang raja, berkuasa dari tahun 358 – 669 M.<br />
Kerajaan  Sunda, nama baru dari kerajaan Taruma Nagara, diperintah 28 orang raja,  tahun 669 – 1333 M. Pada masa ini, kerajaan tersebut dipecah menjadi 2  bagian, di sebelah Barat bernama kerajaan Sunda dan di sebelah Timur  bernama kerajaan Galuh dengan sungai Citarum sebagai batasnya.<br />
Kerajaan Kawali, diperintah oleh 6 orang raja, tahun 1333 – 1482 M.<br />
Kerajaan-kerajaan diatas adalah kerajaan-kerajaan yang dipimpin oleh “garis keturunan” yang sama.</p>
<p>Kerajaan  Taruma didirikan oleh Jayasingawarman, keturunan-keturunan raja  Kerajaan Taruma pergi ke luar wilayah kerajaan serta membentuk  kerajaan-kerajaan baru di wilayah lain. Ini terlihat dari berdirinya  kerajaan-kerajaan baru yang lebih “muda” usianya dibandingkan dengan  kerajaan Taruma Nagara. Pada masa abad ke 7 hingga abad ke 14 kerajaan  Sriwijaya berkembang di Sumatera. Penjelajah Tiongkok yang bernama I  Ching pernah mengunjungi ibukotanya yaitu Palembang sekitar tahun 670.  Pada abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan di Jawa  Timur yaitu Majapahit. Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364,  yang bernama Gajah Mada berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang  kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hampir seluruh  Semenanjung Melayu. Mungkin karena senioritas atau karena kekerabatan  atau juga karena sebab lainnya, kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh tidak  pernah dikuasai oleh kerajaan Majapahit.<br />
Ada 2 orang keturunan Taruma Nagara yang menjadi raja besar diluar tanah Sunda:<br />
1.  Sanjaya / Rakeyan Jamri / Prabu Harisdama, raja ke 2 Kerajaan Sunda  (723 – 732M), menjadi raja di Kerajaan Mataram (732 &#8211; 760M). Ia adalah  pendiri Kerajaan Mataram Kuno, dan sekaligus pendiri Wangsa Sanjaya.<br />
2. Raden Wijaya, penerus sah Kerajaan Sunda ke – 27, yang lahir di Pakuan, menjadi Raja Majapahit pertama (1293 – 1309 M).<br />
Selain  itu dikisahkan pula bahwa Putri Sobakancana anak dari Linggawarman,  raja Taruma Nagara terakhir menjadi isteri Dapuntahyang Srijayanasa yang  kemudian mendirikan kerajaan Sriwijaya di Sumatera.<br />
Di bawah  kekuasaan Purnawarman terdapat 48 raja-raja daerah yang kekuasaannya  membentang dari Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada  Pandeglang) sampai ke Purwalingga (sekarang Purbalingga) di Jawa Tengah.  Secara tradisional Ci Pamali (Kali Brebes) memang dianggap batas  kekuasaan raja-raja penguasa Jawa bagian Barat pada masa silam.<br />
Kerajaan  Galuh Pakuan (516 – 852 M), berada di sekitar wilayah kota Ciamis  sekarang. Pendiri kerajaan Galuh adalah keturunan raja Taruma Nagara  yang pergi menuju sekitar Selatan Jawa. Kerajaan Galuh didirikan oleh  cicit dari Manikmaya, menantu Suryawarman (raja Taruma Nagara ke 7). Ada  sebagian dari keturunan raja Galuh (yang juga keturunan Taruma Nagara)  yang kemudian kembali menuju Utara dan mendirikan kerajaan dengan nama  baru Pakuan Pajajaran. Sedangkan sebagian lainnya pergi menuju Timur  untuk kemudian mendirikan kerajaan-kerajaan baru di wilayah Jawa Tengah  (Sanjaya, mendirikan Mataram) dan Jawa Timur (Raden Wijaya, mendirikan  Majapahit).</p>
<p>Kerajaan Pakuan Pajajaran biasa disebut kerajaan  Pajajaran saja (1482 – 1579 M). Pada masa kejayaannya kerajaan ini  diperintah oleh seorang raja yang sangat terkenal yaitu Sri Baduga  Maharaja dengan gelar Prabu Siliwangi dinobatkan sebagai raja pada usia  18 tahun. Raja tersebut terkenal dengan “ajaran dari leluhur yang  dijunjung tinggi yang mengejar kesejahteraan”.</p>
<p>Pusat kota  Pajajaran ini terdapat di sekitar wilayah Batutulis sekarang, ini  diketahui dari ditemukannya sisa-sisa bekas bangunan istana yang  ditemukan di sekitar wilayah itu. Ini terungkap dalam ekspedisi yang  dilakukan pihak VOC sebelum menguasai suatu wilayah baru.</p>
<p>Untuk  kesejahteraan rakyatnya yang sebagian besar bertani dan juga untuk  menghalangi serangan pihak musuh maka pada masa itu dibuat sebuat  sodetan sungai yang sekarang dikenal dengan nama kali Cidepit dan  Cipakancilan. Sungai Cidepit dan Cipakancilan adalah sungai buatan yang  sumber airnya berasal dari sungai Cisadane.</p>
<p>Sama seperti kerajaan  sebelumnya, kerajaan Pajajaran sendiri pada masa kejayaannya sudah  menjalin hubungan dagang dengan negara-negara di Asia, Timur Tengah  serta Eropa. Pelabuhan lautnya ada di Sunda Kalapa yang kemudian berubah  nama menjadi Batavia dan kemudian berubah lagi menjadi Jakarta yang  sekarang.</p>
<p>Prabu Siliwangi memiliki beberapa orang anak dari  beberapa orang isteri. Dari istrinya yang bernama Kentring Manik Mayang  Sunda (beragama Islam) (puteri Prabu Susuktunggal, raja kerajaan Sunda)  keturunan-keturunannya pergi mengembara serta membangun wilayah pesisir  Utara di wilayah Karawang. Dari istrinya yang bernama Subang Larang  (beragama Islam) (puteri Ki Gedeng Tapa yang menjadi raja Singapura),  Prabu Siliwangi memiliki 3 orang anak yaitu Kian Santang, Lara Santang  dan Cakrabuana. Kian Santang adalah anaknya yang paling sakti serta  memiliki ilmu yang sangat tinggi, konon dalam menuntut ilmu Islam Kian  Santang mengembara hingga ke Timur Tengah. Ada juga kisah yang  menceritakan bahwa Kian Santang dapat pergi menuju Pelabuanratu melalui  sebuah goa besar yang terdapat di sungai Ciliwung (dulu bernama  cihaliwung). Letak goa itu sendiri sampai sekarang belum ada yang  berhasil menemukannya, tetapi dari mitos yang berkembang letak goa itu  berada di leuwi sipatahunan, sebuah bagian sungai yang paling dalam yang  sekarang berada di tengah-tengah lokasi kebun raya Bogor. Bagi kalangan  spiritual, leuwi sipatahunan ini konon memiliki aura misteri yang  sangat kuat. Lara Santang mengembara hingga ke Sumatera dan daratan  Asia, menyebarkan agama Islam yang di Sumatera dikenal dengan nama Ibu  Syarifah Mudaif. Lara Santang adalah ibu dari Syarif Hidayatullah, raja  Cirebon yang pada tahun 1579 ikut menyerang ke Pajajaran. Cakrabuana  mengembara di sekitar wilayah Cirebon, menurut cerita versi Pajajaran  beliau yang mendirikan asal muasal kota Cirebon.</p>
<p>Perbedaan yang  mencolok antara Ibu Subang Larang dengan Ibu Kentring Manik Mayang Sunda  adalah keunggulannya yang berbeda; Ibu Subang Larang mencerminkan sosok  ibu yang idealnya seperti seorang ibu sedangkan Ibu Kentring Manik  Mayang Sunda mencerminkan sosok seorang wanita yang perkasa dan mandiri.  Bagi sebagian orang Bogor, Ibu Subang Larang-lah yang biasa disebut  dengan nama Ibu Ratu bukan Nyai Roro Kidul seperti yang diyakini  sebagian masyarakat.<br />
Menurut cerita, Prabu Siliwangi tidak meninggal  dunia tetapi beliau menghilang (sunda:ngahiyang), karena itulah makam  Prabu Siliwangi tidak pernah ditemukan hingga saat ini. Legenda  masyarakat yang berkembang mengatakan bahwa Prabu Siliwangi menghilang  dan kadang-kadang menampakan diri dengan wujud seekor harimau besar.  Mungkin ini dihubungkan dengan seorang anggota ekspedisi pimpinan Scipio  pada tahun 1687 yang diterkam harimau besar di tepi sungai Cisadane di  sekitar prasasti Batutulis.</p>
<p>Pada masa masa kejayaan Kerajaan Pajajaran ada 4 orang patih Pajajaran yang terkenal:<br />
Ranggagading,  paling sakti dan bertindak sebagai pimpinan para patih, petilasan  Ranggagading dapat ditemukan di desa Cipinang Gading di Batutulis Bogor.  Entah bagaimana cerita ini bermula tapi ada sebagian orang yang  mempercayai bahwa Ranggagading-lah yang selama ini disebut-sebut sebagai  patih Gajahmada di kerajaan Majapahit.<br />
Ranggawulung, petilasannya ada di dekat kota Subang<br />
Ranggadipa, petilasannya ada di dekat kaki gunung kapur Ciampea<br />
Ranggasukma, hingga saat ini petilasannya belum ditemukan</p>
<p>Di  sekitar kota Bogor banyak “nama-nama lama” peninggalan bekas kerajaan  Pajajaran pada saat masih berdiri, misalnya Lawang Gintung, Lawang  Saketeng, Pamoyanan, Pasirkuda, Cibalagung, Pagentongan, Balekambang,  Panaragan, Pagelaran dan lain-lain.</p>
<p>Peninggalan kerajaan  Pajajaran yang terkenal adalah prasasti Batutulis, isi prasasti ini  kira-kira berarti: “Semoga selamat, ini adalah tanda peringatan untuk  Prabu Ratu almarhum. Dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana  dinobatkan dia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan  Pajajaran. Sri sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit pertahanan  Pakuan, dia putra Rahiyang Dewa Niskala yang dipusarakan di Gunatiga,  cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang dipusarakan ke Nusalarang.  Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, undakan  untuk hutan Samida dan Sahiyang Talaga Rena Mahawijaya. Dibuat dalam  saka 1455.” Selain prasasti banyak pula peninggalan-peninggalan kerajaan  Pajajaran yang ditemukan di sekitar komplek ini, salah satunya adalah  bangunan sisa kerajaan Pajajaran (ditemukan oleh Scipio, seorang  ekspedisi Belanda pada tahun 1687) pada saat sesudah dibumihanguskan  pada tahun 1579 oleh Kerajaan Banten (Maulana Yusuf) yang berkoalisi  dengan Kesultanan Cirebon (Syarief Hidayatullah).<br />
Kerajaan Pajajaran  dibumihanguskan oleh Kerajaan Banten dan Cirebon karena Raja Pajajaran  pada saat itu menolak untuk di-Islamkan, agama “resmi” kerajaan yang  dianut saat itu adalah agama Sunda (Sunda Wiwitan?). Konon agama Sunda  memang tidak mensyaratkan untuk membangun tempat peribadatan khusus,  oleh karena itu maka sisa-sisa peninggalan yang berupa bangunan mirip  candi hampir tidak ditemukan di Jawa Barat.</p>
<p>Pada saat  pembumihangusan, raja terakhir kerajaan Pajajaran yang bernama Raga  Mulya (1567 – 1579) ikut tewas terbunuh dan sebagian dari para pangeran  yang tidak terbunuh lari menuju pakidulan, Selatan Bogor (desa  Sirnaresmi di sekitar Pelabuanratu) untuk kemudian menuju ke arah  pakulonan, menuju ke Barat (sekarang propinsi Banten), menurut cerita  ada anggapan bahwa kemungkinan mereka inilah yang menjadi cikal bakal  dari masyarakat Badui yang kita kenal sekarang.</p>
<p>Prasasti  Batutulis dibuat oleh Prabu Surawisesa pada tahun 1533 M dengan maksud  memperingati jasa-jasa ayahandanya Sri Baduga Maharaja atau yang lebih  dikenal dengan nama Prabu Siliwangi yang sakti. Selain itu di Batutulis  tersebut adalah tempat upacara dilantiknya raja-raja Pajajaran yang  disebut dengan upacara Kuwerabhakti.</p>
<p>Sri Baduga Maharaja adalah  raja Pajajaran terbesar yang memerintah dari tahun 1482 sampai 1521 M.  Pelantikan Sri Baduga Maharaja sebagai raja Pajajaran itu sendiri  dilakukan pada saat Sri Baduga Maharaja memindahkan ibukota kerajaan  dari Galuh ke Pajajaran (Bogor) pada tanggal 3 Juni 1482. Maka tanggal  itulah yang kemudian secara resmi oleh pemerintah ditetapkan sebagai  hari jadi kota Bogor, walapun ada juga yang mengganggap bahwa tanggal  tersebut terlalu “muda” untuk dijadikan penetapan hari jadi sebuah kota  sesusia kota Bogor.</p>
<p>Konon kehancuran kerajaan Pajajaran  disebabkan pula oleh adanya penghianatan dari “orang dalam” yang merasa  tidak puas dengan kepemimpinan Raga Mulya (Suryakancana). Setelah  kehancuran kerajaan Pajajaran pada tahun 1579 dan larinya para pangeran  kerajaan maka terputuslah sejarah kerajaan ini. Sesuai tradisi, kursi  singgasana milik kerajaan Pajajaran oleh Maulana Yusuf ikut diboyong  menuju Banten yang secara simbolis menyatakan bahwa kerajaan Pajajaran  tidak akan berdiri lagi. Inipun menandakan bahwa kekuasaan kerajaan  Pajajaran sebenarnya telah beralih ke Maulana Yusuf dari Banten.  Terlebih dengan berdirinya VOC beberapa tahun kemudian yaitu tahun 1602  yang memanfaatkan perbedaan pendapat dan perpecahan diantara  kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia, maka berakhirlah sudah masa  kerajaan Pajajaran.<br />
Pada tahun 1681 Belanda menandatangani  kesepakatan dengan kesultanan Cirebon dan tahun 1684 Belanda  menandatangani kesepakatan dengan kesultanan Banten. Maka ditetapkanlah  batas wilayahnya yaitu sungai Cisadane, untuk itu dilakukan sebuah  ekspedisi untuk mencari sisa-sisa kerajaan Pajajaran pada tahun 1687  seperti diceritakan diatas.</p>
<p>Cerita ini sebagian bersumber dari  catatan dan fakta sejarah dan sebagian lagi dari sebuah cerita yang  diceritakan dan diceritakan lagi serta diceritakan lagi secara turun  temurun oleh para pangeran kerajaan yang berhasil melarikan diri hingga  kemudian cerita ini berubah menjadi sebuah cerita rakyat dan kemudian  ada yang berkembang menjadi sebuah mitos.</p>
<p>Tidak seperti kisah  sejarah “versi pemerintah” yang terdapat dalam buku-buku sejarah SD, SMP  dan SMA bahwa yang selama ini selalu disebut-sebut sebagai awal mula  peradaban di Indonesia (pulau Jawa) adalah Kerajaan Mataram kuno. Dalam  buku sejarah “versi pemerintah” tersebut sedikit sekali tulisan tentang  kerajaan Tarumanagara bahkan kerajaan Pajajaran tidak disebutkan  samasekali. Maka dalam uraian singkat ini kami mencoba menggali lebih  dalam lagi ke masa sebelum adanya Kerajaan Mataram agar tidak ada fakta  sejarah yang diputarbalikan hanya demi sebuah kepentingan segelintir  orang.</p>
<p>Demikian sejarah singkat kota tua Bogor. Tulisan ini  memang hanya menceritakan dari awal sejarah dapat terungkap sampai  dengan hari jadi kota Bogor. Kesalahan serta kurang lengkapnya nama,  tahun dan lokasi kejadian sejarah bukanlah sebuah kesengajaan tapi  semata-mata karena kurang lengkapnya referensi kami.</p>
<p>Silsilah kerajaan di Jawa Barat</p>
<p>KERAJAAN SALAKANAGARA</p>
<p>Masa  pemerintahan kerajaan ini dari tahun 200 SM (menurut catatan sejarah  dari India yang menyebutnya sebagai Java Dwipa) sampai tahun 362 M.  Tokoh awal dari kerajaan ini bernama Aki Tirem. Kerajaan ini  berkedudukan di Teluk Lada Pandeglang namun ada juga yang menyatakan  kerajaan ini berkedudukan di sebelah Barat Kota Bogor di kaki gunung  Salak, konon nama gunung Salak diambil dari kata Salaka.</p>
<p>1. Dewawarman I<br />
2. Dewawarman II<br />
3. Dewawarman III<br />
4. Dewawarman IV<br />
5. Dewawarman V<br />
6. Dewawarman VI<br />
7. Dewawarman VII<br />
8. Dewawarman VIII</p>
<p>KERAJAAN TARUMANAGARA</p>
<p>1. Jayasingawarman (358 – 382) dia adalah menantu dari Dewawarman VIII<br />
2. Dharmayawarman (382 – 395)<br />
3. Purnawarman (395 – 434)<br />
4. Wisnuwarman (434 – 455)<br />
5. Indrawarman (455 – 515)<br />
6. Candrawarman (515 – 535)<br />
7. Suryawarman (535 – 561)<br />
Tahun  526 menantu Suryawarman yang bernama Manikmaya mendirikan kerajaan baru  di wilayah Timur (dekat Nagreg Garut) yang kemudian cicit dari  Manikmaya yang bernama Wretikandayun mendirikan kerajaan baru tahun 612  yang kemudian dikenal dengan nama kerajaan Galuh.<br />
8. Kertawarman (561 – 628)<br />
9. Sudhawarman (628 – 639)<br />
10. Hariwangsawarman (639 – 640)<br />
11. Nagajayawarman (640 – 666)<br />
12. Linggawarman (666 – 669)<br />
Anak  Linggawarman yang bernama Sobakancana menikah dengan Daputahyang  Srijayanasa yang kemudian mendirikan kerajaan Sriwijaya. Anaknya yang  bernama Manasih menikah dengan Tarusbawa yang kemudian melanjutkan  kerajaan Tarumanagara dengan nama kerajaan Sunda. Karena Tarusbawa  merubah nama kerajaan Tarumanagara menjadi kerajaan Sunda maka  Wretikandayun pada tahun 612 menyatakan kerajaan Galuh adalah sebagai  kerajaan yang berdiri sendiri bukan dibawah kekuasaan kerajaan Sunda  walaupun sebenarnya kerajaan-kerajaan itu diperintah oleh garis  keturunan yang sama hanya ibukotanya saja yang berpindah-pindah (Sunda,  Pakuan, Galuh, Kawali, Saunggalah).</p>
<p>KERAJAAN SUNDA/GALUH/SAUNGGALAH/PAKUAN</p>
<p>1. Tarusbawa (670 – 723)<br />
2.  Sanjaya/Harisdarma/Rakeyan Jamri (723 –732) ibu dari Sanjaya adalah  putri Sanaha dari Kalingga sedangkan ayahnya adalah Bratasenawa (raja ke  3 kerajaan Galuh) Sanjaya adalah cicit dari Wretikandayun (kerajaan  Galuh) Sanjaya kemudian menikah dengan anak perempuan Tarusbawa yang  bernama Tejakancana.<br />
3. Rakeyan Panabaran/Tamperan Barmawijaya (732 &#8211;  739) adalah anak Sanjaya dari istrinya Tejakancana. Sanjaya sendiri  sebagai penerus ke 2 kerajaan Sunda kemudian memilih berkedudukan di  Kalingga yang kemudian mendirikan kerajaan Mataram Kuno dan wangsa  Sanjaya (mulai 732)<br />
4. Rakeyan Banga (739 – 766)<br />
5. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766 – 783)<br />
6. Prabu Gilingwesi (783 – 795)<br />
7. Pucukbumi Darmeswara (795 – 819)<br />
8. Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus (819 – 891)<br />
9. Prabu Darmaraksa (891 – 895)<br />
10. Windusakti Prabu Dewageng (895 – 913)<br />
11. Rakeyan Kemuning Gading Prabu Pucukwesi (913 – 916)<br />
12. Rakeyan Jayagiri Prabu Wanayasa (916 – 942)<br />
13. Prabu Resi Atmayadarma Hariwangsa (942 – 954)<br />
14. Limbur Kancana (954 – 964)<br />
15. Prabu Munding Ganawirya (964 – 973)<br />
16. Prabu Jayagiri Rakeyan Wulung Gadung (973 – 989)<br />
17. Prabu Brajawisesa (989 – 1012)<br />
18. Prabu Dewa Sanghyang (1012 – 1019)<br />
19. Prabu Sanghyang Ageng (1019 – 1030)<br />
20.  Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati (1030 – 1042) Ayah Sri Jayabupati  (Sanghyang Ageng) menikah dengan putri dari Sriwijaya (ibu dari Sri  Jayabupati) sedangkan Sri Jayabupati sendiri menikah dengan putri  Dharmawangsa (adik Dewi Laksmi istri dari Airlangga)<br />
21. Raja Sunda XXI<br />
22. Raja Sunda XXII<br />
23. Raja Sunda XXIII<br />
24. Raja Sunda XXIV<br />
25. Prabu Guru Dharmasiksa<br />
26.  Rakeyan Jayadarma, istri Rakeyan Jayadarma adalah Dyah Singamurti/Dyah  Lembu Tal anak dari Mahesa Campaka, Mahesa Campaka adalah anak dari  Mahesa Wongateleng, Mahesa Wongateleng adalah anak dari Ken Arok dan Ken  Dedes dari kerajaan Singasari.<br />
Anak Rakeyan Jayadarma dengan Dyah  Singamurti bernama Sang Nararya Sanggrama Wijaya atau lebih dikenal  dengan nama Raden Wijaya. Karena Jayadarma meninggal di usia muda dan  Dyah Singamurti tidak mau tinggal lebih lama di Pakuan maka pindahlah  Dyah Singamurti dan anaknya Raden Wijaya ke Jawa Timur yang kemudian  Raden Wijaya menjadi Raja Majapahit pertama.<br />
27. Prabu Ragasuci (1297  – 1303) dia adalah adik dari Rakeyan Jayadarma. Istri Ragasuci bernama  Dara Puspa seorang putri dari Kerajaan Melayu. Dara Puspa adalah adik  Dara Kencana (yang menikah dengan Kertanegara dari Singasari).<br />
28. Prabu Citraganda (1303 – 1311)<br />
29. Prabu Lingga Dewata (1311 – 1333)<br />
30. Prabu Ajigunawisesa (1333 – 1340) menantu Prabu Lingga Dewata<br />
31. Prabu Maharaja Lingga Buana (1340 – 1357)<br />
32. Prabu Mangkubumi Suradipati/Prabu Bunisora (1357 – 1371) adik Lingga Buana<br />
33.  Prabu Raja Wastu/Niskala Wastu Kancana (1371 – 1475) anak dari Prabu  Lingga Buana. Istri pertamanya bernama Larasarkati dari Lampung memiliki  anak bernama Sang Haliwungan setelah menjadi Raja Sunda bergelar Prabu  Susuktunggal. Permaisuri keduanya adalah Mayangsari putri sulung Prabu  Mangkubumi Suradipati/Bunisora memiliki anak yang bernama Ningrat  Kancana setelah menjadi Raja Galuh bergelar Prabu Dewaniskala.<br />
Setelah  Prabu Raja Wastu meninggal dunia kerajaan dipecah menjadi 2 dengan hak  serta wewenang yang sama, Prabu Susuktunggal menjadi raja di kerajaan  Sunda sedangkan Prabu Dewaniskala menjadi raja di kerajaan Galuh.<br />
Putra  Prabu Dewaniskala bernama Jayadewata, mula-mula menikah dengan  Ambetkasih putri dari Ki Gedeng Sindangkasih kemudian menikah lagi  dengan Subanglarang (putri Ki Gedeng Tapa yang menjadi raja Singapura)  setelah itu ia menikah lagi dengan Kentringmanik Mayang Sunda, putri  Prabu Susuktunggal.<br />
Pada tahun 1482 Prabu Dewaniskala menyerahkan  kekuasaan kerajaan Galuh kepada puteranya (Jayadewata), demikian pula  dengan Prabu Susuktunggal, ia menyerahkan tahta kerajaan kepada  menantunya (Jayadewata), maka jadilah Jayadewata sebagai penguasa  kerajaan Galuh dan Sunda dengan gelar Sri Baduga Maharaja atau yang  lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi.</p>
<p>KERAJAAN PAJAJARAN</p>
<p>1. Sri Baduga Maharaja/Prabu Siliwangi (1482 – 1521)<br />
Pada masa inilah kerajaan Pajajaran mengalami kemajuan serta kemakmuran.<br />
2. Surawisesa (1521 – 1535)<br />
3. Ratu Dewata (1535 – 1543)<br />
4. Ratu Sakti (1543 – 1551)<br />
5. Raga Mulya (1551 – 1579)<br />
Sekelumit  tentang kisah kerajaan Pajajaran sampai dengan tanggal penetapan hari  jadi kota Bogor telah ditulis dibagian awal dari tulisan ini.</p>
<p>Penutup</p>
<p>Kami  berharap kisah/cerita/fakta sejarah dapat diungkap dengan proporsional  karena selama ini saya dan juga bangsa Indonesia lainnya merasa telah  “tertipu” oleh politik Soeharto yang mengagung-agungkan orang  Jawa/Mataram dengan menyembunyikan fakta sejarah yang sebenarnya hanya  untuk kepentingan politiknya saja. Mengapa tidak pernah disebutkan bahwa  wangsa Sanjaya pendiri Mataram Kuno adalah seorang putra Sunda?  Demikian pula dengan sejarah Majapahit, kenapa tidak pernah pula  disebutkan bahwa Raden Wijaya raja pertama Majapahit adalah seorang  putera Sunda? dan sumpah Palapa-nya Gajahmada, apakah Majapahit pernah  berhasil menguasai Sunda dan Galuh? Jawabannya: tidak pernah. Siapa  sebenarnya Gajahmada? Dimana dia lahir? Siapa nama orangtuanya? Kapan  dia meninggal? Dimana dia dimakamkan? Tidak ada seorangpun yang tahu  pasti, oleh karena itulah maka ada orang yang beranggapan bahwa  Ranggagading dari Pakuan-lah yang selama ini disebut-sebut sebagai  Gajahmada patih kerajaan Majapahit. Mungkin sama seperti tokoh Si  Kabayan, tidak ada yang tahu asal usulnya, jadi siapapun boleh saja  mengatakan bahwa di kampung merekalah adanya makam Kabayan.</p>
<p>Bila  kita bandingkan dengan kerajaan-kerajaan lain di Indonesia, maka  kerajaan Salakanagara di Jawa Barat-lah yang pantas dikatakan sebagai  kerajaan tua, dan dari situlah seharusnya asal muasal sejarah Indonesia  ini diungkapkan dengan benar.</p>
<p>Mudah-mudahan kejadian “penipuan  sejarah” tidak terulang lagi dimasa yang akan datang, terlepas dari  keuntungan politik yang akan diperoleh, walau bagaimananpun juga  masyarakat tentu akan lebih menghargai informasi yang jujur.</p>
<p>Tadinya  saya hanya mencari-cari asal-usul nama jalan di seputaran Dago, yaitu  jalan Purnawarman, Sawunggaling, Mundinglaya, Ciungwanara, Ranggagading,  Ranggamalela, Ranggagempol, Hariangbanga, Geusan Ulun, Adipati  Kertabumi, Dipati Ukur, Suryakancana, Wira Angunangun, Ariajipang, Prabu  Dimuntur, Bahureksa, Wastukancana, Gajah Lumantung, Sulanjana,  Badaksinga, Bagusrangin, Panatayuda, dan Singaperbangsa. Tidak banyak  yang saya dapat dari pencarian Google, juga tidak punya buku referensi  untuk saya dongengkan kembali. Jadi hanya saya tulis asal-usul Sunda  saja, mungkin nanti saya temukan juga dongeng atau pun sejarah tentang  nama-nama jalan di atas.</p>
<p>Disadur, diringkas, dipotong dan  didongengkan kembali oleh saya dari situs catatan sejarah kota Bogor.  Silakan baca langsung sumbernya jika anda berminat membaca lebih detil.</p>
<p>Nama  Sunda mulai digunakan oleh Maharaja Purnawarman dalam tahun 397M untuk  menyebut ibukota kerajaan yang didirikannya, Tarumanagara. Tarusbawa,  penguasa Tarumanagara yang ke-13 ingin mengembalikan keharuman  Tarumanagara yang semakin menurun di purasaba (ibukota) Sundapura. Pada  tahun 670M ia mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda  (selanjutnya punya nama lain yang menunjukkan wilayah/pemerintahan yang  sama seperti Galuh, Kawali, Pakuan atau Pajajaran).</p>
<p>Peristiwa  ini dijadikan alasan oleh Kerajaan Galuh untuk memisahkan negaranya  dari kekuasaan Tarusbawa. Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan  perang saudara, Maharaja Tarusbawa menerima tuntutan Raja Galuh.  Akhirnya kawasan Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu  Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Sungai Citarum sebagai batas  (Cianjur ke Barat wilayah Sunda, Bandung ke Timur wilayah Galuh).</p>
<p>Menurut sejarah kota Ciamis pembagian wilayah Sunda-Galuh adalah sebagai berikut:</p>
<p>Pajajaran berlokasi di Bogor beribukota Pakuan<br />
Galuh Pakuan beribukota di Kawali<br />
Galuh Sindula yang berlokasi di Lakbok dan beribukota Medang Gili<br />
Galuh Rahyang berlokasi di Brebes dengan ibukota Medang Pangramesan<br />
Galuh Kalangon berlokasi di Roban beribukota Medang Pangramesan<br />
Galuh Lalean berlokasi di Cilacap beribukota di Medang Kamulan<br />
Galuh Pataruman berlokasi di Banjarsari beribukota Banjar Pataruman<br />
Galuh Kalingga berlokasi di Bojong beribukota Karangkamulyan<br />
Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung beribukota Bagolo<br />
Galuh Kumara berlokasi di Tegal beribukota di Medangkamulyan<br />
Tarusbawa  bersahabat baik dengan raja Galuh Bratasenawa atau Sena. Purbasora  –yang termasuk cucu pendiri Galuh– melancarkan perebutan tahta Galuh di  tahun 716M karena merasa lebih berhak naik tahta daripada Sena. Sena  melarikan diri ke Kalingga (istri Sena; Sanaha, adalah cucu Maharani  Sima ratu Kalingga).</p>
<p>Sanjaya, anak Sena, ingin menuntut balas  kepada Purbasora. Sanjaya mendapat mandat memimpin Kerajaan Sunda karena  ia adalah menantu Tarusbawa. Galuh yang dipimpin Purbasora diserang  habis-habisan hingga yang selamat hanya satu senapati kerajaan, yaitu  Balangantrang.</p>
<p>Sanjaya yang hanya berniat balas dendam terpaksa  harus naik tahta juga sebagai Raja Galuh, sebagai Raja Sunda ia pun  harus berada di Sundapura. Sunda-Galuh disatukan kembali hingga akhirnya  Galuh diserahkan kepada tangan kanannya yaitu Premana Dikusuma yang  beristri Naganingrum yang memiliki anak bernama Surotama alias Manarah.</p>
<p>Premana  Dikusuma adalah cucu Purbasora, harus tunduk kepada Sanjaya yang  membunuh kakeknya, tapi juga hormat karena Sanjaya disegani, bahkan  disebut rajaresi karena nilai keagamaannya yang kuat dan memiliki sifat  seperti Purnawarman. Premana menikah dengan Dewi Pangreyep –keluarga  kerajaan Sunda– sebagai ikatan politik.</p>
<p>Di tahun 732M Sanjaya  mewarisi tahta Kerajaan Medang dari orang tuanya. Sebelum ia  meninggalkan kawasan Jawa Barat, ia mengatur pembagian kekuasaan antara  putranya, Tamperan dan Resiguru Demunawan. Sunda dan Galuh menjadi  kekuasaan Tamperan, sedangkan Kerajaan Kuningan dan Galunggung  diperintah oleh Resiguru Demunawan.</p>
<p>Premana akhirnya lebih sering  bertapa dan urusan kerajaan dipegang oleh Tamperan yang merupakan ‘mata  dan telinga’ bagi Sanjaya. Tamperan terlibat skandal dengan Pangreyep  hingga lahirlah Banga (dalam cerita rakyat disebut Hariangbanga).  Tamperan menyuruh pembunuh bayaran membunuh Premana yang bertapa yang  akhirnya pembunuh itu dibunuh juga, tapi semuanya tercium oleh  Balangantrang.</p>
<p>Balangantrang dengan Manarah merencanakan balas  dendam. Dalam cerita rakyat Manarah dikenal sebagai Ciung Wanara.  Bersama pasukan Geger Sunten yang dibangun di wilayah Kuningan Manarah  menyerang Galuh dalam semalam, semua ditawan kecuali Banga dibebaskan.  Namun kemudian Banga membebaskan kedua orang tuanya hingga terjadi  pertempuran yang mengakibatkan Tamperan dan Pangreyep tewas serta Banga  kalah menyerah.</p>
<p>Perang saudara tersebut terdengar oleh Sanjaya  yang memimpin Medang atas titah ayahnya. Sanjaya kemudian menyerang  Manarah tapi Manarah sudah bersiap-siap, perang terjadi lagi namun  dilerai oleh Demunawan, dan akhirnya disepakati Galuh diserahkan kepada  Manarah dan Sunda kepada Banga.</p>
<p>Konflik terus terjadi, kehadiran  orang Galuh sebagai Raja Sunda di Pakuan waktu itu belum dapat diterima  secara umum, sama halnya dengan kehadiran Sanjaya dan Tamperan sebagai  orang Sunda di Galuh. Karena konflik tersebut, tiap Raja Sunda yang baru  selalu memperhitungkan tempat kedudukan yang akan dipilihnya menjadi  pusat pemerintahan. Dengan demikian, pusat pemerintahan itu  berpindah-pindah dari barat ke timur dan sebaliknya. Antara tahun 895M  sampai tahun 1311M kawasan Jawa Barat diramaikan sewaktu-waktu oleh  iring-iringan rombongan raja baru yang pindah tempat.</p>
<p>Dari segi  budaya orang Sunda dikenal sebagai orang gunung karena banyak menetap di  kaki gunung dan orang Galuh sebagai orang air. Dari faktor inilah  secara turun temurun dongeng Sakadang Monyet jeung Sakadang Kuya  disampaikan.</p>
<p>Hingga pemerintahan Ragasuci (1297M–1303M) gejala  ibukota mulai bergeser ke arah timur ke Saunggalah hingga sering disebut  Kawali (kuali tempat air). Ragasuci sebenarnya bukan putra mahkota.  Raja sebelumnya, yaitu Jayadarma, beristrikan Dyah Singamurti dari Jawa  Timur dan memiliki putra mahkota Sanggramawijaya, lebih dikenal sebagai  Raden Wijaya, lahir di Pakuan. Jayadarma kemudian wafat tapi istrinya  dan Raden Wijaya tidak ingin tinggal di Pakuan, kembali ke Jawa Timur.</p>
<p>Kelak  Raden Wijaya mendirikan Majapahit yang besar, hingga jaman Hayam Wuruk  dan Gajah Mada mempersatukan seluruh nusantara, kecuali kerajaan Sunda  yang saat itu dipimpin Linggabuana, yang gugur bersama anak gadisnya  Dyah Pitaloka Citraresmi pada perang Bubat tahun 1357M. Sejak peristiwa  Bubat, kerabat keraton Kawali ditabukan berjodoh dengan kerabat keraton  Majapahit.</p>
<p>Menurut Kidung Sundayana, inti kisah Perang Bubat adalah sebagai berikut (dikutip dari JawaPalace):</p>
<p>Tersebut  negara Majapahit dengan raja Hayam Wuruk, putra perkasa kesayangan  seluruh rakyat, konon ceritanya penjelmaan dewa Kama, berbudi luhur,  arif bijaksana, tetapi juga bagaikan singa dalam peperangan. Inilah raja  terbesar di seluruh Jawa bergelar Rajasanagara. Daerah taklukannya  sampai Papua dan menjadi sanjungan empu Prapanca dalam Negarakertagama.  Makmur negaranya, kondang kemana-mana. Namun sang raja belum kawin  rupanya. Mengapa demikian? Ternyata belum dijumpai seorang permaisuri.  Konon ceritanya, ia menginginkan isteri yang bisa dihormati dan dicintai  rakyat dan kebanggaan raja Majapahit. Dalam pencarian seorang calon  permaisuri inilah terdengar khabar putri Sunda nan cantik jelita yang  mengawali dari Kidung Sundayana.</p>
<p>Apakah arti kehormatan dan  keharuman sang raja yang bertumpuk dipundaknya, seluruh Nusantara sujud  di hadapannya. Tetapi engkau satu, jiwanya yang senantiasa menjerit  meminta pada yang kuasa akan kehadiran jodohnya. Terdengarlah khabar  bahwa ada raja Sunda (Kerajaan Kahuripan) yang memiliki putri nan cantik  rupawan dengan nama Diah Pitaloka Citrasemi.</p>
<p>Setelah selesai  musyawarah sang raja Hayam Wuruk mengutus untuk meminang putri Sunda  tersebut melalui perantara yang bernama tuan Anepaken, utusan sang raja  tiba di kerajaan Sunda. Setelah lamaran diterima, direstuilah putrinya  untuk di pinang sang prabu Hayam Wuruk. Ratusan rakyat menghantar sang  putri beserta raja dan punggawa menuju pantai, tapi tiba-tiba dilihatnya  laut berwarna merah bagaikan darah. Ini diartikan tanda-tanda buruk  bahwa diperkirakan putri raja ini tidak akan kembali lagi ke tanah  airnya. Tanda ini tidak dihiraukan, dengan tetap berprasangka baik  kepada raja tanah Jawa yang akan menjadi menantunya.</p>
<p>Sepuluh hari  telah berlalu sampailah di desa Bubat, yaitu tempat penyambutan dari  kerajaan Majapahit bertemu. Semuanya bergembira kecuali Gajahmada, yang  berkeberatan menyambut putri raja Kahuripan tersebut, dimana ia  menganggap putri tersebut akan “dihadiahkan” kepada sang raja. Sedangkan  dari pihak kerajaan Sunda, putri tersebut akan “di pinang” oleh sang  raja. Dalam dialog antara utusan dari kerajaan Sunda dengan patih  Gajahmada, terjadi saling ketersinggungan dan berakibat terjadinya  sesuatu peperangan besar antara keduanya sampai terbunuhnya raja Sunda  dan putri Diah Pitaloka oleh karena bunuh diri. Setelah selesai  pertempuran, datanglah sang Hayam Wuruk yang mendapati calon pinangannya  telah meninggal, sehingga sang raja tak dapat menanggung kepedihan  hatinya, yang tak lama kemudian akhirnya mangkat. Demikian inti Kidung.</p>
<p>Sunda-Galuh  kemudian dipimpin oleh Niskala Wastukancana, turun temurun hingga  beberapa puluh tahun kemudian Kerajaan Sunda mengalami keemasan pada  masa Sri Baduga Maharaja, Sunda-Galuh dalam prasasti disebut sebagai  Pajajaran dan Sri Baduga disebut oleh rakyat sebagai Siliwangi, dan  kembali ibukota pindah ke barat.</p>
<p>Menurut sumber Portugis, di  seluruh kerajaan, Pajajaran memiliki kira-kira 100.000 prajurit. Raja  sendiri memiliki pasukan gajah sebanyak 40 ekor. Di laut, Pajajaran  hanya memiliki 6 buah Jung (kapal laut model Cina) untuk perdagangan  antar-pulaunya (saat itu perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai 4000  ekor/tahun).</p>
<p>Selain tahun 1511 Portugis menguasai Malaka, VOC  masuk Sunda Kalapa, Kerajaan Islam Banten, Cirebon dan Demak semakin  tumbuh membuat kerajaan besar Sunda-Galuh Pajajaran semakin terpuruk  hingga perlahan-lahan pudar, ditambah dengan hubungan dagang  Pajajaran-Portugis dicurigai kerajaan di sekeliling Pajajaran. Stop.</p>
<p>Lanjut!</p>
<p>Setelah  Kerajaan Sunda-Galuh-Pajajaran memudar kerajaan-kerajaan kecil di bawah  kekuasaan Pajajaran mulai bangkit dan berdiri-sendiri, salah satunya  adalah Kerajaan Sumedang Larang (ibukotanya kini menjadi Kota Sumedang).  Kerajaan Sumedang Larang didirikan oleh Prabu Geusan Ulun Adji Putih  atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan  kembali ke Pakuan Pajajaran, Bogor.</p>
<p>Kerajaan Sumedang pada masa  Prabu Geusan Ulun mengalami kemajuan yang pesat di bidang sosial,  budaya, agama (terutama penyebaran Islam), militer dan politik  pemerintahan. Setelah wafat pada tahun 1608, putranya, Pangeran Rangga  Gempol Kusumadinata/Rangga Gempol I atau yang dikenal dengan Raden Aria  Suradiwangsa naik tahta. Namun, pada saat Rangga Gempol memegang  kepemimpinan, pada tahun 1620M Sumedang Larang dijadikan wilayah  kekuasaan Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung, dan statusnya sebagai  ‘kerajaan’ diubah menjadi ‘kabupaten’.</p>
<p>Sultan Agung memberi  perintah kepada Rangga Gempol I beserta pasukannya untuk memimpin  penyerangan ke Sampang, Madura. Sedangkan pemerintahan sementara  diserahkan kepada adiknya, Dipati Rangga Gede. Hingga suatu ketika,  pasukan Kerajan Banten datang menyerbu dan karena setengah kekuatan  militer kabupaten Sumedang Larang diberangkatkan ke Madura atas titah  Sultan Agung, Rangga Gede tidak mampu menahan serangan pasukan Banten  dan akhirnya melarikan diri. Kekalahan ini membuat marah Sultan Agung  sehingga ia menahan Dipati Rangga Gede, dan pemerintahan selanjutnya  diserahkan kepada Dipati Ukur. Sekali lagi, Dipati Ukur diperintahkan  oleh Sultan Agung untuk bersama-sama pasukan Mataram untuk menyerang dan  merebut pertahanan Belanda di Batavia (Jakarta) yang pada akhirnya  menemui kegagalan. Kekalahan pasukan Dipati Ukur ini tidak dilaporkan  segera kepada Sultan Agung, diberitakan bahwa ia kabur dari  pertanggungjawabannya dan akhirnya tertangkap dari persembunyiannya atas  informasi mata-mata Sultan Agung yang berkuasa di wilayah Priangan.</p>
<p>Setelah  habis masa hukumannya, Dipati Rangga Gede diberikan kekuasaan kembali  untuk memerintah di Sumedang, sedangkan wilayah Priangan di luar  Sumedang dan Galuh (Ciamis) dibagi kepada tiga bagian; Pertama,  Kabupaten Bandung, yang dipimpin oleh Tumenggung Wiraangunangun, kedua,  Kabupaten Parakanmuncang oleh Tanubaya dan ketiga, kabupaten Sukapura  yang dipimpin oleh Tumenggung Wiradegdaha atau R. Wirawangsa atau  dikenal dengan “Dalem Sawidak” karena memiliki anak yang sangat banyak.</p>
<p>Selanjutnya  Sultan Agung mengutus Penembahan Galuh bernama R.A.A. Wirasuta yang  bergelar Adipati Panatayuda atau Adipati Kertabumi III (anak Prabu  Dimuntur, keturunan Geusan Ulun) untuk menduduki Rangkas Sumedang  (Sebelah Timur Citarum). Selain itu juga mendirikan benteng pertahanan  di Tanjungpura, Adiarsa, Parakansapi dan Kuta Tandingan. Setelah  mendirikan benteng tersebut Adipati Kertabumi III kemudian kembali ke  Galuh dan wafat. Nama Rangkas Sumedang itu sendiri berubah menjadi  Karawang karena kondisi daerahnya berawa-rawa, karawaan.</p>
<p>Sultan  Agung Mataram kemudian mengangkat putra Adipati Kertabumi III, yakni  Adipati Kertabumi IV menjadi Dalem (Bupati) di Karawang, pada Tahun  1656M. Adipati Kertabumi IV ini juga dikenal sebagai Panembahan  Singaperbangsa atau Eyang Manggung, dengan ibu kota di Udug-udug. Pada  masa pemerintahan R. Anom Wirasuta putra Panembahan Singaperbangsa yang  bergelar R.A.A. Panatayuda I antara Tahun 1679M dan 1721M ibu kota  Karawang dari Udug-udug pindah ke Karawang. Stop.</p>
<p>Jadi nama jalan  Sawunggaling, Mundinglaya, Ranggagading, Ranggamalela, Suryakancana,  Ariajipang, Bahureksa, Gajah Lumantung, Sulanjana, Badaksinga dan  Bagusrangin belum saya temukan dongeng atau sejarahnya, sebagian –kalau  tidak salah ingat– adalah tokoh-tokoh dalam cerita rakyat Lutung  Kasarung.</p>
<p>SUNDA NUSANTARA SEBAGAI INDUK BANGSA</p>
<p>Sunda Nusantara merupakan salah satu sejarah yang sangat perlu kita pelajari dan kita ungkap bersama.<br />
Dengan  sepintas orang dikacaukan dengan nama Sunda Kelapa. Pada dasarnya  walaupun ada kemiripan nama, tetapi mempunyai makna lain. Sunda Kelapa  identik dengan Batavia, Betawi, Jayakarta, Jakarta sebagi Ibu Kota  Negara Kesatuan Negara Republik Indonesia sekarang ini.</p>
<p>Sedangkan  Sunda Nusantara merupakan suatu Negara yang berbentuk Kerajaan dengan  Pemerintahannya berdasarkan Konstitusi Parlementer Demokrasi Sejati  Reformasi Kerakyatan dan Kemakmuran Bangsa Sunda Tanah Air di daratan  Sunda Nusantara.<br />
Wilayah: Sunda Nusantara memiliki wilayah yang  terbentang dari barat sampai timur dari Jawa sampai dengan Papuniginia  (Irian), bentangan dari selatan sampai dengan utara, mulai dari Timor  sampai dengan selat Malaka-Singapura.</p>
<p>[Sisanya dihapus, hanya copy paste dari http://www.mail-archive.com/kisunda@yahoogroups.com/msg04126.html]</p>
<p>Suryakencana  adalah nama seorang putra Pangeran Aria Wiratanudatar (pendiri kota  Cianjur) yang beristrikan seorang putri jin. Pangeran Suryakencana  memiliki dua putra yaitu: Prabu Sakti dan Prabu Siliwangi.<br />
arKawasan  Gunung Gede merupakan tempat bersemayam Pangeran Suryakencana. Beliau  bersama rakyat jin menjadikan alun2 sebagai lumbung padi yang disebut  Leuit Salawe, Salawe Jajar, dan kebun kelapa salawe tangkal, salawe  manggar.</p>
<p>Petilasan singgasana Pangeran Suryakencana berupa sebuah  batu besar berbentuk pelana. Hingga kini, petilasan tersebut masih  berada di tengah alun-alun, dan disebut Batu Dongdang yang dijaga oleh  Embah Layang Gading. Sumber air yang berada ditengah alun-alun, dahulu  merupakan jamban untuk keperluan minum dan mandi.</p>
<p>Di dalam hutan  yang mengitari Alun-alun Surya Kencana ini ada sebuah situs kuburan kuno  tempat bersemayam Prabu Siliwangi. Pada masa pemerintahan Prabu  Siliwangi yang menguasai Jawa Barat, terjadi peperangan melawan  Majapahit. Selain itu Prabu Siliwangi juga harus berperang melawan  Kerajaan Kesultanan Banten. Setelah menderita kekalahan yang sangat  hebat Prabu Siliwangi melarikan diri bersama para pengikutnya ke Gunung  Gede.</p>
<p>Sekitar gunung Gede banyak terdapat petilasan peninggalan  bersejarah yang dianggap sakral oleh sebagian peziarah, seperti  petilasan Pangeran Suryakencana, putri jin dan Prabu Siliwangi. Kawah  Gunung Gede yang terdiri dari, Kawah Ratu, Kawah Lanang, dan Kawah  Wadon, dijaga oleh Embah Kalijaga. Embah Serah adalah penjaga Lawang  Seketeng (pintu jaga) yang terdiri atas dua buah batu besar. Pintu jaga  tersebut berada di Batu Kukus, sebelum lokasi air terjun panas yang  menuju kearah puncak.</p>
<p>Eyang Jayakusumah adalah penjaga Gunung  Sela yang berada disebelah utara puncak Gunung Gede. Sedangkan Eyang  Jayarahmatan dan Embah Kadok menjaga dua buah batu dihalaman parkir  kendaraan wisatawan kawasan cibodas. Batu tersebut pernah dihancurkan,  namun bor mesin tidak mampu menghancurkannya. Dalam kawasan Kebun Raya  Cibodas, terdapat petilasan/ makam Eyang Haji Mintarasa.</p>
<p>Pangeran  Suryakencana menyimpan hartanya dalam sebuah gua lawa/walet yang berada  di sekitar air terjun Cibeureum. Gua tersebut dijaga oleh Embah Dalem  Cikundul. Tepat berada di tengah-tengah air terjun Cibeureum ini  terdapat sebuah batu besar yang konon adalah perwujudan seorang pertapa  sakti yang karena bertapa sangat lama dan tekun sehingga berubah menjadi  batu. Pada hari kiamat nanti barulah ia akan kembali berubah menjadi  manusia.</p>
<p>Hari gini masih ada yang mau memproklamirkan Kerajaan  Sunda Nusantara di Bogor beberapa waktu yang lalu. Bila mereka belajar  sejarah, sudah ada 2 penerus sah dari tahta KERAJAAN SUNDA tempo dulu  yang menjadi raja besar di Jawa Tengah dan Jawa Timur.</p>
<p>Yaitu,  Raja ke 2, SANJAYA / Rakeyan Jamri / Prabu Harisdama (Raja Sunda di  tahun 723 – 732M), yang kemudian menjadi raja di Kerajaan MATARAM  (Hindu) (732 &#8211; 760M), dan 1 lagi, RADEN WIJAYA, penerus sah Kerajaan  Sunda ke – 27, yang lahir di Pakuan, menjadi Raja MAJAPAHIT pertama  (1293 – 1309 M).</p>
<p>SANJAYA / Rakeyan Jamri / Prabu Harisdama (723 – 732M)<br />
Cicit  Wretikandayun, pendiri kerajaan Galuh, ini bernama RAKEYAN JAMRI.  Sebagai penguasa Kerajaan Sunda ia dikenal dengan nama PRABU HARISDARMA  dan kemudian setelah menguasai Kerajaan Galuh ia lebih dikenal dengan  SANJAYA.<br />
Ibu dari Sanjaya adalah SANAHA, cucu Maharani SIMA of KALINGGA / Kerajaan MEDANG.<br />
Ayah  dari Sanjaya adalah Bratasenawa / SENA / SANNA, raja GALUH ke 3, teman  dekat Tarusbawa. Sena di tahun 716 M dikudeta dari tahta GALUH oleh  Purbasora. Purbasora dan Sena adalah saudara satu ibu, tapi lain ayah.<br />
Sebagai  ahli waris Kalingga, SANJAYA kemudian menjadi penguasa Kalingga Utara  yang disebut Bumi MATARAM dalam tahun 732 M. Kekuasaan di Jawa Barat  diserahkannya kepada puteranya dari TEJAKENCANA, TAMPERAN atau RAKEYAN  PANARABAN.</p>
<p>RADEN WIJAYA, Raja MAJAPAHIT pertama (1293 – 1309 M).<br />
Menurut PUSTAKA RAJYARAJYA i BHUMI NUSANTARA parwa II sarga 3:<br />
RAKEYAN  JAYADARMA, anak PRABU DHARMASIKSA (Raja Kerajaan Sunda ke 25), adalah  menantu MAHISA CAMPAKA di Jawa Timur karena ia berjodoh dengan DYAH  SINGAMURTI alias DYAH LEMBU TAL.<br />
Mahisa Campaka adalah anak dari MAHISA WONGATELENG, yang merupakan anak dari KEN ANGROK dan KEN DEDES dari kerajaan SINGHASARI.<br />
Mahisa  Campaka dan Dyah Lembu Tal berputera SANG NARARYA SANGGRAMAWIJAYA atau  lebih dikenal dengan nama RADEN WIJAYA (lahir di PAKUAN). Dengan kata  lain, Raden Wijaya adalah turunan ke 4 dari Ken Angrok, dari pihak ibu.<br />
Karena  RAKEYAN JAYADARMA wafat dalam usia muda, Lembu Tal tidak bersedia  tinggal lebih lama di Pakuan. Akhirnya Raden Wijaya dan ibunya  diantarkan ke Jawa Timur. Dalam BABAD TANAH JAWI, Wijaya disebut pula  JAKA SUSURUH yang kemudian menjadi Raja MAJAPAHIT yang pertama.<br />
Kematian Jayadarma mengosongkan kedudukan putera mahkota karena Wijaya berada di Jawa Timur<br />
Jadi, sebenarnya, RADEN WIJAYA, Raja MAJAPAHIT pertama, adalah penerus sah dari tahta Kerajaan Sunda yang ke-27.</p>
<p>GENEAOLOGY OF THE EMPEROR OF SUNDA NUSANTARA-<br />
THE SUNDA ARCHIPELAGO -SUNDA MAINLAND-<br />
SUNDA PASIFIC-SUNDA MALAY-ASIA MINOR.</p>
<p>130 Yr. AC<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
SERI BADUGA MAHARAJA &#8212;&#8212;-Ibu Kota<br />
PRABU MAHADEWA DEWA WARMAN     Kerajaan di<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-      Salaka Nagara<br />
I                   (Ujung Kulon<br />
II                   Bantan/Banten)<br />
III<br />
IV<br />
!<br />
!<br />
!<br />
_______________________!____________________________<br />
|            |          !      |         |          |<br />
(1)          (2)     (3)VII    (4)       (5)        (6)<br />
NYAI RATU  MENDANG       !    PRABU     PRABU      PRABU<br />
RARA       KAMOLAN       !    MULA-     ADITYA-    BRAM-<br />
PURBASARI  PRABU         !    WARMAN    WARMAN     BANGAN<br />
ATAU       SYALENDRA/    !<br />
NYAI RATU  (PRABU        !<br />
RARA KIDUL BRAWIJAYA)    !<br />
!<br />
VIII<br />
!<br />
!<br />
SERI BADUGA MAHARAJA<br />
PRABU<br />
NISKALA WASTU KENCANA<br />
!<br />
!<br />
SERI BADUGA MAHARAJA<br />
PRABU       &#8212;&#8211;1467-1474<br />
WANGI ANGGALARANG<br />
(SILIWANGI)<br />
!<br />
!<br />
_____________________!_____________________<br />
|                     !                    |<br />
PANGERAN                 !               PANGERAN<br />
PRABU                    !               PRABU<br />
SINGAPORE                !               MALAKA<br />
!<br />
!<br />
SERI BADUGA MAHARAJA<br />
DEWA TAPRANA PRABU GURU RATU HAJI<br />
(PRABU SILIWANGI)<br />
(1474-1513)<br />
MENIKAH DENGAN PUTERI SUMBANG KRANCANG<br />
SULTAN MALAKA<br />
!<br />
!<br />
!<br />
NYAI RATU RARA SANTANG<br />
(Al Syarifah Siti Muda&#8217;im)<br />
wafat di Madinah 1528<br />
MENIKAH DENGAN SYARIEF ABDULLAH AL MISRI<br />
(RAJA MESIR)<br />
GE KE XXII<br />
GUSTI RASUL MUHAMMAD SAW<br />
!<br />
!<br />
!<br />
(1513-1552)<br />
KAISAR<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
SUSUHUNAN SYARIEF HIDAYATULLAH AL MISRI<br />
(SUNAN GUNUNG JATI/JATI PURBA)<br />
Ibu kota di Charuban/Cirebon dan<br />
dikenal oleh negara-negara di dunia<br />
MENIKAH<br />
CROWN PRINCE<br />
KANJENG GUSTI RATU PREMBAYUN<br />
(PUTERI TERTUA MAHARAJA/KESULTANAN<br />
DEMAK, EMPEROR SULTAN FATAH<br />
PUTERA TERTUA<br />
dari KERAJAAN MAJAPAHIT:<br />
EMPEROR PRABU BRAWIJAYA V)<br />
!<br />
!<br />
______________________!<br />
|                     !<br />
PANGERAN               !<br />
JAPARA                 !<br />
WAFAT DI BANTAN        !<br />
!<br />
(1552-1570)<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
SUSUHUNAN SYARIEF MAULANA HASANUDIN AL MISRI/<br />
MAULANA SABA KIN-KING<br />
Ibu kota dipindahkan dari Charuban(Cirebon)<br />
ke Taruma Nagara (Sunda Kelapa)<br />
!<br />
!<br />
(1570-1580)<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
SUSUHUNAN SYARIEF MAULANA YUSUF AL MISRI<br />
!<br />
!<br />
(1580-1596)<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
SUSUHUNAN SYARIEF MAULANA MUHAMMAD AL MISRI<br />
!<br />
!<br />
(1596-1640)<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
SUSUHUNAN ABUL MAFACHIR RACHMATULLAH AL MISRI<br />
!<br />
!<br />
(1640-1651)<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
SUSUHUNAN ABUL MA&#8217;ALI ACHMAD RACHMATULLAH AL MISRI/<br />
KYAI AGENG TIRTAYASA<br />
!<br />
!<br />
(1651-1675)<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
KANJENG SULTAN AGUNG ABUL TATGHI ABDUL FATAH AL MISRI/<br />
KAISAR SULTAN WANGI AGENG TIRTAYASA<br />
!<br />
!<br />
(1675-1687)<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
KAISAR SULTAN ABUN NAZAR ABDUL KAHAR AL MISRI<br />
!<br />
!<br />
(1690-1733)<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
KAISAR SULTAN ZAINUL ABIDIN AL MISRI<br />
!<br />
!<br />
(1733-1747)<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
KAISAR SULTAN<br />
ABUL FATAH MUHAMMAD SYAFEI ZAINUL ARIFIN AL MISRI<br />
!<br />
!<br />
(1753-1777)<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
KAISAR SULTAN ZAINUL ASIKIN AL MISRI<br />
!<br />
!<br />
(1777-1802)<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
KAISAR SULTAN MAHA ALI&#8217;OEDDIN AL MISRI<br />
!<br />
!<br />
(1802-1810-1811)<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
KAISAR SULTAN ACHMAD AL MISRI<br />
berkedudukan<br />
di Istana Merdeka,Istana Cipanas,Istana Bogor,<br />
Istana Serosowan Bantan<br />
(Inti sejarah kedatangan<br />
SIR THOMAS STANFORD RAFLLES (France)/1811<br />
1808-1815:<br />
Belanda merupakan bagian dari pendudukan Perancis)<br />
di tipu oleh STANFORD RAFLLES<br />
ditinggal sendirian<br />
di pulau Banda Maluku (Sunda Kecil Sunda Nusantara)<br />
dengan tangan diikat<br />
Wafat : 1840 di Desa Burakan Rembang Jawa Tengah<br />
!<br />
!<br />
!<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
KAISAR SULTAN ABDULAH AL MISRI<br />
berkedudukan di Istana Cipanas, Bogor<br />
wafat 1860<br />
!<br />
!<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
PANGERAN GUNAWAN MARTAKUSUMAH AL MISRI<br />
!<br />
!<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
PANGERAN ABDULLAH HALIM PRAWITA PURNAMA AL MISRI<br />
!<br />
!<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
KAISAR SULTAN<br />
ABUL MAFACHIR  MOEHAMMAD HEROENINGRAT SILIWANGI AL MISRI<br />
WAFAT DI BOGOR 12 NOVEMBER 1989<br />
!<br />
!<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
KANJENG GUSTI PANGERAN<br />
HADIPATI HARYA RACHMATULLAH HEROENINGRAT<br />
SILIWANGI AL MISRI II/<br />
HIS IMPERIAL MAJESTY SERI PADUKA YANG MAHA MULYA<br />
BAGINDA MAHARAJA MAJESTY KAISER KANGJENG MAHA PAGUSTEN<br />
EMPEROR SULTAN AGUNG MAHA PRABU SYARIEF ABUL MAFACHIR<br />
MOEHAMMAD HEROENINGRAT SILIWANGI AL MISRI II<br />
(lahir di Jakarta 30 september 1963)<br />
Legal Crown of THE Monarchies of the Sovereign<br />
Emperor of the Sovereign Empire of Sunda-Sunda Maindland-<br />
The Sunda-Archipelago or the Sunda-Nusantara-Pasific-<br />
a Greater part of the Pasific-the Mountain-Pasific<br />
in the part of-the Pasific Sunda-Malay-Asia-Minor.<br />
The Empire Parlementer was<br />
Manual Democratie, Basically the Religons and Humanity<br />
************************************<br />
**Ketikan  ini sumbangsih pemerhati sejarah yang perlu di pelajari dan di teliti  lebih dalam akan Sejarah Sunda Nusantara Induk Bangsa (akar sejarah Ibu  pertiwi kita) yang hingga kini belum dapat terselesaikan. Informasi  Sejarah/Silsilah Kerajaan Sunda Nusantara ini di dapat dari dokumen  resmi Al Misri II di Jakarta. Semoga Informasi ini dapat bermanfaat  untuk mengenal lebih jauh akar sejarah ibu pertiwi kita.</p>
<p>Maaf ada yang salah pengetikan dalam silsilah Kerajaan Sunda Nusantara yang seharusnya</p>
<p>130 Yr. AC<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
SERI BADUGA MAHARAJA &#8212;&#8212;-Ibu Kota<br />
PRABU MAHADEWA DEWA WARMAN     Kerajaan di<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-      Salaka Nagara<br />
I                   (Ujung Kulon<br />
II                   Bantan/Banten)<br />
III<br />
IV<br />
V<br />
VI<br />
!<br />
_______________________!____________________________<br />
|            |          !      |         |          |<br />
(1)          (2)     (3)VII    (4)       (5)        (6)<br />
NYAI RATU  MENDANG       !    PRABU     PRABU      PRABU<br />
RARA       KAMOLAN       !    MULA-     ADITYA-    BRAM-<br />
PURBASARI  PRABU         !    WARMAN    WARMAN     BANGAN<br />
ATAU       SYALENDRA/    !<br />
NYAI RATU  (PRABU        !<br />
RARA KIDUL BRAWIJAYA)    !<br />
!<br />
VIII<br />
!<br />
!<br />
dst</p>
<p>PERCAYA ATAU TIDAK PERCAYA KERAJAAN SUNDA NUSANTARA ADA YANG TAK LUPUT DARI KUASA TUHAN YANG MAHA ESA (Allah SWT)</p>
<p>Ketikan  ini merupakan sumbangsih pemerhati sejarah dan sebagai sebagian  pembuktian serta pengetahuan yang harus perlu di teliti lebih dalam,  akan keberadaan dari Kerajaan Maharaja Sunda, Benua Sunda, Sunda  Nusantara (atau Sunda Archipelago;Sunda Besar dan Sunda Kecil) Sunda  Pacific, Sunda Malay, Asia Minor dengan mencakup seluruh kesatuan  wilayah Sunda (Teritorrial Integrity), Sunda Territory, Sunda Geography  adalah merupakan bukti atau fakta yang tidak dapat  dibantah/dipungkiri/diubah/disembunyikan/dihilangkan sejak berabad-abad  yang lalu, pada masa sekarang, masa yang akan datang bahkan hingga akhir  zaman sekalipun; kita tak dapat lari dari kenyataan sejarah : WE CANNOT  ESCAPE FROM HISTORY (ABRAHAM LINCOLN)</p>
<p>Informasi ini menunjukkan  sepak terjang seorang Kaisar Kerajaan Sunda Nusantara yang berjuang  untuk meluruskan sejarah dan kemakmuran rakyatnya sebagai amanat Ayahnya  dan para leluhur Kaisar Sunda Nusantara. Keberadaan Kerajaan Sunda  Nusantara sebagai Induk bangsa dan akar sejarah ibu pertiwi kita  semenjak wafatnya Al Misri II keberadaannya tercoreng buruk oleh  sekelompok orang. Keluarga Kerajaan Sunda Nusantara bukan lah orang  tidak berpendidikan yang di beritakan di media masa. Walaupun  keberadaanya tidak di perhatikan oleh Pemerintah RI bahkan kabarnya di  tindas oleh sekelompok orang militan di Curug sekitar tahun 1976. Syukur  Alhamdulilah berkat perjuangan untuk hidup, keturunan Al Misri dan Al  Misri II dapat sekolah di luar negri dan di beberapa Universitas ternama  di Indonesia dan berkerja di berbagai instansi pemerintah. Semenjak  wafatnya Al Misri II pihak keluarga kerajaan bersepakat untuk tidak  melanjutkan perjuangannya karena tidak bisa mengemban amanah yang berat  itu jadi pihak Keluarga bersepakat untuk mengembalikan masalah ini ke  pemerintah Republik Indonesia. Kemunculan berita adanya sebuah  organisasi sunda nusantara merupakan sekelompok orang yang sangat berani  mau mencoba bermain api politik padahal dari pihak keluarga kerajaan  sepakat tidak mempermasalahkan ini kembali semenjak wafatnya Al Misri  II. Ketika pemberitaan munculnya FKMSN saya melihat di Metro TV bahwa  wartawan Metro TV mencoba mencari fakta di balik itu dengan mengunjungi  salah satu keluarga Kerajaan Sunda Nusantara di Jakarta dan di Bogor dan  tanggapan dari salah satu Keluarga Kerajaan yang namanya hampir serupa  dengan nama panjang Al Misri II. Beliau mengatakan Tanya saja kepada  pemerintah RI dan mengenai kemunculan FKMS beliau berkata saya baru tau  itu di TV dan saya tidak pernah bergabung dengan forum itu bahkan tidak  pernah kenal dengan mereka.</p>
<p>Ketikan di bawah ini adalah informasi  keberadaan Kaisar yang telah dipublikasikan di berbabagai surat kabar  nasional maupun internasional seperti yang saya dapat dari Koran Merdeka  dan Inti jaya pada tanggal 4 oktober 1998 dan Inti Jaya 20-26 November  1998 dengan judul Penguasa Mengkhianati Bangsa Sendiri, Datang Seorang  Kaisar, Persatukan Indonesia(Koran Inti Jaya) dan Indonesia Menduduki  Wilayah Kekuasaan Wilayah Saya (Koran Merdeka)</p>
<p>Kekaisaran Sunda  Nusantara yang dulu megah dan termasyur, kini tinggal kenangan dan  puing-puing bangunan. Bangunan indah dan tumpukan puing-puing itu  meninggalkan panorama wisata yang menarik. Karena itu bangunan  kekaisaran tersebut dijadikan objek wisata terpesona . Di tengah krisis  bangsa yang berkepanjangan saat ini, muncul pengakuan seorang laki-laki  berusia 36 tahun sebagai Kaisar Sunda Nusantara asal Bogor, Jawa Barat,  keturunan Prabu Siliwangi yang bergelar Kaisar Maharaja Syarief Abul  Mafachir Muhammad Heroeningrat Al Misri II. Kaisar Al Misri II, pria  setengah baya yang tampak parlente, berwibawa dan mengaku berdarah biru,  kekaisaran Sunda Nusantara terus mengalir dalam denyut nadinya.  Pengakuan laki-laki setengah baya sebagai keturunan kaisar tersebut  terlihat ketika Inti Jaya mencoba mendapatkan silsilah kaisar sampai  pada garis Al Misri II yang berjuang untuk menyelesaikan sengketa  wilayah kekaisaran dengan Indonesia. Kepada Inti Jaya, Al Misri II  mengisahkan panjang lebar bahwa beliau sebagai kaisar Sunda Nusantara  keturunan dari Raja Maharaja Sultan Ahmad (tahun 1810) keturunan dari  Prabu siliwangi dan Brawijaya V Mojopahit. Putra dari almarhum yang  wafat pada usia 85 tahun dan dimakamkan di Curug , Tanggerang tanggal 12  November 1989 di Bogor. Disebutkan gelar yang diembannya hingga kini  adalah Majesty Sri Paduka Yang Mulia Baginda Maharaja Kaisar Kanjeng  Pangusten Emperor Sultan Agung Prabu Syarief abul Mafachir Heroeningrat  Siliwangi Al Misri II.<br />
Saya siap bertanggung jawab bila terjadi  sesuatu di kemudian hari. “katanya dengan suara tegas. Terasa aneh  memang, karena fenomena ini seperti menegaskan kehadiran seorang yang  mengada-ada selama ini, di wilayah Sunda, kekuasaan kerajaan jelas sudah  terkubur sejarah. Tinggal puing-puing, tempat dan bangunan yang tak  lebih dari sekedar obyek wisata. Al Misri II mengaku kemunculannya  kembali, setelah sekian lama menahan diri karena kehidupan politik dan  upaya demoktratisasi di Indonesia tidak banyak menyelesaikan masalah.  Untuk menuju penyelesaian, katanya Indonesia harus menganut sistem  Negara Monarki democrat Parlementer. Dengan sistem ini katanya yang  memerintah adalah seorang Perdana Menteri dan Kaisar sebagai symbol  kesatuan bangsa di Nusantara. Pikiran dan Inspirasi itu muncul dari  sanubari sang kaisar ketika melihat drama sengketa wilayah kekuasaan  Kekaisaran Nusantara dengan Indonesia hingga saat ini.</p>
<p>Bangsa dan  Negara Indonesia saat ini tengah di landa berbagai krisis. Cobaan demi  cobaan bangkit lewat berbagai peristiwa berdarah merengut banyak korban  jiwa. Korban kekerasan selama reformasi menjadi beban bagi bangsa dan  Negara. Mereka gugur ditangan saudaranya sendiri yang berbasiskan  kekerasan oknum-okmun aparat di balik penguasa yang tidak bertanggung  jawab. “Sebaliknya penguasa janganlah mengkhianati bangsa sendiri,  karena nantinya berdampak pada memecah belah suku bangsa. “tegas Al  Misri II, putra mahkota keturunan Prabu Siliwangi terakhir kepada Inti  Jaya, di Jakarta.</p>
<p>Lebih lanjut dikatakannya, bila krisis semakin  memanas, lalu dihadapi dengan kekerasan bahkan terkesan mengandu domba  masyarakat, maka sebaiknya diselesaikan dengan kepala dingin. “Rakyat  kita di masa sebelum reformasi maupun di tengah reformasi tidak pernah  menikmati hidup secara normal. Mereka selalu bertemankan kesulitan,  kesusahan sembako. Karena pemerintah atau siapa saja yang merasa  memiliki kekuatan untuk mengandu domba rakyat dengan uang. “ujarnya.</p>
<p>Menanggapi  adegan politik serta permainan pasar yang menyulitkan ekonomi rakyat  kecil, Al Misri II Kaisar Sunda Nusantara mengatakan, semuanya bermula  dari ulah pemerintah. Karena itu, sebaiknya jangan menyesengkarakan  rakyat yang sudah jatuh tertimpa tangga lagi.</p>
<p>Sebagai bangsa  Sunda Nusantara yang sejarahnya direkayasa Belanda, menurut Al Misri II,  membuat Indonesia saling bermusuhan dan mengotak-kotakan bangsa ini.  “Ini sangat disayangkan karena perlu dijaga kesinambungan. Dengan modal  persatuan dan kesatuan bangsa sangat diharapkan agar bangsa ini tidak  hancur hanya akibat ulah satu orang. “tutur Kaisar Sunda Nusantara itu  tadi. Karena itu lanjutnya, agar bangsa ini tidak hancur, sebaiknya  pemerintah sebagai pemimpin jangan lupa mereformasi diri.</p>
<p>Untuk  membantu mengatasi kesulitan ekonomi bangsa, putra mahkota Keturunan  Syah Prabu siliwangi terakhir, Kaisar Sunda Nusantara Maha Prabu Syarief  Abul Mafachir Moehammad Heroeningrat ( Al Misri II) terus melakukan  negoisasi internasional dengan dunia luar guna mendapatkan dana  memperbaiki kehidupan rakyat. Rakyat bangsa Indonesia sebagai titipan  dari Kerajaan Sunda Nusantara yang kini menjadi Indonesia., Al Misri II,  katanya, punya kewajiban moral yang tinggi guna memperbaiki nasib  bangsanya. Hal itu di tempuhnya sebagai panggilan pengabdian untuk  melanjutkan perjuangannya ayahnya yang telah mempersatukan nusantara  pada abad 16 hingga 18 SM (Sebelum Masehi).</p>
<p>Rakyat di era  reformasi ini katanya, tertindas oleh penguasa baik rezim lama terutama  titipan kekuasaan kepada rezim penerusnya kini “Janganlah melonggarkan  krisis ini sampai berlarut, Karena akan menjadi incaran bangsa lain  untuk bisa menjajah dan menguasai bangsa kita. “Ujarnya.</p>
<p>Hendaknya  krisis bangsa tidak sampai membelah bangsa menjadi bagian-bagian.  Karena Kepulauan Nusantara , katanya, dipersatukan dengan perjuangan  mati-matian oleh para Kaisar dahulu. Al Misri II, yang menentang konsep  Negara federal.</p>
<p>Dikatakan, bila Indonesia yang sudah bersatu,  lalu kemudian dipecah belah hanya kepentingan politik individu, maka  akan sulit untuk dipersatukan. “Sejarah bangsa yang telah dimanipulasi  penguasa zaman pra-reformasi hingga kini harus kembali diluruskan  ,”harapnya.</p>
<p>Berdasarkan dokumen-dokumen tentang Kerajaan Sunda  Nusantara, Al Misri II sebenarnya seseorang laki-laki biasa, bapak dua  anak. Sambil memeperlihatkan dokumen berupa sejumlah catatan yang dibawa  sekretarisnya Al Misri II menegaskan beliau memiliki wilayah kekuasaan  dari tahta Kaisar Maharaja Sunda Nusantara . Dokumen yang dilengkapi  stempel Kerajaan Maharaja Sunda Nusantara, memperlihatkan kekuasaan  Kekaisaran mencakup kepulauan Sunda Besar : Jawa., Sumatra, Kalimantan,  Sulawesi, Papua Guniea (Irian), juga termasuk Sunda Kecil Madura, Bali,  Flores, lombok, Maluku, dan Tmor (Timor Timur). Wilayah itu merupakan  keutuhan dan kedaulatan kekaisaran Maharaja Sunda dari tahun 1810.  Kaisarnya waktu itu Seri Baginda Kaisar Maharaja sultan Achmad yang  ditipu oleh Thomas Stanford Raffles. Ia ditinggalkan sendirian ketika  diajak berburu di pulau Sunda Banda, “jelasnya yakin. Seluruh wilayah  Nusantara, tambahnya , dikuasai Raffles dengan cara menipu , lalu  kekuasaan diberikan pada Williem Herman Daendels tahun 1816. Dalam  perjalanan sejarah, akhirnya seluruh wilayah dikuasai Republik Indonesia  yang merupakan Negara baru karangan Prof Adolf Bastian seorang Jerman  berkewaganegaraan Belanda. Data tersebut oleh Al Misri II di jadikan  sebagai dasar untuk mempermasalahkan kependudukan RI di atas wilayah  kekuasaannya. Tak tanggung-tanggung beliau sudah membawa sengketa  wilayah kekaisaran dengan Indonesia ke Perserikatan Bangsa-Bangsa di New  York dan kasusnya sedang diproses. Lebih lanjut dikatakan baginya,  seluruh wilayah kedaulatan kekaisaran akan diambil alih. Karena semua  itu diambil secara tidak sah menurut hukum internasional dan hukum alam  sejak tahun 1945. Tak hanya itu, Al Misri II meminta pembayaran dari  penghasilan dan pendapatan atas wilayah kesatuan Negara kerajaan Sunda.  Termasuk pengembalian hak milik pribadi keluarga Kerajaan. Serta  menuntut dikembalikannya Istana Merdeka, Istana Bogor, Istana Cipanas,  dan Istana Surosoan Banten milik Kerajaannya</p>
<p>Keberadaan Al Misri  II di jaman Order Baru sangat di takuti keberadaannya. Kerena itu tidak  heran jika beberapa anggota keluarga Al Misri II pernah mendekap di sel  karena di curigai akan berbuat makar. Namun keberadaan mereka diakui  dunia Internasional, maka penahanannya tidak lebih dari 2 hari. Di  tempat yang sama Al Misri II melalui sekretaris pribadinya , Menunjukkan  CD (Corps Diplomatics). Dengan kartu CD yang isinya Simbol, bendera,  keterangan, cap kerajaan, dan tanda tangan kaisar dapat dengan mudah  dalam urusannya ke luar negeri. Karenanya, kata beliau, CD telah diuji  kebenarannya saat dirinya membuat paspor Ke Brunei Darussalam.  Diakuinya, hanya dalam waktu 3 jam semuanya telah selesai. Hal itu tak  lain dari pengakuan hukum-hukum internasional yang mengakui keberadaan  kekaisaran Sunda Nusantara. Al Misri II pernah melayangkan surat kepada  pemerintah RI tahun 1976-1995. Mereka mengirimkan sebuah resolusi pada  Menteri Dalam Negeri, Ketua DPR/MPR. Tanggal 14 April 1993 juga  melayangkan resolusi pada masa Soeharto berkuasa sebagai ketua gerakan  Non Blok, di Istana Merdeka. Belum lama ini, menurutnya sebuah resolusi  juga dikirim kepada Presiden BJ Habibie. Kepada Merdeka surat tersebut  diperlihatkan dan tertera nomor 99. Ed/ Rmaha/ Internat: Resol/Internat  Settl/ South SE Asia, 14 September 1998 Very Imeddiate To Day Top  Secret, dengan tanda terima oleh Mubaro lewat SekNeg. Menyertai surat  tersebut juga diberikan surat untuk DPR/MPR, Menteri Dalam Negeri yang  dilengkapi dengan nomor surat sesuai dengan missi kaisar. Menurutnya  Raja Al Misri II mempunyai hubungan diplomatic dengan kerajaan-kerajaan  di dunia seperti Inggris, Jepang, dan Belanda.<br />
Selain itu Al Misri II  selalu mengutamakan hubungan baik dengan pemerintah RI dengan  berkunjung ke kediaman beberapa Tokoh Nasional dan diplomasi ke beberapa  Negara melalui surat dan kunjungannya. Wallahualam biis sawab.</p>
<p>UNTUK PARA PEMIMPIN,TOKOH, dan<br />
RAKYAT SEBANGSA SETANAH AIR (INDONESIA,sejak 1945-sekarang)</p>
<p>Sumber :<br />
Dokumen dan Nasehat/Pesan langsung sebelum wafatnya<br />
Alm Al-Misri II di Jakarta Sunda (TARUMANEGARA)<br />
(SUNDA KELAPA)<br />
Dari :<br />
Pariban di Jakarta Sunda (TARUMANEGARA) (SUNDA KELAPA)</p>
<p>Bismillahirrohmannirrohiim</p>
<p>REFORMASI/NASEHAT  yang perlu disampaikan, oleh dan dari pimpinan yang tertinggi Kepala  Negara dan Kepala Pemerintahan KERAJAAN MAHARAJA SUNDA-SUNDA NUSANTARA-<br />
SUNDA  ARCHIPELAGO or SUNDA PASIFIC or SUNDA MINDLAND or SUNDA MALAY or ASIA  MINOR (Induk Bangsa dan Akar sejarah bangsa atau Bangsa yang sengaja di  hilangkan Pra Perang Dunia Ke II) :<br />
Alm.SERI BADUGA MAHARAJA KANJENG  GUSTI PANGERAN HADIPATI HARYA RACHMATULLAH HEROENINGRAT SILIWANGI AL  MISRI II atau HIS IMPERIAL MAJESTY SERI PADUKA YANG MAHA MULYA BAGINDA  MAHARAJA MAJESTY KAISER KANGJENG MAHA PAGUSTEN EMPEROR SULTAN AGUNG MAHA  PRABU SYARIEF ABUL MAFACHIR MOEHAMMAD HEROENINGRAT SILIWANGI AL MISRI  (Al Misri II)<br />
Legal Crown of The Monarchies of the Sovereign Emperor  of the Sovereign Empire of Sunda-Sunda Maindland-The Sunda-Archipelago  or the Sunda-Nusantara-Pasific-a Greater part of the Pasific-the  Mountain-Pasific<br />
in the part of-the Pasific Sunda-Malay-Asia-Minor.<br />
The Empire Parlementer was Manual Democratie, Basically the Religons and Humanity</p>
<p>*)Reformasi  di Negeri ini adalah merupakan gaung dari hakikatnya suatu KE-BENAR-AN  yang mutlak. Kebenaran yang tidak akan pernah bisa DI-SALAH-KAN,  disepanjang waktu selama dunia ini masih berputar, dan matahari tetap  terbit, adalah hakikatnya Swara Mahardika yang selama ini TER-KALAH-KAN  oleh sebuah kepentingan Politik dan Kemerdekaan yang hanya sebuah  retorika belaka.<br />
*)Rintangan pasti datang menghadang, cobaan pasti  datang menghujam namun yakinlah bahwa KE-BENAR-AN AKAN TETAP MENANG.  Sebuah Falsafah, yang saya percaya bahwa kita semua sama-sama yakini  yaitu: CEPAT atau LAMBAT KE-BENAR-AN AKAN TETAP MENANG.<br />
*)Situasi dan  kondisi tatanan pemerintahan yang telah kehilangan kepercayaan dari  hampir sebagian Rakyat, serta terpuruknya keadaan Ekonomi Nasional yang  mewujudkan kondisi Dis-integrasi sosial yang kita sama-sama tak dapat  pungkiri bahwa tidak terlepas kemungkinan rentan terhadap Dis-integrasi  Bangsa bisa saja terjadi.<br />
*)Hilangnya JATI DIRI BANGSA (Kebebasan  berbicara dan berpendapat telah menyimpang dari makna sesungguhnya,  sehingga menimbulkan situasi dan kondisi bangsa ini, sepertinya sudah  tidak lagi mengganggap bahwa KONSTITUSI di negeri ini masih ada)<br />
*)Reformasi  bukan untuk merusak kepentingan Rakyat &#8211; Reformasi bukan untuk memecah  belah Persatuan dan Kesatuan Bangsa &#8211; Reformasi bukan untuk kepentingan  golongan &#8211; Reformasi bukan untuk merubah Etika dan Budaya Bangsa &#8211;  Reformasi bukan untuk merubah Idiologi Panca Sila dan Undang &#8211; undang  Dasar ‘45 &#8211; Reformasi bukan untuk memberikan kebebasan negara lain  mencampuri urusan dalam negeri. Akan tetapi Reformasi adalah untuk  MEM-BENAR-KAN KE-BENAR-AN secara total. Melaksanakan keta’atan pada  UUD’45 dengan benar &#8211; Melaksanakan falsafah bangsa dengan benar &#8211; Ber  ETIKA dan Ber BUDAYA yang benar &#8211; Ber BANGSA dan Ber NEGARA yang benar  didalam suatu keta’atan bersama pada tatanan yang tentu saja benar,  sesuai sebagaimana yang dikehendaki reformasi itu sendiri.<br />
*)Hilangnya  stabilitas Politik dan Keamanan &#8211; Hilangnya Kepercayaan Rakyat Banyak –  Hilangnya kekuatan ekonomi bangsa &#8211; Hilangnya Harga diri bangsa (Yang  kelangsungan hidupnya hanya ada tergantung pada bentuk pinjaman dari  negara lain )<br />
*)Telah terjadi Dis Integrasi Sosial<br />
*)KKN (Korupsi  Kolusi Nepotisme) yang TIDAK JELAS kriterianya sehingga meng-kaburkan  makna yang sesungguhnya, dan akan dapat menimbulkan ke simpang siuran  dalam berpendapat…,<br />
*)TANDA TANYA BESAR terhadap diantara kebimbangan  dan kegelisahan yang berkepanjangan terhadap sebuah bayangan Harapan  Hidup yang lebih baik di masa yang akan datang, sebagai rakyat dari  suatu Bangsa yang Merdeka</p>
<p>Kesimpulan :<br />
SEGERA  MENGAMBIL/MENENTUKAN SIKAP APA YANG MESTI DAN HARUS DIPERBUAT UNTUK  KEPENTINGAN BANGSA DAN NEGERI INI SESUAI SEPERTI APA YANG DIKEHENDAKI  OLEH REFORMASI – SIAPA YANG MESTI DAN HARUS BERBUAT ITU – DAN BAGAIMANA  CARANYA TANPA MEMPERTIMBANGKAN KEPENTINGAN INDIVIDU MAUPUN GOLONGAN  DENGAN CATATAN KITA ADALAH SATU NUSA DAN SATU BANGSA DENGAN MEMPELAJARI  MASA LALU APA DAN BAGAIMANA BANGSA DAN NEGARA INI HIDUP BERBANGSA DAN  BERNEGARA DALAM KEJAYAAN DIMATA DUNIA.</p>
<p>Idea/Pendapat :<br />
·)Benarkan  Ke-Benar-an Sejarah Bangsa (Karena didalamnya terkandung suatu hikmah  yang dapat dijadikan pedoman dalam menentukan sikap…berfikir).<br />
”WE CAN NOT ESCAPE FROM HISTORY” (Abraham Lincoln).<br />
·)Kembalikan  segala sesuatu yang hilang dari bangsa dan negeri ini. (Etika dan  Budaya Bangsa – Moral Bangsa – Perjuangan Bangsa – Tanggung Jawab  sebagai Bangsa – Identitas Bangsa dengan segala Budi Pekertinya- Dan  sebagainya.)<br />
·)Kembalikan AGAMA pada tempatnya yang Hak.<br />
·)Wujudkan  secara jernih Persatuan dan Kesatuan Nasional dengan menghargai (Saling  menghargai) Hak Hak Azasi Manusianya secara se-utuhnya (Manusia dari  sebuah bangsa yang memiliki Etika dan Budaya diseluruh Kepulauan  Nusantara dari Sabang hingga Marauke ini)<br />
·)Tentukan sebuah system  untuk Tatanan berbangsa dan bernegara tanpa campur tangan Negara lain  (Hak suatu Bangsa dari sebuah negara yang Merdeka sesuai KAA 1955 di  Bandung, atau pasti ada terdapat dalam International Role of Law, atau  silahkan dicari oleh dan dari Disiplin Ilmu)</p>
<p>TTD<br />
(SERI BADUGA  MAHARAJA KANJENG GUSTI PANGERAN HADIPATI HARYA RACHMATULLAH HEROENINGRAT  SILIWANGI AL MISRI II atau HIS IMPERIAL MAJESTY SERI PADUKA YANG MAHA  MULYA BAGINDA MAHARAJA MAJESTY KAISER KANGJENG MAHA PAGUSTEN EMPEROR  SULTAN AGUNG MAHA PRABU SYARIEF ABUL MAFACHIR MOEHAMMAD HEROENINGRAT  SILIWANGI AL MISRI (Al Misri II)</p>
<p>************************************<br />
NATION<br />
&#8212;&#8212;&#8212;<br />
SUATU KE-BANGSA-AN DARI SEBUAH BANGSA DISUATU<br />
WILAYAH INTERNASIONAL (INTERNATIONAL INTEGRITY)<br />
YANG MERDEKA</p>
<p>KEPULAUAN SUNDA NUSANTARA/SUNDA ARCHIPELAGO<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
!<br />
!<br />
!<br />
!<br />
130 Yr.AC<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
1. SUNDA ARCHIPELAGO or<br />
2. SUNDA MAINDLAND or<br />
3. SUNDA MALAY or<br />
4. SUNDA PACIFIC or<br />
5. ASIA MINOR<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
!<br />
!<br />
!<br />
KEP. SUNDA BESAR<br />
(Malacca-Andalas-Borneo-Celebes-Java-New Guinea (Papua New Guinea))<br />
KEP. SUNDA KECIL<br />
(Molucca-Bali-Lombok-Sumbawa-Sumba-Flores-Timor-(NTB-NTT))<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
!<br />
!<br />
!<br />
BENUA SUNDA<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
!<br />
!<br />
!<br />
!<br />
THE GREATER SUNDA ISLAND<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
!<br />
!<br />
!<br />
INTERNATIONAL TERRITORIAL INTEGRITY<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
!<br />
!<br />
!<br />
!<br />
MAINS NATION/<br />
INDUK BANGSA<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
NATION</p>
<p>Assalamualaikum, Wr Wb<br />
sinareng hurmat,<br />
kahatur  ka sadaya anu ngiring dina iyeu situs, nepangkeun jisim abdi wasta R  Wijaya Kusumah Khodamul ummah Al_ fakir R Wijaya Kusumah, asli sukabumi  jawa_barat, sateacan kuring ngiring nambihan ieu babad, langkung ti  payun kuring ngahaturkeun nuhun ka kang jay nu tos ngiring ngaguar babad  sunda, nu denget ieu masih pabalieut.kanggo tambihan kuring masihan  bongbolong ka sadayana urang sunda, saumpamina peryogi silsilah kerajaan  Padjajaran ti awal dugi ka ayeuna nu masih jumeneng, babadna aya di  cinunuk &#8211; wanaraja &#8211; Garut.<br />
mung perkawis silsilah anu di guar ku  Pariban,kahade ulah di percaya kumargi eta SESAT DAN MENYESATKAN. malih  denget ieu jalmi anu ngaku &#8211; Raja padjajaran, Prabu, titisan Soekarno,  nuju di adili di Pengadilan Negeri cibadak Sukabumi- jawa Barat.<br />
anu katelah KASUS ROMO.<br />
anu  penting ayeunamah yen saha &#8211; saha jalma anu ngaku urang sunda, tareh  Padjajaran kudu silih asih, silih asah, silih asuh, sauyunan. ulah  bangga ku payung butut, namung kudu diteang elmu na para karuhun urang,  kunaon pangna Prabu Jaya DewataPrana dipasihan gelar Prabu Siliwangi,  kunaon pangna prabu Walangsungsang disebut prabu cakrabuana, Gentar  bumi, jeng 47 julukan sanesna, kunaon Prabu Surawisesa disebut Prabu  mundinglaya dikusumah,sadayana dipikaasih, dipika cinta di mumule ku  urang Sunda…?nyaeta ku Elmuna, ku Sifatna, Ku Welas asihna ka sasama  jalma, lain ukur ka Urang Sunda hungkul tapi ka sagala mahluk Hirup.hayu  babarengan teangan Tarekat Wali,sangkan urang jadi jalma nu di  pikaridho ku Allah SWT,mun bisa kakarak urang bisa neruskeun perjuangan  para Karuhun Urang, kakarak didinya bakal nitis ilmuna ( lain Ruh )para  karuhun, kakarak didinya urang bagal menang Layang Salaka Domas nu  dijaga ku Guriang Tujuh ( lain barang tapi Elmu Laduni ). ieu kabeh boal  bisa mun eweh Rohmat Allah SWT.<br />
SIAPKEUN WADAHNA HEULA…KAKARA ISINA NYOCOR SORANGAN KALAYAN IZIN,RIDHO,WIDI GUSTI ALLAH SWT</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silsilahbpku.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silsilahbpku.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silsilahbpku.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silsilahbpku.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silsilahbpku.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silsilahbpku.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silsilahbpku.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silsilahbpku.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silsilahbpku.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silsilahbpku.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silsilahbpku.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silsilahbpku.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silsilahbpku.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silsilahbpku.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silsilahbpku.wordpress.com&amp;blog=18742161&amp;post=50&amp;subd=silsilahbpku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silsilahbpku.wordpress.com/2011/01/03/bogor-kota-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bdd00ed24caa2a566054dc67d3293ca4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">totokzemblem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membangun Peradaban Berkeadilan</title>
		<link>http://silsilahbpku.wordpress.com/2011/01/03/membangun-peradaban-berkeadilan/</link>
		<comments>http://silsilahbpku.wordpress.com/2011/01/03/membangun-peradaban-berkeadilan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Jan 2011 04:36:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>totokzemblem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silsilahbpku.wordpress.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Naskah_Kuno &#8211; Babad Limbangan Naskah_Kuno &#8211; Babad Limbangan Kecamatan : Garut Kota Nama pemegang naskah : R. Sulaeman Anggapradja Tempat naskah : Jln Ciledug 225 Kel. Kota Kulon. Kec Garut Kota Asal naskah : warisan Ukuran naskah : 20.5 x 32 cm Ruang tulisan : 17 x 17 cm Keadaan naskah : baik Tebal naskah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silsilahbpku.wordpress.com&amp;blog=18742161&amp;post=47&amp;subd=silsilahbpku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Naskah_Kuno &#8211; Babad Limbangan<br />
Naskah_Kuno &#8211; Babad Limbangan</p>
<p>Kecamatan : Garut Kota</p>
<p>Nama pemegang naskah : R. Sulaeman Anggapradja<br />
Tempat naskah : Jln Ciledug 225 Kel. Kota Kulon. Kec Garut Kota<br />
Asal naskah : warisan<br />
Ukuran naskah : 20.5 x 32 cm<br />
Ruang tulisan : 17 x 17 cm<br />
Keadaan naskah : baik<br />
Tebal naskah : 16 Halaman<br />
Jumlah baris per halaman : 39 baris<br />
Jumlah baris halaman awal dan akhir : 39 dan 23 baris<br />
Huruf : Latin<br />
Ukuran huruf : sedang<br />
Warna tinta : hitam<br />
Bekas pena : agak tajam<br />
Pemakaian tanda baca : ada<br />
Kejelasan tulisan : jelas<br />
Bahan naskah : kertas bergaris ukuran folio<br />
Cap kertas : tidak ada<br />
Warna kertas : putih<br />
Keadaan kertas : agak tebal, halus<br />
Cara penulisan : timbal balik<br />
Bentuk karangan : puisi</p>
<p>Ringkasan isi :<br />
Pada  zaman dahulu kala Prabu Layaran Wangi (Prabu Siliwangi) dari kerajaan  Pakuan Raharja mempunyai seorang pembantu bernama Aki Panyumpit. Setiap  hari Aki Panyumpit diberi tugas berburu binatang dengan menggunakan alat  sumpit (panah) dan busur.</p>
<p>Pada suatu hari Aki Panyumpit pergi  berburu ke arah Timur. Sampai tengah hari ia belum memperoleh hasil  buruannya, padahal telah banyak bukit dan gunung didaki. Sesampainya di  puncak gunung, ia mencium wewangian dan melihat sesuatu yang bersinar di  sebelah Utara pinggir sungai Cipancar. Ternyata harum wewangian dan  sinar itu keluar dari badan seorang putrid yang sedang mandi serta  mengaku putra Sunan Rumenggong, yaitu Putri Rambut Kasih penguasa daerah  Limbangan.<br />
Peristiwa pertemuan dengan Nyi Putri dari Limbangan  dikisahkan oleh Aki Panyumpit kepada Prabu Layaran Wangi. Berdasarkan  peristiwa itu Prabu Layaran Wangi menamai gunung itu Gunung Haruman  (haruman = wangi). Prabu Layaran Wangi bermaksud memperistri putrid dari  Limbangan. Ia mengirimkan Gajah Manggala dan Arya Gajah (keduanya  pembesar Pakuan Raharja).</p>
<p>Aki Panyumpit serta sejumlah pengiring  bersenjata lengkap untuk meminang putri tersebut dengan pesan lamaran  itu harus berhasil dan jangan kembali sebelum berhasil. Kendatipun pada  awalnya Nyi Putri menolak lamaran tetapi setelah berhasil dinasehati  Sunan Rumenggong, ayahnya, akhirnya menerima dijadikan istri oleh Prabu  Layaran Wangi.<br />
Selang 10 tahun antaranya, Nyi Putri (Rambut Kasih)  mempunyai dua orang putra dari Raja Pakuan Raharja, yaitu Basudewa dan  Liman Senjaya. Kedua anak itu dibawa ke Limbangan oleh Sunan Rumenggong  (kakeknya) dan kemudian dijadikan kepala daerah di sana. Basudewa  menjadi penguasa Limbangan dengan gelar Prabu Basudewa dan Liman Senjaya  penguasa daerah Dayeuh Luhur di sebelah Selatan dengan gelar Preabu  Liman Senjaya.</p>
<p>Di kemudian hari Prabu Liman Senjaya setelah  beristri membuka tanah, membuat babakan pidayeuheun (kota) dan lama  kelamaan dibangun sebuha Negara dengan nama Dayeuh Manggung. Negara baru  ini bisa berkembang sehingga dikenal baik oleh tetangga-tetangganya,  seperti Sangiang Mayok, Tibanganten, Mandalaputang. Dayeuh Manggung  terkenal karena keahlian dalam membuat tenunan. Rajanya yang lain yang  termashur adalah Sunan Ranggalawe.<br />
Diposkan oleh BLOG@ERYC90&#8242;s di 19:37 0 komentar<br />
Label: Naskah_Kuno &#8211; Babad Limbangan<br />
Naskah_Kuno &#8211; Suryaningrat<br />
Naskah_Kuno &#8211; Suryaningrat</p>
<p>Kecamatan : Balubur Limbangan</p>
<p>Nama pemegang naskah : Duki bin Saleh<br />
Tempat naskah : Desa Cigagade<br />
Asal naskah : salinan<br />
Ukuran naskah : 17 x 22 cm<br />
Ruang tulisan : 14 x 18 cm<br />
Keadaan naskah : baik<br />
Tebal naskah : 269 Halaman<br />
Jumlah baris per halaman : 13 baris<br />
Jumlah baris halaman awal dan akhir : 12 dan 10 baris<br />
Huruf : Arab/Pegon<br />
Ukuran huruf : sedang<br />
Warna tinta : hitam<br />
Bekas pena : agak tajam<br />
Pemakaian tanda baca : ada<br />
Kejelasan tulisan : jelas<br />
Bahan naskah : kertas bergaris<br />
Cap kertas : tidak ada<br />
Warna kertas : putih kekuning-kuningan<br />
Keadaan kertas : tipis halus<br />
Cara penulisan : timbal balik<br />
Bentuk karangan : puisi</p>
<p>Ringkasan isi :<br />
Tersebutlah  sebuah kerajaan yang bernama Banurungsit. Kerajaan itu diperintah oleh  seorang raja bernama Suryanagara. Ia mempunyai seorang putra bernama  Suryaningrat. Suryaningrat beristri Ningrumkusumah, putra patih. Setelah  Raja Suryanagara meninggal, Raden Suryaningrat diangkat menjadi raja.  Ternyata pengangkatan tersebut tidak dikehendaki oleh Raja Duryan.  Kerajaan Banurungsit diserang Raja Duryan yang mendapat dukungan rakyat  Banurungsit. Dalam peperangan yang terjadi Suryaningrat kalah, lalu  ditangkap dan dipenjarakan sedangkan istrinya, Ningrumkusumah dipaksa  untuk menjadi istri raja Duryan.</p>
<p>Dengan menggunakan ilmu sirep,  Ningrumkusumah berhasil membebaskan suaminya. Kemudian mereka melarikan  diri ke hutan. Mereka terus berkelana sampai akhirnya tiba di wilayah  negara Durselam. Ketika sedang mandi di sebuah Taman yang indah,  Ningrumkusumah dilihat patih Indra Bumi yang ditugaskan oleh raja  Durselam mencarikan wanita cantik untuk dijadikan istrinya. Dalam  perjalanan menuju ibukota Durselam, Suryaningrat ditenggelamkan ke dalam  sungai oleh Demang Langlaung. Meskipun suaminya Suryaningrat telah  tenggelam dibawa arus sungai, Ningrumkusumah mencari suaminya menyusuri  sungai. Dalam perjalanan mencari suaminya, Ningrumkusumah mendapat keris  pusaka bernama Bantal Nogar dari seorang pertapa berasal dari tanah  Arab yang bernama Syeh Rukman. Menurut petunjuk pertapa untuk dapat  bertemu kembali dengan suami, Ningrumkusumah harus menyamar menjadi  seorang laki-laki dengan nama Raden Rukmantara. Raden Rukmantara  terlibat perang dengan pasukan Duryan yang menguasai Banurungsit. Raja  Duryan sedang mencari Raden Suryaningrat dan Ningrumkusumah. Dalam  perang tersebut Raden Rukmantara menang.</p>
<p>Raden Rukmantara  melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan ia sempat ke Negara Erum yang  diperintah oleh Sri Amangkurat. Raja ini mempunyai seorang putri cantik  bernama Ratna Wulan. Ratna Wulan jatuh cinta kepada Raden Rukmantara  yang tidak mengetahui bahwa sebetulnya orang itu adalah wanita. Raden  Rukmantara pura-pura mau. Akhirnya mereka menikah. Raden Rukmantara  diangkat menjadi raja negara Erum.</p>
<p>Prabu Kandi, raja negara Esam,  yang ditolak lamarannya oleh putri Ratna Wulan menantang perang kepada  negara Erum. Raden Rukmantara berhasil mengalahkan Prabu Kandi berkat  tuah senjata pemberian Syeh Rukman. Prabu Kandi sendiri yang telah  dikalahkan oleh Rukmantara dipaksa untuk menganut agama Islam.</p>
<p>Raden  Suryaningrat yang hanyut di sungai telah sampai ke sebuah puli Peri  yang dikuasai oleh Naga Giri. Raden Suryaningrat dapat meninggalkan Nusa  Ipri dan sampailah ke negara Erum. Raden Rukmantara alias putri  Ningrumkusumah yang sedang mencari suaminya membuat sayembara di negara  Erum dengan memasang gambarnya yang sedang menangisi Raden Suryaningrat.  Barangsiapa yang melihat gambarnya yang sedang menangis harus  membawanya ke istana. Melalui gambar tersebut Raden Suryaningrat dapat  bertemu kembali dengan istrinya, Ningrumkusumah. Selanjutnya Ratna Wulan  dijadikan istri kedua oleh Raden Suryaningrat.</p>
<p>Ringkas  cerita,setelah semua musuh dapat dikalahkan dan mereka diampuni bahkan  diangkat menjadi senapati di negara asal masing-masing, Raden  Suryaningrat dengan istrinya hidup tentram di negara Banurungsit.<br />
Diposkan oleh BLOG@ERYC90&#8242;s di 19:36 0 komentar<br />
Label: Naskah_Kuno &#8211; Suryaningrat<br />
Naskah_Kuno &#8211; Batara Kala<br />
Naskah_Kuno &#8211; Batara Kala</p>
<p>Kecamatan : Sukawening</p>
<p>Nama Pemegang naskah : Adang<br />
Tempat naskah : Kp. Cieunteung Desa Mekarluyu<br />
Asal naskah : warisan<br />
Ukuran naskah : 17 x 22 cm<br />
Ruang tulisan : 13 x 16 cm<br />
Keadaan naskah : tidak utuh<br />
Tebal naskah : 32 Halaman<br />
Jumlah baris per halaman : 14 baris<br />
Jumlah baris halaman awal dan akhir : -<br />
Huruf : Arab/Pegon<br />
Ukuran huruf : sedang<br />
Warna tinta : hitam<br />
Bekas pena : tumpul<br />
Pemakaian tanda baca : ada<br />
Kejelasan tulisan : jelas<br />
Bahan naskah : kertas tidak bergaris<br />
Cap kertas : tidak ada<br />
Warna kertas : kecoklat-coklatan<br />
Keadaan kertas : tipis agak halus<br />
Cara penulisan : timbal balik<br />
Bentuk karangan : puisi</p>
<p>Ringkasan Isi :<br />
Keadaan  di Sorgaloka kacau balau akibat ulah seorang putri di bumi bernama Dewi  Tanara melakukan Tapabrata di Gunung Marabu. Dewi Tanara ingin  bersuamikan seseorang yang suka disembah tetapi tidak diberi kewajiban  untuk menyembah. Turunlah Batara Guru dari Sorgaloka karena merasa bahwa  dirinyalah yang dimaksudkan oleh Dewi Tanara.</p>
<p>Batara Guru  berubah wujud menjadi seorang raksasa ketika mengejar-ngejar Dewi Tanara  karena melihat paha Dewi Tanara raksasa terjatuh dan meneteskan sperma  sehingga jatuh ke tanah. Raksasa sadar bahwa ia adalah Batara Guru dan  berjanji tidak akan mengejar-ngejar lagi asal wujudnya dikembalikan ke  wujud semula. Saat itu juga Batara Guru kembali dari wujud raksasa ke  wujud semula. Kemudian Batara Guru pulang ke Sorgaloka sedangkan Dewi  Tanara kembali ke negrinya. Keadaan di Sorgaloka kembali tenteram,  Batara Narada disuruh Batara Guru untuk mengamankan spermanya yang jatuh  ke tanah, akan tetapi setelah sperma itu dibuang ke laut malah menjelma  menjadi seorang raksasa yang bernama Batara Kala.</p>
<p>Batara Kala  diberitahu oleh Semar bahwa Batara Guru adalah ayahnya. Pergilah Batara  Kala ke negeri Sorgaloka menjumpai Batara Guru dan minta makanan dari  jenis daging manusia. Batara Guru mengabulkan permintaannya dengan  syarat hanya beberapa dari jenis daging manusia diantaranya ialah orang  yang berstatus anak tunggal, orang yang berstatus kadana kadini ( hanya  bersaudara kakak beradik laki-laki dan perempuan atau perempuan dan  laki-laki ), orang yang berstatus nanggung bugang (kakak dan adik  meninggal dunia), orang yang berstatus anak mungku (hanya tiga  bersaudara dua perempuan satu laki-laki atau sebaliknya), orang-oarang  yang dilahirkan pada waktu malam hari, orang-orang yang bepergian pada  waktu maghrib, akan tetapi batara Guru memberikan larangan bahwa orang  yang sedang berada di arena pagelaran wayang, tidak boleh dimakan.<br />
Orang-orang  di bumi kalang kabut, takut kepada Batara Kala, Batara Guru bingung  memikirkan nasib manusia di bumi yang ketakutan kepada Batara Kala dan  mungkin akan habis dimakan olehnya. Maka turunlah Batara Guru dengan  rombongannya ke bumi menyamar menjadi kelompok penabuh wayang. Batara  Guru sendiri menjadi dalangnya, dengan sebutan dayang Longlongan.<br />
Diposkan oleh BLOG@ERYC90&#8242;s di 19:35 1 komentar<br />
Naskah_Kuno &#8211; Kitab Etangan<br />
Naskah_Kuno &#8211; Kitab Etangan</p>
<p>Kecamatan : Sukawening</p>
<p>Nama pemegang naskah : Adang<br />
Tempat naskah : Kp. Cieunteung Desa Mekarluyu<br />
Asal naskah : warisan<br />
Ukuran naskah : 17 x 21 cm<br />
Ruang tulisan : 14 x 18 cm<br />
Keadaan naskah : sebagian rusak<br />
Tebal naskah : 20 Halaman<br />
Jumlah baris per halaman : 13 baris<br />
Jumlah baris halaman awal dan akhir : 12 dan 13 baris<br />
Huruf : Arab/Pegon<br />
Ukuran huruf : besar<br />
Warna tinta : hitam<br />
Bekas pena : tumpul<br />
Pemakaian tanda baca : ada<br />
Kejelasan tulisan : jelas<br />
Bahan naskah : kertas tidak bergaris<br />
Cap kertas : tidak ada<br />
Warna kertas : kuning kecoklat-coklatan<br />
Keadaan kertas : tebal, keras, halus<br />
Cara penulisan : timbal balik<br />
Bentuk karangan : prosa dan prosa liris</p>
<p>Ringkasan isi :<br />
Naskah  kitab etangan dipergunakan sebagai sumber petunjuk apabila hendak  melakukan suatu pekerjaan, baik pekerjaan yang berhubungan dengan  pertanian maupun dengan urusan bepergian, perjodohan serta urusan-urusan  lainnya. Pemegang naskah khususnya, serta sebagian masyarakat sekitar  pada umumnya banyak mempercayai akan kebenaran petunjuk kitab itu. Oleh  karena itu kitab tersebut sangat dipusti-pusti.<br />
Hal-hal yang terkandung didalamnya adalah :<br />
1.Tentang  waktu bulan dan hari, hala yang berhubungan dengan waktu naas ( sial )  dan kejayaan atau keberhasilan atas sesuatu. Perhitungannya dilakukan  pada awal atao sebelum pekerjaan mulai.<br />
2.Jampe ( jampi ), jangjawokan ( mantra ), dan do?a.<br />
3.Beberapa table yang berisikan tentang pernasiban, baik dan buruk.<br />
Diposkan oleh BLOG@ERYC90&#8242;s di 19:34 0 komentar<br />
Naskah_Kuno &#8211; Suryakanta<br />
Ringkasan isi:<br />
Adalah  sebuah kerajaan Tanjung Karoban Bagendir yang jauhnya dari kerajaan  Banurungsit tujuh bulan perjalanan. Raja Tanjung Karoban Bagendir  bernama Dengali dengan patihnya Dungala yang kedua-duanya siluman. Raja  Dengali mempunyai istri dua orang, Kala Andayang dan Kala Jahar. Pada  suatu hari Raja Dengali didatangi oleh Emban Turga, Emban melaporkan  bahwa kerajaan Nusantara baru saja dikalahkan oleh Raden Suryaningrat  dari kerajaan Erum. Emban Turka terpikat oleh ketampanan dan kegagahan  Raden Suryaningrat. Tatkala ia menyatakan cintanya ,serta merta ditolak  oleh Raden Suryaningrat, bahkan Emban Turga diusir. Emban Turga mohon  bantuan Raja Dengali agar memperoleh Raden Suryanigrat untuk dijadikan  suami. Raja Dengali menjanjikan akan membantu menangkap Raden  Suryaningrat. Ia menyuruh seorang raksasa untuk mencuri putra mahkotanya  bernama Suryakanta. Raden Suryakanta dapat diculik ketika sedang  bermain ditaman. Maka hebohlah kerajaan Erum dan Nusantara karena  kehilangan putra mahkota. Istri raja yang bernama Ningrumkusumah diusir  karena dianggap dialah yang menjadi sebab hilangnya Raden Suryakanta.  Ningrumkusumah pergi tanpa tujuan. Dalam perjalanannya ia sampai ke  tempat pertapaan Pandita Syeh Rukmin,yang memberitahu bahwa ia telah  difitnah oleh seseorang yang bernama Jamawati.<br />
Untuk membalas dendam  kepada yang memfitnah dan mendapatkan kembali Raden Suryakanta yang  diculik atas perintah Raja Dengali, Ningrumkusumah harus berganti nama  menjadi Jaya Komara Diningrat atau Jaya Lalana Di Ningrat. menyamar  seolah-olah menjadi laki-laki.</p>
<p>Ningrumkusumah alias Jaya Komara  dapat membunuh Raja Dengali dan Emban Turga. Tetapi untuk menemukan  kembali Raden Suryakanta,ia harus mengalami bermacam-macam kesengsaraan  dan peperangan. Dalam peperangan yang terjadi, Ningrukusumah selalu  menang. Di setiap negara yang dikalahkannya, raja dan pemeluknya  diharuskan memeluk agama Islam, diantaranya kerajaan Yunan, Turki, Raja  Bahrain, Raja Gosman. Prabu Suryaningrat sepeninggalan Ningrumkusumah  jatuh sakit. Ia selalu teringat kepada istrinya dan menyesali  kepergiannya. Ditambah lagi putra kesayangannya Suryakanta belum  ditemukan juga. Ia tidak menyangka bahwa Ningrumkusumah telah difitnah  oleh Jamawati, istrinya yang lain.</p>
<p>Lama-kelamaan Raja  Suryaningrat mengetahui dari seorang mentri bahwa Jamawati lah yang  telah memfitnah Ningrumkusumah. Raden Suryaningrat sangat marah kepada  Jamawati dan terbukalah bahwa yang telah mencuri Suryakanta adalah Raja  Dengali atas permintaan Emban Turga.</p>
<p>Raden Suryaningrat menantang  perang kepada Raja Dengali dari Kerajaan Tanjung Karoban Bagendir.  Berkat kegagahan Ningrumkusumah dan Ratna Wulan (keduanya istri Raden  Suryaningrat), Dengali dikalahkan dan Suryakanta kembali.<br />
Diposkan oleh BLOG@ERYC90&#8242;s di 19:32 0 komentar<br />
IMAM JA&#8217;FAR ASH-SHADIEQ<br />
Ja&#8217;far ash-Shadiq</p>
<p>Imam Syi&#8217;ah<br />
Dua Belas Imam</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Ali bin Abi Thalib</p>
<p>Hasan al-Mujtaba</p>
<p>Husain asy-Syahid</p>
<p>Ali Zainal Abidin</p>
<p>Muhammad al-Baqir</p>
<p>Ja&#8217;far ash-Shadiq</p>
<p>Musa al-Kadzim</p>
<p>Ali ar-Ridha</p>
<p>Muhammad al-Jawad</p>
<p>Ali al-Hadi</p>
<p>Hasan al-Asykari</p>
<p>Muhammad al-Mahdi</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Ja&#8217;far  ash-Shadiq (Bahasa Arab: جعفر الصادق), nama lengkapnya adalah Ja&#8217;far  bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abu Thalib, adalah Imam ke-6  dalam tradisi Islam Syi&#8217;ah. Ia lahir di Madinah pada tanggal 17 Rabiul  Awwal 83 Hijriyah / 20 April 702 Masehi (M), dan meninggal pada tanggal  25 Syawal 148 Hijriyah / 13 Desember 765 M. Ja&#8217;far yang juga dikenal  dengan julukan Abu Abdillah dimakamkan di Pekuburan Baqi&#8217;, Madinah. Ia  merupakan ahli ilmu agama dan ahli hukum Islam (fiqih). Aturan-aturan  yang dikeluarkannya menjadi dasar utama bagi mazhab Ja&#8217;fari atau Dua  Belas Imam; ia pun dihormati dan menjadi guru bagi kalangan Sunni karena  riwayat yang menyatakan bahwa ia menjadi guru bagi Abu Hanifah (pendiri  Mazhab Hanafi) dan Malik bin Anas (pendiri Mazhab Maliki). Perbedaan  tentang siapa yang menjadi Imam setelahnya menjadikan mazhab Ismailiyah  berbeda pandangan dengan mazhab Dua Belas Imam.</p>
<p>Daftar isi<br />
1 Kelahiran dan kehidupan keluarga<br />
1.1 Kelahiran<br />
1.2 Keluarga<br />
1.3 Keturunan<br />
1.3.1 Anak laki-laki<br />
1.3.2 Anak perempuan<br />
1.4 Kehidupan awal<br />
1.5 Meninggalnya<br />
2 Masa keimaman<br />
3 Perkembangan Mazhab Dua Belas Imam<br />
3.1 Perkembangan pesat Mazhab Dua Belas Imam<br />
3.2 Murid-murid Ja&#8217;far ash-Shadiq<br />
3.3 Sasaran dari khalifah yang berkuasa<br />
3.4 Penangkapannya<br />
4 Riwayat mengenai Ja&#8217;far ash-Shadiq<br />
4.1 Dari Malik bin Anas<br />
4.2 Dari Abu Hanifah<br />
4.3 Imam Ja&#8217;far ash-Shadiq sering berkata<br />
5 Referensi<br />
6 Pranala Luar<br />
7 Anekdot</p>
<p>Kelahiran dan kehidupan keluarga</p>
<p>Kelahiran<br />
Ia  dilahirkan di Madinah pada tanggal 17 Rabiul Awwal 83 Hijriyah atau  kurang lebih pada tanggal 20 April 702 Masehi. Ia merupakan anak sulung  dari Muhammad al-Baqir, sedangkan ibunya bernama Fatimah (beberapa  riwayat menyatakan Ummu Farwah) binti al-Qasim bin Muhammad bin Abu  Bakar. Melalui garis ibu, ia dua kali merupakan keturunan Abu Bakar,  karena al-Qasim menikahi putri pamannya, Abdullah bin Abu Bakar. Ia  dilahirkan pada masa pemerintahan Abdul-Malik bin Marwan, dari Bani  Umayyah.</p>
<p>Keluarga<br />
Ia memiliki saudara satu ibu yang  bernama Abdullah bin Muhammad. Sedangkan saudara lainnya yang berlainan  ibu adalah Ibrahim dan Ubaydullah yang beribukan Umm Hakim binti Asid  bin al-Mughirah. Ali dan Zaynab beribukan wanita hamba sahaya, dan Umm  Salamah yang beribukan wanita hamba pula.</p>
<p>Keturunan</p>
<p>Anak laki-laki<br />
Isma&#8217;il bin Ja&#8217;far (Imam ke-7 menurut Ismailiyah)<br />
Abdullah al-Afthah bin Ja&#8217;far<br />
Musa bin Ja&#8217;far (Imam ke-7 menurut Dua Belas Imam)<br />
Ishaq bin Ja&#8217;far<br />
Muhammad al-Dhibbaja bin Ja&#8217;far<br />
Abbas bin Ja&#8217;far<br />
Ali bin Ja&#8217;far</p>
<p>Anak perempuan<br />
Fatimah binti Ja&#8217;far<br />
Asma binti Ja&#8217;far<br />
Ummu Farwah binti Ja&#8217;far</p>
<p>Kehidupan awal<br />
Sejak  kecil hingga berusia sembilan belas tahun, ia dididik langsung oleh  ayahnya. Setelah kepergian ayahnya yang syahid pada tahun 114 H, ia  menggantikan posisi ayahnya sebagai Imam bagi kalangan Muslim Syi&#8217;ah.</p>
<p>Pada  masa remajanya, Ja&#8217;far ash-Shadiq, turut menyaksikan kejahatan dinasti  Bani Umayyah seperti Al-Walid I (86-89 H) dan Sulaiman (96-99 H).  Kedua-dua bersaudara inilah yang terlibat dalam konspirasi untuk  meracuni Ali Zainal Abidin, pada tahun 95 Hijriyah. Saat itu Ja&#8217;far  ash-Shadiq baru berusia kira-kira 12 tahun. Ia juga dapat menyaksikan  keadilan Umar II (99-101 H). Pada masa remajanya Ja&#8217;far ash-Shadiq  menyaksikan puncak kekuasaan dan kejatuhan dari Bani Umayyah.</p>
<p>Meninggalnya<br />
Ia  meninggal pada tanggal 25 Syawal 148 Hijriyah atau kurang lebih pada  tanggal 4 Desember 765 Masehi di Madinah, menurut riwayat dari kalangan  Syi&#8217;ah, dengan diracun atas perintah Khalifah Mansur al-Dawaliki dari  Bani Abbasiyah.</p>
<p>Mendengar berita meninggalnya Ja&#8217;far ash-Shadiq,  Al-Mansur menulis surat kepada gubernur Madinah, memerintahkannya untuk  pergi ke rumah Imam dengan dalih menyatakan belasungkawa kepada  keluarganya, meminta pesan-pesan Imam dan wasiatnya serta membacanya.  Siapapun yang dipilih oleh Imam sebagai pewaris dan penerus harus  dipenggal kepalanya seketika. Tentunya tujuan Al-Mansur adalah untuk  mengakhiri seluruh masalah keimaman dan aspirasi kaum Syi&#8217;ah. Ketika  gubernur Madinah melaksanakan perintah tersebut dan membacakan pesan  terakhir dan wasiatnya, ia mengetahui bahwa Imam telah memilih empat  orang dan bukan satu orang untuk melaksanakan amanat dan wasiatnya yang  terakhir; yaitu khalifah sendiri, gubernur Madinah, Abdullah Aftah  putranya yang sulung, dan Musa al-Kadzim putranya yang bungsu. Dengan  demikian rencana Al-Mansur menjadi gagal.</p>
<p>Ia dimakamkan di pekuburan Baqi&#8217;, Madinah, berdekatan dengan Hasan bin Ali, Ali Zainal Abidin, dan ayahnya Muhammad al-Baqir.</p>
<p>Masa keimaman<br />
Situasi  politik di zaman itu sangat menguntungkannya, sebab di saat itu terjadi  pergolakan politik di antara dua kelompok yaitu Bani Umayyah dan Bani  Abbasiyah yang saling berebut kekuasaan. Dalam situasi politik yang  labil inilah Ja&#8217;far ash-Shadiq mampu menyebarkan dakwah Islam dengan  lebih leluasa. Dakwah yang dilakukannya meluas ke segenap penjuru,  sehingga digambarkan muridnya berjumlah empat ribu orang, yang terdiri  dari para ulama, para ahli hukum dan bidang lainnya seperti, Abu Musa  Jabir Ibn Hayyan, di Eropa dikenal dengan nama Geber, seorang ahli  matematika dan kimia, Hisyam bin al-Hakam, Mu&#8217;min Thaq seorang ulama  yang disegani, serta berbagai ulama Sunni seperti Sofyan ats-Tsauri, Abu  Hanifah (pendiri Mazhab Hanafi), al-Qodi As-Sukuni, Malik bin Anas  (pendiri Mazhab Maliki) dan lain-lain.</p>
<p>Di zaman Imam Ja&#8217;far,  terjadi pergolakan politik dimana rakyat sudah jenuh berada di bawah  kekuasaan Bani Umayyah dan muak melihat kekejaman dan penindasan yang  mereka lakukan selama ini. Situasi yang kacau dan pemerintahan yang  mulai goyah dimanfaatkan oleh Bani Abbasiyah yang juga berambisi kepada  kekuasaan. Kemudian mereka berkampanye dengan berkedok sebagai &#8220;para  penuntut balas dari Bani Hasyim&#8221;.</p>
<p>Bani Umayyah akhirnya tumbang  dan Bani Abbasiyah mulai membuka kedoknya serta merebut kekuasaan dari  Bani Umayyah. Kejatuhan Bani Umayyah serta munculnya Bani Abbasiyah  membawa babak baru dalam sejarah. Selang beberapa waktu, ternyata Bani  Abbasiyah memusuhi Ahlul Bait dan membunuh pengikutnya. Imam Ja&#8217;far juga  tidak luput dari sasaran pembunuhan. Pada 25 Syawal 148 H, Al-Mansur  membuat Imam syahid dengan meracunnya.</p>
<p>&#8220;Imam Ja&#8217;far bin Muhammad,  putra Imam kelima, lahir pada tahun 83 H/702 M. Dia wafat pada tahun  148 H/757 M, dan menurut riwayat kalangan Syi&#8217;ah diracun dan dibunuh  karena intrik Al-Mansur, khalifah Bani Abbasiyah. Setelah ayahnya wafat  dia menjadi Imam keenam atas titah Illahi dan fatwa para pendahulunya.&#8221;  [1]</p>
<p>Perkembangan Mazhab Dua Belas Imam</p>
<p>Perkembangan pesat Mazhab Dua Belas Imam<br />
Selama  masa keimaman Ja&#8217;far ash-Shadiq inilah, mazhab Syi&#8217;ah Dua Belas Imam  atau dikenal juga Imamiah mengalami kesempatan yang lebih besar dan  iklim yang menguntungkan baginya untuk mengembangkan ajaran-ajaran  agama. Ini dimungkinkan akibat pergolakan di berbagai negeri Islam,  terutama bangkitnya kaum Muswaddah untuk menggulingkan kekhalifahan Bani  Umayyah, dan perang berdarah yang akhirnya membawa keruntuhan dan  kemusnahan Bani Umayyah. Kesempatan yang lebih besar bagi ajaran Syi&#8217;ah  juga merupakan hasil dari landasan yang menguntungkan, yang diciptakan  Imam ke-5 selama 20 tahun masa keimamannya melalui pengembangan ajaran  Islam yang benar dan pengetahuan Ahlul Bait. Sampai sekarang pun mazhab  Syi&#8217;ah Imamiah juga dikenal dengan mazhab Ja&#8217;fari.</p>
<p>Murid-murid Ja&#8217;far ash-Shadiq<br />
Imam  telah memanfaatkan kesempatan ini untuk mengembangkan berbagai  pengetahuan keagamaan sampai saat terakhir dari keimamannya yang  bersamaan dengan akhir Bani Umayyah dan awal dari kekhalifahan Bani  Abbasiyah. Ia mendidik banyak sarjana dalam berbagai lapangan ilmu  pengetahuan aqliah (intelektual) dan naqliah (agama) seperti:</p>
<p>Zararah,<br />
Muhammad bin Muslim,<br />
Mukmin Thaq,<br />
Hisyam bin Hakam,<br />
Aban bin Taghlib,<br />
Hisyam bin Salim,<br />
Huraiz,<br />
Hisyam Kaibi Nassabah, dan<br />
Abu Musa Jabir Ibn Hayyan, ahli kimia. (di Eropa dikenal dengan nama Geber)<br />
Bahkan beberapa sarjana terkemuka Sunni seperti:</p>
<p>Sofyan ats-Tsauri,<br />
Abu Hanifah (pendiri Madzhab Hanafi),<br />
Qadhi Sukuni,<br />
Qodhi Abu Bakhtari,<br />
Malik bin Anas (pendiri Madzhab Maliki)<br />
Mereka  beroleh kehormatan menjadi murid-muridnya. Disebutkan bahwa kelas-kelas  dan majelis-majelis pengajaranya menghasilkan empat ribu sarjana hadist  dan ilmu pengetahuan lain. Jumlah hadist yang terkumpul dari Imam ke-5  dan ke-6, lebih banyak dari seluruh hadits yang pernah dicatat dari Imam  lainnya.</p>
<p>Sasaran dari khalifah yang berkuasa<br />
Tetapi  menjelang akhir hayatnya, ia menjadi sasaran pembatasan-pembatasan yang  dibuat atas dirinya oleh Al-Mansur, khalifah Bani Abbasiyah, yang  memerintahkan penyiksaan dan pembunuhan yang kejam terhadap keturunan  Nabi, yang merupakan kaum Syi&#8217;ah, hingga tindakan-tindakannya bahkan  melampaui kekejaman Bani Umayyah. Atas perintahnya mereka ditangkap  dalam kelompok-kelompok, beberapa dan mereka dibuang dalam penjara yang  gelap dan disiksa sampai mati, sedangkan yang lain dipancung atau  dikubur hidup-hidup atau ditempatkan di bawah atau di antara  dinding-dinding yang dibangun di atas mereka.</p>
<p>Penangkapannya<br />
Hisyam,  khalifah Bani Umayyah, telah memerintahkan untuk menangkap Imam ke-6  dan dibawa ke Damaskus. Belakangan, Imam ditangkap oleh As-Saffah,  khalifah Bani Abbasiyah dan dibawa ke Iraq. Akhirnya Al-Mansur  menangkapnya lagi dan dibawa ke Samarra, Iraq untuk diawasi dan dengan  segala cara mereka melakukan tindakan lalim dan kurang hormat dan  berkali-kali merencanakan untuk membunuhnya. Kemudian Imam diizinkan  kembali ke Madinah, di mana dia menghabiskan sisa hidupnya di Madinah,  sampai dia diracun dan dibunuh melalui upaya rahasia Al-Mansur.</p>
<p>Riwayat mengenai Ja&#8217;far ash-Shadiq</p>
<p>Dari Malik bin Anas<br />
Imam Malik menceritakan pribadi Imam Ja&#8217;far ash-Shadiq dalam kitab Tahdhib al-Tahdhib, Jilid 2, hlm. 104:</p>
<p>&#8220;Aku sering mengunjungi ash-Shadiq. Aku tidak pernah menemui beliau kecuali dalam salah satu daripada keadaan-keadaan ini:<br />
beliau sedang shalat,<br />
beliau sedang berpuasa,<br />
beliau sedang membaca kitab suci al-Qur&#8217;an.<br />
Aku  tidak pernah melihat beliau meriwayatkan sebuah hadits dari Nabi SAW  tanpa taharah. Beliau seorang yang paling bertaqwa, warak, dan amat  terpelajar selepas zaman Nabi Muhammad SAW. Tidak ada mata yang pernah,  tidak ada telinga yang pernah mendengar dan hati ini tidak pernah  terlintas akan seseorang yang lebih utama (afdhal) melebihi Ja&#8217;far bin  Muhammad dalam ibadah, kewarakan dan ilmu pengetahuannya.&#8221;</p>
<p>Dari Abu Hanifah<br />
Pada  suatu ketika khalifah Al-Mansur dari Bani Abbasiyah ingin mengadakan  perdebatan antara Abu Hanifah dengan Imam Ja&#8217;far ash-Shadiq AS. Khalifah  bertujuan untuk menunjukkan kepada Abu Hanifah bahwa banyak orang  sangat tertarik kepada Imam Ja&#8217;far bin Muhammad karena ilmu  pengetahuannya yang luas itu. Khalifah Al-Mansur meminta Abu Hanifah  menyediakan pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk diajukan kepada Imam  Ja&#8217;afar bin Muhammad AS di dalam perdebatan itu nanti. Sebenarnya  Al-Mansur telah merencanakan untuk mengalahkan Imam Ja&#8217;far bin Muhammad,  dengan cara itu dan membuktikan kepada orang banyak bahwa Ja&#8217;far bin  Muhammad tidaklah luas ilmunya.</p>
<p>Menurut Abu Hanifah,</p>
<p>&#8220;Al-Mansur  meminta aku datang ke istananya ketika aku tidak berada di Hirah.  Ketika aku masuk ke istananya, aku melihat Ja&#8217;far bin Muhammad duduk di  sisi Al-Mansur. Ketika aku memandang Ja&#8217;far bin Muhammad, jantungku  bergoncang kuat, rasa getar dan takut menyelubungi diriku terhadap  Ja&#8217;far bin Muhammad lebih daripada Al-Mansur. Setelah memberikan salam,  Al-Mansur memintaku duduk dan beliau memperkenalkanku kepada Ja&#8217;far bin  Muhammad. Kemudian Al-Mansur memintaku mengemukakan  pertanyaan-pertanyaan kepada Ja&#8217;far bin Muhammad. Aku pun mengemukakan  pertanyaan demi pertanyaan dan beliau menjawabnya satu persatu,  mengeluarkan bukan saja pendapat ahli-ahli fiqih Iraq dan Madinah tetapi  juga mengemukakan pandangannya sendiri, baik beliau menerima atau  menolak pendapat-pendapat orang lain itu sehingga beliau selesai  menjawab semua empat puluh pertanyaan sulit yang telah aku sediakan  untuknya.&#8221;<br />
Abu Hanifah berkata lagi,</p>
<p>&#8220;Tidakkah telah aku  katakan bahwa dalam soal keilmuan, orang yang paling alim dan mengetahui  adalah orang yang mengetahui pendapat-pendapat orang lain?&#8221;<br />
Lantaran pengalaman itu, Abu Hanifah berkata,</p>
<p>&#8220;Aku tidak pernah melihat seorang ahli fiqih yang paling alim selain Ja&#8217;far bin Muhammad.&#8221; [2]</p>
<p>Imam Ja&#8217;far ash-Shadiq sering berkata<br />
&#8220;Hadist-hadist  yang aku keluarkan adalah hadits-hadits dari bapakku. Hadist-hadist  dari bapakku adalah dari kakekku. Hadist-hadist dari kakekku adalah dari  Ali bin Abi Thalib, Amirul Mu&#8217;minin. Hadist-hadist dari Amirul Mu&#8217;minin  Ali bin Abi Thalib adalah hadist-hadist dari Rasulullah SAW dan  hadist-hadist dari Rasulullah SAW adalah wahyu Allah Azza Wa Jalla.&#8221; [3]</p>
<p>Referensi<br />
^ Thabathaba&#8217;i dalam &#8220;Islam Syiah (Asal-Usul dan Perkembangannya), hal. 233-234-235<br />
^ Muwaffaq, Manaqib Abu Hanifah, Jilid I, hlm. 173; Dzahabi, Tadhkiratul Huffadz, Jilid I, hlm. 157<br />
^ Al-Kulaini,al-Kafi, Juzuk I, hadith 154-14</p>
<p>Pranala Luar<br />
Imam Keenam<br />
Biografi Imam Keenam oleh Sheikh al-Mufid<br />
Biografi Imam Ja&#8217;far dari kalangan Salafi</p>
<p>Anekdot<br />
Wikiquote memiliki koleksi kutipan yang berkaitan dengan:<br />
Ja&#8217;far  ash-ShadiqSeseorang pernah sekali meminta Ja&#8217;far untuk memperlihatkan  Tuhan kepadanya. Imam berkata, &#8220;Lihat ke Matahari!&#8221; Orang itu berkata  bahwa ia tidak dapat melihat matahari karena terlalu terang. Ja&#8217;far  berkata, &#8220;Kalau kamu tidak dapat melihat yang diciptakan, bagaimana kamu  merasa dapat melihat Pencipta?&#8221;<br />
Diperoleh dari &#8220;http://id.wikipedia.org/wiki/Ja%27far_ash-Shadiq&#8221;<br />
Diposkan oleh BLOG@ERYC90&#8242;s di 19:30 0 komentar<br />
Naskah_Kuno &#8211; Babad Godog<br />
Ringkasan isi :<br />
Naskah  ini berisi cerita tentang kisah seorang tokoh yang bernama Keyan  Santang: putra Raja Padjajaran Sewu. Prabu Siliwangi, yang gagah perkasa  kemudian masuk Islam. Ia menyebarkan agama baru yang dianutnya itu di  Pulau Jawa dan menetap di Godog. Suci Kecamatan Karangpawitan Garut  sampai akhir hayatnya. Nama-nama lain yang disandang tokoh itu adalah  Gagak Lumayung, Garantang Sentra. Pangeran Gagak Lumiring. Sunan  Rakhmat, dan Sunan Bidayah.</p>
<p>Pada suatu hari Keyan Santang  berdatang sembah kepada ayahandanya. Ia ingin menyampaikan sesuatu yakni  hasrat hatinya untuk dapat melihat darah sendiri. Kemudian baginda  memanggil para ahli nujum untuk menanyakan siapa gerangan orang yang  sanggup memenuhi keinginan Keyan Santang seperti yang diucapkannya tadi.  Para ahli nujum tidak seorang pun yang dapat menjawab pertanyaan raja.  Tetapi kemudian seorang kakek yang sudah tua renta dating menghadap  baginda raja dan berkata. ? Daulat tuanku, hamba hendak menghabarkan  kepada tuanku bahwa sebenarnya ada orang yang dapat memperlihatkan darah  raja putra itu. Ialah Baginda Ali di Mekah.?</p>
<p>Prabu Siliwangi  bertanya,?Siapa kiranya yang akan unggul bila anakku bertarung dengan  dia?? Selesai pertanyaan itu diucapkan, maka tanpa memperlihatkan  jawaban kakek itu pun lenyap dari pandangan. Menurut yang empunya  cerita, kakek itu tak lain adalah Malaikat Jibril.</p>
<p>Nama Baginda  Ali terkesan pada hati Keyan Santang. Sekarang ia ingin mencari orang  yang memiliki nama itu ke Mekah. Setelah meminta izin dari Prabu  Siliwangi dan menyetujuinya untuk berangkat, maka Keyan Santang terbang.  Namun ia belum tahu jalan ke Mekah. Baru saja ia tinggal landas, di  atasnya terdengar suara tanpa wujud sumbernya, ?Engkau bernama Geranta  Sentra!?</p>
<p>Setelah itu tampak olehnya seorang putri yang sangat  cantik turun dari langit. Terjadilah percakapan antara Keyan Santang  dengan putri itu. Kemudian putrid itu minta kepada Keyan Santang agar  diambilkan bintang-bintang dari langit. Setelah selesai mengucapkan  permintaannya itu, maka hilanglah putri itu. Ingin memenuhi permintaan  sang putri, Keyan Santang bertambah tinggi terbangnya, ia bermaksud akan  memetik bintang. Tetapi malah bintang itu berterbangan jauh ke langit.  Keyan Santang tidak putus asa, ia terus mengejar bintang itu hingga  akhirnya ia sampai di atas Mekah. Karena Keyan santang demikian  bernafsunya ia ingin dapat menangkap salah satu bintang, maka langit di  atas Mekah pun menjadi hingar bingar. Suara gaduh itu membuat baginda  Ali ingin melihat keadaan langit.</p>
<p>Tak lama kemudian bertemulah  Baginda Ali dengan Keyan Santang. Terjadilah percakapan antara mereka.  Kata Baginda Ali ,?Kau dapat mengambil bintang, asal kau tahu dahulu  mantranya. ?Keyan Santang menanyakan bagaimana bunyi mantra itu.  Kemudian Baginda Ali mengucapkan mantra yang berbunyi. ?Allohusoli ala  nu dimakbul Sayidina Muhammad?. Setelah Keyan Santang mengucapkan mantra  itu, ia dapat menangkap bintang dari langit. Ternyata bintang itu  berupa untaian tasbih.<br />
Diketahui akhirnya oleh putra raja Padjadjaran  itu bahwa yang mengajarkan mantra itu adalah baginda Ali yang tengah  dicarinya. Timbul keinginan Keyan Santang untuk mengajak bertarung  dengan Baginda Ali. Tetapi Baginda Ali sudah tidak ada. Keyan Santang  hanya bertemu dengan seorang tua bangka yang sedang membawa tungked  (tongkat) dan tiang mesjid. Terjadilah percakapan antara Keyan Santang  dengan orang tua itu . Keyan Santang mencoba untuk mencabut tongkat yang  ditancapkan oleh orang tua tadi, tetapi tidak berhasil Setelah  diketahui bahwa orang tua itu tidak lain adalah Baginda Ali, maka Keyan  Santang pun menyatakan takluk dan kemudia mau memeluk agama Islam. Keyan  Santang berganti nama menjadi Sunan Rakhmat atau Sunan Bidayah.</p>
<p>Keyan  Santang pun memeiliki tugas untuk menyebarkan agama Islam di Pulau  Jawa. Prabu Siliwangi menolak bahkan tidak mau memeluk agama Islam.  Kemudian dengan jalan menembus bumi raja Padjadjaran itu pergi dari  Padjadjaran Sewu. Sementara itu para bangsawan Padjadjaran bersalin rupa  menjadi bermacam-macam jenis harimau. Sedangkan keraton serta merta  berubah menjadi hutan belantara. Konon harimau-harimau itu menuju hutan  Sancang mengikuti Prabu Siliwangi.</p>
<p>Sementara itu Sunan Rahkmat  meng-Islamkan rakyat yang ada di Batulayang, Lebak Agung, Lebak Wangi,  Curug Fogdog, Curug Sempur, dan Padusunan. Sewaktu itu Sunan Rakhmat  kawin dengan Nyi Puger Wangi yang berasal dari Puger. Dari Puger Wangi  Sunan Rakhmat mempunyai anak kembar, kedua-duanya laki-laki, kakaknya  bernama Ali Muhammad dan adiknya Pangeran Ali Akbar. Sayang sekali tak  lama kemudian setelah melahirkan Nyi Puger Wangi meninggal dunia.</p>
<p>Dalam  kesedihan karena ditinggal istri, Sunan Rakhmat terus menyiarkan agama  Islam di Karang Serang, Cilageni, Dayeuh Handap, Dayeuh Manggung,  Cimalati, Cisieur, Cikupa, Cikaso, Pagaden, Haur Panggung, Cilolohan,  warung Manuk, Kadeunghalang, dan Cihaurbeuti. Pada suatu saat pernah  pula Sunan Rakhmat berangkat lagi ke Mekah.</p>
<p>Waktu akan pulang  lagi ke Jawa, Sunan Rakhmat dibekali tanah Mekah yang dimasukan ke dalam  peti. Di dalam peti itu diletakkan pula sebuah buli-buli berisi air  zam-zam. Selain itu Sunan Rakhmat diberi hadiah kuda Sembrani oleh ratu  Jin dan Jabalkop.</p>
<p>Alkisah disebutkan bila peti itu gesah  (bergoyang) di suatu tempat di Pulau Jawa, maka itulah tandanya Sunan  Rakhmat mesti berhenti. Di sanalah ia mesti bermukim. Adapun menurut  yang empunya cerita, tempat bergoyangnya peti itu di Godog. Itulah  sebabnya Sunan Rakhmat yang nama aslinya Keyan Satang dimakamkan di  Godog Karangpawitan Garut.<br />
Diposkan oleh BLOG@ERYC90&#8242;s di 19:29 0 komentar<br />
SYECH DATUK KAHFIE<br />
Syekh Datuk Kahfi</p>
<p>Syekh  Datuk Kahfi (dikenal juga dengan nama Syekh Idhofi atau Syekh Nurul  Jati) adalah tokoh penyebar Islam di wilayah yang sekarang dikenal  dengan Cirebon dan leluhur dari raja-raja Sumedang.</p>
<p>Beliau  pertama kali menyebarkan ajaran Islam di daerah Amparan Jati. Syekh  Datuk Kahfi merupakan buyut dari Pangeran Santri (Ki Gedeng Sumedang),  penguasa di Kerajaan Sumedang Larang, Jawa Barat, dan putera dari Syekh  Datuk Ahmad. Beliau juga merupakan keturunan dari Amir Abdullah Khan.</p>
<p>Silsilah<br />
Di  bawah ini merupakan silsilah Syekh Datuk Kahfi yang bersambung dengan  Sayyid Alawi bin Muhammad Sohib Mirbath hingga Ahmad al-Muhajir bin Isa  ar-Rumi (Hadramaut, Yaman) dan seterusnya hingga Imam Husain, cucu Nabi  Muhammad SAW yang syahid terbunuh dalam pembantaian di Padang Karbala,  Iraq.</p>
<p>Nabi Muhammad SAW, berputeri</p>
<p>Sayidah Fatimah az-Zahra manikah dengan Imam Ali bin Abi Thalib, berputera<br />
Imam Husain a.s, berputera<br />
Imam Ali Zainal Abidin, berputera<br />
Muhammad al-Baqir, berputera<br />
Imam Ja&#8217;far ash-Shadiq, berputera<br />
Ali al-Uraidhi, berputera<br />
Muhammad al-Naqib, berputera<br />
Isa al-Rumi, berputera<br />
Ahmad al-Muhajir, berputera<br />
Ubaidillah, berputera<br />
Alawi, berputera<br />
Muhammad, berputera<br />
Alawi, berputera<br />
Ali Khali&#8217; Qosam, berputera<br />
Muhammad Sahib Mirbath, berputera<br />
Sayid Alwi, berputera<br />
Sayid Abdul Malik, berputera<br />
Sayid Amir Abdullah Khan (Azamat Khan), berputera<br />
Sayid Abdul Kadir, berputera<br />
Maulana Isa, berputera<br />
Syekh Datuk Ahmad, berputera<br />
Syekh Datuk Kahfi</p>
<p>Sebagai guru<br />
Syekh  Datuk Kahfi merupakan guru dari Pangeran Walangsungsang dan Nyai Rara  Santang (Syarifah Muda&#8217;im), yaitu putera dan puteri dari Sri Baduga  Maharaja (Prabu Siliwangi), raja Kerajaan Pajajaran, Jawa Barat. Syekh  Datuk Kahfi wafat dan dimakamkan di Gunung Jati, bersamaan dengan makam  Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), Pangeran Pasarean, dan  raja-raja Kesultanan Cirebon lainnya.</p>
<p>Diperoleh dari &#8220;http://id.wikipedia.org/wiki/Syekh_Datuk_Kahfi&#8221;<br />
Diposkan oleh BLOG@ERYC90&#8242;s di 19:27 0 komentar<br />
KERADJAAN SEMEDANG LARANG<br />
Kerajaan Sumedang Larang</p>
<p>Kerajaan  Sumedang Larang adalah salah satu kerajaan Islam yang diperkirakan  berdiri sejak abad ke-15 Masehi di Jawa Barat, Indonesia. Popularitas  kerajaan ini tidak sebesar popularitas kerajaan Demak, Mataram, Banten  dan Cirebon dalam literatur sejarah kerajaan-kerajaan Islam di  Indonesia. Tapi, keberadaan kerajaan ini merupakan bukti sejarah yang  sangat kuat pengaruhnya dalam penyebaran Islam di Jawa Barat,  sebagaimana yang dilakukan oleh Kerajaan Cirebon dan Kerajaan Banten.</p>
<p>Daftar isi<br />
1 Sejarah<br />
2 Asal-mula nama<br />
3 Pemerintahan berdaulat<br />
3.1 Prabu Agung Resi Cakrabuana (950 M)<br />
3.2 Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri<br />
3.3 Prabu Geusan Ulun<br />
4 Pemerintahan di bawah Mataram<br />
4.1 Dipati Rangga Gempol<br />
4.2 Dipati Rangga Gede<br />
4.3 Dipati Ukur<br />
5 Pembagian wilayah kerajaan<br />
6 Peninggalan budaya<br />
7 Pranala luar<br />
8 Referensi</p>
<p>Sejarah<br />
Kerajaan  Sumedang Larang (kini Kabupaten Sumedang) adalah salah satu dari  berbagai kerajaan Sunda yang ada di provinsi Jawa Barat, Indonesia.  Terdapat kerajaan Sunda lainnya seperti Kerajaan Pajajaran yang juga  masih berkaitan erat dengan kerajaan sebelumnya yaitu (Kerajaan  Sunda-Galuh), namun keberadaan Kerajaan Pajajaran berakhir di wilayah  Pakuan, Bogor, karena serangan aliansi kerajaan-kerajaan Cirebon, Banten  dan Demak (Jawa Tengah). Sejak itu, Sumedang Larang dianggap menjadi  penerus Pajajaran dan menjadi kerajaan yang memiliki otonomi luas untuk  menentukan nasibnya sendiri.</p>
<p>Asal-mula nama<br />
Kerajaan  Sumedang Larang berasal dari pecahan kerajaan Sunda-Galuh yang beragama  Hindu, yang didirikan oleh Prabu Geusan Ulun Aji Putih atas perintah  Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Pajajaran, Bogor.  Seiring dengan perubahan zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang  mengalami beberapa perubahan. Yang pertama yaitu Kerajaan Tembong Agung  (Tembong artinya nampak dan Agung artinya luhur) dipimpin oleh Prabu  Guru Aji Putih pada abad ke XII. Kemudian pada masa zaman Prabu  Tajimalela, diganti menjadi Himbar Buana, yang berarti menerangi alam,  Prabu Tajimalela pernah berkata “Insun medal; Insun madangan”. Artinya  Aku dilahirkan; Aku menerangi. Kata Sumedang diambil dari kata Insun  Madangan yang berubah pengucapannya menjadi Sun Madang yang selanjutnya  menjadi Sumedang. Ada juga yang berpendapat berasal dari kata Insun  Medal yang berubah pengucapannya menjadi Sumedang dan Larang berarti  sesuatu yang tidak ada tandingnya.</p>
<p>Pemerintahan berdaulat</p>
<p>[sunting] Prabu Agung Resi Cakrabuana (950 M)<br />
Prabu  Agung Resi Cakrabuana atau lebih dikenal Prabu Tajimalela dianggap  sebagai pokok berdirinya Kerajaan Sumedang. Pada awal berdiri bernama  Kerajaan Tembong Agung dengan ibukota di Leuwihideung (sekarang  Kecamatan Darmaraja). Beliau punya tiga putra yaitu Prabu Lembu Agung,  Prabu Gajah Agung, dan Sunan Geusan Ulun.</p>
<p>Berdasarkan Layang  Darmaraja, Prabu Tajimalela memberi perintah kepada kedua putranya  (Prabu Lembu Agung dan Prabu Gajah Agung), yang satu menjadi raja dan  yang lain menjadi wakilnya (patih). Tapi keduanya tidak bersedia menjadi  raja. Oleh karena itu, Prabu Tajimalela memberi ujian kepada kedua  putranya jika kalah harus menjadi raja. Kedua putranya diperintahkan  pergi ke Gunung Nurmala (sekarang Gunung Sangkanjaya). Keduanya diberi  perintah harus menjaga sebilah pedang dan kelapa muda (duwegan/degan).  Tetapi, Prabu Gajah Agung karena sangat kehausan beliau membelah dan  meminum air kelapa muda tersebut sehingga beliau dinyatakan kalah dan  harus menjadi raja Kerajaan Sumedang Larang tetapi wilayah ibu kota  harus mencari sendiri. Sedangkan Prabu Lembu Agung tetap di  Leuwihideung, menjadi raja sementara yang biasa disebut juga Prabu Lembu  Peteng Aji untuk sekedar memenuhi wasiat Prabu Tajimalela. Setelah itu  Kerajaan Sumedang Larang diserahkan kepada Prabu Gajah Agung dan Prabu  Lembu Agung menjadi resi. Prabu Lembu Agung dan pera keturunannya tetap  berada di Darmaraja. Sedangkan Sunan Geusan Ulun dan keturunannya  tersebar di Limbangan, Karawang, dan Brebes.</p>
<p>Setelah Prabu Gajah  Agung menjadi raja maka kerajaan dipindahkan ke Ciguling. Ia dimakamkan  di Cicanting Kecamatan Darmaraja. Ia mempunyai dua orang putra, pertama  Ratu Istri Rajamantri, menikah dengan Prabu Siliwangi dan mengikuti  suaminya pindah ke Pakuan Pajajaran. Kedua Sunan Guling, yang  melanjutkan menjadi raja di Kerajaan Sumedang Larang. Setelah Sunan  Guling meninggal kemudian dilanjutkan oleh putra tunggalnya yaitu Sunan  Tuakan. Setelah itu kerajaan dipimpin oleh putrinya yaitu Nyi Mas Ratu  Patuakan. Nyi Mas Ratu Patuakan mempunyai suami yaitu Sunan Corenda,  putra Sunan Parung, cucu Prabu Siliwangi (Prabu Ratu Dewata). Nyi Mas  Ratu Patuakan mempunyai seorang putri bernama Nyi Mas Ratu Inten Dewata  (1530-1578), yang setelah ia meninggal menggantikannya menjadi ratu  dengan gelar Ratu Pucuk Umun.</p>
<p>Ratu Pucuk Umun menikah dengan  Pangeran Kusumahdinata, putra Pangeran Pamalekaran (Dipati Teterung),  putra Aria Damar Sultan Palembang keturunan Majapahit. Ibunya Ratu  Martasari/Nyi Mas Ranggawulung, keturunan Sunan Gunung Jati dari  Cirebon. Pangeran Kusumahdinata lebih dikenal dengan julukan Pangeran  Santri karena asalnya yang dari pesantren dan perilakunya yang sangat  alim. Dengan pernikahan tersebut berakhirlah masa kerajaan Hindu di  Sumedang Larang. Sejak itulah mulai menyebarnya agama Islam di wilayah  Sumedang Larang.</p>
<p>Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri<br />
Pada  pertengahan abad ke-16, mulailah corak agama Islam mewarnai perkembangan  Sumedang Larang. Ratu Pucuk Umun, seorang wanita keturunan raja-raja  Sumedang kuno yang merupakan seorang Sunda muslimah; menikahi Pangeran  Santri (1505-1579 M) yang bergelar Ki Gedeng Sumedang dan memerintah  Sumedang Larang bersama-sama serta menyebarkan ajaran Islam di wilayah  tersebut. Pangeran Santri adalah cucu dari Syekh Maulana Abdurahman  (Sunan Panjunan) dan cicit dari Syekh Datuk Kahfi, seorang ulama  keturunan Arab Hadramaut yang berasal dari Mekkah dan menyebarkan agama  Islam di berbagai penjuru daerah di kerajaan Sunda. Pernikahan Pangeran  Santri dan Ratu Pucuk Umun ini melahirkan Prabu Geusan Ulun atau dikenal  dengan Prabu Angkawijaya. Pada masa Ratu Pucuk Umun, ibukota Kerajaan  Sumedang Larang dipindahkan dari Ciguling ke Kutamaya.</p>
<p>Dari pernikahan Ratu Pucuk Umun dengan Pangeran Santri memiliki enam orang anak, yaitu :</p>
<p>Pangeran Angkawijaya (yang tekenal dengan gelar Prabu Geusan Ulun)<br />
Kiyai Rangga Haji, yang mengalahkan Aria Kuda Panjalu ti Narimbang, supaya memeluk agama Islam.<br />
Kiyai Demang Watang di Walakung.<br />
Santowaan Wirakusumah, yang keturunannya berada di Pagaden dan Pamanukan, Subang.<br />
Santowaan Cikeruh.<br />
Santowaan Awiluar.<br />
Ratu Pucuk Umun dimakamkan di Gunung Ciung Pasarean Gede di Kota Sumedang.</p>
<p>Prabu Geusan Ulun<br />
Prabu  Geusan Ulun (1580-1608 M) dinobatkan untuk menggantikan kekuasaan  ayahnya, Pangeran Santri. Beliau menetapkan Kutamaya sebagai ibukota  kerajaan Sumedang Larang, yang letaknya di bagian Barat kota. Wilayah  kekuasaannya meliputi Kuningan, Bandung, Garut, Tasik, Sukabumi  (Priangan) kecuali Galuh (Ciamis). Kerajaan Sumedang pada masa Prabu  Geusan Ulun mengalami kemajuan yang pesat di bidang sosial, budaya,  agama, militer dan politik pemerintahan. Setelah wafat pada tahun 1608,  putera angkatnya, Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata atau Rangga Gempol  I, yang dikenal dengan nama Raden Aria Suradiwangsa menggantikan  kepemimpinannya.</p>
<p>Pada masa awal pemerintahan Prabu Geusan Ulun,  Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan sedang dalam masa kehancurannya karena  diserang oleh Kerajaan Banten yang dipimpin Sultan Maulana Yusuf dalam  rangka menyebarkan Agama Islam. Oleh karena penyerangan itu Kerajaan  Pajajaran hancur. Pada saat-saat kekalahan Kerajaan Pajajaran, Prabu  Siliwangi sebelum meninggalkan Keraton beliau mengutus empat prajurit  pilihan tangan kanan Prabu Siliwangi untuk pergi ke Kerajaan Sumedang  dengan rakyat Pajajaran untuk mencari perlindungan yang disebut Kandaga  Lante. Kandaga Lante tersebut menyerahkan mahkota emas simbol kekuasaan  Raja Pajajaran, kalung bersusun dua dan tiga, serta perhiasan lainnya  seperti benten, siger, tampekan, dan kilat bahu (pusaka tersebut masih  tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun si Sumedang). Kandaga Lante yang  menyerahkan tersebut empat orang yaitu Sanghyang Hawu atau Embah  Jayaperkosa, Batara Dipati Wiradijaya atau Embah Nangganan, Sanghyang  Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana atau Embah Terong Peot.</p>
<p>Walaupun  pada waktu itu tempat penobatan raja direbut oleh pasukan Banten  (wadyabala Banten) tetapi mahkota kerajaan terselamatkan. Dengan  diberikannya mahkota tersebut kepada Prabu Geusan Ulun, maka dapat  dianggap bahwa Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan menjadi bagian Kerajaan  Sumedang Larang, sehingga wilayah Kerajaan Sumedang Larang menjadi luas.  Batas wilayah baratnya Sungai Cisadane, batas wilayah timurnya Sungai  Cipamali (kecuali Cirebon dan Jayakarta), batas sebelah utaranya Laut  Jawa, dan batas sebelah selatannya Samudera Hindia.</p>
<p>Secara  politik Kerajaan Sumedang Larang didesak oleh tiga musuh: yaitu Kerajaan  Banten yang merasa terhina dan tidak menerima dengan pengangkatan Prabu  Geusan Ulun sebagai pengganti Prabu Siliwangi; pasukan VOC di Jayakarta  yang selalu mengganggu rakyat; dan Kesultanan Cirebon yang ditakutkan  bergabung dengan Kesultanan Banten. Pada masa itu Kesultanan Mataram  sedang pada masa kejayaannya, banyak kerajaan-kerajaan kecil di  Nusantara yang menyatakan bergabung kepada Mataram. Dengan tujuan  politik pula akhirnya Prabu Geusan Ulun menyatakan bergabung dengan  Kesultanan Mataram dan beliau pergi ke Demak dengan tujuan untuk  mendalami agama Islam dengan diiringi empat prajurit setianya (Kandaga  Lante). Setelah dari pesantren di Demak, sebelum pulang ke Sumedang ia  mampir ke Cirebon untuk bertemu dengan Panembahan Ratu penguasa Cirebon,  dan disambut dengan gembira karena mereka berdua sama-sama keturunan  Sunan Gunung Jati.</p>
<p>Dengan sikap dan perilakunya yang sangat baik  serta wajahnya yang rupawan, Prabu Geusan Ulun disenangi oleh penduduk  di Cirebon. Permaisuri Panembahan Ratu yang bernama Ratu Harisbaya jatuh  cinta kepada Prabu Geusan Ulun. Ketika dalam perjalanan pulang ternyata  tanpa sepengetahuannya, Ratu Harisbaya ikut dalam rombongan, dam karena  Ratu Harisbaya mengancam akan bunuh diri akhirnya dibawa pulang ke  Sumedang. Karena kejadian itu, Panembahan Ratu marah besar dan mengirim  pasukan untuk merebut kembali Ratu Harisbaya sehingga terjadi perang  antara Cirebon dan Sumedang.</p>
<p>Akhirnya Sultan Agung dari Mataram  meminta kepada Panembahan Ratu untuk berdamai dan menceraikan Ratu  Harisbaya yang aslinya dari Pajang-Demak dan dinikahkan oleh Sultan  Agung dengan Panembahan Ratu. Panembahan Ratu bersedia dengan syarat  Sumedang menyerahkan wilayah sebelah barat Sungai Cilutung (sekarang  Majalengka) untuk menjadi wilayah Cirebon. Karena peperangan itu pula  ibukota dipindahkan ke Gunung Rengganis, yang sekarang disebut Dayeuh  Luhur.</p>
<p>Prabu Geusan Ulun memiliki tiga orang istri: yang pertama  Nyi Mas Cukang Gedeng Waru, putri Sunan Pada; yang kedua Ratu Harisbaya  dari Cirebon, dan yang ketiga Nyi Mas Pasarean. Dari ketiga istrinya  tersebut ia memiliki lima belas orang anak:</p>
<p>Pangeran Rangga Gede, yang merupakan cikal bakal bupati Sumedang<br />
Raden Aria Wiraraja, di Lemahbeureum, Darmawangi<br />
Kiyai Kadu Rangga Gede<br />
Kiyai Rangga Patra Kalasa, di Cundukkayu<br />
Raden Aria Rangga Pati, di Haurkuning<br />
Raden Ngabehi Watang<br />
Nyi Mas Demang Cipaku<br />
Raden Ngabehi Martayuda, di Ciawi<br />
Rd. Rangga Wiratama, di Cibeureum<br />
Rd. Rangga Nitinagara, di Pagaden dan Pamanukan<br />
Nyi Mas Rangga Pamade<br />
Nyi Mas Dipati Ukur, di Bandung<br />
Rd. Suridiwangsa, putra Ratu Harisbaya dari Panemabahan Ratu<br />
Pangeran Tumenggung Tegalkalong<br />
Rd. Kiyai Demang Cipaku, di Dayeuh Luhur.<br />
Prabu  Geusan Ulun merupakan raja terakhir Kerajaan Sumedang Larang, karena  selanjutnya menjadi bagian Mataram dan pangkat raja turun menjadi  adipati (bupati).</p>
<p>Pemerintahan di bawah Mataram</p>
<p>Dipati Rangga Gempol<br />
Pada  saat Rangga Gempol memegang kepemimpinan, pada tahun 1620 M Sumedang  Larang dijadikannya wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram di bawah Sultan  Agung, dan statusnya sebagai &#8216;kerajaan&#8217; dirubahnya menjadi &#8216;kadipaten&#8217;.  Hal ini dilakukannya sebagai upaya menjadikan wilayah Sumedang sebagai  wilayah pertahanan Mataram dari serangan Kerajaan Banten dan Belanda,  yang sedang mengalami konflik dengan Mataram. Sultan Agung kemudian  memberikan perintah kepada Rangga Gempol beserta pasukannya untuk  memimpin penyerangan ke Sampang, Madura. Sedangkan pemerintahan untuk  sementara diserahkan kepada adiknya, Dipati Rangga Gede.</p>
<p>Dipati Rangga Gede<br />
Ketika  setengah kekuatan militer kadipaten Sumedang Larang diperintahkan pergi  ke Madura atas titah Sultan Agung, datanglah dari pasukan Kerajaan  Banten untuk menyerbu. Karena Rangga Gede tidak mampu menahan serangan  pasukan Banten, ia akhirnya melarikan diri. Kekalahan ini membuat marah  Sultan Agung sehingga ia menahan Dipati Rangga Gede, dan pemerintahan  selanjutnya diserahkan kepada Dipati Ukur.</p>
<p>Dipati Ukur<br />
Sekali  lagi, Dipati Ukur diperintahkan oleh Sultan Agung untuk bersama-sama  pasukan Mataram untuk menyerang dan merebut pertahanan Belanda di  Batavia (Jakarta) yang pada akhirnya menemui kegagalan. Kekalahan  pasukan Dipati Ukur ini tidak dilaporkan segera kepada Sultan Agung,  diberitakan bahwa ia kabur dari pertanggung jawabannya dan akhirnya  tertangkap dari persembunyiannya atas informasi mata-mata Sultan Agung  yang berkuasa di wilayah Priangan.</p>
<p>Pembagian wilayah kerajaan<br />
Setelah  habis masa hukumannya, Dipati Rangga Gede diberikan kekuasaan kembali  untuk memerintah di Sumedang. Sedangkan wilayah Priangan di luar  Sumedang dan Galuh (Ciamis), oleh Mataram dibagi menjadi tiga bagian[1]:</p>
<p>Kabupaten Sukapura, dipimpin oleh Ki Wirawangsa Umbul Sukakerta, gelar Tumenggung Wiradegdaha/R. Wirawangsa,<br />
Kabupaten Bandung, dipimpin oleh Ki Astamanggala Umbul Cihaurbeuti, gelar Tumenggung Wirangun-angun,<br />
Kabupaten Parakanmuncang, dipimpin oleh Ki Somahita Umbul Sindangkasih, gelar Tumenggung Tanubaya.<br />
Kesemua  wilayah tersebut berada dibawah pengawasan Rangga Gede (atau Rangga  Gempol II), yang sekaligus ditunjuk Mataram sebagai Wadana Bupati  (kepala para bupati) Priangan.</p>
<p>Peninggalan budaya<br />
Hingga  kini, Sumedang masih berstatus kabupaten, sebagai sisa peninggalan  konflik politik yang banyak diintervensi oleh Kerajaan Mataram pada masa  itu. Adapun artefak sejarah berupa pusaka perang, atribut kerajaan,  perlengkapan raja-raja dan naskah kuno peninggalan Kerajaan Sumedang  Larang masih dapat dilihat secara umum di Museum Prabu Geusan Ulun,  Sumedang letaknya tepat di selatan alun-alun kota Sumedang, bersatu  dengan Gedung Srimanganti dan bangunan pemerintah daerah setempat.</p>
<p>Pranala luar<br />
Naskah Kuno-Sajarah Sukapura, dari Situs Pariwisata Pemerintah Kabupaten Garut Online</p>
<p>Referensi<br />
^ Naskah Sajarah Sukapura. Pemegang naskah R. Sulaeman Anggapradja. Kota Kulon, Garut Kota, tanpa tahun.<br />
Diposkan oleh BLOG@ERYC90&#8242;s di 19:21 0 komentar<br />
Label: SUMEDANG<br />
KERADJAAN PADJAJARAN<br />
Kerajaan Pajajaran</p>
<p>Kerajaan  Pajajaran adalah sebuah kerajaan Hindu yang diperkirakan beribukotanya  di Pakuan (Bogor) di Jawa Barat. Dalam naskah-naskah kuno nusantara,  kerajaan ini sering pula disebut dengan nama Negeri Sunda, Pasundan,  atau berdasarkan nama ibukotanya yaitu Pakuan Pajajaran. Beberapa  catatan menyebutkan bahwa kerajaan ini didirikan tahun 923 oleh Sri  Jayabhupati, seperti yang disebutkan dalam prasasti Sanghyang Tapak.</p>
<p>Sejarah  kerajaan ini tidak dapat terlepas dari kerajaan-kerajaan pendahulunya  di daerah Jawa Barat, yaitu Kerajaan Tarumanagara, Kerajaan Sunda dan  Kerajaan Galuh, dan Kawali. Hal ini karena pemerintahan Kerajaan  Pajajaran merupakan kelanjutan dari kerajaan-kerajaan tersebut. Dari  catatan-catatan sejarah yang ada, dapatlah ditelusuri jejak kerajaan  ini; antara lain mengenai ibukota Pajajaran yaitu Pakuan. Mengenai  raja-raja Kerajaan Pajajaran, terdapat perbedaan urutan antara  naskah-naskah Babad Pajajaran, Carita Parahiangan, dan Carita Waruga  Guru.</p>
<p>Selain naskah-naskah babad, Kerajaan Pajajaran juga meninggalkan sejumlah jejak peninggalan dari masa lalu, seperti:</p>
<p>Prasasti Batu Tulis, Bogor<br />
Prasasti Sanghyang Tapak, Sukabumi<br />
Prasasti Kawali, Ciamis<br />
Tugu Perjanjian Portugis (padraõ), Kampung Tugu, Jakarta<br />
Taman perburuan, yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor.</p>
<p>[sunting] Raja Raja Pajajaran<br />
Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521)<br />
Surawisesa (1521 – 1535)<br />
Ratu Dewata (1535 – 1543)<br />
Ratu Sakti (1543 – 1551)<br />
Raga Mulya (1567 – 1579)<br />
Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaan sunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten.</p>
<p>Berakhirnya  jaman Pajajaran (1482 &#8211; 1579), ditandai dengan diboyongnya PALANGKA  SRIMAN SRIWACANA (Tempat duduk tempat penobatan tahta) dari Pakuan ke  Surasowan di Banten oleh pasukan MAULANA YUSUF.</p>
<p>Batu berukuran  200 x 160 x 20 cm itu terpaksa di boyong ke Banten karena tradisi  politik waktu itu &#8220;mengharuskan&#8221; demikian. Pertama, dengan dirampasnya  Palangka tersebut, di Pakuan tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru.  Kedua, dengan memiliki Palangka itu, Maulana Yusuf merupakan penerus  kekuasaan Pajajaran yang &#8220;sah&#8221; karena buyut perempuannya adalah puteri  Sri Baduga Maharaja.</p>
<p>Palangka Sriman Sriwacana sendiri saat ini  bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surasowan di Banten. Karena  mengkilap, orang Banten menyebutnya WATU GIGILANG. Kata Gigilang berarti  mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.</p>
<p>Saat  itu diperkirakan terdapat sejumlah punggawa istana yang meninggalkan  kraton lalu menetap di daerah Lebak. Mereka menerapkan tata cara  kehidupan lama yang ketat, dan sekarang mereka dikenal sebagai orang  Baduy.<br />
Diposkan oleh BLOG@ERYC90&#8242;s di 19:10 0 komentar<br />
BOGOR KOTA TUA<br />
Bogor Kota Tua</p>
<p>Diatas  puncak gunung kapur di Ciampea Bogor terdapat sebuah makom (petilasan),  belum diketahui pasti tempat tersebut petilasan siapa, tetapi makom  tersebut berada di puncak gunung kapur dimana puncaknya sendiri adalah  batu-batu karang laut seperti umumnya batu karang yang ada di laut.  Mungkin dahulu daerah tersebut memang sebuah bagian dari laut yang  terendam sesudah jaman es mencair. Mungkin juga di tempat tersebut sudah  ada peradaban pada saat air laut mulai surut.</p>
<p>Sayang sekali  cerita itu tidak didukung dengan fakta-fakta serta cerita-cerita  sejarah, atau mungkin fakta sejarah itu saat ini belum tergali/belum  ditemukan.</p>
<p>Kampung Muara dekat tempat prasasti Ciaruteun dan  Telapak Gajah ditemukan, dahulu merupakan sebuah “Kota pelabuhan sungai”  yang bandarnya terletak di tepi pertemuan Cisadane dengan Cianten.  Menurut cerita, dahulu di dekat gunung kapur tersebut memang merupakan  suatu pelabuhan yang biasa dikenal dengan nama dermaga, barangkali  itulah sebabnya di sekitar Kampus IPB sekarang disebut daerah Darmaga.  Hingga awal abad ke 19 tempat tersebut memang masih digunakan sebagai  pelabuhan terutama oleh para pedagang bambu.</p>
<p>Kerajaan-kerajaan yang berhubungan dengan sejarah kota Bogor diantaranya adalah:</p>
<p>Kerajaan  Salaka Nagara, rajanya bernama Dewawarman (I – VIII), tidak diketahui  pasti kapan kerajaan ini berdiri, letak kerajaan Salaka Nagara ini  diperkirakan berada di sekitar Pandeglang Banten, namun ada juga yang  beranggapan bahwa letak Salaka Nagara ada di kaki gunung Salak di  sebelah Barat kota Bogor. Menurut cerita kerajaan ini didirikan oleh  seseorang yang bernama Aki Tirem, yang kemudian keturunannya mendirikan  kerajaan Salaka Nagara, konon nama gunung Salak diambil dari asal kata  Salaka.<br />
Pada catatan sejarah India, para cendekiawan India telah  menulis tentang nama Dwipantara atau kerajaan Jawa Dwipa di pulau Jawa  sekitar 200 SM. Dan dari catatan itupun diketahui bahwa Kerajaan Taruma  menguasai Jawa sekitar tahun 400 M. Salakanagara (kota Perak) pernah  pula disebutkan dalam catatan yang disebut sebagai ARGYRE oleh Ptolemeus  pada tahun 150 M.</p>
<p>Dari peninggalan sejarah yang berhasil  ditemukan hingga saat ini, asal mula kota Bogor dapat ditelusuri mulai  dari Ciaruteun, Ciampea. Di Ciaruteun terdapat sebuah prasasti  peninggalan kerajaan Taruma Nagara (358 – 669 M), prasasti tersebut  diperkirakan dibuat pada tahun 450 M, jauh sebelum Kerajaan Pajajaran  dan Majapahit serta kerajaan-kerajaan lainnya berdiri di Indonesia.  Letak prasasti itu sendiri saat ini sudah dipindahkan, semula prasasti  itu berada di tengah-tengah sungai Ciaruteun yang kemudian dipindahkan  ke tepi karena prasasti tersebut beberapa kali terbawa arus pada saat  banjir bandang di sungai Ciaruteun.<br />
Selain itu di area yang sama  terdapat pula prasasti lainnya yang biasa disebut dengan prasasti Tapak  Gajah. Prasasti ini diperkirakan dibuat bersamaan dengan prasasti yang  ada di sungai Ciaruteun. Arti dari isi prasasti ini kira-kira: “Kedua  jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti  Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa”<br />
Di  salahsatu bagian kaki gunung Salak ada pula ditemukan sebuah prasasti di  desa Jambu kampung Pasirgintung kecamatan Nanggung, oleh karena itu  biasa disebut dengan Prasasti Jambu. Pada prasasti ini terukir 2 telapak  kaki dan 2 baris huruf palawa dalam bahasa sansekerta, kemungkinan  prasasti ini dibuat pada masa yang hampir bersamaan pula dengan dengan  Prasasti Ciaruteun. Prasasti ini bertuliskan: “Yang termashur serta  setia kepada tugasnya ialah raja yang tiada taranya bernama Sri  Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju perisainya tidak dapat  ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua jejak telapak  kaki ini, yang selalu berhasil menghancurkan benteng musuh, yang selalu  menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia kepadanya),  tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya”.</p>
<p>Pada prasasti  Ciaruteun dipahat juga sepasang telapak kaki serta tulisan dengan huruf  palawa dalam bahasa sansekerta, bunyi tulisan tersebut kira-kira “Inilah  telapak kaki yang mulia Sang Purnawarman Raja Negeri Taruma yang gagah  berani, yang menguasai dunia sebagai telapak kaki Dewa Wisnu”</p>
<p>Tidak  diketahui dengan pasti mengapa prasasti-prasasti tersebut ada di daerah  itu, apakah karena pusat pemerintahannya ada disana atau tempat  tersebut merupakan salah satu tempat penting pada masa itu yang berada  dikawasan kerajaan.</p>
<p>Pada masa Kerajaan Taruma Nagara kerajaan ini diperintah oleh 12 orang raja, berkuasa dari tahun 358 – 669 M.<br />
Kerajaan  Sunda, nama baru dari kerajaan Taruma Nagara, diperintah 28 orang raja,  tahun 669 – 1333 M. Pada masa ini, kerajaan tersebut dipecah menjadi 2  bagian, di sebelah Barat bernama kerajaan Sunda dan di sebelah Timur  bernama kerajaan Galuh dengan sungai Citarum sebagai batasnya.<br />
Kerajaan Kawali, diperintah oleh 6 orang raja, tahun 1333 – 1482 M.<br />
Kerajaan-kerajaan diatas adalah kerajaan-kerajaan yang dipimpin oleh “garis keturunan” yang sama.</p>
<p>Kerajaan  Taruma didirikan oleh Jayasingawarman, keturunan-keturunan raja  Kerajaan Taruma pergi ke luar wilayah kerajaan serta membentuk  kerajaan-kerajaan baru di wilayah lain. Ini terlihat dari berdirinya  kerajaan-kerajaan baru yang lebih “muda” usianya dibandingkan dengan  kerajaan Taruma Nagara. Pada masa abad ke 7 hingga abad ke 14 kerajaan  Sriwijaya berkembang di Sumatera. Penjelajah Tiongkok yang bernama I  Ching pernah mengunjungi ibukotanya yaitu Palembang sekitar tahun 670.  Pada abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan di Jawa  Timur yaitu Majapahit. Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364,  yang bernama Gajah Mada berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang  kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hampir seluruh  Semenanjung Melayu. Mungkin karena senioritas atau karena kekerabatan  atau juga karena sebab lainnya, kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh tidak  pernah dikuasai oleh kerajaan Majapahit.<br />
Ada 2 orang keturunan Taruma Nagara yang menjadi raja besar diluar tanah Sunda:<br />
1.  Sanjaya / Rakeyan Jamri / Prabu Harisdama, raja ke 2 Kerajaan Sunda  (723 – 732M), menjadi raja di Kerajaan Mataram (732 &#8211; 760M). Ia adalah  pendiri Kerajaan Mataram Kuno, dan sekaligus pendiri Wangsa Sanjaya.<br />
2. Raden Wijaya, penerus sah Kerajaan Sunda ke – 27, yang lahir di Pakuan, menjadi Raja Majapahit pertama (1293 – 1309 M).<br />
Selain  itu dikisahkan pula bahwa Putri Sobakancana anak dari Linggawarman,  raja Taruma Nagara terakhir menjadi isteri Dapuntahyang Srijayanasa yang  kemudian mendirikan kerajaan Sriwijaya di Sumatera.<br />
Di bawah  kekuasaan Purnawarman terdapat 48 raja-raja daerah yang kekuasaannya  membentang dari Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada  Pandeglang) sampai ke Purwalingga (sekarang Purbalingga) di Jawa Tengah.  Secara tradisional Ci Pamali (Kali Brebes) memang dianggap batas  kekuasaan raja-raja penguasa Jawa bagian Barat pada masa silam.<br />
Kerajaan  Galuh Pakuan (516 – 852 M), berada di sekitar wilayah kota Ciamis  sekarang. Pendiri kerajaan Galuh adalah keturunan raja Taruma Nagara  yang pergi menuju sekitar Selatan Jawa. Kerajaan Galuh didirikan oleh  cicit dari Manikmaya, menantu Suryawarman (raja Taruma Nagara ke 7). Ada  sebagian dari keturunan raja Galuh (yang juga keturunan Taruma Nagara)  yang kemudian kembali menuju Utara dan mendirikan kerajaan dengan nama  baru Pakuan Pajajaran. Sedangkan sebagian lainnya pergi menuju Timur  untuk kemudian mendirikan kerajaan-kerajaan baru di wilayah Jawa Tengah  (Sanjaya, mendirikan Mataram) dan Jawa Timur (Raden Wijaya, mendirikan  Majapahit).</p>
<p>Kerajaan Pakuan Pajajaran biasa disebut kerajaan  Pajajaran saja (1482 – 1579 M). Pada masa kejayaannya kerajaan ini  diperintah oleh seorang raja yang sangat terkenal yaitu Sri Baduga  Maharaja dengan gelar Prabu Siliwangi dinobatkan sebagai raja pada usia  18 tahun. Raja tersebut terkenal dengan “ajaran dari leluhur yang  dijunjung tinggi yang mengejar kesejahteraan”.</p>
<p>Pusat kota  Pajajaran ini terdapat di sekitar wilayah Batutulis sekarang, ini  diketahui dari ditemukannya sisa-sisa bekas bangunan istana yang  ditemukan di sekitar wilayah itu. Ini terungkap dalam ekspedisi yang  dilakukan pihak VOC sebelum menguasai suatu wilayah baru.</p>
<p>Untuk  kesejahteraan rakyatnya yang sebagian besar bertani dan juga untuk  menghalangi serangan pihak musuh maka pada masa itu dibuat sebuat  sodetan sungai yang sekarang dikenal dengan nama kali Cidepit dan  Cipakancilan. Sungai Cidepit dan Cipakancilan adalah sungai buatan yang  sumber airnya berasal dari sungai Cisadane.</p>
<p>Sama seperti kerajaan  sebelumnya, kerajaan Pajajaran sendiri pada masa kejayaannya sudah  menjalin hubungan dagang dengan negara-negara di Asia, Timur Tengah  serta Eropa. Pelabuhan lautnya ada di Sunda Kalapa yang kemudian berubah  nama menjadi Batavia dan kemudian berubah lagi menjadi Jakarta yang  sekarang.</p>
<p>Prabu Siliwangi memiliki beberapa orang anak dari  beberapa orang isteri. Dari istrinya yang bernama Kentring Manik Mayang  Sunda (beragama Islam) (puteri Prabu Susuktunggal, raja kerajaan Sunda)  keturunan-keturunannya pergi mengembara serta membangun wilayah pesisir  Utara di wilayah Karawang. Dari istrinya yang bernama Subang Larang  (beragama Islam) (puteri Ki Gedeng Tapa yang menjadi raja Singapura),  Prabu Siliwangi memiliki 3 orang anak yaitu Kian Santang, Lara Santang  dan Cakrabuana. Kian Santang adalah anaknya yang paling sakti serta  memiliki ilmu yang sangat tinggi, konon dalam menuntut ilmu Islam Kian  Santang mengembara hingga ke Timur Tengah. Ada juga kisah yang  menceritakan bahwa Kian Santang dapat pergi menuju Pelabuanratu melalui  sebuah goa besar yang terdapat di sungai Ciliwung (dulu bernama  cihaliwung). Letak goa itu sendiri sampai sekarang belum ada yang  berhasil menemukannya, tetapi dari mitos yang berkembang letak goa itu  berada di leuwi sipatahunan, sebuah bagian sungai yang paling dalam yang  sekarang berada di tengah-tengah lokasi kebun raya Bogor. Bagi kalangan  spiritual, leuwi sipatahunan ini konon memiliki aura misteri yang  sangat kuat. Lara Santang mengembara hingga ke Sumatera dan daratan  Asia, menyebarkan agama Islam yang di Sumatera dikenal dengan nama Ibu  Syarifah Mudaif. Lara Santang adalah ibu dari Syarif Hidayatullah, raja  Cirebon yang pada tahun 1579 ikut menyerang ke Pajajaran. Cakrabuana  mengembara di sekitar wilayah Cirebon, menurut cerita versi Pajajaran  beliau yang mendirikan asal muasal kota Cirebon.</p>
<p>Perbedaan yang  mencolok antara Ibu Subang Larang dengan Ibu Kentring Manik Mayang Sunda  adalah keunggulannya yang berbeda; Ibu Subang Larang mencerminkan sosok  ibu yang idealnya seperti seorang ibu sedangkan Ibu Kentring Manik  Mayang Sunda mencerminkan sosok seorang wanita yang perkasa dan mandiri.  Bagi sebagian orang Bogor, Ibu Subang Larang-lah yang biasa disebut  dengan nama Ibu Ratu bukan Nyai Roro Kidul seperti yang diyakini  sebagian masyarakat.<br />
Menurut cerita, Prabu Siliwangi tidak meninggal  dunia tetapi beliau menghilang (sunda:ngahiyang), karena itulah makam  Prabu Siliwangi tidak pernah ditemukan hingga saat ini. Legenda  masyarakat yang berkembang mengatakan bahwa Prabu Siliwangi menghilang  dan kadang-kadang menampakan diri dengan wujud seekor harimau besar.  Mungkin ini dihubungkan dengan seorang anggota ekspedisi pimpinan Scipio  pada tahun 1687 yang diterkam harimau besar di tepi sungai Cisadane di  sekitar prasasti Batutulis.</p>
<p>Pada masa masa kejayaan Kerajaan Pajajaran ada 4 orang patih Pajajaran yang terkenal:<br />
Ranggagading,  paling sakti dan bertindak sebagai pimpinan para patih, petilasan  Ranggagading dapat ditemukan di desa Cipinang Gading di Batutulis Bogor.  Entah bagaimana cerita ini bermula tapi ada sebagian orang yang  mempercayai bahwa Ranggagading-lah yang selama ini disebut-sebut sebagai  patih Gajahmada di kerajaan Majapahit.<br />
Ranggawulung, petilasannya ada di dekat kota Subang<br />
Ranggadipa, petilasannya ada di dekat kaki gunung kapur Ciampea<br />
Ranggasukma, hingga saat ini petilasannya belum ditemukan</p>
<p>Di  sekitar kota Bogor banyak “nama-nama lama” peninggalan bekas kerajaan  Pajajaran pada saat masih berdiri, misalnya Lawang Gintung, Lawang  Saketeng, Pamoyanan, Pasirkuda, Cibalagung, Pagentongan, Balekambang,  Panaragan, Pagelaran dan lain-lain.</p>
<p>Peninggalan kerajaan  Pajajaran yang terkenal adalah prasasti Batutulis, isi prasasti ini  kira-kira berarti: “Semoga selamat, ini adalah tanda peringatan untuk  Prabu Ratu almarhum. Dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana  dinobatkan dia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan  Pajajaran. Sri sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit pertahanan  Pakuan, dia putra Rahiyang Dewa Niskala yang dipusarakan di Gunatiga,  cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang dipusarakan ke Nusalarang.  Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, undakan  untuk hutan Samida dan Sahiyang Talaga Rena Mahawijaya. Dibuat dalam  saka 1455.” Selain prasasti banyak pula peninggalan-peninggalan kerajaan  Pajajaran yang ditemukan di sekitar komplek ini, salah satunya adalah  bangunan sisa kerajaan Pajajaran (ditemukan oleh Scipio, seorang  ekspedisi Belanda pada tahun 1687) pada saat sesudah dibumihanguskan  pada tahun 1579 oleh Kerajaan Banten (Maulana Yusuf) yang berkoalisi  dengan Kesultanan Cirebon (Syarief Hidayatullah).<br />
Kerajaan Pajajaran  dibumihanguskan oleh Kerajaan Banten dan Cirebon karena Raja Pajajaran  pada saat itu menolak untuk di-Islamkan, agama “resmi” kerajaan yang  dianut saat itu adalah agama Sunda (Sunda Wiwitan?). Konon agama Sunda  memang tidak mensyaratkan untuk membangun tempat peribadatan khusus,  oleh karena itu maka sisa-sisa peninggalan yang berupa bangunan mirip  candi hampir tidak ditemukan di Jawa Barat.</p>
<p>Pada saat  pembumihangusan, raja terakhir kerajaan Pajajaran yang bernama Raga  Mulya (1567 – 1579) ikut tewas terbunuh dan sebagian dari para pangeran  yang tidak terbunuh lari menuju pakidulan, Selatan Bogor (desa  Sirnaresmi di sekitar Pelabuanratu) untuk kemudian menuju ke arah  pakulonan, menuju ke Barat (sekarang propinsi Banten), menurut cerita  ada anggapan bahwa kemungkinan mereka inilah yang menjadi cikal bakal  dari masyarakat Badui yang kita kenal sekarang.</p>
<p>Prasasti  Batutulis dibuat oleh Prabu Surawisesa pada tahun 1533 M dengan maksud  memperingati jasa-jasa ayahandanya Sri Baduga Maharaja atau yang lebih  dikenal dengan nama Prabu Siliwangi yang sakti. Selain itu di Batutulis  tersebut adalah tempat upacara dilantiknya raja-raja Pajajaran yang  disebut dengan upacara Kuwerabhakti.</p>
<p>Sri Baduga Maharaja adalah  raja Pajajaran terbesar yang memerintah dari tahun 1482 sampai 1521 M.  Pelantikan Sri Baduga Maharaja sebagai raja Pajajaran itu sendiri  dilakukan pada saat Sri Baduga Maharaja memindahkan ibukota kerajaan  dari Galuh ke Pajajaran (Bogor) pada tanggal 3 Juni 1482. Maka tanggal  itulah yang kemudian secara resmi oleh pemerintah ditetapkan sebagai  hari jadi kota Bogor, walapun ada juga yang mengganggap bahwa tanggal  tersebut terlalu “muda” untuk dijadikan penetapan hari jadi sebuah kota  sesusia kota Bogor.</p>
<p>Konon kehancuran kerajaan Pajajaran  disebabkan pula oleh adanya penghianatan dari “orang dalam” yang merasa  tidak puas dengan kepemimpinan Raga Mulya (Suryakancana). Setelah  kehancuran kerajaan Pajajaran pada tahun 1579 dan larinya para pangeran  kerajaan maka terputuslah sejarah kerajaan ini. Sesuai tradisi, kursi  singgasana milik kerajaan Pajajaran oleh Maulana Yusuf ikut diboyong  menuju Banten yang secara simbolis menyatakan bahwa kerajaan Pajajaran  tidak akan berdiri lagi. Inipun menandakan bahwa kekuasaan kerajaan  Pajajaran sebenarnya telah beralih ke Maulana Yusuf dari Banten.  Terlebih dengan berdirinya VOC beberapa tahun kemudian yaitu tahun 1602  yang memanfaatkan perbedaan pendapat dan perpecahan diantara  kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia, maka berakhirlah sudah masa  kerajaan Pajajaran.<br />
Pada tahun 1681 Belanda menandatangani  kesepakatan dengan kesultanan Cirebon dan tahun 1684 Belanda  menandatangani kesepakatan dengan kesultanan Banten. Maka ditetapkanlah  batas wilayahnya yaitu sungai Cisadane, untuk itu dilakukan sebuah  ekspedisi untuk mencari sisa-sisa kerajaan Pajajaran pada tahun 1687  seperti diceritakan diatas.</p>
<p>Cerita ini sebagian bersumber dari  catatan dan fakta sejarah dan sebagian lagi dari sebuah cerita yang  diceritakan dan diceritakan lagi serta diceritakan lagi secara turun  temurun oleh para pangeran kerajaan yang berhasil melarikan diri hingga  kemudian cerita ini berubah menjadi sebuah cerita rakyat dan kemudian  ada yang berkembang menjadi sebuah mitos.</p>
<p>Tidak seperti kisah  sejarah “versi pemerintah” yang terdapat dalam buku-buku sejarah SD, SMP  dan SMA bahwa yang selama ini selalu disebut-sebut sebagai awal mula  peradaban di Indonesia (pulau Jawa) adalah Kerajaan Mataram kuno. Dalam  buku sejarah “versi pemerintah” tersebut sedikit sekali tulisan tentang  kerajaan Tarumanagara bahkan kerajaan Pajajaran tidak disebutkan  samasekali. Maka dalam uraian singkat ini kami mencoba menggali lebih  dalam lagi ke masa sebelum adanya Kerajaan Mataram agar tidak ada fakta  sejarah yang diputarbalikan hanya demi sebuah kepentingan segelintir  orang.</p>
<p>Demikian sejarah singkat kota tua Bogor. Tulisan ini  memang hanya menceritakan dari awal sejarah dapat terungkap sampai  dengan hari jadi kota Bogor. Kesalahan serta kurang lengkapnya nama,  tahun dan lokasi kejadian sejarah bukanlah sebuah kesengajaan tapi  semata-mata karena kurang lengkapnya referensi kami.</p>
<p>Silsilah kerajaan di Jawa Barat</p>
<p>KERAJAAN SALAKANAGARA</p>
<p>Masa  pemerintahan kerajaan ini dari tahun 200 SM (menurut catatan sejarah  dari India yang menyebutnya sebagai Java Dwipa) sampai tahun 362 M.  Tokoh awal dari kerajaan ini bernama Aki Tirem. Kerajaan ini  berkedudukan di Teluk Lada Pandeglang namun ada juga yang menyatakan  kerajaan ini berkedudukan di sebelah Barat Kota Bogor di kaki gunung  Salak, konon nama gunung Salak diambil dari kata Salaka.</p>
<p>1. Dewawarman I<br />
2. Dewawarman II<br />
3. Dewawarman III<br />
4. Dewawarman IV<br />
5. Dewawarman V<br />
6. Dewawarman VI<br />
7. Dewawarman VII<br />
8. Dewawarman VIII</p>
<p>KERAJAAN TARUMANAGARA</p>
<p>1. Jayasingawarman (358 – 382) dia adalah menantu dari Dewawarman VIII<br />
2. Dharmayawarman (382 – 395)<br />
3. Purnawarman (395 – 434)<br />
4. Wisnuwarman (434 – 455)<br />
5. Indrawarman (455 – 515)<br />
6. Candrawarman (515 – 535)<br />
7. Suryawarman (535 – 561)<br />
Tahun  526 menantu Suryawarman yang bernama Manikmaya mendirikan kerajaan baru  di wilayah Timur (dekat Nagreg Garut) yang kemudian cicit dari  Manikmaya yang bernama Wretikandayun mendirikan kerajaan baru tahun 612  yang kemudian dikenal dengan nama kerajaan Galuh.<br />
8. Kertawarman (561 – 628)<br />
9. Sudhawarman (628 – 639)<br />
10. Hariwangsawarman (639 – 640)<br />
11. Nagajayawarman (640 – 666)<br />
12. Linggawarman (666 – 669)<br />
Anak  Linggawarman yang bernama Sobakancana menikah dengan Daputahyang  Srijayanasa yang kemudian mendirikan kerajaan Sriwijaya. Anaknya yang  bernama Manasih menikah dengan Tarusbawa yang kemudian melanjutkan  kerajaan Tarumanagara dengan nama kerajaan Sunda. Karena Tarusbawa  merubah nama kerajaan Tarumanagara menjadi kerajaan Sunda maka  Wretikandayun pada tahun 612 menyatakan kerajaan Galuh adalah sebagai  kerajaan yang berdiri sendiri bukan dibawah kekuasaan kerajaan Sunda  walaupun sebenarnya kerajaan-kerajaan itu diperintah oleh garis  keturunan yang sama hanya ibukotanya saja yang berpindah-pindah (Sunda,  Pakuan, Galuh, Kawali, Saunggalah).</p>
<p>KERAJAAN SUNDA/GALUH/SAUNGGALAH/PAKUAN</p>
<p>1. Tarusbawa (670 – 723)<br />
2.  Sanjaya/Harisdarma/Rakeyan Jamri (723 –732) ibu dari Sanjaya adalah  putri Sanaha dari Kalingga sedangkan ayahnya adalah Bratasenawa (raja ke  3 kerajaan Galuh) Sanjaya adalah cicit dari Wretikandayun (kerajaan  Galuh) Sanjaya kemudian menikah dengan anak perempuan Tarusbawa yang  bernama Tejakancana.<br />
3. Rakeyan Panabaran/Tamperan Barmawijaya (732 &#8211;  739) adalah anak Sanjaya dari istrinya Tejakancana. Sanjaya sendiri  sebagai penerus ke 2 kerajaan Sunda kemudian memilih berkedudukan di  Kalingga yang kemudian mendirikan kerajaan Mataram Kuno dan wangsa  Sanjaya (mulai 732)<br />
4. Rakeyan Banga (739 – 766)<br />
5. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766 – 783)<br />
6. Prabu Gilingwesi (783 – 795)<br />
7. Pucukbumi Darmeswara (795 – 819)<br />
8. Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus (819 – 891)<br />
9. Prabu Darmaraksa (891 – 895)<br />
10. Windusakti Prabu Dewageng (895 – 913)<br />
11. Rakeyan Kemuning Gading Prabu Pucukwesi (913 – 916)<br />
12. Rakeyan Jayagiri Prabu Wanayasa (916 – 942)<br />
13. Prabu Resi Atmayadarma Hariwangsa (942 – 954)<br />
14. Limbur Kancana (954 – 964)<br />
15. Prabu Munding Ganawirya (964 – 973)<br />
16. Prabu Jayagiri Rakeyan Wulung Gadung (973 – 989)<br />
17. Prabu Brajawisesa (989 – 1012)<br />
18. Prabu Dewa Sanghyang (1012 – 1019)<br />
19. Prabu Sanghyang Ageng (1019 – 1030)<br />
20.  Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati (1030 – 1042) Ayah Sri Jayabupati  (Sanghyang Ageng) menikah dengan putri dari Sriwijaya (ibu dari Sri  Jayabupati) sedangkan Sri Jayabupati sendiri menikah dengan putri  Dharmawangsa (adik Dewi Laksmi istri dari Airlangga)<br />
21. Raja Sunda XXI<br />
22. Raja Sunda XXII<br />
23. Raja Sunda XXIII<br />
24. Raja Sunda XXIV<br />
25. Prabu Guru Dharmasiksa<br />
26.  Rakeyan Jayadarma, istri Rakeyan Jayadarma adalah Dyah Singamurti/Dyah  Lembu Tal anak dari Mahesa Campaka, Mahesa Campaka adalah anak dari  Mahesa Wongateleng, Mahesa Wongateleng adalah anak dari Ken Arok dan Ken  Dedes dari kerajaan Singasari.<br />
Anak Rakeyan Jayadarma dengan Dyah  Singamurti bernama Sang Nararya Sanggrama Wijaya atau lebih dikenal  dengan nama Raden Wijaya. Karena Jayadarma meninggal di usia muda dan  Dyah Singamurti tidak mau tinggal lebih lama di Pakuan maka pindahlah  Dyah Singamurti dan anaknya Raden Wijaya ke Jawa Timur yang kemudian  Raden Wijaya menjadi Raja Majapahit pertama.<br />
27. Prabu Ragasuci (1297  – 1303) dia adalah adik dari Rakeyan Jayadarma. Istri Ragasuci bernama  Dara Puspa seorang putri dari Kerajaan Melayu. Dara Puspa adalah adik  Dara Kencana (yang menikah dengan Kertanegara dari Singasari).<br />
28. Prabu Citraganda (1303 – 1311)<br />
29. Prabu Lingga Dewata (1311 – 1333)<br />
30. Prabu Ajigunawisesa (1333 – 1340) menantu Prabu Lingga Dewata<br />
31. Prabu Maharaja Lingga Buana (1340 – 1357)<br />
32. Prabu Mangkubumi Suradipati/Prabu Bunisora (1357 – 1371) adik Lingga Buana<br />
33.  Prabu Raja Wastu/Niskala Wastu Kancana (1371 – 1475) anak dari Prabu  Lingga Buana. Istri pertamanya bernama Larasarkati dari Lampung memiliki  anak bernama Sang Haliwungan setelah menjadi Raja Sunda bergelar Prabu  Susuktunggal. Permaisuri keduanya adalah Mayangsari putri sulung Prabu  Mangkubumi Suradipati/Bunisora memiliki anak yang bernama Ningrat  Kancana setelah menjadi Raja Galuh bergelar Prabu Dewaniskala.<br />
Setelah  Prabu Raja Wastu meninggal dunia kerajaan dipecah menjadi 2 dengan hak  serta wewenang yang sama, Prabu Susuktunggal menjadi raja di kerajaan  Sunda sedangkan Prabu Dewaniskala menjadi raja di kerajaan Galuh.<br />
Putra  Prabu Dewaniskala bernama Jayadewata, mula-mula menikah dengan  Ambetkasih putri dari Ki Gedeng Sindangkasih kemudian menikah lagi  dengan Subanglarang (putri Ki Gedeng Tapa yang menjadi raja Singapura)  setelah itu ia menikah lagi dengan Kentringmanik Mayang Sunda, putri  Prabu Susuktunggal.<br />
Pada tahun 1482 Prabu Dewaniskala menyerahkan  kekuasaan kerajaan Galuh kepada puteranya (Jayadewata), demikian pula  dengan Prabu Susuktunggal, ia menyerahkan tahta kerajaan kepada  menantunya (Jayadewata), maka jadilah Jayadewata sebagai penguasa  kerajaan Galuh dan Sunda dengan gelar Sri Baduga Maharaja atau yang  lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi.</p>
<p>KERAJAAN PAJAJARAN</p>
<p>1. Sri Baduga Maharaja/Prabu Siliwangi (1482 – 1521)<br />
Pada masa inilah kerajaan Pajajaran mengalami kemajuan serta kemakmuran.<br />
2. Surawisesa (1521 – 1535)<br />
3. Ratu Dewata (1535 – 1543)<br />
4. Ratu Sakti (1543 – 1551)<br />
5. Raga Mulya (1551 – 1579)<br />
Sekelumit  tentang kisah kerajaan Pajajaran sampai dengan tanggal penetapan hari  jadi kota Bogor telah ditulis dibagian awal dari tulisan ini.</p>
<p>Penutup</p>
<p>Kami  berharap kisah/cerita/fakta sejarah dapat diungkap dengan proporsional  karena selama ini saya dan juga bangsa Indonesia lainnya merasa telah  “tertipu” oleh politik Soeharto yang mengagung-agungkan orang  Jawa/Mataram dengan menyembunyikan fakta sejarah yang sebenarnya hanya  untuk kepentingan politiknya saja. Mengapa tidak pernah disebutkan bahwa  wangsa Sanjaya pendiri Mataram Kuno adalah seorang putra Sunda?  Demikian pula dengan sejarah Majapahit, kenapa tidak pernah pula  disebutkan bahwa Raden Wijaya raja pertama Majapahit adalah seorang  putera Sunda? dan sumpah Palapa-nya Gajahmada, apakah Majapahit pernah  berhasil menguasai Sunda dan Galuh? Jawabannya: tidak pernah. Siapa  sebenarnya Gajahmada? Dimana dia lahir? Siapa nama orangtuanya? Kapan  dia meninggal? Dimana dia dimakamkan? Tidak ada seorangpun yang tahu  pasti, oleh karena itulah maka ada orang yang beranggapan bahwa  Ranggagading dari Pakuan-lah yang selama ini disebut-sebut sebagai  Gajahmada patih kerajaan Majapahit. Mungkin sama seperti tokoh Si  Kabayan, tidak ada yang tahu asal usulnya, jadi siapapun boleh saja  mengatakan bahwa di kampung merekalah adanya makam Kabayan.</p>
<p>Bila  kita bandingkan dengan kerajaan-kerajaan lain di Indonesia, maka  kerajaan Salakanagara di Jawa Barat-lah yang pantas dikatakan sebagai  kerajaan tua, dan dari situlah seharusnya asal muasal sejarah Indonesia  ini diungkapkan dengan benar.</p>
<p>Mudah-mudahan kejadian “penipuan  sejarah” tidak terulang lagi dimasa yang akan datang, terlepas dari  keuntungan politik yang akan diperoleh, walau bagaimananpun juga  masyarakat tentu akan lebih menghargai informasi yang jujur.</p>
<p>Tadinya  saya hanya mencari-cari asal-usul nama jalan di seputaran Dago, yaitu  jalan Purnawarman, Sawunggaling, Mundinglaya, Ciungwanara, Ranggagading,  Ranggamalela, Ranggagempol, Hariangbanga, Geusan Ulun, Adipati  Kertabumi, Dipati Ukur, Suryakancana, Wira Angunangun, Ariajipang, Prabu  Dimuntur, Bahureksa, Wastukancana, Gajah Lumantung, Sulanjana,  Badaksinga, Bagusrangin, Panatayuda, dan Singaperbangsa. Tidak banyak  yang saya dapat dari pencarian Google, juga tidak punya buku referensi  untuk saya dongengkan kembali. Jadi hanya saya tulis asal-usul Sunda  saja, mungkin nanti saya temukan juga dongeng atau pun sejarah tentang  nama-nama jalan di atas.</p>
<p>Disadur, diringkas, dipotong dan  didongengkan kembali oleh saya dari situs catatan sejarah kota Bogor.  Silakan baca langsung sumbernya jika anda berminat membaca lebih detil.</p>
<p>Nama  Sunda mulai digunakan oleh Maharaja Purnawarman dalam tahun 397M untuk  menyebut ibukota kerajaan yang didirikannya, Tarumanagara. Tarusbawa,  penguasa Tarumanagara yang ke-13 ingin mengembalikan keharuman  Tarumanagara yang semakin menurun di purasaba (ibukota) Sundapura. Pada  tahun 670M ia mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda  (selanjutnya punya nama lain yang menunjukkan wilayah/pemerintahan yang  sama seperti Galuh, Kawali, Pakuan atau Pajajaran).</p>
<p>Peristiwa  ini dijadikan alasan oleh Kerajaan Galuh untuk memisahkan negaranya  dari kekuasaan Tarusbawa. Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan  perang saudara, Maharaja Tarusbawa menerima tuntutan Raja Galuh.  Akhirnya kawasan Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu  Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Sungai Citarum sebagai batas  (Cianjur ke Barat wilayah Sunda, Bandung ke Timur wilayah Galuh).</p>
<p>Menurut sejarah kota Ciamis pembagian wilayah Sunda-Galuh adalah sebagai berikut:</p>
<p>Pajajaran berlokasi di Bogor beribukota Pakuan<br />
Galuh Pakuan beribukota di Kawali<br />
Galuh Sindula yang berlokasi di Lakbok dan beribukota Medang Gili<br />
Galuh Rahyang berlokasi di Brebes dengan ibukota Medang Pangramesan<br />
Galuh Kalangon berlokasi di Roban beribukota Medang Pangramesan<br />
Galuh Lalean berlokasi di Cilacap beribukota di Medang Kamulan<br />
Galuh Pataruman berlokasi di Banjarsari beribukota Banjar Pataruman<br />
Galuh Kalingga berlokasi di Bojong beribukota Karangkamulyan<br />
Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung beribukota Bagolo<br />
Galuh Kumara berlokasi di Tegal beribukota di Medangkamulyan<br />
Tarusbawa  bersahabat baik dengan raja Galuh Bratasenawa atau Sena. Purbasora  –yang termasuk cucu pendiri Galuh– melancarkan perebutan tahta Galuh di  tahun 716M karena merasa lebih berhak naik tahta daripada Sena. Sena  melarikan diri ke Kalingga (istri Sena; Sanaha, adalah cucu Maharani  Sima ratu Kalingga).</p>
<p>Sanjaya, anak Sena, ingin menuntut balas  kepada Purbasora. Sanjaya mendapat mandat memimpin Kerajaan Sunda karena  ia adalah menantu Tarusbawa. Galuh yang dipimpin Purbasora diserang  habis-habisan hingga yang selamat hanya satu senapati kerajaan, yaitu  Balangantrang.</p>
<p>Sanjaya yang hanya berniat balas dendam terpaksa  harus naik tahta juga sebagai Raja Galuh, sebagai Raja Sunda ia pun  harus berada di Sundapura. Sunda-Galuh disatukan kembali hingga akhirnya  Galuh diserahkan kepada tangan kanannya yaitu Premana Dikusuma yang  beristri Naganingrum yang memiliki anak bernama Surotama alias Manarah.</p>
<p>Premana  Dikusuma adalah cucu Purbasora, harus tunduk kepada Sanjaya yang  membunuh kakeknya, tapi juga hormat karena Sanjaya disegani, bahkan  disebut rajaresi karena nilai keagamaannya yang kuat dan memiliki sifat  seperti Purnawarman. Premana menikah dengan Dewi Pangreyep –keluarga  kerajaan Sunda– sebagai ikatan politik.</p>
<p>Di tahun 732M Sanjaya  mewarisi tahta Kerajaan Medang dari orang tuanya. Sebelum ia  meninggalkan kawasan Jawa Barat, ia mengatur pembagian kekuasaan antara  putranya, Tamperan dan Resiguru Demunawan. Sunda dan Galuh menjadi  kekuasaan Tamperan, sedangkan Kerajaan Kuningan dan Galunggung  diperintah oleh Resiguru Demunawan.</p>
<p>Premana akhirnya lebih sering  bertapa dan urusan kerajaan dipegang oleh Tamperan yang merupakan ‘mata  dan telinga’ bagi Sanjaya. Tamperan terlibat skandal dengan Pangreyep  hingga lahirlah Banga (dalam cerita rakyat disebut Hariangbanga).  Tamperan menyuruh pembunuh bayaran membunuh Premana yang bertapa yang  akhirnya pembunuh itu dibunuh juga, tapi semuanya tercium oleh  Balangantrang.</p>
<p>Balangantrang dengan Manarah merencanakan balas  dendam. Dalam cerita rakyat Manarah dikenal sebagai Ciung Wanara.  Bersama pasukan Geger Sunten yang dibangun di wilayah Kuningan Manarah  menyerang Galuh dalam semalam, semua ditawan kecuali Banga dibebaskan.  Namun kemudian Banga membebaskan kedua orang tuanya hingga terjadi  pertempuran yang mengakibatkan Tamperan dan Pangreyep tewas serta Banga  kalah menyerah.</p>
<p>Perang saudara tersebut terdengar oleh Sanjaya  yang memimpin Medang atas titah ayahnya. Sanjaya kemudian menyerang  Manarah tapi Manarah sudah bersiap-siap, perang terjadi lagi namun  dilerai oleh Demunawan, dan akhirnya disepakati Galuh diserahkan kepada  Manarah dan Sunda kepada Banga.</p>
<p>Konflik terus terjadi, kehadiran  orang Galuh sebagai Raja Sunda di Pakuan waktu itu belum dapat diterima  secara umum, sama halnya dengan kehadiran Sanjaya dan Tamperan sebagai  orang Sunda di Galuh. Karena konflik tersebut, tiap Raja Sunda yang baru  selalu memperhitungkan tempat kedudukan yang akan dipilihnya menjadi  pusat pemerintahan. Dengan demikian, pusat pemerintahan itu  berpindah-pindah dari barat ke timur dan sebaliknya. Antara tahun 895M  sampai tahun 1311M kawasan Jawa Barat diramaikan sewaktu-waktu oleh  iring-iringan rombongan raja baru yang pindah tempat.</p>
<p>Dari segi  budaya orang Sunda dikenal sebagai orang gunung karena banyak menetap di  kaki gunung dan orang Galuh sebagai orang air. Dari faktor inilah  secara turun temurun dongeng Sakadang Monyet jeung Sakadang Kuya  disampaikan.</p>
<p>Hingga pemerintahan Ragasuci (1297M–1303M) gejala  ibukota mulai bergeser ke arah timur ke Saunggalah hingga sering disebut  Kawali (kuali tempat air). Ragasuci sebenarnya bukan putra mahkota.  Raja sebelumnya, yaitu Jayadarma, beristrikan Dyah Singamurti dari Jawa  Timur dan memiliki putra mahkota Sanggramawijaya, lebih dikenal sebagai  Raden Wijaya, lahir di Pakuan. Jayadarma kemudian wafat tapi istrinya  dan Raden Wijaya tidak ingin tinggal di Pakuan, kembali ke Jawa Timur.</p>
<p>Kelak  Raden Wijaya mendirikan Majapahit yang besar, hingga jaman Hayam Wuruk  dan Gajah Mada mempersatukan seluruh nusantara, kecuali kerajaan Sunda  yang saat itu dipimpin Linggabuana, yang gugur bersama anak gadisnya  Dyah Pitaloka Citraresmi pada perang Bubat tahun 1357M. Sejak peristiwa  Bubat, kerabat keraton Kawali ditabukan berjodoh dengan kerabat keraton  Majapahit.</p>
<p>Menurut Kidung Sundayana, inti kisah Perang Bubat adalah sebagai berikut (dikutip dari JawaPalace):</p>
<p>Tersebut  negara Majapahit dengan raja Hayam Wuruk, putra perkasa kesayangan  seluruh rakyat, konon ceritanya penjelmaan dewa Kama, berbudi luhur,  arif bijaksana, tetapi juga bagaikan singa dalam peperangan. Inilah raja  terbesar di seluruh Jawa bergelar Rajasanagara. Daerah taklukannya  sampai Papua dan menjadi sanjungan empu Prapanca dalam Negarakertagama.  Makmur negaranya, kondang kemana-mana. Namun sang raja belum kawin  rupanya. Mengapa demikian? Ternyata belum dijumpai seorang permaisuri.  Konon ceritanya, ia menginginkan isteri yang bisa dihormati dan dicintai  rakyat dan kebanggaan raja Majapahit. Dalam pencarian seorang calon  permaisuri inilah terdengar khabar putri Sunda nan cantik jelita yang  mengawali dari Kidung Sundayana.</p>
<p>Apakah arti kehormatan dan  keharuman sang raja yang bertumpuk dipundaknya, seluruh Nusantara sujud  di hadapannya. Tetapi engkau satu, jiwanya yang senantiasa menjerit  meminta pada yang kuasa akan kehadiran jodohnya. Terdengarlah khabar  bahwa ada raja Sunda (Kerajaan Kahuripan) yang memiliki putri nan cantik  rupawan dengan nama Diah Pitaloka Citrasemi.</p>
<p>Setelah selesai  musyawarah sang raja Hayam Wuruk mengutus untuk meminang putri Sunda  tersebut melalui perantara yang bernama tuan Anepaken, utusan sang raja  tiba di kerajaan Sunda. Setelah lamaran diterima, direstuilah putrinya  untuk di pinang sang prabu Hayam Wuruk. Ratusan rakyat menghantar sang  putri beserta raja dan punggawa menuju pantai, tapi tiba-tiba dilihatnya  laut berwarna merah bagaikan darah. Ini diartikan tanda-tanda buruk  bahwa diperkirakan putri raja ini tidak akan kembali lagi ke tanah  airnya. Tanda ini tidak dihiraukan, dengan tetap berprasangka baik  kepada raja tanah Jawa yang akan menjadi menantunya.</p>
<p>Sepuluh hari  telah berlalu sampailah di desa Bubat, yaitu tempat penyambutan dari  kerajaan Majapahit bertemu. Semuanya bergembira kecuali Gajahmada, yang  berkeberatan menyambut putri raja Kahuripan tersebut, dimana ia  menganggap putri tersebut akan “dihadiahkan” kepada sang raja. Sedangkan  dari pihak kerajaan Sunda, putri tersebut akan “di pinang” oleh sang  raja. Dalam dialog antara utusan dari kerajaan Sunda dengan patih  Gajahmada, terjadi saling ketersinggungan dan berakibat terjadinya  sesuatu peperangan besar antara keduanya sampai terbunuhnya raja Sunda  dan putri Diah Pitaloka oleh karena bunuh diri. Setelah selesai  pertempuran, datanglah sang Hayam Wuruk yang mendapati calon pinangannya  telah meninggal, sehingga sang raja tak dapat menanggung kepedihan  hatinya, yang tak lama kemudian akhirnya mangkat. Demikian inti Kidung.</p>
<p>Sunda-Galuh  kemudian dipimpin oleh Niskala Wastukancana, turun temurun hingga  beberapa puluh tahun kemudian Kerajaan Sunda mengalami keemasan pada  masa Sri Baduga Maharaja, Sunda-Galuh dalam prasasti disebut sebagai  Pajajaran dan Sri Baduga disebut oleh rakyat sebagai Siliwangi, dan  kembali ibukota pindah ke barat.</p>
<p>Menurut sumber Portugis, di  seluruh kerajaan, Pajajaran memiliki kira-kira 100.000 prajurit. Raja  sendiri memiliki pasukan gajah sebanyak 40 ekor. Di laut, Pajajaran  hanya memiliki 6 buah Jung (kapal laut model Cina) untuk perdagangan  antar-pulaunya (saat itu perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai 4000  ekor/tahun).</p>
<p>Selain tahun 1511 Portugis menguasai Malaka, VOC  masuk Sunda Kalapa, Kerajaan Islam Banten, Cirebon dan Demak semakin  tumbuh membuat kerajaan besar Sunda-Galuh Pajajaran semakin terpuruk  hingga perlahan-lahan pudar, ditambah dengan hubungan dagang  Pajajaran-Portugis dicurigai kerajaan di sekeliling Pajajaran. Stop.</p>
<p>Lanjut!</p>
<p>Setelah  Kerajaan Sunda-Galuh-Pajajaran memudar kerajaan-kerajaan kecil di bawah  kekuasaan Pajajaran mulai bangkit dan berdiri-sendiri, salah satunya  adalah Kerajaan Sumedang Larang (ibukotanya kini menjadi Kota Sumedang).  Kerajaan Sumedang Larang didirikan oleh Prabu Geusan Ulun Adji Putih  atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan  kembali ke Pakuan Pajajaran, Bogor.</p>
<p>Kerajaan Sumedang pada masa  Prabu Geusan Ulun mengalami kemajuan yang pesat di bidang sosial,  budaya, agama (terutama penyebaran Islam), militer dan politik  pemerintahan. Setelah wafat pada tahun 1608, putranya, Pangeran Rangga  Gempol Kusumadinata/Rangga Gempol I atau yang dikenal dengan Raden Aria  Suradiwangsa naik tahta. Namun, pada saat Rangga Gempol memegang  kepemimpinan, pada tahun 1620M Sumedang Larang dijadikan wilayah  kekuasaan Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung, dan statusnya sebagai  ‘kerajaan’ diubah menjadi ‘kabupaten’.</p>
<p>Sultan Agung memberi  perintah kepada Rangga Gempol I beserta pasukannya untuk memimpin  penyerangan ke Sampang, Madura. Sedangkan pemerintahan sementara  diserahkan kepada adiknya, Dipati Rangga Gede. Hingga suatu ketika,  pasukan Kerajan Banten datang menyerbu dan karena setengah kekuatan  militer kabupaten Sumedang Larang diberangkatkan ke Madura atas titah  Sultan Agung, Rangga Gede tidak mampu menahan serangan pasukan Banten  dan akhirnya melarikan diri. Kekalahan ini membuat marah Sultan Agung  sehingga ia menahan Dipati Rangga Gede, dan pemerintahan selanjutnya  diserahkan kepada Dipati Ukur. Sekali lagi, Dipati Ukur diperintahkan  oleh Sultan Agung untuk bersama-sama pasukan Mataram untuk menyerang dan  merebut pertahanan Belanda di Batavia (Jakarta) yang pada akhirnya  menemui kegagalan. Kekalahan pasukan Dipati Ukur ini tidak dilaporkan  segera kepada Sultan Agung, diberitakan bahwa ia kabur dari  pertanggungjawabannya dan akhirnya tertangkap dari persembunyiannya atas  informasi mata-mata Sultan Agung yang berkuasa di wilayah Priangan.</p>
<p>Setelah  habis masa hukumannya, Dipati Rangga Gede diberikan kekuasaan kembali  untuk memerintah di Sumedang, sedangkan wilayah Priangan di luar  Sumedang dan Galuh (Ciamis) dibagi kepada tiga bagian; Pertama,  Kabupaten Bandung, yang dipimpin oleh Tumenggung Wiraangunangun, kedua,  Kabupaten Parakanmuncang oleh Tanubaya dan ketiga, kabupaten Sukapura  yang dipimpin oleh Tumenggung Wiradegdaha atau R. Wirawangsa atau  dikenal dengan “Dalem Sawidak” karena memiliki anak yang sangat banyak.</p>
<p>Selanjutnya  Sultan Agung mengutus Penembahan Galuh bernama R.A.A. Wirasuta yang  bergelar Adipati Panatayuda atau Adipati Kertabumi III (anak Prabu  Dimuntur, keturunan Geusan Ulun) untuk menduduki Rangkas Sumedang  (Sebelah Timur Citarum). Selain itu juga mendirikan benteng pertahanan  di Tanjungpura, Adiarsa, Parakansapi dan Kuta Tandingan. Setelah  mendirikan benteng tersebut Adipati Kertabumi III kemudian kembali ke  Galuh dan wafat. Nama Rangkas Sumedang itu sendiri berubah menjadi  Karawang karena kondisi daerahnya berawa-rawa, karawaan.</p>
<p>Sultan  Agung Mataram kemudian mengangkat putra Adipati Kertabumi III, yakni  Adipati Kertabumi IV menjadi Dalem (Bupati) di Karawang, pada Tahun  1656M. Adipati Kertabumi IV ini juga dikenal sebagai Panembahan  Singaperbangsa atau Eyang Manggung, dengan ibu kota di Udug-udug. Pada  masa pemerintahan R. Anom Wirasuta putra Panembahan Singaperbangsa yang  bergelar R.A.A. Panatayuda I antara Tahun 1679M dan 1721M ibu kota  Karawang dari Udug-udug pindah ke Karawang. Stop.</p>
<p>Jadi nama jalan  Sawunggaling, Mundinglaya, Ranggagading, Ranggamalela, Suryakancana,  Ariajipang, Bahureksa, Gajah Lumantung, Sulanjana, Badaksinga dan  Bagusrangin belum saya temukan dongeng atau sejarahnya, sebagian –kalau  tidak salah ingat– adalah tokoh-tokoh dalam cerita rakyat Lutung  Kasarung.</p>
<p>SUNDA NUSANTARA SEBAGAI INDUK BANGSA</p>
<p>Sunda Nusantara merupakan salah satu sejarah yang sangat perlu kita pelajari dan kita ungkap bersama.<br />
Dengan  sepintas orang dikacaukan dengan nama Sunda Kelapa. Pada dasarnya  walaupun ada kemiripan nama, tetapi mempunyai makna lain. Sunda Kelapa  identik dengan Batavia, Betawi, Jayakarta, Jakarta sebagi Ibu Kota  Negara Kesatuan Negara Republik Indonesia sekarang ini.</p>
<p>Sedangkan  Sunda Nusantara merupakan suatu Negara yang berbentuk Kerajaan dengan  Pemerintahannya berdasarkan Konstitusi Parlementer Demokrasi Sejati  Reformasi Kerakyatan dan Kemakmuran Bangsa Sunda Tanah Air di daratan  Sunda Nusantara.<br />
Wilayah: Sunda Nusantara memiliki wilayah yang  terbentang dari barat sampai timur dari Jawa sampai dengan Papuniginia  (Irian), bentangan dari selatan sampai dengan utara, mulai dari Timor  sampai dengan selat Malaka-Singapura.</p>
<p>[Sisanya dihapus, hanya copy paste dari http://www.mail-archive.com/kisunda@yahoogroups.com/msg04126.html]</p>
<p>Suryakencana  adalah nama seorang putra Pangeran Aria Wiratanudatar (pendiri kota  Cianjur) yang beristrikan seorang putri jin. Pangeran Suryakencana  memiliki dua putra yaitu: Prabu Sakti dan Prabu Siliwangi.<br />
arKawasan  Gunung Gede merupakan tempat bersemayam Pangeran Suryakencana. Beliau  bersama rakyat jin menjadikan alun2 sebagai lumbung padi yang disebut  Leuit Salawe, Salawe Jajar, dan kebun kelapa salawe tangkal, salawe  manggar.</p>
<p>Petilasan singgasana Pangeran Suryakencana berupa sebuah  batu besar berbentuk pelana. Hingga kini, petilasan tersebut masih  berada di tengah alun-alun, dan disebut Batu Dongdang yang dijaga oleh  Embah Layang Gading. Sumber air yang berada ditengah alun-alun, dahulu  merupakan jamban untuk keperluan minum dan mandi.</p>
<p>Di dalam hutan  yang mengitari Alun-alun Surya Kencana ini ada sebuah situs kuburan kuno  tempat bersemayam Prabu Siliwangi. Pada masa pemerintahan Prabu  Siliwangi yang menguasai Jawa Barat, terjadi peperangan melawan  Majapahit. Selain itu Prabu Siliwangi juga harus berperang melawan  Kerajaan Kesultanan Banten. Setelah menderita kekalahan yang sangat  hebat Prabu Siliwangi melarikan diri bersama para pengikutnya ke Gunung  Gede.</p>
<p>Sekitar gunung Gede banyak terdapat petilasan peninggalan  bersejarah yang dianggap sakral oleh sebagian peziarah, seperti  petilasan Pangeran Suryakencana, putri jin dan Prabu Siliwangi. Kawah  Gunung Gede yang terdiri dari, Kawah Ratu, Kawah Lanang, dan Kawah  Wadon, dijaga oleh Embah Kalijaga. Embah Serah adalah penjaga Lawang  Seketeng (pintu jaga) yang terdiri atas dua buah batu besar. Pintu jaga  tersebut berada di Batu Kukus, sebelum lokasi air terjun panas yang  menuju kearah puncak.</p>
<p>Eyang Jayakusumah adalah penjaga Gunung  Sela yang berada disebelah utara puncak Gunung Gede. Sedangkan Eyang  Jayarahmatan dan Embah Kadok menjaga dua buah batu dihalaman parkir  kendaraan wisatawan kawasan cibodas. Batu tersebut pernah dihancurkan,  namun bor mesin tidak mampu menghancurkannya. Dalam kawasan Kebun Raya  Cibodas, terdapat petilasan/ makam Eyang Haji Mintarasa.</p>
<p>Pangeran  Suryakencana menyimpan hartanya dalam sebuah gua lawa/walet yang berada  di sekitar air terjun Cibeureum. Gua tersebut dijaga oleh Embah Dalem  Cikundul. Tepat berada di tengah-tengah air terjun Cibeureum ini  terdapat sebuah batu besar yang konon adalah perwujudan seorang pertapa  sakti yang karena bertapa sangat lama dan tekun sehingga berubah menjadi  batu. Pada hari kiamat nanti barulah ia akan kembali berubah menjadi  manusia.</p>
<p>Hari gini masih ada yang mau memproklamirkan Kerajaan  Sunda Nusantara di Bogor beberapa waktu yang lalu. Bila mereka belajar  sejarah, sudah ada 2 penerus sah dari tahta KERAJAAN SUNDA tempo dulu  yang menjadi raja besar di Jawa Tengah dan Jawa Timur.</p>
<p>Yaitu,  Raja ke 2, SANJAYA / Rakeyan Jamri / Prabu Harisdama (Raja Sunda di  tahun 723 – 732M), yang kemudian menjadi raja di Kerajaan MATARAM  (Hindu) (732 &#8211; 760M), dan 1 lagi, RADEN WIJAYA, penerus sah Kerajaan  Sunda ke – 27, yang lahir di Pakuan, menjadi Raja MAJAPAHIT pertama  (1293 – 1309 M).</p>
<p>SANJAYA / Rakeyan Jamri / Prabu Harisdama (723 – 732M)<br />
Cicit  Wretikandayun, pendiri kerajaan Galuh, ini bernama RAKEYAN JAMRI.  Sebagai penguasa Kerajaan Sunda ia dikenal dengan nama PRABU HARISDARMA  dan kemudian setelah menguasai Kerajaan Galuh ia lebih dikenal dengan  SANJAYA.<br />
Ibu dari Sanjaya adalah SANAHA, cucu Maharani SIMA of KALINGGA / Kerajaan MEDANG.<br />
Ayah  dari Sanjaya adalah Bratasenawa / SENA / SANNA, raja GALUH ke 3, teman  dekat Tarusbawa. Sena di tahun 716 M dikudeta dari tahta GALUH oleh  Purbasora. Purbasora dan Sena adalah saudara satu ibu, tapi lain ayah.<br />
Sebagai  ahli waris Kalingga, SANJAYA kemudian menjadi penguasa Kalingga Utara  yang disebut Bumi MATARAM dalam tahun 732 M. Kekuasaan di Jawa Barat  diserahkannya kepada puteranya dari TEJAKENCANA, TAMPERAN atau RAKEYAN  PANARABAN.</p>
<p>RADEN WIJAYA, Raja MAJAPAHIT pertama (1293 – 1309 M).<br />
Menurut PUSTAKA RAJYARAJYA i BHUMI NUSANTARA parwa II sarga 3:<br />
RAKEYAN  JAYADARMA, anak PRABU DHARMASIKSA (Raja Kerajaan Sunda ke 25), adalah  menantu MAHISA CAMPAKA di Jawa Timur karena ia berjodoh dengan DYAH  SINGAMURTI alias DYAH LEMBU TAL.<br />
Mahisa Campaka adalah anak dari MAHISA WONGATELENG, yang merupakan anak dari KEN ANGROK dan KEN DEDES dari kerajaan SINGHASARI.<br />
Mahisa  Campaka dan Dyah Lembu Tal berputera SANG NARARYA SANGGRAMAWIJAYA atau  lebih dikenal dengan nama RADEN WIJAYA (lahir di PAKUAN). Dengan kata  lain, Raden Wijaya adalah turunan ke 4 dari Ken Angrok, dari pihak ibu.<br />
Karena  RAKEYAN JAYADARMA wafat dalam usia muda, Lembu Tal tidak bersedia  tinggal lebih lama di Pakuan. Akhirnya Raden Wijaya dan ibunya  diantarkan ke Jawa Timur. Dalam BABAD TANAH JAWI, Wijaya disebut pula  JAKA SUSURUH yang kemudian menjadi Raja MAJAPAHIT yang pertama.<br />
Kematian Jayadarma mengosongkan kedudukan putera mahkota karena Wijaya berada di Jawa Timur<br />
Jadi, sebenarnya, RADEN WIJAYA, Raja MAJAPAHIT pertama, adalah penerus sah dari tahta Kerajaan Sunda yang ke-27.</p>
<p>GENEAOLOGY OF THE EMPEROR OF SUNDA NUSANTARA-<br />
THE SUNDA ARCHIPELAGO -SUNDA MAINLAND-<br />
SUNDA PASIFIC-SUNDA MALAY-ASIA MINOR.</p>
<p>130 Yr. AC<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
SERI BADUGA MAHARAJA &#8212;&#8212;-Ibu Kota<br />
PRABU MAHADEWA DEWA WARMAN Kerajaan di<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- Salaka Nagara<br />
I (Ujung Kulon<br />
II Bantan/Banten)<br />
III<br />
IV<br />
!<br />
!<br />
!<br />
_______________________!____________________________<br />
| | ! | | |<br />
(1) (2) (3)VII (4) (5) (6)<br />
NYAI RATU MENDANG ! PRABU PRABU PRABU<br />
RARA KAMOLAN ! MULA- ADITYA- BRAM-<br />
PURBASARI PRABU ! WARMAN WARMAN BANGAN<br />
ATAU SYALENDRA/ !<br />
NYAI RATU (PRABU !<br />
RARA KIDUL BRAWIJAYA) !<br />
!<br />
VIII<br />
!<br />
!<br />
SERI BADUGA MAHARAJA<br />
PRABU<br />
NISKALA WASTU KENCANA<br />
!<br />
!<br />
SERI BADUGA MAHARAJA<br />
PRABU &#8212;&#8211;1467-1474<br />
WANGI ANGGALARANG<br />
(SILIWANGI)<br />
!<br />
!<br />
_____________________!_____________________<br />
| ! |<br />
PANGERAN ! PANGERAN<br />
PRABU ! PRABU<br />
SINGAPORE ! MALAKA<br />
!<br />
!<br />
SERI BADUGA MAHARAJA<br />
DEWA TAPRANA PRABU GURU RATU HAJI<br />
(PRABU SILIWANGI)<br />
(1474-1513)<br />
MENIKAH DENGAN PUTERI SUMBANG KRANCANG<br />
SULTAN MALAKA<br />
!<br />
!<br />
!<br />
NYAI RATU RARA SANTANG<br />
(Al Syarifah Siti Muda&#8217;im)<br />
wafat di Madinah 1528<br />
MENIKAH DENGAN SYARIEF ABDULLAH AL MISRI<br />
(RAJA MESIR)<br />
GE KE XXII<br />
GUSTI RASUL MUHAMMAD SAW<br />
!<br />
!<br />
!<br />
(1513-1552)<br />
KAISAR<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
SUSUHUNAN SYARIEF HIDAYATULLAH AL MISRI<br />
(SUNAN GUNUNG JATI/JATI PURBA)<br />
Ibu kota di Charuban/Cirebon dan<br />
dikenal oleh negara-negara di dunia<br />
MENIKAH<br />
CROWN PRINCE<br />
KANJENG GUSTI RATU PREMBAYUN<br />
(PUTERI TERTUA MAHARAJA/KESULTANAN<br />
DEMAK, EMPEROR SULTAN FATAH<br />
PUTERA TERTUA<br />
dari KERAJAAN MAJAPAHIT:<br />
EMPEROR PRABU BRAWIJAYA V)<br />
!<br />
!<br />
______________________!<br />
| !<br />
PANGERAN !<br />
JAPARA !<br />
WAFAT DI BANTAN !<br />
!<br />
(1552-1570)<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
SUSUHUNAN SYARIEF MAULANA HASANUDIN AL MISRI/<br />
MAULANA SABA KIN-KING<br />
Ibu kota dipindahkan dari Charuban(Cirebon)<br />
ke Taruma Nagara (Sunda Kelapa)<br />
!<br />
!<br />
(1570-1580)<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
SUSUHUNAN SYARIEF MAULANA YUSUF AL MISRI<br />
!<br />
!<br />
(1580-1596)<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
SUSUHUNAN SYARIEF MAULANA MUHAMMAD AL MISRI<br />
!<br />
!<br />
(1596-1640)<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
SUSUHUNAN ABUL MAFACHIR RACHMATULLAH AL MISRI<br />
!<br />
!<br />
(1640-1651)<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
SUSUHUNAN ABUL MA&#8217;ALI ACHMAD RACHMATULLAH AL MISRI/<br />
KYAI AGENG TIRTAYASA<br />
!<br />
!<br />
(1651-1675)<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
KANJENG SULTAN AGUNG ABUL TATGHI ABDUL FATAH AL MISRI/<br />
KAISAR SULTAN WANGI AGENG TIRTAYASA<br />
!<br />
!<br />
(1675-1687)<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
KAISAR SULTAN ABUN NAZAR ABDUL KAHAR AL MISRI<br />
!<br />
!<br />
(1690-1733)<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
KAISAR SULTAN ZAINUL ABIDIN AL MISRI<br />
!<br />
!<br />
(1733-1747)<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
KAISAR SULTAN<br />
ABUL FATAH MUHAMMAD SYAFEI ZAINUL ARIFIN AL MISRI<br />
!<br />
!<br />
(1753-1777)<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
KAISAR SULTAN ZAINUL ASIKIN AL MISRI<br />
!<br />
!<br />
(1777-1802)<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
KAISAR SULTAN MAHA ALI&#8217;OEDDIN AL MISRI<br />
!<br />
!<br />
(1802-1810-1811)<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
KAISAR SULTAN ACHMAD AL MISRI<br />
berkedudukan<br />
di Istana Merdeka,Istana Cipanas,Istana Bogor,<br />
Istana Serosowan Bantan<br />
(Inti sejarah kedatangan<br />
SIR THOMAS STANFORD RAFLLES (France)/1811<br />
1808-1815:<br />
Belanda merupakan bagian dari pendudukan Perancis)<br />
di tipu oleh STANFORD RAFLLES<br />
ditinggal sendirian<br />
di pulau Banda Maluku (Sunda Kecil Sunda Nusantara)<br />
dengan tangan diikat<br />
Wafat : 1840 di Desa Burakan Rembang Jawa Tengah<br />
!<br />
!<br />
!<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
KAISAR SULTAN ABDULAH AL MISRI<br />
berkedudukan di Istana Cipanas, Bogor<br />
wafat 1860<br />
!<br />
!<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
PANGERAN GUNAWAN MARTAKUSUMAH AL MISRI<br />
!<br />
!<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
PANGERAN ABDULLAH HALIM PRAWITA PURNAMA AL MISRI<br />
!<br />
!<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
KAISAR SULTAN<br />
ABUL MAFACHIR MOEHAMMAD HEROENINGRAT SILIWANGI AL MISRI<br />
WAFAT DI BOGOR 12 NOVEMBER 1989<br />
!<br />
!<br />
SERI BADUGA BAGINDA MAHARAJA<br />
KANJENG GUSTI PANGERAN<br />
HADIPATI HARYA RACHMATULLAH HEROENINGRAT<br />
SILIWANGI AL MISRI II/<br />
HIS IMPERIAL MAJESTY SERI PADUKA YANG MAHA MULYA<br />
BAGINDA MAHARAJA MAJESTY KAISER KANGJENG MAHA PAGUSTEN<br />
EMPEROR SULTAN AGUNG MAHA PRABU SYARIEF ABUL MAFACHIR<br />
MOEHAMMAD HEROENINGRAT SILIWANGI AL MISRI II<br />
(lahir di Jakarta 30 september 1963)<br />
Legal Crown of THE Monarchies of the Sovereign<br />
Emperor of the Sovereign Empire of Sunda-Sunda Maindland-<br />
The Sunda-Archipelago or the Sunda-Nusantara-Pasific-<br />
a Greater part of the Pasific-the Mountain-Pasific<br />
in the part of-the Pasific Sunda-Malay-Asia-Minor.<br />
The Empire Parlementer was<br />
Manual Democratie, Basically the Religons and Humanity<br />
************************************<br />
**Ketikan  ini sumbangsih pemerhati sejarah yang perlu di pelajari dan di teliti  lebih dalam akan Sejarah Sunda Nusantara Induk Bangsa (akar sejarah Ibu  pertiwi kita) yang hingga kini belum dapat terselesaikan. Informasi  Sejarah/Silsilah Kerajaan Sunda Nusantara ini di dapat dari dokumen  resmi Al Misri II di Jakarta. Semoga Informasi ini dapat bermanfaat  untuk mengenal lebih jauh akar sejarah ibu pertiwi kita.</p>
<p>Maaf ada yang salah pengetikan dalam silsilah Kerajaan Sunda Nusantara yang seharusnya</p>
<p>130 Yr. AC<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
SERI BADUGA MAHARAJA &#8212;&#8212;-Ibu Kota<br />
PRABU MAHADEWA DEWA WARMAN Kerajaan di<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- Salaka Nagara<br />
I (Ujung Kulon<br />
II Bantan/Banten)<br />
III<br />
IV<br />
V<br />
VI<br />
!<br />
_______________________!____________________________<br />
| | ! | | |<br />
(1) (2) (3)VII (4) (5) (6)<br />
NYAI RATU MENDANG ! PRABU PRABU PRABU<br />
RARA KAMOLAN ! MULA- ADITYA- BRAM-<br />
PURBASARI PRABU ! WARMAN WARMAN BANGAN<br />
ATAU SYALENDRA/ !<br />
NYAI RATU (PRABU !<br />
RARA KIDUL BRAWIJAYA) !<br />
!<br />
VIII<br />
!<br />
!<br />
dst</p>
<p>PERCAYA ATAU TIDAK PERCAYA KERAJAAN SUNDA NUSANTARA ADA YANG TAK LUPUT DARI KUASA TUHAN YANG MAHA ESA (Allah SWT)</p>
<p>Ketikan  ini merupakan sumbangsih pemerhati sejarah dan sebagai sebagian  pembuktian serta pengetahuan yang harus perlu di teliti lebih dalam,  akan keberadaan dari Kerajaan Maharaja Sunda, Benua Sunda, Sunda  Nusantara (atau Sunda Archipelago;Sunda Besar dan Sunda Kecil) Sunda  Pacific, Sunda Malay, Asia Minor dengan mencakup seluruh kesatuan  wilayah Sunda (Teritorrial Integrity), Sunda Territory, Sunda Geography  adalah merupakan bukti atau fakta yang tidak dapat  dibantah/dipungkiri/diubah/disembunyikan/dihilangkan sejak berabad-abad  yang lalu, pada masa sekarang, masa yang akan datang bahkan hingga akhir  zaman sekalipun; kita tak dapat lari dari kenyataan sejarah : WE CANNOT  ESCAPE FROM HISTORY (ABRAHAM LINCOLN)</p>
<p>Informasi ini menunjukkan  sepak terjang seorang Kaisar Kerajaan Sunda Nusantara yang berjuang  untuk meluruskan sejarah dan kemakmuran rakyatnya sebagai amanat Ayahnya  dan para leluhur Kaisar Sunda Nusantara. Keberadaan Kerajaan Sunda  Nusantara sebagai Induk bangsa dan akar sejarah ibu pertiwi kita  semenjak wafatnya Al Misri II keberadaannya tercoreng buruk oleh  sekelompok orang. Keluarga Kerajaan Sunda Nusantara bukan lah orang  tidak berpendidikan yang di beritakan di media masa. Walaupun  keberadaanya tidak di perhatikan oleh Pemerintah RI bahkan kabarnya di  tindas oleh sekelompok orang militan di Curug sekitar tahun 1976. Syukur  Alhamdulilah berkat perjuangan untuk hidup, keturunan Al Misri dan Al  Misri II dapat sekolah di luar negri dan di beberapa Universitas ternama  di Indonesia dan berkerja di berbagai instansi pemerintah. Semenjak  wafatnya Al Misri II pihak keluarga kerajaan bersepakat untuk tidak  melanjutkan perjuangannya karena tidak bisa mengemban amanah yang berat  itu jadi pihak Keluarga bersepakat untuk mengembalikan masalah ini ke  pemerintah Republik Indonesia. Kemunculan berita adanya sebuah  organisasi sunda nusantara merupakan sekelompok orang yang sangat berani  mau mencoba bermain api politik padahal dari pihak keluarga kerajaan  sepakat tidak mempermasalahkan ini kembali semenjak wafatnya Al Misri  II. Ketika pemberitaan munculnya FKMSN saya melihat di Metro TV bahwa  wartawan Metro TV mencoba mencari fakta di balik itu dengan mengunjungi  salah satu keluarga Kerajaan Sunda Nusantara di Jakarta dan di Bogor dan  tanggapan dari salah satu Keluarga Kerajaan yang namanya hampir serupa  dengan nama panjang Al Misri II. Beliau mengatakan Tanya saja kepada  pemerintah RI dan mengenai kemunculan FKMS beliau berkata saya baru tau  itu di TV dan saya tidak pernah bergabung dengan forum itu bahkan tidak  pernah kenal dengan mereka.</p>
<p>Ketikan di bawah ini adalah informasi  keberadaan Kaisar yang telah dipublikasikan di berbabagai surat kabar  nasional maupun internasional seperti yang saya dapat dari Koran Merdeka  dan Inti jaya pada tanggal 4 oktober 1998 dan Inti Jaya 20-26 November  1998 dengan judul Penguasa Mengkhianati Bangsa Sendiri, Datang Seorang  Kaisar, Persatukan Indonesia(Koran Inti Jaya) dan Indonesia Menduduki  Wilayah Kekuasaan Wilayah Saya (Koran Merdeka)</p>
<p>Kekaisaran Sunda  Nusantara yang dulu megah dan termasyur, kini tinggal kenangan dan  puing-puing bangunan. Bangunan indah dan tumpukan puing-puing itu  meninggalkan panorama wisata yang menarik. Karena itu bangunan  kekaisaran tersebut dijadikan objek wisata terpesona . Di tengah krisis  bangsa yang berkepanjangan saat ini, muncul pengakuan seorang laki-laki  berusia 36 tahun sebagai Kaisar Sunda Nusantara asal Bogor, Jawa Barat,  keturunan Prabu Siliwangi yang bergelar Kaisar Maharaja Syarief Abul  Mafachir Muhammad Heroeningrat Al Misri II. Kaisar Al Misri II, pria  setengah baya yang tampak parlente, berwibawa dan mengaku berdarah biru,  kekaisaran Sunda Nusantara terus mengalir dalam denyut nadinya.  Pengakuan laki-laki setengah baya sebagai keturunan kaisar tersebut  terlihat ketika Inti Jaya mencoba mendapatkan silsilah kaisar sampai  pada garis Al Misri II yang berjuang untuk menyelesaikan sengketa  wilayah kekaisaran dengan Indonesia. Kepada Inti Jaya, Al Misri II  mengisahkan panjang lebar bahwa beliau sebagai kaisar Sunda Nusantara  keturunan dari Raja Maharaja Sultan Ahmad (tahun 1810) keturunan dari  Prabu siliwangi dan Brawijaya V Mojopahit. Putra dari almarhum yang  wafat pada usia 85 tahun dan dimakamkan di Curug , Tanggerang tanggal 12  November 1989 di Bogor. Disebutkan gelar yang diembannya hingga kini  adalah Majesty Sri Paduka Yang Mulia Baginda Maharaja Kaisar Kanjeng  Pangusten Emperor Sultan Agung Prabu Syarief abul Mafachir Heroeningrat  Siliwangi Al Misri II.<br />
Saya siap bertanggung jawab bila terjadi  sesuatu di kemudian hari. “katanya dengan suara tegas. Terasa aneh  memang, karena fenomena ini seperti menegaskan kehadiran seorang yang  mengada-ada selama ini, di wilayah Sunda, kekuasaan kerajaan jelas sudah  terkubur sejarah. Tinggal puing-puing, tempat dan bangunan yang tak  lebih dari sekedar obyek wisata. Al Misri II mengaku kemunculannya  kembali, setelah sekian lama menahan diri karena kehidupan politik dan  upaya demoktratisasi di Indonesia tidak banyak menyelesaikan masalah.  Untuk menuju penyelesaian, katanya Indonesia harus menganut sistem  Negara Monarki democrat Parlementer. Dengan sistem ini katanya yang  memerintah adalah seorang Perdana Menteri dan Kaisar sebagai symbol  kesatuan bangsa di Nusantara. Pikiran dan Inspirasi itu muncul dari  sanubari sang kaisar ketika melihat drama sengketa wilayah kekuasaan  Kekaisaran Nusantara dengan Indonesia hingga saat ini.</p>
<p>Bangsa dan  Negara Indonesia saat ini tengah di landa berbagai krisis. Cobaan demi  cobaan bangkit lewat berbagai peristiwa berdarah merengut banyak korban  jiwa. Korban kekerasan selama reformasi menjadi beban bagi bangsa dan  Negara. Mereka gugur ditangan saudaranya sendiri yang berbasiskan  kekerasan oknum-okmun aparat di balik penguasa yang tidak bertanggung  jawab. “Sebaliknya penguasa janganlah mengkhianati bangsa sendiri,  karena nantinya berdampak pada memecah belah suku bangsa. “tegas Al  Misri II, putra mahkota keturunan Prabu Siliwangi terakhir kepada Inti  Jaya, di Jakarta.</p>
<p>Lebih lanjut dikatakannya, bila krisis semakin  memanas, lalu dihadapi dengan kekerasan bahkan terkesan mengandu domba  masyarakat, maka sebaiknya diselesaikan dengan kepala dingin. “Rakyat  kita di masa sebelum reformasi maupun di tengah reformasi tidak pernah  menikmati hidup secara normal. Mereka selalu bertemankan kesulitan,  kesusahan sembako. Karena pemerintah atau siapa saja yang merasa  memiliki kekuatan untuk mengandu domba rakyat dengan uang. “ujarnya.</p>
<p>Menanggapi  adegan politik serta permainan pasar yang menyulitkan ekonomi rakyat  kecil, Al Misri II Kaisar Sunda Nusantara mengatakan, semuanya bermula  dari ulah pemerintah. Karena itu, sebaiknya jangan menyesengkarakan  rakyat yang sudah jatuh tertimpa tangga lagi.</p>
<p>Sebagai bangsa  Sunda Nusantara yang sejarahnya direkayasa Belanda, menurut Al Misri II,  membuat Indonesia saling bermusuhan dan mengotak-kotakan bangsa ini.  “Ini sangat disayangkan karena perlu dijaga kesinambungan. Dengan modal  persatuan dan kesatuan bangsa sangat diharapkan agar bangsa ini tidak  hancur hanya akibat ulah satu orang. “tutur Kaisar Sunda Nusantara itu  tadi. Karena itu lanjutnya, agar bangsa ini tidak hancur, sebaiknya  pemerintah sebagai pemimpin jangan lupa mereformasi diri.</p>
<p>Untuk  membantu mengatasi kesulitan ekonomi bangsa, putra mahkota Keturunan  Syah Prabu siliwangi terakhir, Kaisar Sunda Nusantara Maha Prabu Syarief  Abul Mafachir Moehammad Heroeningrat ( Al Misri II) terus melakukan  negoisasi internasional dengan dunia luar guna mendapatkan dana  memperbaiki kehidupan rakyat. Rakyat bangsa Indonesia sebagai titipan  dari Kerajaan Sunda Nusantara yang kini menjadi Indonesia., Al Misri II,  katanya, punya kewajiban moral yang tinggi guna memperbaiki nasib  bangsanya. Hal itu di tempuhnya sebagai panggilan pengabdian untuk  melanjutkan perjuangannya ayahnya yang telah mempersatukan nusantara  pada abad 16 hingga 18 SM (Sebelum Masehi).</p>
<p>Rakyat di era  reformasi ini katanya, tertindas oleh penguasa baik rezim lama terutama  titipan kekuasaan kepada rezim penerusnya kini “Janganlah melonggarkan  krisis ini sampai berlarut, Karena akan menjadi incaran bangsa lain  untuk bisa menjajah dan menguasai bangsa kita. “Ujarnya.</p>
<p>Hendaknya  krisis bangsa tidak sampai membelah bangsa menjadi bagian-bagian.  Karena Kepulauan Nusantara , katanya, dipersatukan dengan perjuangan  mati-matian oleh para Kaisar dahulu. Al Misri II, yang menentang konsep  Negara federal.</p>
<p>Dikatakan, bila Indonesia yang sudah bersatu,  lalu kemudian dipecah belah hanya kepentingan politik individu, maka  akan sulit untuk dipersatukan. “Sejarah bangsa yang telah dimanipulasi  penguasa zaman pra-reformasi hingga kini harus kembali diluruskan  ,”harapnya.</p>
<p>Berdasarkan dokumen-dokumen tentang Kerajaan Sunda  Nusantara, Al Misri II sebenarnya seseorang laki-laki biasa, bapak dua  anak. Sambil memeperlihatkan dokumen berupa sejumlah catatan yang dibawa  sekretarisnya Al Misri II menegaskan beliau memiliki wilayah kekuasaan  dari tahta Kaisar Maharaja Sunda Nusantara . Dokumen yang dilengkapi  stempel Kerajaan Maharaja Sunda Nusantara, memperlihatkan kekuasaan  Kekaisaran mencakup kepulauan Sunda Besar : Jawa., Sumatra, Kalimantan,  Sulawesi, Papua Guniea (Irian), juga termasuk Sunda Kecil Madura, Bali,  Flores, lombok, Maluku, dan Tmor (Timor Timur). Wilayah itu merupakan  keutuhan dan kedaulatan kekaisaran Maharaja Sunda dari tahun 1810.  Kaisarnya waktu itu Seri Baginda Kaisar Maharaja sultan Achmad yang  ditipu oleh Thomas Stanford Raffles. Ia ditinggalkan sendirian ketika  diajak berburu di pulau Sunda Banda, “jelasnya yakin. Seluruh wilayah  Nusantara, tambahnya , dikuasai Raffles dengan cara menipu , lalu  kekuasaan diberikan pada Williem Herman Daendels tahun 1816. Dalam  perjalanan sejarah, akhirnya seluruh wilayah dikuasai Republik Indonesia  yang merupakan Negara baru karangan Prof Adolf Bastian seorang Jerman  berkewaganegaraan Belanda. Data tersebut oleh Al Misri II di jadikan  sebagai dasar untuk mempermasalahkan kependudukan RI di atas wilayah  kekuasaannya. Tak tanggung-tanggung beliau sudah membawa sengketa  wilayah kekaisaran dengan Indonesia ke Perserikatan Bangsa-Bangsa di New  York dan kasusnya sedang diproses. Lebih lanjut dikatakan baginya,  seluruh wilayah kedaulatan kekaisaran akan diambil alih. Karena semua  itu diambil secara tidak sah menurut hukum internasional dan hukum alam  sejak tahun 1945. Tak hanya itu, Al Misri II meminta pembayaran dari  penghasilan dan pendapatan atas wilayah kesatuan Negara kerajaan Sunda.  Termasuk pengembalian hak milik pribadi keluarga Kerajaan. Serta  menuntut dikembalikannya Istana Merdeka, Istana Bogor, Istana Cipanas,  dan Istana Surosoan Banten milik Kerajaannya</p>
<p>Keberadaan Al Misri  II di jaman Order Baru sangat di takuti keberadaannya. Kerena itu tidak  heran jika beberapa anggota keluarga Al Misri II pernah mendekap di sel  karena di curigai akan berbuat makar. Namun keberadaan mereka diakui  dunia Internasional, maka penahanannya tidak lebih dari 2 hari. Di  tempat yang sama Al Misri II melalui sekretaris pribadinya , Menunjukkan  CD (Corps Diplomatics). Dengan kartu CD yang isinya Simbol, bendera,  keterangan, cap kerajaan, dan tanda tangan kaisar dapat dengan mudah  dalam urusannya ke luar negeri. Karenanya, kata beliau, CD telah diuji  kebenarannya saat dirinya membuat paspor Ke Brunei Darussalam.  Diakuinya, hanya dalam waktu 3 jam semuanya telah selesai. Hal itu tak  lain dari pengakuan hukum-hukum internasional yang mengakui keberadaan  kekaisaran Sunda Nusantara. Al Misri II pernah melayangkan surat kepada  pemerintah RI tahun 1976-1995. Mereka mengirimkan sebuah resolusi pada  Menteri Dalam Negeri, Ketua DPR/MPR. Tanggal 14 April 1993 juga  melayangkan resolusi pada masa Soeharto berkuasa sebagai ketua gerakan  Non Blok, di Istana Merdeka. Belum lama ini, menurutnya sebuah resolusi  juga dikirim kepada Presiden BJ Habibie. Kepada Merdeka surat tersebut  diperlihatkan dan tertera nomor 99. Ed/ Rmaha/ Internat: Resol/Internat  Settl/ South SE Asia, 14 September 1998 Very Imeddiate To Day Top  Secret, dengan tanda terima oleh Mubaro lewat SekNeg. Menyertai surat  tersebut juga diberikan surat untuk DPR/MPR, Menteri Dalam Negeri yang  dilengkapi dengan nomor surat sesuai dengan missi kaisar. Menurutnya  Raja Al Misri II mempunyai hubungan diplomatic dengan kerajaan-kerajaan  di dunia seperti Inggris, Jepang, dan Belanda.<br />
Selain itu Al Misri II  selalu mengutamakan hubungan baik dengan pemerintah RI dengan  berkunjung ke kediaman beberapa Tokoh Nasional dan diplomasi ke beberapa  Negara melalui surat dan kunjungannya. Wallahualam biis sawab.</p>
<p>UNTUK PARA PEMIMPIN,TOKOH, dan<br />
RAKYAT SEBANGSA SETANAH AIR (INDONESIA,sejak 1945-sekarang)</p>
<p>Sumber :<br />
Dokumen dan Nasehat/Pesan langsung sebelum wafatnya<br />
Alm Al-Misri II di Jakarta Sunda (TARUMANEGARA)<br />
(SUNDA KELAPA)<br />
Dari :<br />
Pariban di Jakarta Sunda (TARUMANEGARA) (SUNDA KELAPA)</p>
<p>Bismillahirrohmannirrohiim</p>
<p>REFORMASI/NASEHAT  yang perlu disampaikan, oleh dan dari pimpinan yang tertinggi Kepala  Negara dan Kepala Pemerintahan KERAJAAN MAHARAJA SUNDA-SUNDA NUSANTARA-<br />
SUNDA  ARCHIPELAGO or SUNDA PASIFIC or SUNDA MINDLAND or SUNDA MALAY or ASIA  MINOR (Induk Bangsa dan Akar sejarah bangsa atau Bangsa yang sengaja di  hilangkan Pra Perang Dunia Ke II) :<br />
Alm.SERI BADUGA MAHARAJA KANJENG  GUSTI PANGERAN HADIPATI HARYA RACHMATULLAH HEROENINGRAT SILIWANGI AL  MISRI II atau HIS IMPERIAL MAJESTY SERI PADUKA YANG MAHA MULYA BAGINDA  MAHARAJA MAJESTY KAISER KANGJENG MAHA PAGUSTEN EMPEROR SULTAN AGUNG MAHA  PRABU SYARIEF ABUL MAFACHIR MOEHAMMAD HEROENINGRAT SILIWANGI AL MISRI  (Al Misri II)<br />
Legal Crown of The Monarchies of the Sovereign Emperor  of the Sovereign Empire of Sunda-Sunda Maindland-The Sunda-Archipelago  or the Sunda-Nusantara-Pasific-a Greater part of the Pasific-the  Mountain-Pasific<br />
in the part of-the Pasific Sunda-Malay-Asia-Minor.<br />
The Empire Parlementer was Manual Democratie, Basically the Religons and Humanity</p>
<p>*)Reformasi  di Negeri ini adalah merupakan gaung dari hakikatnya suatu KE-BENAR-AN  yang mutlak. Kebenaran yang tidak akan pernah bisa DI-SALAH-KAN,  disepanjang waktu selama dunia ini masih berputar, dan matahari tetap  terbit, adalah hakikatnya Swara Mahardika yang selama ini TER-KALAH-KAN  oleh sebuah kepentingan Politik dan Kemerdekaan yang hanya sebuah  retorika belaka.<br />
*)Rintangan pasti datang menghadang, cobaan pasti  datang menghujam namun yakinlah bahwa KE-BENAR-AN AKAN TETAP MENANG.  Sebuah Falsafah, yang saya percaya bahwa kita semua sama-sama yakini  yaitu: CEPAT atau LAMBAT KE-BENAR-AN AKAN TETAP MENANG.<br />
*)Situasi dan  kondisi tatanan pemerintahan yang telah kehilangan kepercayaan dari  hampir sebagian Rakyat, serta terpuruknya keadaan Ekonomi Nasional yang  mewujudkan kondisi Dis-integrasi sosial yang kita sama-sama tak dapat  pungkiri bahwa tidak terlepas kemungkinan rentan terhadap Dis-integrasi  Bangsa bisa saja terjadi.<br />
*)Hilangnya JATI DIRI BANGSA (Kebebasan  berbicara dan berpendapat telah menyimpang dari makna sesungguhnya,  sehingga menimbulkan situasi dan kondisi bangsa ini, sepertinya sudah  tidak lagi mengganggap bahwa KONSTITUSI di negeri ini masih ada)<br />
*)Reformasi  bukan untuk merusak kepentingan Rakyat &#8211; Reformasi bukan untuk memecah  belah Persatuan dan Kesatuan Bangsa &#8211; Reformasi bukan untuk kepentingan  golongan &#8211; Reformasi bukan untuk merubah Etika dan Budaya Bangsa &#8211;  Reformasi bukan untuk merubah Idiologi Panca Sila dan Undang &#8211; undang  Dasar ‘45 &#8211; Reformasi bukan untuk memberikan kebebasan negara lain  mencampuri urusan dalam negeri. Akan tetapi Reformasi adalah untuk  MEM-BENAR-KAN KE-BENAR-AN secara total. Melaksanakan keta’atan pada  UUD’45 dengan benar &#8211; Melaksanakan falsafah bangsa dengan benar &#8211; Ber  ETIKA dan Ber BUDAYA yang benar &#8211; Ber BANGSA dan Ber NEGARA yang benar  didalam suatu keta’atan bersama pada tatanan yang tentu saja benar,  sesuai sebagaimana yang dikehendaki reformasi itu sendiri.<br />
*)Hilangnya  stabilitas Politik dan Keamanan &#8211; Hilangnya Kepercayaan Rakyat Banyak –  Hilangnya kekuatan ekonomi bangsa &#8211; Hilangnya Harga diri bangsa (Yang  kelangsungan hidupnya hanya ada tergantung pada bentuk pinjaman dari  negara lain )<br />
*)Telah terjadi Dis Integrasi Sosial<br />
*)KKN (Korupsi  Kolusi Nepotisme) yang TIDAK JELAS kriterianya sehingga meng-kaburkan  makna yang sesungguhnya, dan akan dapat menimbulkan ke simpang siuran  dalam berpendapat…,<br />
*)TANDA TANYA BESAR terhadap diantara kebimbangan  dan kegelisahan yang berkepanjangan terhadap sebuah bayangan Harapan  Hidup yang lebih baik di masa yang akan datang, sebagai rakyat dari  suatu Bangsa yang Merdeka</p>
<p>Kesimpulan :<br />
SEGERA  MENGAMBIL/MENENTUKAN SIKAP APA YANG MESTI DAN HARUS DIPERBUAT UNTUK  KEPENTINGAN BANGSA DAN NEGERI INI SESUAI SEPERTI APA YANG DIKEHENDAKI  OLEH REFORMASI – SIAPA YANG MESTI DAN HARUS BERBUAT ITU – DAN BAGAIMANA  CARANYA TANPA MEMPERTIMBANGKAN KEPENTINGAN INDIVIDU MAUPUN GOLONGAN  DENGAN CATATAN KITA ADALAH SATU NUSA DAN SATU BANGSA DENGAN MEMPELAJARI  MASA LALU APA DAN BAGAIMANA BANGSA DAN NEGARA INI HIDUP BERBANGSA DAN  BERNEGARA DALAM KEJAYAAN DIMATA DUNIA.</p>
<p>Idea/Pendapat :<br />
·)Benarkan  Ke-Benar-an Sejarah Bangsa (Karena didalamnya terkandung suatu hikmah  yang dapat dijadikan pedoman dalam menentukan sikap…berfikir).<br />
”WE CAN NOT ESCAPE FROM HISTORY” (Abraham Lincoln).<br />
·)Kembalikan  segala sesuatu yang hilang dari bangsa dan negeri ini. (Etika dan  Budaya Bangsa – Moral Bangsa – Perjuangan Bangsa – Tanggung Jawab  sebagai Bangsa – Identitas Bangsa dengan segala Budi Pekertinya- Dan  sebagainya.)<br />
·)Kembalikan AGAMA pada tempatnya yang Hak.<br />
·)Wujudkan  secara jernih Persatuan dan Kesatuan Nasional dengan menghargai (Saling  menghargai) Hak Hak Azasi Manusianya secara se-utuhnya (Manusia dari  sebuah bangsa yang memiliki Etika dan Budaya diseluruh Kepulauan  Nusantara dari Sabang hingga Marauke ini)<br />
·)Tentukan sebuah system  untuk Tatanan berbangsa dan bernegara tanpa campur tangan Negara lain  (Hak suatu Bangsa dari sebuah negara yang Merdeka sesuai KAA 1955 di  Bandung, atau pasti ada terdapat dalam International Role of Law, atau  silahkan dicari oleh dan dari Disiplin Ilmu)</p>
<p>TTD<br />
(SERI BADUGA  MAHARAJA KANJENG GUSTI PANGERAN HADIPATI HARYA RACHMATULLAH HEROENINGRAT  SILIWANGI AL MISRI II atau HIS IMPERIAL MAJESTY SERI PADUKA YANG MAHA  MULYA BAGINDA MAHARAJA MAJESTY KAISER KANGJENG MAHA PAGUSTEN EMPEROR  SULTAN AGUNG MAHA PRABU SYARIEF ABUL MAFACHIR MOEHAMMAD HEROENINGRAT  SILIWANGI AL MISRI (Al Misri II)</p>
<p>************************************<br />
NATION<br />
&#8212;&#8212;&#8212;<br />
SUATU KE-BANGSA-AN DARI SEBUAH BANGSA DISUATU<br />
WILAYAH INTERNASIONAL (INTERNATIONAL INTEGRITY)<br />
YANG MERDEKA</p>
<p>KEPULAUAN SUNDA NUSANTARA/SUNDA ARCHIPELAGO<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
!<br />
!<br />
!<br />
!<br />
130 Yr.AC<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
1. SUNDA ARCHIPELAGO or<br />
2. SUNDA MAINDLAND or<br />
3. SUNDA MALAY or<br />
4. SUNDA PACIFIC or<br />
5. ASIA MINOR<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
!<br />
!<br />
!<br />
KEP. SUNDA BESAR<br />
(Malacca-Andalas-Borneo-Celebes-Java-New Guinea (Papua New Guinea))<br />
KEP. SUNDA KECIL<br />
(Molucca-Bali-Lombok-Sumbawa-Sumba-Flores-Timor-(NTB-NTT))<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
!<br />
!<br />
!<br />
BENUA SUNDA<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
!<br />
!<br />
!<br />
!<br />
THE GREATER SUNDA ISLAND<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
!<br />
!<br />
!<br />
INTERNATIONAL TERRITORIAL INTEGRITY<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
!<br />
!<br />
!<br />
!<br />
MAINS NATION/<br />
INDUK BANGSA<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
NATION</p>
<p>Assalamualaikum, Wr Wb<br />
sinareng hurmat,<br />
kahatur  ka sadaya anu ngiring dina iyeu situs, nepangkeun jisim abdi wasta R  Wijaya Kusumah Khodamul ummah Al_ fakir R Wijaya Kusumah, asli sukabumi  jawa_barat, sateacan kuring ngiring nambihan ieu babad, langkung ti  payun kuring ngahaturkeun nuhun ka kang jay nu tos ngiring ngaguar babad  sunda, nu denget ieu masih pabalieut.kanggo tambihan kuring masihan  bongbolong ka sadayana urang sunda, saumpamina peryogi silsilah kerajaan  Padjajaran ti awal dugi ka ayeuna nu masih jumeneng, babadna aya di  cinunuk &#8211; wanaraja &#8211; Garut.<br />
mung perkawis silsilah anu di guar ku  Pariban,kahade ulah di percaya kumargi eta SESAT DAN MENYESATKAN. malih  denget ieu jalmi anu ngaku &#8211; Raja padjajaran, Prabu, titisan Soekarno,  nuju di adili di Pengadilan Negeri cibadak Sukabumi- jawa Barat.<br />
anu katelah KASUS ROMO.<br />
anu  penting ayeunamah yen saha &#8211; saha jalma anu ngaku urang sunda, tareh  Padjajaran kudu silih asih, silih asah, silih asuh, sauyunan. ulah  bangga ku payung butut, namung kudu diteang elmu na para karuhun urang,  kunaon pangna Prabu Jaya DewataPrana dipasihan gelar Prabu Siliwangi,  kunaon pangna prabu Walangsungsang disebut prabu cakrabuana, Gentar  bumi, jeng 47 julukan sanesna, kunaon Prabu Surawisesa disebut Prabu  mundinglaya dikusumah,sadayana dipikaasih, dipika cinta di mumule ku  urang Sunda…?nyaeta ku Elmuna, ku Sifatna, Ku Welas asihna ka sasama  jalma, lain ukur ka Urang Sunda hungkul tapi ka sagala mahluk Hirup.hayu  babarengan teangan Tarekat Wali,sangkan urang jadi jalma nu di  pikaridho ku Allah SWT,mun bisa kakarak urang bisa neruskeun perjuangan  para Karuhun Urang, kakarak didinya bakal nitis ilmuna ( lain Ruh )para  karuhun, kakarak didinya urang bagal menang Layang Salaka Domas nu  dijaga ku Guriang Tujuh ( lain barang tapi Elmu Laduni ). ieu kabeh boal  bisa mun eweh Rohmat Allah SWT.<br />
SIAPKEUN WADAHNA HEULA…KAKARA ISINA NYOCOR SORANGAN KALAYAN IZIN,RIDHO,WIDI GUSTI ALLAH SWT.<br />
Diposkan oleh BLOG@ERYC90&#8242;s di 19:00 0 komentar<br />
Label: OLD CITY&#8217;S<br />
CIKAL BAKAL BOGOR<br />
Tah di dinya, ku andika adegkeun eta dayeuh<br />
laju ngaranan Bogor<br />
sabab bogor teh hartina tunggul kawung<br />
(Di tempat itu, dirikanlah olehmu sebuah kota<br />
lalu beri nama Bogor<br />
sebab bogor itu artinya pokok enau)</p>
<p>Ari tunggul kawung<br />
emang ge euweuh hartina<br />
euweuh soteh ceuk nu teu ngarti<br />
(Pokok enau itu<br />
memang tak ada artinya<br />
terutama,bagi mereka yang tidak paham)</p>
<p>Ari sababna, ngaran mudu Bogor<br />
sabab bogor mah dijieun suluh teu daek hurung<br />
teu melepes tapi ngelun<br />
haseupna teu mahi dipake muput<br />
(Sebabnya harus bernama Bogor?<br />
sebab bogor itu dibuat kayu bakar tak mau menyala<br />
tapitidak padam, terus membara<br />
asapnya tak cukup untuk &#8220;muput&#8221;)</p>
<p>Tapi amun dijieun tetengger<br />
sanggup nungkulan windu<br />
kuat milangan mangsa<br />
(Tapi kalau dijadikan penyangga rumah<br />
mampu melampaui waktu<br />
sanggup melintasi zaman)</p>
<p>Amun kadupak<br />
matak borok nu ngadupakna<br />
moalgeuwat cageur tah inyana<br />
(Kalau tersenggol<br />
bisa membuat koreng yang menyenggolnya<br />
membuat koreng yang lama sembuhnya)</p>
<p>Amun katajong?<br />
mantak bohak nu najongna<br />
moal geuwat waras tah cokorna<br />
(Kalau tertendang?<br />
bisa melukai yang mendangnya<br />
itu kaki akan lama sembuhnya)</p>
<p>Tapi, amun dijieun kekesed?<br />
sing nyaraho<br />
isukan jaga pageto<br />
bakal harudang pating kodongkang<br />
nu ngawarah si calutak<br />
(Tapi, kalau dibuat keset?<br />
Semuanya harus tahu<br />
besok atau lusa<br />
bakal bangkit berkeliaran<br />
menasehati yang tidak sopan)</p>
<p>Tah kitu!<br />
ngaranan ku andika eta dayeuh<br />
Dayeuh Bogor!<br />
(Begitulah<br />
beri nama olehmu itu kota<br />
Kota Bogor)</p>
<p>[Pantun Pa Cilong, "Ngadegna Dayeuh Pajajaran"]</p>
<p>Pantun  di atas menjadi dasar yang paling kuat tentang kenapa nama kota itu  dinamakan &#8220;Bogor&#8221;. Seperti diketahui, sampai saat ini ada empat pendapat  tentang asal nama Bogor :</p>
<p>1. Berasal dari salah ucap orang Sunda untuk &#8220;Buitenzorg&#8221; yaitu nama resmi Bogor pada masa penjajahan Belanda.</p>
<p>2. Berasal dari &#8220;Baghar atau baqar&#8221; yang berarti sapi karena di dalam Kebun Raya ada sebuah patung sapi.</p>
<p>3. Berasal dari kata &#8220;Bokor&#8221; yaitu sejenis bakul logam tanpa alasan yang jelas.</p>
<p>4. Asli bernama Bogor yang artinya &#8220;tunggul kawung&#8221; (enau atau aren).</p>
<p>Pendapat  bahwa Bogor berasal dari &#8220;buitenzorg&#8221; adalah dugaan intelek yang  mengira lidah orang Sunda sedemikian kakunya dengan mengambil  perumpamaan melesetnya &#8220;Batavia&#8221; menjadi &#8220;Batawi&#8221;. Akan tetapi bila kita  perhatikan bagaimana orang Sunda mengucapkan &#8220;sikenhes&#8221; untuk  &#8220;ziekenhuis&#8221; (rumah sakit) atau &#8220;bes&#8221; untuk &#8220;buis&#8221; (pipa) atau &#8220;boreh&#8221;  untuk &#8220;boreg&#8221; (jaminan), maka berdasarkan gejala bahasa tersebut,  seharusnya orang Sunda melafalkan &#8220;buitenzorg&#8221; menjadi &#8220;betensoreh&#8221;.  Jadi dugaan &#8220;buitenzorg&#8221; menjadi Bogor terlalu dikira-kira.</p>
<p>Pendapat  kedua (&#8220;baghar atau baqar&#8221;) berdasarkan kenyataan adanya pengaruh  bahasa Arab di daerah sekitar Pekojan. Orang Sunda akrab dengan bahasa  Arab lewat agama Islam, akan tetapi belum pernah ada bunyi BA dari  bahasa Arab menjadi BO. Selain itu, dugaannya mengandung kelemahan dari  segi urutan waktu. Kata Bogor telah ada sebelum Kebun Raya dibuat,  sedangkan arca sapi itu berasal dari kolam kuno Kotabaru yang  dipindahkan ke dalam Kebun Raya oleh Dr. Frideriech dalam pertengahan  abad 19.</p>
<p>Pendapat ketiga (asal kata &#8220;bokor&#8221;) juga mengandung  kelemahan karena bokor itu sendiri adalah kata Sunda asli yang  keasliannya cukup terjamin. Meskipun demikian, perubahan bunyi &#8220;K&#8221;  menjadi &#8220;G&#8221; tanpa menimbulkan perubahan arti dapat ditemui pada kata  &#8220;kumasep&#8221; dan &#8220;angkeuhan&#8221; yang sering diucapkan menjadi &#8220;gumasep&#8221;  (merasa cakep/centil) dan &#8220;anggeuhan&#8221;(tempat bersandar atau bernaung).  Jadi bisa saja Bogor memang berasal dari Bokor. Akan tetapi, tak ada  seorangpun yang biasa mengartikan &#8220;Bogor&#8221; sama dengan &#8220;bokor&#8221;.</p>
<p>Pendapat  keempat kita temukan dalam pantun Bogor yang sudah disebutkan di awal  tulisan. Dalam lakon itu dikemukakan bahwa kata &#8220;bogor&#8221; berarti &#8220;tunggul  kawung&#8221;. Keadaan yang sama dapat ditemui pada nama tempat &#8220;Tunggilis&#8221;  yang terletak di tepi jalan antara Cileungsi dengan Jonggol. Kata  &#8220;tunggilis&#8221; berarti tunggul atau pokok pinang yang secara kiasan  diartikan menyendiri atau hidup sebatang kara.</p>
<p>Di Jawa Barat  banyak tempat bernama Bogor, seperti yang bisa ditemukan di Sumedang dan  Garut. Demikian pula di Jawa Tengah, sebagaimana dicatat Prof. Veth  dalam buku Java. Dengan demikian memang agak sulit menerima teori  &#8220;buitenzorg&#8221;,&#8221;baghar&#8221; dan &#8220;bokor&#8221;.</p>
<p>Bogor selain berarti tunggul  enau, juga berarti daging pohon kawung yang biasa dijadikan sagu (di  daerah Bekasi). Dalam bahasa Jawa &#8220;Bogor&#8221; berati pohon enau dan kata  kerja &#8220;dibogor&#8221; berarti disadap. Dalam bahasa Jawa Kuno, &#8220;pabogoran&#8221;  berarti kebun enau. Dalam bahasa Sunda umum, menurut Coolsma, &#8220;Bogor&#8221;  berarti &#8220;droogetapte kawoeng&#8221;(pohon enau yang telah habis disadap) atau  &#8220;bladerlooze en taklooze boom&#8221; (pohon yang tak berdaun dan tak  bercabang). Jadi sama dengan pengertian kata &#8220;pugur&#8221; atau &#8220;pogor&#8221;.</p>
<p>Akan  tetapi dalam bahasa Sunda &#8220;muguran&#8221; dengan &#8220;mogoran&#8221; berbeda arti. Yang  pertama dikenakan kepada pohon yang mulai berjatuhan daunnya karena  menua, yang kedua berarti bermalam di rumah wanita dalam makna yang  kurang susila. Pendapat desas-desus bahwa Bogor itu berarti &#8220;pamogoran&#8221;  bisa dianggap terlalu iseng.</p>
<p>Nama Bogor dapat ditemui pada sebuah  dokumen tertanggal 7 April 1752. Dalam dokumen tersebut tercantum nama  Ngabei Raksacandra sebagai &#8220;hoofd van de negorij Bogor&#8221; (kepala kampung  Bogor). Dalam tahun tersebut ibukota Kabupaten Bogor masih berkedudukan  di Tanah Baru. Dua tahun kemudian, Bupati Demang Wiranata mengajukan  permohonan kepada Gubernur Jacob Mossel agar diizinkan mendirikan rumah  tempat tinggal di Sukahati di dekat &#8220;Buitenzorg&#8221;. Kelak karena di depan  rumah Bupati Bogor tersebut terdapat sebuah kolam besar (empang), maka  nama &#8220;Sukahati&#8221; diganti menjadi &#8220;Empang&#8221;.</p>
<p>Pada tahun 1752  tersebut, di Kota Bogor belum ada orang asing, kecuali Belanda. Kebun  Raya sendiri baru didirikan tahun 1817 sehingga teori &#8220;arca sapi&#8221; tidak  dapat diterima sebagai asal-usul nama Bogor. Letak Kampung Bogor yang  awal itu di dalam Kebun Raya. Ada di lokasi tanaman kaktus sekarang.  Adapun pasar yang didirikan di kampung tersebut oleh penduduk disebut  Pasar Bogor. Maka, tak pelak, papan nama &#8220;Pasar Baru Bogor&#8221; yang ada  sekarang sebenarnya agak mengganggu rangkaian historis ini.<br />
Diposkan oleh BLOG@ERYC90&#8242;s di 18:56 0 komentar<br />
Label: BOGOR CIKAL BAKAL<br />
RENUNG<br />
Wawancara Permadi, SH:<br />
Satrio Piningit Akan Muncul</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<br />
Ramalan  kadang diperlukan manusia. Bisa untuk hiburan, sekadar ingin tahu,  menguatkan sugesti, atau juga, untuk kepentingan politik&#8211;meski  kadangkala hasilnya meleset. Salah satu tokoh yang laris ditanya perkara  ramal-meramal, dan kadang hasilnya sedikit ampuh, siapa lagi jika bukan  Permadi, SH., 56 tahun. Tokoh yang gemar berpakaian serba gelap ini  sepertinya tak pernah luput dari incaran pers untuk soal macam begini.  &#8220;Saya tahu pasti pers akan mendatangi saya bila mau akhir tahun,&#8221;  tuturnya pada suatu kesempatan.<br />
Kendati demikian, sarjana hukum  lulusan Universitas Indonesia ini tetap saja mau mengeluarkan  jurus-jurus ramalnya. Dan ketika Hani Pudjiarti dan Bina Bektiati dari  TEMPO Interaktif datang ke rumahnya yang antik dan penuh dengan kicauan  cucakrawa di Kayu Putih, Rawamangun, Jakarta, pada 10 Desember kemarin,  Permadi pun bicara nyaris tanpa henti. Ia lalu menyebut tahun 1997  sebagai tahun ketidak-pastian. Apa pasal? Bagaimana ia mendasarkan  setiap ramalannya? Berikut petikannya.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Bagaimana ramalan Anda tentang situasi dalam negeri pada tahun 1997?</p>
<p>Memprediksikan  Indonesia tidak bisa terlepas dari kondisi makro dunia internasional  dan makro jagad raya yang lebih luas: tata surya kita. Beberapa tahun  terakhir ini, tata surya kita mengalami gangguan. Yaitu terjadi  konjungsi antara planet Saturnus-Neptunus- Bumi. Akibat terlalu lamanya  konjungsi yang diselesaikan pada 1995 kemarin, maka yang diterima bumi  ini sampai 1998, berupa keberingasan alam dan manusia. Ditambah  terjadinya gerhana matahari dan gerhana bulan. Menurut perhitungan Jawa,  bulan ini dan tahun berikutnya akan terjadi tabrakan antara planet  Yupiter dan komet-komet Levistra.<br />
Peristiwa itu akan menyebabkan  terjadinya pengaruh bencana alam yang lama, yakni sejak 1990 sampai 1998  nanti. Dunia akan penuh dengan berbagai gejolak yang ditimbulkan oleh  alam dan manusia. Misalnya: banjir, timbulnya penyakit mewabah ,  keberingasan individu, perkosaaan, perampokan, tawuran, perang lokal dan  internasional. Sejak 1990 kejadian ini sudah dimulai dan berlanjut  sampai 1998. Klimaksnya akan kita temui pada 1997. Hanya saja, tahun  1997 nanti boleh dikata the unpredictable years. Maksudnya, tahun yang  tidak bisa diprediksi keseluruhannya secara ilmiah, baik di bidang  ekonomi, politik, sosial, hankam dan sebagainya. Kalau di Indonesia  sendiri, karena pengaruh konjungsinya belum berakhir sejak 1995 kemarin,  maka sampai 1997 nanti gejala-gejala bumi makin panas.</p>
<p>Kalau begitu, kondisi di seluruh dunia bisa kacau?</p>
<p>Ya.  Karena dunia sudah kacau. Ini ditandai dengan maraknya dunia yang sudah  menimbulkan kerusuhan-kerusuhan seperti pemboman, teroris, pembunuhan  separatis dan sebagainya. Ini tersebar dari Yugoslavia, Afrika, Timur  Tengah dan di Indonesia sendiri. Pokoknya, tidak ada negara yang tidak  ribut. Nah, hari-hari yang semakin mendekati klimaksnya menjelang tahun  1997, sebagai tahun yang sulit diramalkan, maka tak ada satu ilmu pun  termasuk ilmunya Habibe yang mampu menguasai perubahan -perubahan alam  secara tepat.<br />
Mengapa dibilang tahun yang tak bisa diprediksikan secara ilmiah?</p>
<p>Di  sana ada hal-hal yang tak bisa ditebak dan dicegah, seperti hancurnya  bumi oleh komet, mencairnya kutub-kutub es, dan sebagainya. Karena semua  belum ada yang mampu menanggulanginya, sehingga akan terulang lagi  kasus Sodom dan Gomorah, kasus Nabi Nuh. Pokoknya, akan bangkit soal  kesewenangan di lapisan dunia. Di Indonesia juga begitu. Yang salah  dibenarkan dan yang benar disalahkan. Lihat kasus Marsinah, kasus 27  Juli, kasus Udin dan sebagainya. Semuanya dilakukan oleh political  egineering (rekayasa politik) yang dirancang menjadi bermakna negatif.  Rekayasa bahkan menjustifikasi kesalahan menjadi kebenaran. Perlakuan  manusia terhadap manusia ini sudah menimbulkan keprihatinan,dan  penderitaan luar biasa. Mereka menjadi gampang marah, tidak mampu  mengekspresikan kebaikan karena ketakutan yang diterima.<br />
Bisakah sekarang disebut sebagai zaman edan? Contohnya?</p>
<p>Ciri-ciri  zaman edan menurut bait-bait syair Joyoboyo, ya, persis seperti  sekarang. Bait itu mengatakan, bila sistim pemerintahnya, para  penguasanya, bertindak sewenang-wenang , yang di atas menjilat dan  menindas yang di bawah, korupsi merajalela, rakyat kecil hanya bisa  menangis, moral akan rusak, maka menunjukkan ke arah sana. Semua ini  sebenarnya sudah tergambar pada seribu tahun lalu, yang menyebutkan,  besok tumakaning (kalau sudah sampai, Red) zaman edan. Akan banyak anak  tanpa bapak, orang laki-laki jadi perempuan, dan orang perempuan menjadi  laki-laki, laki-laki kehilangan keperwiraannya, orang perempuan  kehilangan rasa malunya. Akan terjadi perkosaan, pembunuhan, dan  sebagainya.<br />
Kalau Pak Harto, akan menjadi Presiden lagi atau tidak?</p>
<p>Kalau menurut prediksi saya, tidak.<br />
Bahkan tidak akan menyelesaikan tahun ini?</p>
<p>Ya.<br />
Mengapa tidak menyelesaikan?</p>
<p>Karena  saya yakin bila Pak Harto harus mundur, itu mungkin. Jika dilihat  usianya, bisa saja sakit. Arahnya ke ketidakmampuan beliau seperti Deng  Xoping, atau Kim Il Sung yang meninggal dan putra mahkotanya belum tentu  mempunyai potensi yang sama. Seperti juga Yeltsin (yang terserang  jantung) dan sebagainya. Semua muncul karena hukum alam dan hukum  manusia saling memperebutkan kue yang sudah mulai bisa diperebutkan dan  penjaganya mulai lengah.<br />
Bila Pak Harto tidak mampu menyelesaikan jabatannya ini, apa yang akan terjadi?</p>
<p>Saya  kembalikan ke Joyoboyo. Karena, ramalan itu mengatakan: kalau puncak  zaman edan sudah dicapai, yang terjadi, penyelesaiannya, adalah  goro-goro. Gejolak sosial pakemnya Joyoboyo.<br />
Apakah tahun depan kerusuhan antar agama akan terjadi?</p>
<p>Sebagai  tahun yang sulit diduga, hal-hal itu akan mewarnai tidak hanya di  Indonesia, tetapi seluruh dunia. Contoh, dengan dijatuhkanya Benazir  Bhutto di Pakistan, tidak akan membuat ketenangan, karena dalam satu  tahun mendatang akan diteruskan dengan pergolakan-pergolakan. India  bergejolak, juga di Myanmar, dan sebagainya. Setelah keluar dari  penjara, pernah saya katakan akan terjadi perang besar di Timur Tengah.  Orang-orang mentertawakan saya, karena yang terjadi justru perdamaian  antara Israel dengan Palestina. Tapi kalau mau jujur, dibalik perdamaian  itulah awal dari peperangan akan datang. Ini dimulai dengan pembunuhan  para juru damai oleh rakyatnya sendiri seperti Anwar Sadat, Yitzhak  Rabin, Simon Peres. Hal-hal yang tidak terduga ini akan memungkinkan  terjadinya perang agama, perang politik, dan akibatnya pun sampai ke  Indonesia.<br />
Adakah cara untuk mencegahnya?</p>
<p>Tidak ada. Karena  seperti yang difirmankan Tuhan: pada zaman Nabi Muhammad akan Kuturunkan  seorang penyelamat yang akan menghancurkan jahiliyah, begitu juga zaman  Musa, Fir&#8217;aun, Nabi Nuh, dan zaman Kristus. Jadi sesungguhnya sudah  diberitahukan di Indonesia akan menyaksikan munculnya Ratu Adil atau  Satrio Pingitan. Jongko Joyoboyo sudah menyebutkan bahwa masyarakat  Indonesia ini suatu saat akan mempunyai pemimpin yang adil, mau  memakmurkan rakyatnya. Mitos-mitos ini banyak sekali diungkap dari mitos  Joyoboyo atau sebagai mitosnya kebangkitan kembali Majapahit dan mitos  Notonegoro.<br />
Apa isi penting mitos Notonegoro?</p>
<p>Umumnya  mempunyai penafsiran cukup luas dan bisa kita analisa secara politik.  Maksudnya, bahwa pemimpin Indonesia nama belakangnya Notonegoro. Yang  pertama no kebetulan Soekarno, kedua to &#8211; Soeharto. Orang lalu tercekam  yang ketiga lalu pakai no. Tetapi ada juga jongko-jongko mengatakan  Indonesia sebelum masyarakat adil dan makmur ini cuma punya tiga  pemimpin yang disebut Satrio Kinengjoro (satria yang dipenjara, Red),  Mukti Wibowo (baik dan berwibawa, Red) dan Satrio Piningit. Kebetulan  Satrio Kinengjoronya sudah Bung Karno yang selama hidupnya banyak  dipenjara. Dan Satrio Mukti Wibowonya Pak Harto yang kaya raya. Sekarang  tinggal menunggu Satrio Piningit ya kebetulan tinggal pakai suku kata  Negoro. Orangnya apakah Wardiman Djojonegoro, Mochtar Djojonegoro, atau  siapa pun.<br />
Kemudian, sekarang, faktor no ketiga ini siapa yang  berfungsi menimbulkan goro-goro apakah Tri Sutrisno, Moerdiono, atau  Hartono? Kalau Hartono mempunyai potensi untuk no yang ketiga. Sebelum  Hartono muncul, saya sudah ngomong, bahwa yang akan menjadi Satrio  Piningit ini adalah gabungan dari Soekarno dan Soeharto. Apakah  karakternya atau namanya. Lah, kebetulan kok Hartono ini mempunyai  gabungan dari Harto dan Soekarno. Dilihat dari hari lahirnya pun sangat  berpotensi. Soekarno lahir 6 juni 1901. Soeharto lahir 8 juni 1921. Dan,  Hartono lahir 10 juni 1941. Ya urutanya klop. 6, 8 ,10 serta 01, 21,  41. Jadi, dia berpotensi untuk menjadi no ketiga yang menimbulkan  goro-goro, baru muncul Satrio Piningit. Ini teori spritual saya sebagai  wong jowo yang ngotak ngatik kathuk (sekadar mencocok-cocokan saja, Red)</p>
<p>Menurut Anda, siapa Satrio Piningit itu?</p>
<p>Ya,  kalau namanya diketahui bukan Satrio Piningit. Yang jelas sekarang  banyak orang merasanya begitu. Sebut saja Habibie &#8212; Harmoko pun begitu.  Bahkan, Sri Bintang Pamukas pun sama. Saya beri contoh, antara Soekarno  dan Soeharto adalah setengah piningit. Soekarno, kemunculanya sudah  diketahui orang sejak dia muda. Cokro Aminoto, Agus Salim dan  tokoh-tokoh pergerakan lainnya sudah paham bila anak muda inilah yang  akan menjadi pemimpin. Jadi, kemunculannya sudah diketahui. Tapi, soal  tindak tanduknya tidak dapat diketahui. Tiba-tiba keluar dari PBB, bikin  Ganevo, dan sebagainya.<br />
Sebaliknya, Soeharto, kemunculannya tidak  diketahui dan ndak (ada yang) ngira Pak Harto bisa jadi presiden  berhadapan dengan A. Yani, Juanda dan Chairul Saleh. Tetapi, tindakannya  semua orang sudah pada tahu, pidatonya mesti begini. Jadi, diapun  setengah piningit. Nah yang nanti munculnya tidak diketahui dan  tindakanya pun tidak diketahui. Kelak dialah yang akan membesarkan  Indonesia tetapi juga akan memakai ajaran Soekarno untuk kebesaran  bangsa dan keyakinan Sukarno untuk menjadikan Indonesia sebagai  mercusuar dunia. Kelak dunia ini akan hancur, tetapi Indonesia sudah  konsolidasi terlebih dahulu dengan Satrio Piningit yang akan  menjadikannya negara besar Nusantara seperti mitosnya masyarakat Jawa.</p>
<p>Kalau menurut jongko Joyoboyo, siapa itu Satrio Piningit?</p>
<p>Satrio  Piningit itu adalah seorang yang masih berdarah Majapahit. Sebab,  kemunculannya berkaitan dengan munculnya kembali kebangkitan Majapahit  setelah 500 tahun lalu. Dan kemudian orang banyak yang mengaku-aku  dirinya Satrio Piningit . Tetapi dikatakan dalam jongko Joyoboyo, Satrio  Piningit ini adalah seorang Majapahit yang berilmu untuk keadilan dan  kebenaran orang banyak. Sehingga, disebut Ratu Adil. Dalam perjalan  hidupnya, ia sering mengalami kesengsaraan, selalu dipermalukan, sering  kesapar ( bernasib malang dan susah, Red), kesandung. Makanya, dia  mendapat predikat Satrio Wiragung (ksatria yang agung, Red). Karena  hidupnya dipermalukan terus oleh masyarakat, maka dia mempunyai kekuatan  seperti nabi. Jadi, dirinya sudah ada, mungkin sudah membaur. Karena  waktunya sangat dekat, saya ndak tahu . Sebab kalau saya tahu sudah  bukan Satrio Piningit lagi.<br />
Kemunculan Ratu Adil akan ditandai dengan meletusnya gunung Karakatau?</p>
<p>Memang  didalam jongko Joyoboyo disebutkan gunung-gunung akan meletus nanti.  Seperti, Krakatau, Slamet, dan terakhir gunung Merapi. Yang aneh, dalam  jongko Joyoboyo tersebut, disebutkan laharnya akan ke kota Yogya.  Padahal, selama ini hanya menuju Magelang. Pada tahun 1994 itu laharnya  memang mulai ke kota Yogya, tapi hanya sedikit. Ini semua seperti yang  sudah diramalkan 1000 tahun yang lalu sebagai akhir dari segala puncak  zaman edan.<br />
Kembali ke Pak Harto. Bila beliau tidak dapat  menyelesaikanya akhir jabatan nya pada tahun 1998, apakah akan ada  periode yang meminta banyak korban ?</p>
<p>Ya. Kalau referensi saya  kembali ke Joyoboyo, ya, memang itu yang akan terjadi goro-goro itu. Dan  ini memang tahap milenium ketiga yang memungkinkan selama tiga tahun  sejak 1995 sebagai masa transisi kita. Yang jelas penghancuran itu bukan  hanya di Indonesia tetapi juga diseluruh dunia oleh alam.<br />
Apakah Satrio Piningit itu laki-laki?</p>
<p>Belum  tentu. Seperti yang saya katakan tadi, Indonesia itu meluhurkan wanita  sejak dulu. Wanita yang menjadi pemimpin tidak sedikit. Paling tidak,  sergaraning nyowo( belahan jiwa, Bed) bisa dilihat dari Ken Dedes, Tri  Buawana Tunggal Dewi, Ratu Kalinyamat, dan sebagainya. Mereka sangat  hebat dan bagus. Contoh lain, Sultan Hamengkubuwono IX terikat pada ratu  Kidul. Sukarno pun mengatakan keterikatannya pada wanita Inggit yang  mendampinginya sampai ke gerbang kemerdekaan. Tidak sedikit pula wanita  yang jadi raja, jadi panglima perang, seperti Nyi Ageng Serang, Dewi  Sartika, Kartini, Cut Nya&#8217; Dhien, dan sebagainya.<br />
Kalau memang abad  milenium ketiga ini dimulai dengan abad Aquarius memang menguntungkan  wanita. Nggak heran melihat kemunculan Indira Gandhi, Margareth Teacher,  nyonya Clinton, Aung San Suu Kyi, sampai Megawati. Jadi bisa dikatakan  arah ke depan sebagai ladies&#8217; years.</p>
<p>Menurut Anda, Megawati mampu jadi pemimpin ?</p>
<p>Setiap  pemimpin Indonesia secara pribadi kualifikasi tidak ada yang mampu,  kecuali, Bung Karno. Kalau Bung Karno itu sudah sampai saya  mengkultuskannya karena sudah seperti dewa. Dia mempunyai pemahaman  segala macam. Megawati, Tutut, Hartono, mereka pun masih begitu sempit  soal pandangannya. Tetapi memang pemimpin Indonesia mempunyai suatu  keistimewaan karena rakyat Indonesia yakin dia menerima wahyu.<br />
Jadi,  sekalipun Megawati itu secara kualifikasi individunya tidak mampu,  tetapi kalau nanti dia terpilih, maka, akan didampingi konsep orang Jawa  sebagai pemimpin yang dekat dengan para leluhurnya. Seperti halnya Bung  Karno: mengapa bisa besar &#8211; karena diyakini oleh Gajah Mada yang mampu  mempersatukan Indonesia ber-Bhineka Tunggal Ika beribu pulau, beribu  etnis disatukan pada Sumpah Palapanya. Lalu, Pak Harto yang didampingi  para leluhur tertentu sehingga mampu bertahan didalam segala guncangan.</p>
<p>Jejak Misteri Prabu Joyoboyo Di Kediri</p>
<p>Ramalan  Joyoboyo oleh sebagian masyarakat Jawa hingga kini masih dipercayai.  Isinya termasuk pergulatan sosial-politik di Tanah Jawa rentang masa  lalu hingga kekinian. Sejumlah tokoh politik sering datang ke  petilasannya. Ada yang menyelenggarakan kirab pusaka. Maklum, ada  ramalan siapa presiden hasil Pemilu nanti.</p>
<p>Petilasan Raja Kadiri  Prabu Sri Aji Joyoboyo di Desa Menang Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri  masih ‘dipuja-puja’ oleh sekalangan orang. Di lokasi itulah diyakini  sebagai tempat Prabu Joyoboyo melakukan moksa (jasadnya menghilang).</p>
<p>Prabu  Joyoboyo dikenal sebagai raja Kadiri tersohor yang bertahta sekitar  abad X. Berarti, pada masa sebelum Kerajaan Singosari di Malang maupun  Majapahit di Mojokerto berdiri.</p>
<p>Raja ini juga terkenal dengan  ramalannya yang populer, yakni buku primbon Ramalan Joyoboyo. Isi buku  ramalan itu, di antaranya, mengenai pergulatan sosial-politik yang akan  terjadi di Tanah Jawa rentang masa lalu hingga kekinian. Sebagian  masyarakat Jawa hingga kini masih mempercayai ramalan tersebut.</p>
<p>Sebagai  tempat yang disakralkan, petilasan Prabu Joyoboyo menjadi daya tarik  tersendiri bagi wisatawan lokal. Apalagi yang tertarik dengan dunia  mistik dan supranatural.</p>
<p>Tidak mengherankan, kalau petilasan  Prabu Joyoboyo tak pernah sepi dari pengunjung. Terlebih-lebih lagi  setiap malam Jumat Legi, pendopo hingga pelataran bangunan selalu  dipadati orang-orang dari berbagai tempat.</p>
<p>Pengunjung tidak hanya  dari sekitar Kediri saja, bahkan rombongan-rombongan dari Bali juga  banyak yang datang ke sana. Konon, Empu Baradah yang hidup pada masa  Prabu Joyoboyo, juga berasal dari Bali.</p>
<p>Wisatawan ada yang datang  sekadar untuk melihat-lihat suasana saja. Tetapi, tidak sedikit pula  yang berniat lain. Misalnya, agar mendapat keselamatan dan ketenangan  hati, dimudahkan jalan rejeki, mudah mendapat jodoh, pangkat dan  sebagainya.</p>
<p>Minggu tadi, saya berkunjung ke tempat itu untuk  melihat lebih dekat. Saya berangkat pagi dari Surabaya mengendarai  sepeda motor melewati Kota Mojokerto dan Jombang.</p>
<p>Jarak Surabaya &#8211;  Kediri sekitar 100 kilometer. Supaya perjalanan lebih cepat, saya  mengambil jalan pintas. Selepas dari Kota Jombang, lalu saya menerobos  lewat jalan perdesaan di Kecamatan Plemahan dan Kecamatan Pagu.</p>
<p>Walaupun  jalan ini melalui desa-desa, tetapi kondisinya cukup bagus. Kondisi  jalan datar, lurus dan beraspal mulus. Di kanan kiri merupakan tanah  pertanian dengan tanaman padi, tebu dan hortikultura.</p>
<p>Bagi yang  belum pernah ke sana, sebaiknya melewati jalan yang dilalui kendaraan  umum saja. Dari Surabaya langsung naik bus jurusan Kediri. Tiketnya cuma  cuma Rp7.000-an. Baru setelah tiba di Kediri, ganti kendaraan yang  lebih kecil.</p>
<p>Tepat tengah hari saya tiba di Desa Menang. Ternyata  benar, tempat ini tak sepi dari orang. Ketika saya tiba tengah hari  serombongan orang sudah ada di sana. Kata seorang penjaga, baru saja ada  satu tokoh politik dari Jakarta berkunjung ke sana.</p>
<p>Belum lama  ini, di petilasan ini juga diselenggarakan kirab pusaka yang dihadiri  mantan presiden Abdurahman Wahid (Gur Dur) dan raja dari tujuh kerajaan  di nusantara.</p>
<p>&#8220;Sekarang belum seberapa banyak. Nanti kalau  tanggal 1 Syuro di sini padat sekali. Silakan datang, akan digelar satu  acara,&#8221; ujar Amat Kandari, juru kunci petilasan.</p>
<p>Acara ritual  selalu diadakan setiap tanggal 1 Syuro dalam penanggalan Jawa oleh  kerabat keraton dari Solo. Ini merupakan acara paling besar.</p>
<p>Setelah  mendapat penjelasan sejenak dari juru kunci, saya kemudian mengambil  beberapa foto. Tetapi, baru beberapa jepretan, buru-buru ada seseorang  memperingatkan agar minta izin lebih dulu kepada penunggu petilasan.  Konon, penggambilan gambar tanpa seizin sering menemui kegagalan.</p>
<p>Petilasan  Prabu Joyoboyo sendiri, hanyalah batu dikelilingi bangunan beton dan  pagar keliling di pinggiran Desa Menang. Bangunan itu didirikan tahun  1970-an. Sebelumnya, petilasan itu hanya merupakan batu dan pepohonon.</p>
<p>Cerita-cerita  dibalut mistik masih cukup kuat menyertai di seputar petilasan ini.  Ketika saya masuk di kompleks petilasan, beberapa orang sudah ada di  sana.</p>
<p>Sebagian duduk-duduk mendengarkan penjelasan juru kunci  tentang buku Ramalan Joyoboyo. &#8220;Menurut buku ramalan Joyoboyo, presiden  mendatang adalah orang yang papa. Artinya, ditingal kedua orangtuanya  sejak kecil. Siapa itu, silakan cari sendiri,&#8221; ujar juru kunci tadi.</p>
<p>Pengunjung  yang baru tiba, biasanya ditanya juru kunci apa maksud kedatangannya.  Bagi pengunjung yang ingin melakukan hajat, akan diantar juru kunci  hingga masuk ke petilasan untuk melakukan ritual tertentu.</p>
<p>Tetapi,  kalau hanya sekadar berkunjung, hanya diizinkan melihat petilasan dari  celah-celah beton. Di dalam pagar kompleks berdiri beberapa pohon besar  yang bisa menyejukkan suasana.</p>
<p>Di komplek ini sebenarnya masih  terdapat beberapa tempat yang diyakini sakral. Dua meter sebelah timur  dari petilasan diyakini sebagai tempat Prabu Joyoboyo meletakan pakaian  sebelum moksa. Lokasi ini disebut tempat tukar busana.</p>
<p>Duapuluh  meter sebelah utara petilasan, terdapat bangunan mirip mahkota. Di  tempat itulah diyakini dahulu digunakan sebagai tempat meletakkan  mahkota raja.</p>
<p>Tidak jauh dari tempat ini, ada satu lokasi lagi  yang dianggap sakral. Yakni, petilasan Resi Mayangkoro. Dari petilasan  mahkota raja, kira-kira hanya 100 meter di sebelah timur.palopo  abdurahman</p>
<p>&#8220;JONGKO JOYO BOYO&#8221;<br />
==Ronggowarsito==</p>
<p>Iki sing dadi tandane zaman kolobendu (Ini yang menjadi tanda zaman<br />
kehancuran)<br />
1. Lindu ping pitu sedino (Gempa bumi 7 x sehari)<br />
2. Lemah bengkah (Tanah pecah merekah)<br />
3. Manungsa pating galuruh, akeh kang nandang lara (Manusia<br />
berguguran, banyak yang ditimpa sakit)<br />
4. Pagebluk rupo-rupo (Bencana bermacam-macam)<br />
5. Mung setitik sing mari akeh-akehe pada mati (Hanya sedikit<br />
yang sembuh, kebanyakan meninggal)<br />
Zaman kalabendu iku wiwit yen, (Zaman ini ditandai dengan)<br />
1. Wis ana kreto mlaku tampo jaran (Sudah ada kereta yang<br />
berjalan tanpa kuda)<br />
2. Tanah jawa kalungan wesi (Tanah Jawa dikelilingi besi (mungkin<br />
maksudnya Rel kereta kali ya :Red))<br />
3. Prau mlaku ing nduwur awang-awang (Perahu berjalan di atas<br />
awan melayang layang)<br />
4. Kali ilang kedunge (Sungai kehilangan danaunya)<br />
5. Pasar ilang kumandange (Pasar kehilangan keramaianya)<br />
6. Wong nemoni wolak-walik ing zaman (Manusia menemukan jaman<br />
yang terbolak-balik)<br />
7. Jaran doyan sambel (Kuda doyan makan sambal)<br />
8. Wong wadon menganggo lanang (Orang perempuan mempergunakan<br />
busana laki-laki)<br />
Zaman kalabendu iku koyo-koyo zaman kasukan, zaman kanikmatan donya,<br />
nanging zaman iku sabenere zaman ajur lan bubrahing donya. (Zaman<br />
kalabendu itu seperti jaman yang menyenangkan, jaman kenikmatan dunia,<br />
tetapi jaman itu sebenarnya jaman kehancuran dan berantakannya dunia)<br />
1. Mulane akeh bapak lali anak (Oleh sebab itu banyak bapak<br />
lupa sama anaknya)<br />
2. Akeh anak wani ngalawan ibu lan nantang bapak (Banyak anak<br />
yang berani melawan ibu dan menantang bapaknya)<br />
3. Sedulur pada cidro cinidro (Sesama saudara saling<br />
berkelahi)<br />
4. Wong wadon ilang kawirangane, wong lanang ilang kaprawirane<br />
(Perempuan kehilangan rasa malunya, Laki-laki kehilangan rasa<br />
kejantanannya)<br />
5. Akeh wong lanang ora duwe bojo (Banyak Laki laki tidak<br />
punya istri)<br />
6. Akeh wong wadon ora setia karo bojone (Banyak perempuan<br />
yang tidak setia pada suaminya)<br />
7. Akeh ibu pada ngedol anake (Banyak ibu yang menjual<br />
anaknya)<br />
8. Akeh wong wadon ngedol awakke (Banyak perempuan yang<br />
menjual dirinya)<br />
9. Akeh wong ijol bojo (Banyak orang yang tukar menukar<br />
pasangan)<br />
10. Akeh udan salah mongso (Sering terjadi hujan salah musim)<br />
11. Akeh prawan tuwo (Banyak Perawan Tua)<br />
12. Akeh rondo ngalairake anak (Banyak janda yang melahirkan<br />
anak)<br />
13. Akeh jabang bayi nggoleki bapake (Banyak bayi yang lahir<br />
tanpa bapak)<br />
14. Wong wodan ngalamar wong lanang (Perempuan melamar<br />
laki-laki)<br />
15. Wong lanang ngasorake, drajate dewe (Laki-laki<br />
merendahkan derajatnya sendiri)<br />
16. Akeh bocah kowar (Banyak anak lahir di luar nikah)<br />
17. Rondo murah regane (Janda murah harganya)<br />
18. Rondo ajine mung sak sen loro (Janda nilainya hanya satu<br />
sen untuk dua)<br />
19. Prawan rong sen loro (Perawan nilainya dua sen untuk dua)<br />
20. Dudo pincang payu sangang wong (Duda berharga 9 orang)<br />
Zamane zaman edan ( Zamannya Zaman Gila/Sinting)<br />
1. Wong wadon nunggang jaran (Perempuan menunggang Kuda)<br />
2. Wong lanang lungguh plengki (Laki-laki berpangku tangan)<br />
3. Wong bener tenger-tenger (Orang yang benar cuma bisa<br />
bengong)<br />
4. Wong salah bungah-bungah (Orang yang melakukan kesalahan<br />
berpesta pora)<br />
5. Wong apik ditapik-tampik (Orang Baik disingkirkan)<br />
6. Wong bejat munggah pangkat (Orang Yang kelakuannya bejat<br />
malah naik pangkat)<br />
7. Akeh ndandhang diunekake kuntul (Banyak komentar yang<br />
tidak ada isinya)<br />
8. Wong salah dianggap bener (Orang salah dianggap benar)<br />
9. Wong lugu kebelenggu (Orang lugu dibelenggu)<br />
10. Wong mulyo dikunjara (Orang mulia dipenjara)<br />
11. Sing culika mulya, sing jujur kojur (Yang salah mulia,<br />
yang jujur hancur)<br />
12. Para laku dagang akeh sing keplanggrang (Pedagang banyak<br />
yang menyeleweng)<br />
13. Wong main akeh sing ndadi (Orang berjudi semakin menjadi)<br />
14. Linak lijo linggo lica, lali anak lali bojo, lali tangga lali<br />
konco (Lupa anak dan pasangan, lupa tetangga dan teman)<br />
15. Duwit lan kringet mung dadi wolak-walik kertu (Uang dan<br />
keringat hanya untuk berjudi)<br />
16. Kertu gede dibukake, ngguyu pating cekakak (Kartu besar<br />
dibuka, tertawa terbahak-bahak)<br />
17. Ning mulih main kantonge kempes (Tapi waktu pulang main<br />
kantongnya kosong)<br />
18. Krugu bojo lan anak nangis ora di rewes (Denger anak istri<br />
nangis tidak digubris)<br />
Abote koyo ngopo sa bisa-bisane aja nganti wong kelut,keliring zaman<br />
kalabendu iku.<br />
(Berat seperti apapun jangan sampai kalut (lebih tepatnya) Seberat<br />
apapun jangan sampai ikut larut dalam warna-warni zaman kalabendu)<br />
Amargo zaman iku bakal sirno lan gantine joiku zaman ratu adil, zaman<br />
kamulyan. Mula sing tatag, sing tabah, sing kukuh, jo kepranan ombyak<br />
ing zaman Entenana zamanne kamulyan zamaning ratu adil<br />
(Sebab jaman itu bakal sirna dan diganti dengan jaman Ratu adil, jaman<br />
kemuliaan, karena itu jadilah manusia yang tegar, yang tabah, yang<br />
kokoh, Jangan melakukan hal bodoh. Tunggulah jaman kemuliaan jamannya<br />
Ratu adil)<br />
Diposkan oleh BLOG@ERYC90&#8242;s di 18:51 0 komentar<br />
Label: KI PERMADI<br />
AMENANGI DJAMAN EDAN (JOYOBOYO)<br />
AMENANGI DJAMAN EDAN (JOYOBOYO)</p>
<p>Pancen amenangi jaman edan,<br />
sing ora edan ora kaduman.<br />
Sing waras padha nggragas,<br />
sing tani padha ditaleni.<br />
Wong dora padha ura-ura.<br />
Begjane sing eling lan waspada.<br />
Ratu ora netepi janji,<br />
musna prabawane lan kuwandane.<br />
Akeh omah ing ndhuwur kuda.<br />
Wong mangan wong,<br />
kayu gilingan wesi padha doyan rinasa<br />
enak kaya roti bolu.<br />
Yen bakal nemoni jaman:<br />
akeh janji ora ditetepi,<br />
wong nrajang sumpahe dhewe.<br />
Manungsa padha seneng tumindak ngalah<br />
tan nindakake ukum Allah.<br />
Bareng jahat diangkat-angkat,<br />
bareng suci dibenci.<br />
Akeh manungsa ngutamakake reyal,<br />
lali sanak lali kadang.<br />
Akeh bapa lali anak,<br />
anak nladhung biyunge.<br />
Sedulur padha cidra,<br />
kulawarga padha curiga,<br />
kanca dadi mungsuh,<br />
manungsa lali asale.<br />
Rukun ratu ora adil,<br />
akeh pangkat sing jahat jahil.<br />
Makarya sing apik manungsa padha isin.<br />
Luwih utama ngapusi.<br />
Kelakuan padha ganjil-ganjil.<br />
Wegah makarya kapengin urip,<br />
yen bengi padha ora bisa turu.<br />
Wong dagang barange saya laris, bandhane ludhes.<br />
Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan.<br />
Akeh wong nyekel bandha uripe sangsara.<br />
Sing edan bisa dandan.<br />
Sing mbangkang bisa nggalang<br />
omah gedhong magrong-magrong.<br />
Wong waras kang adil uripe nggragas lan kapencil.<br />
Sing ora bisa maling padha digething.<br />
Sing pinter duraka padha dadi kanca.<br />
Wong bener thenger-thenger,<br />
wong salah bungah-bungah.<br />
Akeh bandha muspra ora karuwan larine.<br />
Akeh pangkat drajat padha minggat ora karuwan sababe.<br />
Bumi saya suwe saya mungkret.<br />
Bumi sekilan dipajegi.<br />
Wong wadon nganggo panganggo lanang.<br />
Iku tandhane kaya raja kang ngumbar hawa napsu,<br />
ngumbar angkara murka,<br />
nggedhekake duraka.<br />
Wong apik ditampik,<br />
wong jahat munggah pangkat.<br />
Wong agung kesinggung,<br />
wong ala pinuja-puja.<br />
Wong wadon ilang kawanitane,<br />
wong lanang ilang kaprawirane.<br />
Akeh jago tanpa bojo.<br />
Wanita padha ora setya,<br />
laku sedheng bubrah jare gagah.<br />
Akeh biyung adol anak,<br />
akeh wanita adol awak.<br />
Bojo ijol-ijolan jare jempolan.<br />
Wong wadon nunggang jaran,<br />
wong lanang numpang slendhang pelangi.<br />
Randha loro, prawan saaga lima.<br />
Akeh wong adol ngelmu.<br />
Akeh wong ngaku-aku,<br />
njaba putih njerone dhadhu.<br />
Ngakune suci, sucine palsu.<br />
Akeh bujuk.<br />
Wektu iku dhandhang diunekake kuntul.<br />
Wong salah dianggep bener,<br />
pengkhianat nikmat,<br />
durjana saya sampurna.<br />
Wong lugu keblenggu,<br />
wong mulya dikunjara,<br />
sing curang garang,<br />
sing jujur kojur.<br />
Wong dagang keplanggrang,<br />
wong judhi ndadi.<br />
Akeh barang kharam,<br />
akeh anak-anak kharam.<br />
Prawan cilik padha nyidham.<br />
Wanita nglanggar priya.<br />
Isih bayi padha mbayi.<br />
Sing priya padha ngasorake drajate dhewe.<br />
Wong golek pangan kaya gabah den interi.<br />
Sing klebat kliwat,<br />
sing kasep keplesed.<br />
Sing gedhe rame tanpa gawe,<br />
sing cilik kecelik.<br />
Sing anggak kalenggak.<br />
Sing wedi padha mati,<br />
nanging sing ngawur padha makmur,<br />
sing ngati-ati sambate kepati-pati.<br />
Cina olang-aling kepenthung<br />
dibandhem blendhung,<br />
melu Jawa sing padha eling.<br />
Sing ora eling<br />
padha milang-miling,<br />
mloya-mlayu kaya maling,<br />
tudang-tuding.<br />
Mangro tingal padha digething.<br />
Eling, ayo mulih padha manjing.<br />
Akeh wong ijir,<br />
akeh wong cethil.<br />
Sing eman-eman<br />
ora kaduman,<br />
sing kaduman<br />
ora aman.<br />
Selot-selote besuk<br />
ngancik tutupe taun,<br />
dewa mbrastha malaning rat,<br />
bakal ana dewa<br />
angejawantah,<br />
apangawak manungsa.<br />
Apasuryan padha Bathara Kresna.<br />
Awewatak Baladewa.<br />
Agegaman trisula wedha.<br />
Jinejer wolak-waliking jaman,<br />
wong nyilih mbalekake,<br />
wong utang mbayar.<br />
Utang nyawa nyaur nyawa,<br />
utang wirang nyaur wirang.<br />
Akeh wong cinokot lemud mati.<br />
Akeh swara aneh tanpa rupa.<br />
Bala prewangan, makhluk alus padha baris,<br />
padha rebut bebener garis.<br />
Tan kasat mata tanpa rupa,<br />
sing mandhegani putra Bathara Indra,<br />
agegaman trisula wedha.<br />
Momongane padha dadi nayakaning prang,<br />
perange tanpa bala,<br />
sekti mandraguna tanpa aji-aji.<br />
Sadurunge teka ana tetenger lintang kemukus dawa ngaluk-aluk,<br />
tumanja ana kidul sisih wetan bener, lawase pitung bengi.<br />
Parak esuk banter,<br />
ilange katut Bthara Surya,<br />
jumedhul bebarengan karo sing wus mungkur.<br />
Prihatine kawula kelantur-lantur.<br />
Iku tandhane putra Bathara Indra wus katampa<br />
lagi tumeka ing ngarcapada,<br />
ambiyantu wong Jawa.<br />
Dununge ana sikile redi Lawu sisih wetan.<br />
Adhedukuh pindha Raden Gathutkaca,<br />
arupa gupon dara tundha tiga.<br />
Kaya manungsa asring angleledha,<br />
apeparab Pangeraning Prang,<br />
tan pakra anggone anyenyandhang,<br />
nanging bisa nyembadani ruwet-rentenge wong sapirang-pirang.<br />
Sing padha nyembah reca ndhaplang,<br />
cina eling, Syeh-syeh pinaringan sabda gidrang-gidrang.<br />
Putra kinasih swarga Sunan Lawu,<br />
ya Kyai Brajamusthi,<br />
ya Kresna,<br />
ya Herumurti,<br />
mumpuni sakehing laku,<br />
nugel tanah Jawa kaping pindho.<br />
Ngerehake sakabehing para jim,<br />
setan, kumara, prewangan.<br />
Para lelembut kabawah prentah<br />
saeka praya kinen abebantu manungsa Jawa.<br />
Padha asenjata trisula wedha,<br />
kadherekake Sabdopalon Nayagenggong.<br />
Pendhak Suro nguntapake kumara,<br />
kumara kang wus katam nebus dosanira,<br />
kaadhepake ngarsane kang Kuwasa.<br />
Isih timur kaceluk wong tuwa,<br />
pangiride Gathutkaca sayuta.<br />
Idune idu geni, sabdane malati, sing bregudul mesthi mati.<br />
Ora tuwa ora enom,<br />
semono uga bayu wong ora ndayani.<br />
Nyuwun apa bae mesthi sembada,<br />
garise sabda ora gantalan dina.<br />
Begja-begjane sing yakin<br />
lan setya sabdanira.<br />
Yen karsa sinuyutan wong satanah Jawa,<br />
nanging pilih-pilih sapa waskitha pindha dewa.<br />
Bisa nyumurupi laire embahira,<br />
buyutira, canggahira, pindha lair bareng sadina.<br />
Ora bisa diapusi<br />
amarga bisa maca ati.<br />
Wasis wegig waskitha<br />
ngreti sadurunge winarah,<br />
bisa priksa embah-embahira,<br />
ngawuningani jaman tanah Jawa.<br />
Ngreti garise siji-sijining umat,<br />
tan kalepyan sumuruping gegaman.<br />
Mula den udia satriya iki,<br />
wus tan bapa tan bibi,<br />
lola wus aputus wedha Jawa.<br />
Mula ngendelake trisula wedha,<br />
landhepe trisula :<br />
pucuk arupa gegawe sirik agawe pepati utawa utang nyawa.<br />
Sing tengah sirik agawe kapitunaning liyan,<br />
sing pinggir tulak talak colong jupuk winaleran.<br />
Sirik den wenehi ati melathi, bisa kasiku.<br />
Senenge anyenyoba, aja kaina-ina.<br />
Begja-begjane sing dipundhut,<br />
ateges jantrane kaemong sira sabrayat.<br />
Ingarsa begawan wong dudu pandhita.<br />
Sinebut pandhita dudu dewa.<br />
Sinebut dewa kaya manungsa,<br />
kinen kaanggep manungsa sing seje daya.<br />
Tan ana pitakonan binalekake,<br />
tan ana jantra binalekake.<br />
Kabeh kajarwakake nganti jlentreh<br />
gawang-gawang terang ndrandang.<br />
Aja gumun aja ngungun,<br />
yaiku putrane Bathara Indra kang pambayun,<br />
tur isih kuwasa nundhung setan.<br />
Tumurune tirta brajamukti, pisah kaya ngundhuh.<br />
Ya siji iki kang bisa njarwakake<br />
utawa paring pituduh jangka kalaningsun.<br />
Tan kena den apusi<br />
amarga bisa manjing jroning ati.<br />
Ana manungsa kaiden katemu,<br />
uga ora ana jaman sing durung kalamangsane.<br />
Aja serik aja gela<br />
iku dudu waktunira,<br />
ngangsua sumur ratu tanpa makutha.<br />
Mula sing amenangi gek enggala den luru,<br />
aja nganti jaman kandhas.<br />
Madhepa den amarikelu.<br />
Begja-begjane anak putu, iku dalan sing eling lan waspada,<br />
ing jaman Kalabendu nyawa.<br />
Aja nglarang dolan nglari wong apangawak dewa,<br />
dewa apangawak manungsa.<br />
Sapa sing ngalang-ngalangi bakal cures ludhes sabraja dlama kumara.<br />
Aja kleru pandhita samudana, larinen pandhita asenjata trisula wedha.<br />
Iku paringe dewa.<br />
Ngluruge tanpa wadyabala.<br />
Yen menang datan ngasorake liyan.<br />
Para kawula padha suka-suka<br />
amarga adiling Pangeran wus teka.<br />
Ratune nyembah kawula, agegaman trisula wedha.<br />
Para pandhita ya padha ngreja,<br />
yaiku momongane Kaki sabdopalon sing wus adus wirang.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silsilahbpku.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silsilahbpku.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silsilahbpku.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silsilahbpku.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silsilahbpku.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silsilahbpku.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silsilahbpku.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silsilahbpku.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silsilahbpku.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silsilahbpku.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silsilahbpku.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silsilahbpku.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silsilahbpku.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silsilahbpku.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silsilahbpku.wordpress.com&amp;blog=18742161&amp;post=47&amp;subd=silsilahbpku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silsilahbpku.wordpress.com/2011/01/03/membangun-peradaban-berkeadilan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bdd00ed24caa2a566054dc67d3293ca4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">totokzemblem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>INDONESIAN NATIONAL TREASURE</title>
		<link>http://silsilahbpku.wordpress.com/2011/01/03/indonesian-national-treasure/</link>
		<comments>http://silsilahbpku.wordpress.com/2011/01/03/indonesian-national-treasure/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Jan 2011 04:31:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>totokzemblem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silsilahbpku.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Tuesday, September 01, 2009 &#160; INDONESIAN NATIONAL TREASURE http://indonesian-treasury.blogspot.com/ FILM INI AKAN MENGINGATKAN BAHWA HARTA TERPENDAM ITU ADA : INDONESIAN NATIONAL TREASURE HARTA INDONESIA KRONOLOGIS BARANG-BARANG AMANAH SOEKARNO: 1. Pd Awal Abad 17 ASET HARTA Raja2 &#38; Kesultanan Nusantara (Cirebon, G.Pakuan, Banten, Deli, Riau, Kutai, Makasar, Bone, Goa, Luwut,Ternate, dLL,) Dalam Nilai Ratusan Trilyun USD [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silsilahbpku.wordpress.com&amp;blog=18742161&amp;post=22&amp;subd=silsilahbpku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Tuesday, September 01, 2009</h2>
<div><a name="1505544028457856647"></a>&nbsp;</p>
<h3><a href="http://arihm.blogspot.com/2009/09/kronologis-harta-soekarno.html">INDONESIAN NATIONAL TREASURE</a></h3>
<div>
<p><a href="http://indonesian-treasury.blogspot.com/">http://indonesian-treasury.blogspot.com/</a></p>
<p>FILM INI AKAN MENGINGATKAN BAHWA HARTA TERPENDAM ITU ADA :</p>
<p>INDONESIAN NATIONAL TREASURE<br />
HARTA INDONESIA</p>
<p>KRONOLOGIS BARANG-BARANG AMANAH SOEKARNO:</p>
<p>1.  Pd Awal Abad 17 ASET HARTA Raja2 &amp; Kesultanan Nusantara (Cirebon,  G.Pakuan, Banten, Deli, Riau, Kutai, Makasar, Bone, Goa, Luwut,Ternate,  dLL,) Dalam Nilai Ratusan Trilyun USD (dalam bentuk emas,logam  mulia,berlian,dsb) diSimpan di Bank Zuchrigh &#8211; Jerman (karena pada saat  itu Jerman adalah negara makmur &amp; menguasai DUNIA. Serta bank  tersebut adalah salah satu bank yg tertua di dunia)</p>
<p>2. Pd Thn  1620 Nusantara di JAJAH BELANDA selama 3,5&#8242;Abad. Bgi Kesultanan / Raja2  Nusantara yg Melawan Belanda, DATA Administrasi HARTA di Bumi Hanguskan,  Hanya bagi Kerajaan Amangkurat I tetap memiliki DATA UTUH, Krn PnJiLat  Blanda.</p>
<p>NOTTE:<br />
Salah satu bukti Amangkurat I sbg penjilat  Belanda : Pangeran Girilaya &#8211; Raja Cirebon II selaku menantu dari Raja  Amangkurat I, atas tipuan  &#8211; Undangan Makan &#8211; ternyata Raja Cirebon II  beserta kedua putranya yg berumur 11 &amp; 9 thn ditahan selama 10 thn,  hingga wafatnya Raja Cirebon II yg dimakamkan di Girilaya. Atas wafatnya  Raja Cirebon II,  Sultan TRUNUJOYO diutus untuk menjemput kedua putra  mahkota tsb untuk menggantikan tahta Kerajaan Cirebon. Dgn melalui  peperangan, akhirnya Trunojoya berhasil membawa Putra Mahkota yg  kedua/adiknya. Sedangkan Putra Mahkota yg pertama/kakaknya,diamankan  oleh paman dr Ibunya ke Gn.Lawu. Hingga akhirnya berdiri Kerajaan  Cirebon mnjadi dua kesultanan,yaitu; KANOMAN &amp; KASEPUHAN.</p>
<p>3. Pd Th 1939, AS Setting &#8220;Bung Karno&#8221; untuk Menata ASET Raja2 Nusantara dan Pngalihan HAK atas nama Pribadi SOEKARNO.<br />
NOTTE:<br />
a.  PENYERAHAN HIBAH REKAYASA dilakukan oleh Raja SoLo &amp; Yogya yg  Mengatasnamakan Raja2 Nusantara. Selanjutnya Aset Ke 2 RAJA Tsb UTUH/TDK  DI HIBAHKAN.<br />
b. HAK AHLIWARIS RajaNusantara, SPESERPUN NIHIL (tdk menerima hak waris).</p>
<p>4.   Th.1944 Berdirilah BANK DUNIA atas DASAR COLETRAL ASET RajaNusantara!!  Bank Dunia mulai memberikan pinjaman kepada 40 Negara. Maka semenjak  itu AS semakin KUAT utk CETAK UANG &amp; SUSUN STRATEGI PERSENJATAAN utk  menguasai dunia.</p>
<p>5.  Th.1945 &#8216;PD.-II. JEPANG MNYERAH, Mbri Kmerdekaan.<br />
Beberapa fakta :</p>
<p>a.  Bung Karno dalam salah satu pidatonya pernah berkata &#8220;..kalau Jepang  tidak memberikan kemerdekaan kepada kita,maka saya akan minta AS utk  mem-bom Jepang..&#8221;<br />
b. Bung Karno diangkat Jdi KETUA PBB, Bukankah pada  Waktu itu org Asing Banyak yg Lebih Pintar dr Bung Karno? &#8220;TDK ANEH  LGI&#8221;. Krn Brdirinya Bank Dunia berasal dr Aset RAJA NUSANTARA. Smp saat  ini,tidak ada jabatan Ketua PBB selain Bung Karno,yang ada hanyalah  SEKJEN.<br />
NOTTE:<br />
Th.45&#8242; utk Bngun NEGARA Klau Bung Karno JUJUR &amp;  BENAR (TDK AMBISIUS), Hrsnya Kumpulkn Sultan2 Nusntara Utk diberi tahu  Klau Buyutnya (Raja Nusantara) pd Abd.17&#8242;SimpnHrta di Bank  Juchrigh-Jerman. Knpa Bung Karno BUNGKAM?.?</p>
<p>6. Antara thn 50 -53,  Bung Karno memberikan PELIMPAHAN COLETERAL kepada Kolega &amp;  Keluarganya, yg berasal dari ASET RAJA2 NUSANTARA yg dihibahkan atas  nama pribadi Bung Karno. Skrg sdh pd Balik Nama.</p>
<p>7. Th.54,  sebagian sisa Dana Koleteral tsb dibagi2kan dalam bentuk AMANAH kpd 73  org Tkoh Negara &amp; Ulama, Krn Ada Kpentingan POLITIK PRAKTIS. Th.55  Pmilu Pertama, Bung Karno diangkat Presiden &#8220;SEUMUR HIDUP&#8221;<br />
NOTTE:</p>
<p>a.  Penerima PELIMPAHAN COLETERAL mendapatkan Royalti, namun pemegang  AMANAH tdk mendapatkan Royalti. Siapakah yg Nikmati Royalti atas Dana  Coleteral dr Bank Dunia? Siapa Lagi Kalau Bukan Colega &amp; KLrgnya.</p>
<p>b. Perlu Pndirian &#8220;LEVARN&#8221; / Lembaga Executive Verifiksi Aset Raja Nusantra</p>
<p>c.  MKSD+TJUAN: AtsTrsimpannya Aset Raja Nusantra, baik Milik  Rja/Ksultanan: Cerbon, G.Pakuan, Banten, Deli, Riau, Kutai, Mksar, Bone,  Goa, Luwut,Trnate, dLL, yg disimpn pd Awal Abd.17diBank Zuchrigh &#8211;  Jerman dg Nilai RatusnTrliyun USD yg telah diHibahkan ke Pribadi  Ir.Soekarno (Rekyasa JO. AS), Utk MODAL AWAL Pmbentukan BANK DUNIA, kini  sdh pd Balik nama bgi a/n Kelrga &amp; Coleganya (di_Luar AMANAH). Hrs  Di VERIFIKASI/ Tata Juridis FormiL Utk Ktetapn HAK bgi Ahli WARIS &amp;  NEGARA.<br />
d. Dlm Prtemuan Para Sultan SeIndonesia diBali pd thn lalu.  Selaku Ahliwaris Mengharapkan KEADILAN HAK, atas HartaYg di Gelapkan.  Smg Para AMANAH dLL, Mnyadari ats Kganjilan Hibah tsb.</p>
<p>8. Mengapa  BK Keluar dr PBB &amp; Pidatonya antara Th 1959 s/d 1963, Ber-API2 ANTI  IMPERIALIS, ANTI NEKOLIM..! Krn ColetraLnya TERNYATA TDK BS DICAIRKAN  &amp; DIGUNAKAN UTK PEMBANGUNAN NKRI sesuai dgn REPELITA yg telah  diprogram. Alias dipersulit oleh AS</p>
<p>9.  AS berkepentingan untuk  membungkam Bung Karno,selain krn alas an Dana Coleteral tsb, juga krn  Bung Karno membentuk POROS SEGITIGA Peking-Jakarta-Pyongyang.  Selanjutnya melalui KONSPIRASI &amp; tipu daya,AS bertindak sebagai  DALANG atas lengsernya Bung Karno.</p>
<p>10. Tiga org Jendral (yg  terlibat dlm gerakan BAWAH TANAH buatan AS) datang &amp; menodongkan  senjata kepada Bung Karno untuk Menandatangani SUPERSEMAR.<br />
NOTTE:<br />
Kemudian  isi Supersemar di-UBAH (dipalsukan) &amp; diserahkan kpd Soeharto.  Soeharto tdk mengetahui ttg PEMALSUAN Supersemar tsb &amp; menjalankan  Supersemar dng baik. Soeharto baru mengetahui hal tsb skitar thn ‘80an.  Namun sdh terlambat &amp; SEJARAH sdh terlanjur dituliskan.</p>
<p>11. Soekarno lengser &amp; Soeharto menjabat sebagai Presiden RI.</p>
<p>12.  Sekitar Th. 1995, 7 orang pemegang SURAT AMANAH dr Soekarno, menghadap  Soeharto agar Pemerintah dapat menggunakan Dana Coletral tsb utk  pembangunan RI.<br />
NOTTE:<br />
Dana Coletral tsb (yg ada di Bank Dunia)  tdk dpt dicairkan,namun dapat digunakan untuk Jaminan Cetak Uang.  Soeharto mengajukan ijin utk pencetakan IDR atas Jaminan Dana Coletral  tsb.</p>
<p>13. Dilakukan Sidang Moneter Internasional, dng salah satu  agenda utk membahas rencana pencetakan IDR oleh pemerintah RI. 10-negara  menolak utk memberikan ijin (termasuk AS &amp; sekutunya),sisanya  mengijinkan. Atas dasar voting,maka pemerintah RI diijinkan utk mencetak  uang sebesar &#8220;Rp. 20.000 trilyun&#8221; dng jaminan 5 Coletral (Salah satu  Coletral tsb adalah milik Kerajaan Cirebon sebesar 13.000 trilyun)<br />
NOTTE:<br />
AS  tdk memberikan ijin,krn khawatir Soeharto akan membangkitkan DUNIA  ISLAM. Krn thn 1987 Yayasan AmalBaktiMuslimPancasila sdh mulai merintis  &amp; menggalakkan bantuan utk pembangunan masjid di sluruh Ind. Mbak  Tutut sdh mulai memakai kerudung &amp; dianggap sbg simbol kebangkitan  dunia Islam.</p>
<p>14. Pencetakan uang dilakukan di Jerman &amp; Israel  (pemenang tender adalah Australia). Disisi lain AS &amp; sekutunya  mulai melakukan KONSPIRASI utk merusak stabilitas Ekonomi Internasional.</p>
<p>15.  Maret 1997, secara bertahap IDR sdh mulai masuk ke Ind (masih berstatus  atas nama Amanah yg ditempatkan di luar gudang BI). Baru sekitar 9% IDR  tsb yg diregristasi oleh BI,terjadilah KRISIS MONETER krn George Soros  melakukan transaksi PEMBELIAN RUPIAH secara besar2an yg dibayar dgn USD.  IDR dicetak dalam cetakan uang plastik pecahan Rp.100.000,- thn cetakan  1997.<br />
NOTTE:<br />
Pak HArto berencana dlm periode 1998 ? 2003,  TrySutrisno menjabat sebagai Wakil Presiden. Thn 2000 Pak Harto membuat  pondasi sbg landasan kuat dlm pembanguna tinggal landas utk take off  menuju ADIL &amp; MAKMUR. Thn 2002 Pak Harto berencana utk mengundurkan  diri &amp; dilanjutkan oleh wakilnya Try Sutrisno sbg presiden.</p>
<p>16.  AS semakin gencar melakukan konspirasi,sadar ataupun tdk sadar byk  unsur masyarakat yg sdh masuk dalam TIPU DAYA &amp; skenario AS.<br />
NOTTE:</p>
<p>a.  a].Byk mahasiswa, rakyat yg merasa idealis &amp; menuntut lengsernya  Soeharto. Namun sesungguhnya mrk tidak sadar bhwa ini semua adalah  skenario AS utk menurunkan Soeharto.<br />
b. b].Bberapa Tokoh Boneka Politik bentukan AS, yaitu 4 org yg dikenal dgn sebutan &#8220;SMAG&#8221;<br />
c. c].Terjadinya KERUSUHAN MEI,yg dikoordinir oleh seorang tokoh pemuda atas cetakan SMAG.</p>
<p>17. Soeharto lengser &amp; BJ Habibie menjabat sbg presiden RI.</p>
<p>18.  Smua IDR pada akhirnya smp di Indonesia, Pak Harto memerintahkan 49org  JENDERAL (7org Jenderal Bintang-4 &amp; 42org Jenderal Bintang-2) utk  mengamankan gudang2 IDR yg masih bersatus atas nama Amanah.</p>
<p>19.  BJ Habibie dipolitisir oleh AS utk realisasi Referendum di TimTim, dng  janji apabila terlaksana dng &#8216;JUJUR &amp; ADIL&#8217; maka Habibie akan  didukung utk menjabat sbg Presiden RI utk selanjutnya.<br />
NOTTE:<br />
Habibie  diTIPU MENTAH2 oleh AS &amp; sekutunya. Hasil jajak pendapat  diMANIPULASI (yg dihitung di Gd.Putih-AS,tdk dihitung di lapangan) &amp;  berujung pada lepasnya TimorTimur dr NKRI. Itulah jatuhnya Habibie  dampak tertipu politik praktis. Karena Habibie sejatinya bukan org misi  AS, melainkan Habibie adalah Jerman-isme.</p>
<p>20. Rapuhnya  Pemerintahan RI &amp; sebagian besar Tokoh2 Negara terlibat dlam dosa  &#8220;KERUSUHAN MEI&#8221;. AS PEGANG KARTU Tokoh2 Negara tsb, lalu leluasa utk  MENDIKTE pemerintah. Boleh dikata,semenjak itu PEMERINTAHAN hanya  menjadi boneka AS &amp; tdk mampu utk lepas dr cengkraman AS.</p>
<p>21. PENTING..</p>
<p>a. Kebenaran ini dituliskan bukan utk menyudutkan PIHAK2 TERTENTU, namun utk MENEGAKKAN SEBUAH KEBENARAN.<br />
b. Bangsa Indonesia sngat beruntung telah memiliki 2 org PUTRA TERBAIKNYA yaitu SOEKARNO &amp; SOEHARTO.<br />
c.  Rapatkan barisan,jgn mudah teradu domba oleh KONSPIRASI AS &amp;  sekutunya. Tumbuhkan jiwa PATRIOTIK kita,karena bisa jadi..melalui  KONSPIRASI AS, perang AFGHANISTAN &amp; IRAK dapat terjadi di TanahAir  yg qta Cintai ini..<br />
d. Atas Cronologis Harta SOEKARNO tsb. Pd  Prinsipnya KITA, para PEMEGANG AMANAH &amp; penerimaPELIMPAHA COLETERAL,  perlu utk Menyadari Bahwa Pelaksanaan HIBAH ASET RAJA NUSANTARA, Kpd  Pribadi Bung Karno adalah &#8220;CACAD HUKUM&#8221;<br />
e. Brg_Amanh BK&#8217; Bkn urusan Qt,melainkan Urusan KARUHUN, dan itu semua hanya Panggung Sandiwara.*yahooindo.com<br />
Sumber :<br />
<a href="http://www.indonesiaindonesia.com/f/36954-kronologis-barang-barang-amanah-soekarno/">http://www.indonesiaindonesia.com/f/36954-kronologis-barang-barang-amanah-soekarno/ </a></p>
<p>HARTA RAKYAT INDONESIA SIRNA OLEH REKOMENDASI G20</p>
<p>“Considering  this statement, which was written and signed in Novemver, 21th 1963  while the new certificate was valid in 1965 all the ownership, then the  following total volumes were just obtained.”</p>
<p>Itulah sepenggal  kalimat yang menjadi berkah sekaligus kutukan bagi bangsa Indonesia  hingga kini. Kalimat itu menjadi kalimat penting dalam perjanjian antara  Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy dengan Soekarno pada 1963.</p>
<p>Soekarno dan John F. Kennedy<br />
Banyak  pengamat Amerika melihat perjanjian yang kini dikenal dengan nama “The  Green Hilton Agreement” itu sebagai sebuah kesalahan bangsa Amerika.  Tetapi bagi Indonesia, itulah sebuah kemenangan besar yang diperjuangkan  Bung Karno. Sebab volume batangan emas tertera dalam lembaran  perjanjian itu terdiri dari 17 paket sebanyak 57.150 ton lebih emas  murni.<br />
Bahasa lain yang sering dikemukakan Bung Karno kepada rekan  terdekatnya, bahwa ia ingin harta nenek moyang yang telah dirampas oleh  imprealisme dan kolonialisme dulu bisa kembali. Tetapi perjanjian yang  diteken itu, hanya sebatas pengakuan dan mengabaikan pengembaliannya.  Sebab Negeri Paman Sam itu mengambilnya sebagai harta pampasan perang  dunia I dan II. Konon cerita, harta itu dibawa ke Belanda dari  Indonesia, kemudian Belanda kalah perang dengan Jerman, maka Jerman  memboyong harta itu ke negaranya. Lalu dalam perang dunia kedua, Jerman  kalah dengan Amerika, maka Amerika membawa semua harta itu ke negaranya  hingga kini.<br />
Perjanjian itu berkop surat Burung Garuda bertinta emas  di bagian atasnya yang kemudian menjadi pertanyaan besar pengamat  Amerika. Yang ikut serta menekan dalam perjanjian itu tertera John F.  Kennedy selaku Presiden Amerika Serikat dan William Vouker yang  berstempel “The President of The United State of America” dan dibagian  bawahnya tertera tandatangan Soerkarno dan Soewarno berstempel  “Switzerland of Suisse.” Yang menjadi pertanyaan kita bersama adalah,  mengapa Soekarno tidak menggunakan stempel RI. Pertanyaan itu sempat  terjawab, bahwa beliau khawatir harta itu akan dicairkan oleh pemimpin  Indonesia yang korup, kelak.<br />
Perjanjian yang oleh dunia moneter  dipandang sebagai pondasi kolateral ekonomi dunia hingga kini, menjadi  perdebatan panjang yang tak kunjung selesai pada kedua negara, Indonesia  dan Amerika. Banyak para tetua dan kini juga anak muda Indonesia dengan  bangganya menceritakan bahwa Amerika kaya karena dijamin harta rakyat  Indonesia. Bahkan ada yang mengatakan, Amerika berhutang banyak pada  rakyat Indonesia, karena harta itu bukan punya pemerintah dan bukan  punya negara Indonesia, melainkan harta rakyat Indonesia. Tetapi, bagi  bangsa Amerika, perjanjian kolateral ini dipandang sebagai sebuah  kesalahan besar sejarah Amerika.</p>
<p>The Green Hilton Agreement 1963.<br />
Barangkali  ini pulalah penyebab, mengapa Bung Karno kemudian dihabisi karir  politiknya oleh Amerika sebelum berlakunya masa jatuh tempo The Green  Hiltom Agreement. Ini berkaitan erat dengan kegiatan utama Soeharto  ketika menjadi Presiden RI ke-2. Dengan dalih sebagai dalang PKI, banyak  orang terdekat Bung Karno dipenjarakan tanpa pengadilan seperti  Soebandrio dan lainnya. Menurut tutur mereka kepada pers, ia dipaksa  untuk menceritakan bagaimana ceritanya Bung Karno menyimpan harta nenek  moyang di luar negeri. Yang terlacak kemudian hanya “Dana Revolusi” yang  nilainya tidak seberapa. Tetapi kekayaan yang menjadi dasar perjanjian  The Green Hilton Agreement ini hampir tidak terlacak oleh Soeharto,  karena kedua peneken perjanjian sudah tiada.</p>
<p>Kendati perjanjian  itu mengabaikan pengembaliannya, namun Bung Karno mendapatkan pengakuan  bahwa status koloteral tersebut bersifat sewa (leasing). Biaya yang  ditetapkan Bung Karno dalam perjanjian sebesar 2,5% setahun bagi siapa  atau bagi negara mana saja yang menggunakannya. Dana pembayaran sewa  kolateral ini dibayarkan pada sebuah account khusus atas nama The  Heritage Foundation yang pencairannya hanya boleh dilakukan oleh Bung  Karno sendiri atas restu yang dimuliakan Sri Paus Vatikan. Namun karena  Bung Karno “sudah tiada” (wallahuallam), maka yang ditunggu adalah orang  yang diberi kewenangan olehnya. Namun sayangnya, ia hanya pernah  memberikan kewenangan pada satu orang saja di dunia dengan ciri-ciri  tertentu. Dan inilah yang oleh kebanyakan masyarakat Indonesia, bahwa  yang dimaksudkan adalah Satria Piningit yang kemudian disakralkan,  utamanya oleh masyarakat Jawa. Tetapi kebenaran akan hal ini masih perlu  penelitian lebih jauh.</p>
<p>April 2009, dana yang tertampung dalam  The Heritage Foundation sudah tidak terhitung nilainya. Jika biaya sewa  2.5% ditetapkan dari total jumlah batangan emasnya 57.150 ton, maka  selama 34 tahun hasil biaya sewanya saja sudah setera 48.577 ton emas.  Artinya kekayaan itu sudah menjadi dua kali libat lebih, dalam kurun  kurang dari setengah abad atau setara dengan USD 3,2 Trilyun atau Rp  31.718 Trilyun, jika harga 1 gram emas Rp 300 ribu. Hasil lacakan  terakhir, dana yang tertampung dalam rekening khusus itu jauh lebih  besar dari itu. Sebab rekening khusus itu tidak dapat tersentuh oleh  otoritas keuangan dunia manapun, termasuk pajak. Karenanya banyak  orang-orang kaya dunia menitipkan kekayaannya pada account khusus ini.  Tercatat mereka seperti Donald Trump, pengusaha sukses properti Amerika,  Raja Maroko, Raja Yordania, Turki, termasuk beberapa pengusaha besar  dunia lainnya seperti Adnan Kassogi dan Goerge Soros. Bahkan Soros  hampir menghabiskan setengah dari kekayaannya untuk mencairkan rekening  khusus ini sebelumnya.</p>
<p>Pihak Turki malah pernah meloby beberapa  orang Indonesia untuk dapat membantu mencairkan dana mereka di pada  account ini, tetapi tidak berhasil. Para pengusaha kaya dari organisasi  Yahudi malah pernah berkeliling Jawa jelang akhir 2008 lalu, untuk  mencari siapa yang diberi mandat oleh Bung Karno terhadap account khusus  itu. Para tetua ini diberi batas waktu oleh rekan-rekan mereka untuk  mencairkan uang tersebut paling lambat Desember 2008. Namun tidak  berhasil.</p>
<p>Usaha pencairan rekening khusus ini bukan kali ini  saja, tahun 1998 menurut investigasi yang dilakukan, pernah dicoba juga  tidak berhasil. Argumentasi yang diajukan tidak cukup kuat. Dan kini  puluh orang dan ratusan orang dalam dan luar negeri mengaku sebagai  pihak yang mendapat mandat tersebut. Ada yang usia muda dan ada yang  tua. Hebatnya lagi, cerita mereka sama. Bahwa mereka mengaku penguasa  aset rakyat Indonesia, dan selalu bercerita kepada lawan bicaranya bahwa  dunia ini kecil dan dapat mereka atur dengan kekayaan yang ia terima.  Ada yang mengaku anak Soekarno. lebih parah lagi, ada yang mengaku  Soekarno sunggguhan tetapi kini telah berubah menjadi muda. Wow.<br />
Padahal,  hasil penelusuran penulis. Bung Karno tidak pernah memberikan mandat  kepada siapapun. Dan setelah tahun 1965, Bung Karno ternyata tidak  pernah menerbitkan dokumen-dokumen atas nama sipulan pun. Sebab setelah  1963 itu, owner harta rakyat Indonesia menjadi tunggal, ialah Bung Karno  itu sendiri. Namun sayang, CUSIP Number (nomor register World Bank)  atas kolateral ini bocor. Nah, CUSIP inilah yang kemudian dimanfaatkan  kalangan banker papan atas dunia untuk menerbitkan surat-surat berharga  atas nama orang Indonesia. Pokoknya siapapun, asal orang Indonesia  berpassport Indonesia dapat dibuatkan surat berharga dari UBS, HSBC dan  bank besar dunia lainnya. Biasanya terdiri dari 12 lembar, diantaranya  ada yang berbentuk Proof of Fund, SBLC, Bank Guransi, dan lainnya.  Nilainya pun pantastis. rata-rata diatas USD 500 juta. Bahkan ada yang  bernilai USD 100 milyar.<br />
Ketika dokumen tersebut dicek, maka  kebiasaan kalangan perbankkan akan mengecek CUSIP Number. Jika memang  berbunyi, maka dokumen tersebut dapat menjalani proses lebih lanjut.  Biasanya kalangan perbankkan akan memberikan bank Officer khusus bagi  surat berharga berformat ini dengan cara memasan Window Time untuk  sekedar berbicara sesama bank officer jika dokumen tersebut akan  ditransaksikan. Biasanya dokumen jenis ini hanya bisa dijaminkan atau  lazim dibuatkan rooling program atau privcate placement yang bertempo  waktu transaksi hingga 10 bulan dengan high yeild berkisar antara 100  s/d 600 % setahun. Uangnya hanya bisa dicairkan untuk proyek  kemanusiaan. Makanya, ketika terjadi musibah tsunami di Aceh dan gempa  besar lainnya di Indonesia, maka jenis dokumen ini beterbangan sejagat  raya bank. Tapi anehnya, setiap orang Indonesia yang merasa nama  tercantum dalam dokumen itu, masih miskin saja hingga kini. Mengapa?  Karena memang hanya permainan banker kelas kakap untuk mengakali  bagaimana caranya mencairkan aset yang terdapat dalam rekening khusus  itu.<br />
Melihat kasus ini, tak heran bila banyak pejabat Indonesia  termasuk media massa Indonesia menyebut “orang gila” apabila ada  seseorang yang mengaku punya harta banyak, milyaran dollar Amerika  Serikat. Dan itulah pula berita yang banya menghiasi media massa.  Ketidakpercayaan ini satu sisi menguntungkan bagi keberadaan harta yang  ada pada account khusus ini, sisi lain akan membawa bahaya seperti yang  sekarang terjadi. Yakni, tidak ada pembelaan rakyat, negara dan  pemerintah Indonesia ketika harta ini benar-benar ada.<br />
Kasih sedih  itu terjadi. Presiden SBY ikut serta dalam pertemuan G20 April silam.  Karena Presiden SBY tidak pernah percaya, atau mungkin ada hal lain yang  kita belum tau, maka SBY ikut serta menandatangani rekomendasi G20.  Padahal tekenan SBY dalam sebuah memorandum G20 di London itu telah  diperalat oleh otoritas keuangan dunia untuk menghapuskan status harta  dan kekayaan rakyat Indonesia yang diperjuangkan Bung Karno melalui  kecanggihan diplomatik. Mengapa, karena isi memorandum itu adalah seakan  memberikan otoritas kepada lembaga keuangan dunia seperti IMF dan World  Bank untuk mencari sumber pendanaan baru bagi mengatasi keuangan global  yang paling terparah dalam sejarah ummat manusia.</p>
<p>Atas dasar  rekomendasi G20 itu, segera saja IMF dan World Bank mendesak Swiss untuk  membuka 52.000 rekening di UBS yang oleh mereka disebut aset-aset  bermasalah. Bahkan lembaga otoritas keuangan dunia sepakat mendesak  Vatikan untuk memberikan restu bagi pencairan aset yang ada dalam The  Heritage Foundation demi menyelamatkan ummat manusia. Memang, menurut  sebuah sumber terpercaya, ada pertanyaan kecil dari Vatikan, apakah  Indonesia juga telah menyetujui? Tentu saja, tandatangan SBY diperlihat  dalam pertemuan itu. Berarti sirnalah sudah harta rakyat dan bangsa  Indonesia. Barangkali inilah “dosa SBY” dan dosa kita semua yang paling  besar dalam sejarah bangsa Indonesia. Sebab, bila SBY dan kita sepakat  untuk paham akan hal ini, setidaknya ada geliat diplomatik tingkat  tinggi untuk mencairkan aset sebesar itu. Lantas ada pertanyan; Sebodoh  itukah kita? (safari ans: tulisan ini akan terus diperkaya. Conbtact;  email safari_ans@yahoo.com. Sms. 0818778216).</p>
<p>Sumber :<br />
<a href="http://safari2009.wordpress.com/2009/07/07/perjuangan-bung-karno-sirna-dengan-tekenan-sby-di-g20/">http://safari2009.wordpress.com/2009/07/07/perjuangan-bung-karno-sirna-dengan-tekenan-sby-di-g20/</a></p>
<div>
<div id="entryMeta">
<h2>G-20: Presiden Sampaikan Proposal Indonesia</h2>
</div>
<div>
<p><img src="http://id.embassyofindonesia.eu/wp-content/uploads/2009/04/sby-obama-150x150.jpg" alt="SBY-Obama di G-20" /></p>
<p>SBY-Obama  di G-20Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan proposal  Indonesia pada sesi Working Breakfast KTT G-20, di ExCel London,  Inggris, Kamis (2/4) pagi waktu setempat atau petang di Indonesia.  Presiden SBY duduk bersebelahan dengan Presiden AS Barack Obama.  Indonesia mendukung terjadinya kesepakatan dalam empat isu penting.</p>
<p>Keempat  isu itu adalah pentingnya stimulus fiskal maupun kebijakan moneter.  Kedua, koreksi terhadap kegagalan regulasi dan supervisi yang  mengakibatkan krisis global. Ketiga, perlu bantuan dana bagi negara  berkembang yang menjadi korban tak berdosa. Keempat, reformasi terhadap  lembaga keuangan internasional.</p>
<p>Indonesia  sudah mendiskusikan sikapnya itu dengan negara-negara peserta KTT G-20,  melalui serangkaian pertemuan bilateral yang dipimpin SBY. Sehari  sebelum puncak acara KTT, Presiden SBY juga menyampaikan proposal  Indonesia kepada Barack Obama, yang ramah menyapa SBY dalam beberapa  kosa kata Indonesia. (presidensby.info)</p>
<p>Sumner : <a href="http://id.embassyofindonesia.eu/g-20-presiden-sampaikan-proposal-indonesia/">http://id.embassyofindonesia.eu/g-20-presiden-sampaikan-proposal-indonesia/</a></p>
<p>usulan Indonesia adalah Global Expenditure Support Financing (GESF)</p>
<p>seusia dengan :</p>
<div>Manfaatnya bagi Pemerintah Indonesia</div>
<p>Selasa, 31 Maret 2009 | 04:24 WIB</p>
<p><strong>Anggito Abimanyu</strong></p>
<div>
<p>Konferensi  Tingkat Tinggi G-20 Kedua di London (London Summit) akan dilaksanakan  minggu ini, 1 dan 2 April 2009, di tengah situasi perekonomian global  yang masih tidak menentu. Pertumbuhan ekonomi global tahun 2009 diperkirakan akan negatif yang berpengaruh terhadap penurunan demand  ekspor negara berkembang. Stimulus fiskal dari sejumlah negara masih  diragukan efektivitasnya akibat munculnya isu proteksionisme dan isu  supply financing bagi program stimulus di negara berkembang.</p>
<p>Selain  itu, sistem keuangan global secara praktis masih belum berfungsi secara  normal akibat proses deleveraging di negara maju yang mengakibatkan  langkanya likuiditas internasional dan turunnya net capital inflow ke  negara berkembang secara drastis. Sistem keuangan, khususnya di negara  maju, masih dihantui potensi kerugian yang belum sepenuhnya terungkap  terkait toxic assets sistem perbankan akibat krisis mortgage di AS.  Lembaga-lembaga keuangan internasional yang diharapkan menjadi  katalisator dalam periode krisis ternyata efektivitasnya dibebani oleh  masalah kredibilitas dan legitimasi akibat kurangnya keterwakilan negara  berkembang dalam proses governance-nya (lihat Tabel 1: Pertumbuhan  Ekonomi).</p>
<p>Akibat  besarnya jangkauan isu yang dihadapi itu, banyak pihak mempertanyakan  kemampuan G-20 mengatasi krisis. Lebih jauh lagi, terdapat pula keraguan  mengenai kohesivitas di G-20 mengingat setiap anggota tentunya akan  memperjuangkan isu yang terkait paling erat dengan kepentingannya dan  hal itu akan berdampak pada respons, prioritas, dan pendekatan krisis  yang berbeda. Bagi publik domestik, hal tersebut memunculkan pertanyaan  mengenai manfaat yang akan diperoleh Indonesia dari partisipasinya di  forum G-20 akibat kekhawatiran mengenai kooptasi isu di G-20 oleh negara  maju.</p>
<p><strong>Respons G-20</strong></p>
<p>Terlepas  dari banyaknya isu yang harus dibahas, London Summit sendiri sebetulnya  merupakan puncak dari suatu siklus kerja di G-20. Di tingkat teknis,  G-20 telah membagi isu ke dalam berbagai tingkat pembahasan yang  beranggotakan otoritas finansial dan moneter negara anggota yang  melakukan koordinasi intensif selama 7 x 24 jam.</p>
<p>Terkait  dengan instrumen krisis, regulasi, dan arsitektur keuangan  internasional, G-20 membentuk empat kelompok kerja (working group/WG):  (i) Enhancing sound regulation and transparency, (ii) Promoting  integrity in the financial markets, (iii) IMF reform, dan (iv)  Multilateral development banks (MDBs) reform. Selain itu, terdapat juga  forum koordinasi di tingkat deputi menteri keuangan dan gubernur bank  sentral G-20 guna membahas kebijakan makro (fiskal dan moneter), serta  forum sherpa yang bertugas membahas isu-isu ekonomi nonkeuangan dan  moneter (seperti isu perdagangan, dan tenaga kerja).</p>
<p>Walaupun  terdapat kekhawatiran bahwa perbedaan kepentingan di antara anggota  G-20 akan menyebabkan friksi, keanggotaan G-20 yang terbatas dan format  pertemuan yang stabil selama satu dasawarsa terakhir berkontribusi bagi  terbentuknya tingkat kepercayaan di antara anggota G-20 dalam rangka  mencapai konsensus.</p>
<p>Secara  umum terdapat konvergensi di G-20 bahwa (i) krisis saat ini disebabkan  oleh ketidaksepadanan antara kepentingan global dan nasional (sovereign  policy) sehingga respons kebijakan domestik haruslah mempertimbangkan  dampak di luar batas negara dan perlunya koordinasi respons secara  global; (ii) krisis menimpa baik negara maju maupun berkembang melalui  mekanisme yang berbeda sehingga membutuhkan respons yang berbeda pula;  dan (iii) krisis juga diakibatkan oleh tidak memadainya arsitektur  keuangan global (termasuk lembaga keuangan multilateral) dalam merespons  krisis secara efektif akibat masalah kredibilitas dan legitimasi  sehingga perlu dilakukan reformasi terhadap sistem keuangan  internasional.</p>
<p>Berdasarkan  kesadaran tersebut, G-20 membagi prioritas respons menjadi tindakan  segera dan jangka menengah berdasarkan perbedaan urgensi dari setiap isu  (lihat Tabel 2: Langkah Bersama).<br />
<strong>G-20 bagi Indonesia </strong></p>
<p>Secara  umum, di G-20 Indonesia memiliki posisi unik yang menyuarakan tidak  hanya kepentingan Indonesia sebagai emerging market, tetapi juga  kepentingan ASEAN dan negara berkembang lainnya termasuk Low Income  Countries.</p>
<p>Manfaat  G-20 sangat besar bagi Indonesia tidak hanya untuk mengungkil posisi  kita di antara negara berkembang lainnya, tetapi terlebih karena  Indonesia bisa secara langsung berpartisipasi dalam membentuk arsitektur  ekonomi dan finansial global sesuai dengan kepentingan kita, G-20  diarahkan untuk menggantikan fungsi dari G-8 sebagai pemerintahan  bayangan dari sistem ekonomi dan finansial global.</p>
<p>Fokus  Indonesia sendiri di G-20 adalah untuk: (i) memitigasi dampak krisis  terhadap Indonesia dan negara berkembang yang telah secara tidak adil  terkena dampak dari krisis yang bermula di negara maju melalui penurunan  aliran modal ke negara berkembang yang menghambat proses pembangunan  dan pencapaian tujuan pembangunan milenium (MDGs); (ii) mengamankan  posisi Indonesia dan negara berkembang di dalam sistem ekonomi dan  finansial global yang baru dengan mencegah terbentuknya standar regulasi  yang berpotensi merugikan perkembangan sektor keuangan dan sebaliknya  justru mengupayakan agar sistem yang baru mendukung pengembangannya;  (iii) mendorong dilakukannya reformasi lembaga keuangan internasional  melalui peningkatan keterwakilan negara berkembang dalam proses  governance.</p>
<p>Sebagai  implementasi, Indonesia secara konsisten memperjuangkan dibentuknya  instrumen pendanaan yang murah, bersifat tanpa persyaratan dan  percepatan pencairan yang diperuntukkan bagi negara berkembang dengan  kerangka kebijakan dan fundamental yang baik seperti Indonesia.</p>
<p>Proposal  tersebut yang dikenal sebagai Global Expenditure Support Financing  (GESF) telah disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam  Washington Summit tahun lalu. Sebagai penghargaan terhadap proposal  Yudhoyono tersebut, Indonesia bersama dengan Perancis ditunjuk oleh G-20  untuk mengetuai WG4 mengenai reformasi MDBs yang salah satu  pembahasannya adalah mengenai instrumen itu.</p>
<p>Terkait  dengan reformasi IMF, Indonesia juga memegang peranan penting di G-20  karena Menteri Keuangan RI sebagai salah satu figur internasional yang  kerap menyuarakan urgensi reformasi IMF merupakan anggota independent  panel of experts on IMF reform (yang dikenal sebagai Manuel Commission)  yang hasil rekomendasinya menjadi salah satu acuan bagi pembahasan di  G-20.</p>
<p>Sebagai  hasil partisipasi aktif di G-20, Indonesia telah berhasil memetik  beberapa manfaat konkret, antara lain: (i) Indonesia masuk sebagai  anggota baru Financial Stability Forum (FSF) yang merupakan standard  setting body bagi sistem keuangan; (ii) Indonesia telah mendapatkan  Deferred Drawdown Option (DDO) dari Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia  (ADB), Jepang, dan Australia bagi program pengentasan masyarakat dari  kemiskinan dan infrastruktur yang kemudian menjadi model bagi GESF;  (iii) G-20 yang merupakan pemegang saham terbesar di ADB berkomitmen  untuk meningkatkan permodalan ADB guna mendorong pembangunan di kawasan  Asia; dan (iv) negara maju berkomitmen untuk memberikan peningkatan  kapasitas bagi pengembangan sektor keuangan di negara berkembang.</p>
<p>Terdapat juga manfaat nonkeuangan, seperti komitmen G-20 untuk menjamin dan melindungi hak pekerja migran.</p>
<p>Anggito Abimanyu <em>Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Depkeu dan Co-Chair Working Group 4 G-20</em></p>
</div>
</div>
<div>sumber : <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/31/04245598/manfaatnya.bagi.pemerintah.indonesia">http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/31/04245598/manfaatnya.bagi.pemerintah.indonesia</a></div>
<p><a href="http://www.docstoc.com/docs/2201071/THE-HISTORY-OF-THE-POWERS-AND-AUTHORITIES">THE HISTORY OF THE POWERS AND AUTHORITIES</a> -</p>
<p>General Overview of the History</p>
</div>
<div>From  1944/5 &#8211; 1994/5 The Trilateral Trillenium Tripartite Gold Commission  (TTTGC) was organised and implemented, by the Nations of the World, with  a Term period of Fifty (50) years. During this term period the  Commission held the Mandate, Rights and Authorities over The Combined  International Collateral Accounts of the Global Debt Facility. (Note:  This Commission should not be confused with the Trilateral Commission  that exists today). Following the expiry of the 50 year term, the  Nations of the World, disappointed with the biased way The Combined  International Collateral Accounts had been utilised within the 50 years,  agreed not to extend the term of the TTTGC, but instead appointed a  single independent person to the position of International Treasury  Controller with full rights, authority, and legal ownership of the  Combined International Collateral Accounts.&nbsp;</p>
<p>On  January 20th 1995, Dr. Ray C. Dam was appointed International Treasury  Controller, and Legal Heir and Owner of the Combined International  Collateral Accounts of the Global Debt Facility, with full authority and  dispositional control of same, under Legal Decadency RCD 1088, executed  by the Nations of the World. Also established on January 20, 1995 was  The Office of International Treasury Control, as the management,  administrative and operations organization for His Excellency, Dr. Ray  C. Dam.</p>
<p>Dr.  Ray C. Dam is a person, but His Excellency Dr. Ray C. Dam is a  certified and indemnified international Central Banking financial  institution operating as The Office of International Treasury Control.</p>
<p>Following  the confirmation of the Powers and Authorities of His Excellency Dr.  Ray C. Dam by the “Washington Panel” in 1998, the establishment of the  Institution &#8212;- The Office of International Treasury Control &#8212;- was  completed on January 20, 2003, whereby, based upon the content and  requirements of numerous International Treaties, The Office of  International Treasury Control was granted Sovereign Entity Status under  the United Nations Charter Control No: 10-60847.</p>
<p>Though  not generally or publicly known, OITC is the largest International  Institution of its kind. It is the largest single owner of gold and  platinum bullion in the World, in addition to being a major owner of  Bank Debenture Securities, International Treasuries, Cash and other  forms of securities, all of which are recorded as assets of the Combined  International Collateral Accounts of the Global Debt Facility, whose  accounts are held within the Federal Reserve, The Bank for International  Settlements, The US Treasury, Swiss National Bank, Swiss Federal  Finance Administration.<br />
Since  being established, the OITC has become the largest single owner of Home  Mortgage Securities in the World today. Original assets in the form of  gold have been wisely and well utilized to create wealth that creates  further wealth.</p>
<p>The  Assets of the Combined International Collateral Accounts are in  constant use, assisting to finance countries and such organisations,  either in part or full, as the International Monetary Fund, The World  Bank, The International Finance Corporation, International Development  Banks, United Nations, and additionally under-pinning the US Dollar as  the World’s Reserve Currency.</p>
<p>So  as to protect the assets, as well as protecting Dr. Ray C. Dam  (International Treasury Controller), together with all other persons  involved, full International Protection and Immunity under Full Jacket  Security Level 3 &#8211; 5 was applied, attested and affirmed under the Great  Seal of America (No: 632-258894) on behalf of the International  Community, together and conjointly with Sovereign Entity Status under  the United Nations.</p>
<p>It  should be noted that only a few persons in each country of the world  are eligible to be able to verify, or undertake a verification, re: the  position of Dr. Ray C. Dam (International Treasury Controller) and the  Office of International Treasury Control. Such persons are limited to  Kings, Queens, Presidents, Prime Ministers, with Ministers of Finance  and Ministers of Foreign Affairs subject to security status and special  conditions / dispensation.<br />
For  anyone, other than those persons referred to above, to attempt to  undertake verification would be futile and would result in deliberate  misinformation on same, or no response at all. Additionally,  “Classified” information is not available, and never will be, on or  through the “www” or various Web Sites which are totally unregulated,  uncontrolled, and legally void, whereby reference to such Web Sites will  only reveal speculations, innuendoes, comments from the uninformed,  deliberate propaganda and misinformation, or similar. YOU ARE THEREFORE  ADVISED NOT TO UTILISE THE “WWW” OR VARIOUS WEB SITES FOR ANY FORM OF  VERIFICATION AS IT IS NOT OFFICIAL, NOR IS IT A PROFESSIONAL METHOD OF  VERIFICATION, NOR WILL IT GIVE YOU ANY CORRECT OR ACCURATE INFORMATION.</p>
<p>International Treaties.</p>
<p>Jekyll Island Agreement (Georgia U.S.A., 1908.)<br />
The Aldrich Act (U.S.A. 1910 )<br />
Creation of Federal Reserve System (Washington, U.S.A., 1913)<br />
Trilateral Tripartite Trillenium Pact Between Nations (London 1921)<br />
The Gold Act, (U.S.A. 1924)<br />
Creation of Bank for International Settlements (January 20, 1930)<br />
Bretton Woods Agreement (New Hampshire, U.S.A., 1944)<br />
B.I.S. Agreement with the Allies (Berne, Switzerland, 1946)<br />
Green Hilton Memorial Agreement (Geneva, Switzerland, 1963-1968)<br />
Schweitzer Conference (Innsbruck, Austria, 1964)<br />
Schweitzer Convention (The Hague, Netherlands, 1968 and revisions thereof, 1972, 1984, and 1998 Washington Panel)<br />
Respecting the Rights Treaty (Bangkok 2003)</p>
<p>Pursuant  to International Treaty Agreements agreed and entered, the following  being the rules for statement of the rules, with the funds and assets  thereof held under his irrevocable and absolute dispositional control of  His Excellency Dr. Ray C. Dam as owner and Sole Arbiter of all assets  held under the Institutional Parent Registration Accounts and all sub  accounts thereof and linked thereto.</p>
<p>Record:<br />
Butler, Charles H., The Treaty Making Power of the Means, United States Senator Committees);<br />
The  Green Hilton Agreement (Geneva 1963-1966 the Guarantee is Declared on  by International Consent); the Guarantee confirmed and established under  Schweitzer Innsbruck Conference (Innsbruck, Austria 1964, record:  Democrat, Royden J, The Treaty Making Power in the Defense of the  Senates part in Treaty Making and the Foreign Controller of Gold Act,  (1972) in the Senate of the United States, Volume II, Chapter 7,  International Panel (The Hague 1968) which transferred to the Trust and  Foundation in its supervisory role and in protection of the free world.)  and subsequent revisions thereof governing the management and control  of International Collateral Combined Accounts otherwise also known as  the Global Debt Facility;<br />
The  RCD Full Jacket (record: Third Level and Five Level Rule in Senate  Actions upon Treaties (1901-1989) American Banking and Bullion  International Law 18 (1924)<br />
Amended Foreign Gold Act (1972, Washington D.C.);<br />
Appointment  and Empowered the Person (January 20, 1995, The Congress assembled the  Legislative Press in the Tripartite, Trilateral, Trillenium Pact, being  the applicable Pact between World Governments (London, 1921).</p>
<p>Reference Codes</p>
<p>INTERNATIONAL RECORD.</p>
<p>Ownership Rights Recorded :  ……Legal Decadency to Heir RCD1088 Far East Entire<br />
Governments Empowered the Person : ……..International Control No. 10-60847<br />
International Clearing Code : ……………………&#8230;.UNRCD-ID006197<br />
UN/Federal Service Record No. : …&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;0-99-2-33<br />
Protectorate and Immunity Granted and Recorded: …Great Seal No. 632259984</p>
</div>
<p>Statements of Fact</p>
<p>1.  The Tripartite Gold Commission, established under the Bretton Woods  Agreement for a single term of 50 years, ceased operations in 1994 and  was formerly wound up in 1997, after having fulfilled it’s life term.The  World Governments via their respective interests in the Bank for  International Settlements, appointed a Sole Arbiter to succeed the  Commission on January 20, 1995. All assets deemed to be held under the  Commission’s Trustee were ceded and transferred to the Ownership of the  Sole Arbiter, thereby granting unrestricted and absolute control to the  Sole Arbiter.</p>
<p>2. His Excellency, Dr. Ray C. Dam, is the appointed  and empowered person holding full disposition rights and authority over  said assets and accounts by virtue of the authority vested in him by  the Governments of the World, whom he represents, such authority being  chartered and then registered with the United Nations.</p>
<p>3. As  Chairman of the said Trust and Foundation and Sole Arbiter and Lawful  Owner of all the assets held within Foundation Divine and the Heritage  International Trust and their internal and ancillary Trusts, Foundations  and Corporations, such Ownership granted to him by the International  Community on January 20, 1995, His Excellency Dr. Ray C. Dam holds the  absolute right to determine and make ruling, such ruling to be enforced  (if necessary) by the Justice Department of the United States of  America; (this right of control is guaranteed by the United States  Congress ,reaffirmed by the Senate of the United States and recorded  within United States Presidential Office of Management and Budget,  whereat, empowerment of his person and his full indemnified status is  acknowledged under Great Seal No. 632259984 and further registered  within the International Division of the Department of the Treasury of  the United States of America, The Bank for International Settlements,  Swiss National Bank and the Swiss Federal Finance Administration),  whereby his determination and ruling on all matters relating to the  assets under his control is inviolate and may not be set aside, modified  or denied by any agreement or arrangement between other parties and or  institutions, or by any other ruling not assented to by the  International Community who empowered his person. Decisions /  Determinations made by H.E. Dr. Ray C. Dam in respect of the Combined  International Collateral Accounts of the Global Debt Facility, take  precedence over all / any laws, adjudications, Legal Rulings, or  similar, determined by any Court of any other Country, including the The  International Courts (World Courts).</p>
<p>4. Under International  Control Number 10-60847, the right of control is established and  Chartered by Treaty Agreement between all Nations, then registered with  the United Nations as a sovereign entity that is to be beyond all other  jurisdictional controls. This creation of a sovereign jurisdiction of  control preserves and protects the official independence of the  appointed and empowered person, His Excellency Dr. Ray C. Dam, his heirs  and successors.</p>
<p>5. Within that Jurisdiction are two institutions:</p>
<p>a.        The Office of International Treasury Control: This Institutional  Organization exists to assist and advise the International Treasury  Controller, His Excellency, Dr. Ray C. Dam, in the exercising of his  Authority.</p>
<p>b.          Consolidated Credit Bank Limited: A  non-public internal Bank which is empowered and deemed as the last  holding bank, the only Bank in the World with lawful authority and  capacity to confirm assets and accounts of the International Treasury  Controller and to issue any legal obligation against those accounts and  to direct beneficial payments for those accounts. It is an Institutional  Bank held within the Federal Reserve. It will not be found within the  &#8220;Bankers Almanac&#8221;, &#8220;The Banker&#8221;, or any other Professional Handbook.</p>
<p>6.   Few organizations have been so publicly attacked and maligned as The  Office of International Treasury Control (OITC), by intensive and  extensive disinformation campaigns, gossip, innuendoes, and the likes.  Much of this is expanded by public perception and failures in total  understanding that is further fueled by “Levels of Secrecy” that are  imposed upon OITC, ignorance, political influence, even fear, or similar  issues.</p>
<p>All Governments are advised to stay with proper  procedures and protocols and to conduct any undertaking for verification  of the real existence of H.E. Dr. Ray C. Dam (International Treasury  Controller), the OITC in compliance with such procedures and protocols,  and to disregard internet gossip and reports, articles, or similar, to  the contrary.</p>
<p>7.  Political Issues. The Office of International  Treasury Control is a non-political organization whose objectives, as  determined by the Nations of the World, embodied within numerous  International Treaties, is to “Financially assist” the Nations of the  World and its People for the betterment of all, in a balanced and  sustainable manner, irrespective of the political or religious base of  any country.</p>
<p>8.  Assets of the Combined International Collateral  Accounts of the Global Debt Facility: These are held in the majority of  Countries (Japan, United Kingdom, United States of America, China,  Taiwan, Philippines, Thailand, Cambodia, Jordan, Singapore, France,  Germany, Austria, Luxembourg, Belgium, Norway, Caribbean Islands, Egypt,  South Africa, Uruguay, Argentina, Italy, Russia, plus many more  countries) throughout the World, in Central Bank Vaults, Commercial  Banks, Bonded Warehouse Depositories, Military Establishments, and in  such inhospitable places as in Sunken Ships on the Seabed, on the bed of  large Reservoirs, Caves, Purposely dug Mountain Tunnels, Old Mines,  Bunkers, and such places.</p>
<p>The actual Accounts (Ledgers) are held  within the US Federal Reserve, The US Treasury, The Swiss National Bank,  The Swiss Federal Finance Authority and the Bank for International  Settlements.</p>
<p>Transfers of any Assets, are restricted to the  International Central Bank System. Assets can rarely be transferred via  the normal Commercial Banks, but it is possible depending on the  International status of any specific Commercial Bank.</p>
<p>Source :<br />
<a href="http://www.unoitc.org/History.html">http://www.unoitc.org/History.html</a></p>
<p>Keberagaman<br />
Raja Nusantara Kumpul di Istana<br />
Minggu, 30 November 2008 | 02:54 WIB<br />
Jakarta,  Kompas &#8211; Sebanyak 118 raja, sultan, penglingsir, panembahan, kepala,  serta kepala adat yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Keraton  Se-Nusantara berkumpul dan diterima Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di  Istana Negara, Jakarta, Sabtu (29/11). Mereka mengapresiasi kemajuan  Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Yudhoyono dan akan membalas  budi baik itu pada masa mendatang.</p>
<p>”Hati kami malam ini sungguh  berbunga-bunga Bapak Presiden. Ada getaran tersendiri ketika kami  menginjakkan kaki di Istana Negara. Istana Negara saat ini jauh berbeda  dibandingkan dahulu. Dahulu tidak ada gambar- gambar para pendahulu.  Inilah budaya kita, yaitu menghormati pendahulu kita,” ujar Ketua Umum  FSKN Raja Ida Tjokorda Denpasar IX dalam sambutannya.</p>
<p>Pujian  kepada Presiden disambut tepuk tangan sekitar 100 raja beserta  permaisuri yang hadir dengan pakaian adat mereka masing-masing. FSKN  adalah forum yang dibentuk Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik  tahun 2006. Jero Wacik adalah menteri yang berasal dari Partai Demokrat.<br />
Para  raja diterima Presiden Yudhoyono di Istana Negara di sela-sela pameran  budaya yang diselenggarakan pada 25-30 November 2008. Pameran diikuti  110 keraton dan lembaga adat dari 118 anggota FSKN.<br />
FSKN  mengapresiasi bantuan Presiden Yudhoyono lewat Menbudpar dalam rangka  upaya bersama melestarikan dan mengemban adat, salah satunya dengan  pariwisata. Namun, FSKN juga menemukan kendala yang dihadapi keraton di  seluruh Nusantara.<br />
”Akibat sistem politik, demokrasi, dan produk  undang-undang, keraton-keraton di daerah makin menjauh dan tercerabut  dari akar-akar budayanya sendiri,” ujar Ida.<br />
Dalam pengarahannya,  Presiden mengemukakan, di tengah terjadinya interaksi sistem nilai dan  akulturasi budaya, Indonesia akan tetap menjadi rumah yang teduh tempat  semua orang hidup berdampingan, saling hormat- menghormati, dan rukun  satu sama lain. ”Indonesia akan menjadi rumah yang besar, indah, dan  teduh,” ujarnya.<br />
Presiden mengemukakan, budaya Nusantara yang beragam  akan menunjukkan Indonesia sebagai bangsa yang besar. ”Jangan direduksi  ke urusan-urusan politik dan administrasi,” ujarnya.<br />
Di tengah  perubahan yang terjadi, Presiden meminta para raja berkontribusi  melestarikan peradaban, budaya, dan warisan bangsa serta membantu  mengatasi masalah yang saat ini sedang timbul, yaitu mengembangkan  ekonomi kreatif dengan dasar warisan budaya. Salah satu wujud ekonomi  kreatif adalah pariwisata.<br />
Dari jumlah 261 kerajaan besar dan kecil  seluruh Nusantara, saat ini baru tergabung 118 kerajaan yang tersebar di  23 provinsi. Keraton Yogyakarta tidak masuk dalam FSKN, tetapi, menurut  Ida, mengirimkan wakilnya untuk hadir.<br />
”Beliau (Sultan Hamengku  Buwono X) belum masuk, tetapi kami saling berkomunikasi. Untuk acara  ini, kami juga melayangkan undangan,” ujarnya.<br />
Para raja yang hadir  antara lain dari Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan,  Sumatera Barat, Lampung, Jawa Timur-Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat,  Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi  Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku, dan Papua Barat.<br />
Acara tersebut juga dihadiri oleh Ketua Asosiasi 20 Raja/ Bangsawan Eropa Ferdy Baron de Smith van Alpen. (INU)</p>
<p>Sumber :<br />
<a href="http://koran.kompas.com/read/xml/2008/11/30/02545263/raja.nusantara.kumpul.di.istana">http://koran.kompas.com/read/xml/2008/11/30/02545263/raja.nusantara.kumpul.di.istana</a></p>
<p>Keluarga Keraton Minta Diperhatikan<br />
KOMPAS/ELOK DYAH MESSWATI</p>
<p>Pangeran  Raja Adipati Arief Natadiningrat, Putra Mahkota Keraton Kasepuhan  Cirebon, menyerahkan payung sebagai penanda dimulainya pawai alegoris  Panjang Jimat untuk memperingati Maulid Nabi.</p>
<p>Sabtu, 10 Januari 2009 | 09:01 WIB<br />
SERANG,  SABTU — Keturunan keraton dan kesultanan se-Indonesia yang tergabung  dalam Forum Silaturahmi Kerajaan Se-Nusantara (FSKN) meminta perhatian  pemerintah. Sebab, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini lahir  berkat penyerahan aset kerajaan kepada republik dengan ikhlas.</p>
<p>Demikian  dikatakan Sekretaris Jenderal FSKN, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH)  Gunarso G Kusumodiningrat, di sela-sela Mukernas FSKN yang dihadiri 46  perwakilan keturunan raja-raja Nusantara di Hotel Le Dian, Serang, Jumat  (9/1) kemarin.</p>
<p>&#8220;Kami minta perhatian pemerintah, khususnya untuk melestarikan aset kerajaan yang tersebar di Nusantara ini,&#8221; kata KPH Gunarso.</p>
<p>Dikatakan  pula, FSKN merupakan kumpulan keluarga keturunan raja dan atau sultan  yang berdiri pada Agustus 2007. Organisasi ini lahir untuk melestarikan  budaya kerajaan yang tersebar di Indonesia.</p>
<p>Saat ini anggotanya  mencapai 118 dari 200 keturunan raja di Nusantara. Jumlah ini merupakan  hasil penelitian dari Lembaga Pengembangan Penelitian Kerajaan Nusantara  (LP2KN).</p>
<p>&#8220;Seluruh anggota itu tercatat di Leyden, Belanda. Dan  itu tidak bisa ngaku-ngaku, karena seluruhnya diteliti oleh LP2KN,&#8221;  tegas KPH Gunarso.</p>
<p>Datuk Andi Unru, Keturunan Kerajaan Kadatua  Sopeng, Sulawesi Selatan, mengaku senang bergabung dalam FSKN. &#8220;Kita  bisa saling berkeluh kesah sesama keluarga keturunan raja, yang saat ini  dipandang sebelah mata oleh pemerintah. Padahal, cikal bakal NKRI ini  ya berkat raja-raja tersebut,&#8221; katanya. (nir)</p>
<p><a href="http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/10/0901356/keluarga.keraton.minta.diperhatikan">http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/10/0901356/keluarga.keraton.minta.diperhatikan </a></p>
<p>SUNDA NUSANTARA SEBAGAI INDUK BANGSA<br />
Gusti.MKH.Damanik<br />
Wed, 17 May 2006 01:33:50 -0700<br />
Sunda Nusantara merupakan salah satu sejarah yang sangat perlu kita<br />
pelajari dan kita ungkap bersama.<br />
Dengan sepintas orang dikacaukan dengan nama Sunda Kelapa. Pada<br />
dasarnya walaupun ada kemiripan nama, tetapi mempunyai makna lain.<br />
Sunda Kelapa identik dengan Batavia, Betawi, Jayakarta, Jakarta<br />
sebagai Ibu Kota Negara Kesatuan Negara Republik Indonesia sekarang<br />
ini.<br />
Sedangkan Sunda Nusantara merupakan suatu Negara yang berbentuk<br />
Kerajaan dengan Pemerintahannya berdasarkan Konstitusi Parlementer<br />
Demokrasi Sejati Reformasi Kerakyatan dan Kemakmuran Bangsa Sunda<br />
Tanah Air di daratan Sunda Nusantara.<br />
Wilayah : Sunda Nusantara memiliki wilayah yang terbentang dari<br />
barat sampai timur dari Jawa sampai dengan Papuniginia (Irian),<br />
bentangan dari selatan sampai dengan utara, mulai dari Timor sampai<br />
dengan selat Malaka-Singapura.<br />
Dalam bentangan ini diklasifikasi dalam bentuk besar kecilnya Nusa<br />
(Pulau) itu sendiri dengan klasifikasi:<br />
1.Klasifikasi kepulauan Sunda Besar :<br />
Jawa(Jawa Dwipa), Sumatera (Andalas), Kalimantan (Borneo), Selat<br />
Malaka-Singapura, Papua Nuginia (Irian)<br />
2.Klasifikasi Pulau Sunda Kecil :<br />
Kepulauan Maluku, Bali, Lombok, Sumbawa, Timor, Sumba, Pulau2 kecil<br />
lainnya yang sampai sekarang masuk pengakuan Negara Kesatuan<br />
Republik Indonesia..</p>
<p>Bangsa :<br />
Bangsa Sunda Nusantara sudah berumur 86000.000 (delapan puluh enam<br />
juta tahun silam) merupakan bangsa tertua di Asia Tenggara sebagai<br />
induk bangsa yang melahirkan bermacam-macam suku-suku di<br />
wilayah /daratan Sunda Nusantara-Sunda Melayu, yang sekarang berubah<br />
nama Negara Kesatuan Negara Republik Indonesia.<br />
Politik :<br />
*Kerajaan Sunda Nusantara sejak abad 15 sudah mengadakan hubungan<br />
diplomatic pada Negara-negara seluruh dunia, sampai dengan saat ini<br />
secara de facto, de yure dan legitimate masih mendapatkan pengakuan<br />
(Internationalle recognized Negara-negara seluruh dunia di bawah<br />
naungan Badan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Mahkamah<br />
International di negeri Belanda.<br />
* Pada akhir perang dunia ke II, kedatangan penjajah bernama<br />
Netherland India Commisiton Administration (NICA) tepatnya tahun<br />
1945-1950 menyerahkan kekuasaannya kepada Republik Indonesia Serikat<br />
(1950) dan mengakibatkan timbulnya pemerintahan baru di bawah<br />
pimpinan Mr. Ir Soekarno dengan beberapa kali pergantian pimpinan<br />
sampai dengan sekarang ini.<br />
* Pemerintahan tersebut diatas berkembang di wilayah Negara lama<br />
yaitu wilayah daratan Kerajaan Maha Raja Sunda-Sunda Nusantara-Sunda<br />
Melayu Nusantara dengan pimpinan kepala Negara dan Kepala<br />
Pemerintahan Sunda-Sunda Nusantara pada abad 18 ini di pimpin oleh<br />
kaisar Achmad (SERI BADUGA MAHARAJA KAISAR SULTAN ACHMAD AL-MISRI)<br />
yang beristana di Jakarta, Bogor, Cipanas, Sorosowan (Banten) dan<br />
Pandegelang.</p>
<p>Sejarah :<br />
Pada abad 18 dengan pesatnya perkembangan Agama Islam di wilayah<br />
Sunda Nusantara pimpinan Sunda Nusantara telah menganut Agama Islam<br />
dengan patuh seperti pada masa 1513-1552 SERI BADUGA BAGINDA<br />
MAHARAJA SUSUHUNAN SYARIEF HIDAYATULLAH AL-MISRI (Sunan Gunung Jati<br />
Wali Sanga/Sembilan) lahir di Mekkah tahun : 1488. yang merupakan<br />
anak dari pasangan RAJA MESIR SYARIEF ABDULAH AL-MISRI (Generasi ke<br />
22 ROSUL SAW) dan NYAI RATU RARA SANTANG AL SARIPAH SITI MUDA&#8217;IM<br />
yang wafat di Madinah thn 1528 di makamkan di keluarga Rosul.Sunan<br />
Gunung Jati menikah dengan (Permaisuri) CROWN PRINCE PANGERAN PUTRI<br />
PEMBAYUN yang merupakan putri dari PB. Brawijaya V.  Ajaran Agama<br />
Islam ini dipegang teguh oleh para ahli wari tachta kerajaan<br />
terutama sebagai pimpinan kepala Negara dan kepala pemerintahan.<br />
Pimpinan tertinggi SERI BADUGA MAHARAJA KAISAR SULTAN ACHMAD AL-<br />
MISRI yang wafat pada tahun 1840 di desa Burakan rembang Jawa<br />
Tengah. Dalam peperangan terbuka (10 Mei 1810) dapat menumpas<br />
pasukan Gubernur Jenderal Hindia Belanda  Herman Wiliem Daendeles.<br />
Dalam peperangan itu ditaklukkan (10 Mei 1810-1811) Gubernur<br />
Jenderal HW Daendeles beserta pasukannya menyerah tanpa syarat dan<br />
H.W daendeles dipenjarakannya. Istana Kepala Negara dan Kepala<br />
Pemerintahan terletak di Jakarta, Bogor, cipanas dan sorosowan<br />
(Banten).</p>
<p>Thomas Stamford Raffles (1810-1816) dengan akal cerdiknya mengajak<br />
pimpinan tertinggi Kepala Negara dan kepala pemerintahan Kerajaan<br />
Maharaja Sunda-Sunda Nusantara Kaisar Achmad pergi jalan-<br />
jalan/pelesir ke pulau Banda Maluku (Pulau Sunda Kecil) dengan<br />
alasan menyambut kemenangan tanpa syarat terhadap penumpasan H.W<br />
Deandeles. Selanjutnya Kaisar Achmad di tinggalkan begitu saja<br />
dengan tangan diikat di pulau Banda dan pemerintahan Sunda Nusantara<br />
diambil alih dan pengambilan alihan itu meluas sampai Selat Malaka-<br />
Singapura. Sunda Nusantara yang sudah sejak 86 juta silam dan sudah<br />
berhubungan diplomatic sejag abad 15, perjalanan sejarahnya<br />
mengalami beberapa peristiwa sejarah didalamnya. Dari bentuk<br />
kerajaan hinga Republik sekarang ini.</p>
<p>A &#8212;&#8212;B&#8212;&#8212;B&#8212;&#8212;C&#8212;&#8212;-D&#8212;&#8212;-E&#8212;&#8211;F&#8212;&#8212;G&#8212;&#8211;H</p>
<p>A-H : Bentangan sejarah Sunda Nusantara kurun waktu kurang lebih 86<br />
juta tahun.<br />
B-B : Bentuk Zaman Kerajaan<br />
C : Peristiwa kebangkitan bangsa oleh Alumnus dari Negri Belanda<br />
D : tahun 1945 Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan RI<br />
E : tahun 1947/48 Clash I&amp;II Belanda ingin merebut kembali<br />
F : tahun 1950 Negara Indonesia  Serikat (RIS)<br />
G : tahun 1959 Dekrit Presiden, gugurnya Republik Indonesia Serikat<br />
(RIS) menjadi Republik Indonesia (RI) kembali s/d sekarang<br />
H : tahun 2006 Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)</p>
<p>Kesejahteraan seluruh bangsa rakyat Sunda Nusantara didaratan Sunda<br />
Nusantara-Sunda Melayu sampai saat ini di simpan di 93 Negara dalam<br />
bentuk assat-asset :<br />
•Collaterals in federal reserve certificate of the united states<br />
America Bound Guarantee<br />
•Redland Merchant Bank of Switzerland<br />
•Obligation certificate of deposit credit Swiss Bank International<br />
•Certificate of Swiss Bank Corporation Obligation treasure Bound<br />
National Bank of England<br />
•Bank de Netherlands<br />
•City Bank New York and United Overseas Bank Singapore<br />
Selain itu asset-asset ini juga berbentuk logam mulia, platinum, dan<br />
benda-benda berharga lainnya yang dikumpulkan oleh Raja-raja di<br />
seluruh Sunda Nusantara di daratan Sunda Melayu Nusantara Bangsa<br />
Sunda Nusantara di daratan Sunda Nusatara di kepulauan Sunda Besar-<br />
Sunda Kecil, Di samping itu masih tersimpan uang sebesar 4000<br />
triliun poundsterling yang tersimpan di Negara Inggris. Dapat<br />
dibayangkan betapa besarnya asset-asset bangsa Sunda Nusantara yang<br />
hingga saat ini masih tersimpan dan tersebar di luar negeri yang di<br />
sebut the making of a super power dan Sunda Nusantara Dollar<br />
Trilion, milik pemerintah Negara Kerajaan Bangsa Sunda Nusantara.<br />
Seandainya Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang<br />
dipimpin oleh Bpk. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat ini<br />
berkenan untuk mengakses dan mengakomodasi eksisnya kerajaan Sunda<br />
Nusantara, kiranya sangat membantu mengatasi penderitaan<br />
bangsa/rakyat yang telah mengalami keterpurukan hidup yang menimpa<br />
sampai saat ini. Di samping itu asset-aset tersebut dapat di<br />
pergunakan untuk melunasi hutang pemerintah yang menggunung sejak<br />
Presiden Soeharto sampai dengan saat ini. Sehingga kesejahteraan,<br />
keadilan dan kemakmuran bangsa Indonesia cepat terwujud sesuai<br />
dengan cita-cita yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 khususnya<br />
alinea kedua (tata tentrem karta tur raharja, adil berkemakmuran,<br />
makmur berkeadilan) Insya Allah.<br />
Untuk mendapatkan kebenaran secara akurat, tentunya masih diperlukan<br />
pengkajian, penelitian dan penganalisaaan lebih lanjut. Semoga kita<br />
semua selalu mendapat perlindungan dari Allah SWT, Amien ya<br />
robbal&#8217;allamin.</p>
<p>sumber :<br />
<a href="http://www.mail-archive.com/kisunda@yahoogroups.com/msg04126.html">http://www.mail-archive.com/kisunda@yahoogroups.com/msg04126.html</a></p>
<p>Historical Perception, Collateral Accounts and the Wealth of the World,<br />
Are the &#8220;Royal Families of the World&#8221; still running things?<br />
original title before DrBubb changed it:<br />
&#8220;Mr Whistleblower, working with OITC&#8221; says&#8230;<br />
==========================</p>
<p>(request from drBubb to BHP-T.):</p>
<p>Please provide a summary here.<br />
No one will read all this, unless they have some idea of what you are talking about</p>
<p>Is it this:<br />
The OITC and the Royal Families of the world will eventually provide $55 Trillion to save the world from it current<br />
worsening mess. But if our leaders choose to take it, it will come with a new global currency, and a new system<br />
of leadership.</p>
<p>How do bits like this fit in ?:<br />
1/  &#8220;If you carefully analyse our information, especially our method of  introducing financial assistance to any one country, you will appreciate  that the methodology and mechanisms employed by the OITC actually avoid  a uni-polar system and allows for each country to gain Financial  Independence from what is commonly referred to as colonialism by one or  more of the so-called greater nations.</p>
<p>2/ &#8220;Only 2 years ago, we  came across a group who referred themselves as “Knights Templar”  attempting to buy Gold which was stolen out of the Philippines and  Thailand. They were working with the Federal Reserve and Deutsche Bank  in Germany. Another example happened quite recently with another general  inquiry to us. This one we saw through quite quickly and as it turns  out we are now aware of how, in part, the “Jews” control many countries  in Africa, utilising such organisations as the IMF, WB, and even the UN,  plus various Intelligent Agencies.&#8221;</p>
<p>==========================</p>
<p>Communications between us and a person, Mr Whistleblower, working with OITC.<br />
We are asking for comments regarding the presentation and additional info.<br />
Our text is black, his response in bold.</p>
<p>Source :<br />
<a href="http://www.greenenergyinvestors.com/index.php?showtopic=6734&amp;mode=threaded">http://www.greenenergyinvestors.com/index.php?showtopic=6734&amp;mode=threaded</a></p>
<div>The Return of Royalty to Indonesia <a name="indonesia"><img src="http://www.nobility-royalty.com/1x1.gif" border="0" alt="" hspace="0" vspace="0" width="1" height="1" align="bottom" /></a></div>
<div><img src="http://www.nobility-royalty.com/1x1.gif" border="0" alt="" hspace="0" vspace="0" width="1" height="11" align="bottom" /></div>
<div>The following are quotes and paraphrases from the article: “<strong>Return of the Sultans,</strong>” by Gerry van Klinken and comments by Donald P. Tick.</div>
<div>It is about the fact that “<strong>pomp and ceremony is returning to dusty palaces all over Indonesia.</strong>” (<a href="http://www.blogger.com/www.insideindonesia.org/content/view/244/29"><strong><span style="text-decoration:underline;">www.insideindonesia.org/content/view/244/29</span></strong></a>)</div>
<div>The  government of Indonesia as of December 2007 decided that ancient  culture and royalty must be recognized. Hence, the Indonesian government  has officially recognized the important contribution of the former  small monarchs in their history and are registering the present heads of  the ruling families as representing the former kings and sovereign  princes who ruled their land. Apparently about 100 of about 300 have  been screened so far as valid claimants. However, some have too many  claimants as royal heads of heir particular branch and therefore may not  be included among the honored. But this recognition is a great  milestone for these ancient royal families.</div>
<div>The 2004 article starts off with the following two paragraphs:</div>
<div>The  last sultan of Pontianak, Syarif Hamid II Alqadrie, was jailed for 10  years in 1953 for siding with the Dutch army against the Indonesian  Republic during the revolution of 1945. When he died in 1978 the throne  was left empty. His palace remained a somewhat run-down tourist  attraction by the Kapuas River. In January 2004 a new sultan was  installed in the Qadriah palace, a nephew of Sultan Hamid II. At the  celebration to mark the occasion, golden umbrellas adorned the palace,  and thousands of well-wishing guests dressed in traditional Malay finery  feasted on food set out in long rows on mats. Massive cannon shots  boomed over the river and Air Force Skyhawks performed acrobatics over  the palace. The man who said the prayers almost choked on his tears; his  father had taught the Koran to the entire Alqadrie family years ago. It  seemed as if the past was not gone after all.</div>
<div>Long-dormant  sultanates are being revived all over Indonesia. My own list, no doubt  incomplete, contains about 24 of them in Kalimantan, Sumatra, Java, and  Maluku. That does not count the 40 or so sultans and non-Islamic kings  whose roles have not changed appreciably. Figures such as the sultan of  Bima and the king of Kupang have always been respected as informal local  leaders.</div>
<div>The governmental climate that has allowed this change is that a new governmental focus on:</div>
<div>Autonomy  has brought not merely new administrative arrangements but a new kind  of political struggle requiring new (or newly reinvented) symbols. The  autonomy laws are focused on the districts (<em>kabupaten</em>), not on  the provinces. The boundaries of these districts often reflect the  numerous small kingdoms that were incorporated into the Netherlands  Indies by Dutch colonists, some of which were described by Joseph Conrad  in his stories, including <em>Lord Jim</em>. Areas ruled indirectly  covered more than half the archipelago outside of Java. It should be no  surprise that these kingdoms have now become symbols of district  identity. The message to Jakarta is: don&#8217;t underestimate us, we have a  magnificent history.</div>
<div>It  is important to remember that the sultans are symbols lacking real  power. There is no question of them becoming real sultans; they are  weekend sultans who hold regular jobs in the city, not the `off with his  head!&#8217; sultans of another era.</div>
<div>Exactly  what the symbols mean is more difficult to determine. There is no doubt  that Indonesia&#8217;s sultans are well liked and the notion of kingship  remains a popular one. . . .</div>
<div>The  royal families I have spoken with in West Kalimantan say their  leadership is meant to bring different ethnic groups together. They  point out that their forefathers married into many different groups in  order to extend their influence, as kings have always done. The Mempawah  royal family has Bugis and Dayak blood as well as Malay in its lineage,  making the sultanate a symbol of an all-embracing unity. . . .</div>
<div>However, these symbols can become divisive if turned to real political power. . . .</div>
<div>The author concluded, “It is yet to be determined if the new sultans can be a positive influence on local politics. . . .”</div>
<div>Donald Tick states:</div>
<div>The  king; sultan Hamengku Buwono X of Yogjakarta, tried during the  presidential election of 2009, to become the new president, but it was  not yet the time for it, although he was very popular.</div>
<div>The  royalty are now represented by 3 organisations: FKKAS (for Sulawesi  only), FKIKS (the oldest one) and FSKN (this last one is the most  succesful and is seen as the official one, but it has some political  problems in it&#8217;s history).</div>
<div>.  . . The organising of royal festivals can be a way of showing royal  culture to outsiders and especially to their own people, who with  amazement sees the rich culture, which was pushed back for such a long  time [since 1945].</div>
<div>Time  will tell, how the royalty and the people will deal with all of this,  because it is a living process with human beings, who must choose and  revalue an important matter in their existence.</div>
<div>We can only hope the best for them and that the Creator above will give them wisdom.</div>
<div>This  article will be added to as more facts become apparent, but we welcome  the recognition of royalty and its importance and relevance to modern  times all over the earth.</div>
<p>Source :<br />
<a href="http://www.nobility-royalty.com/id90.htm">http://www.nobility-royalty.com/id90.htm</a></p>
<p>INI SEBAGIAN KECIL TREASURE (KEKAYAAN YG ADA DI SALAH SATU KERAJAAN)<strong><br />
yang di cuplik dari :<br />
<a href="http://sumedanglarang.blogspot.com/2008/04/koleksi-museum-prabu-geusan-ulun.html">http://sumedanglarang.blogspot.com/2008/04/koleksi-museum-prabu-geusan-ulun.html</a><br />
</strong></p>
<div><a href="http://sumedanglarang.blogspot.com/2008/04/koleksi-museum-prabu-geusan-ulun.html">Koleksi Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang</a></div>
<div><a href="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/ajiputih281429_resize.jpg"><img src="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/ajiputih281429_resize.jpg?w=300" border="0" alt="" /></a>Pedang Ki Mastak Prabu Tadji Malela Pendiri Kerajaan Sumedanglarang&nbsp;</p>
</div>
<div><a href="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/100_3354_resize.jpg"><img src="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/100_3354_resize.jpg?w=252" border="0" alt="" /></a>Pepeten (tempat Perhiasan) Peninggalan Pangeran Sugih&nbsp;</p>
</div>
<div><a href="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/3-4-o_resize.jpg"><img src="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/3-4-o_resize.jpg?w=300" border="0" alt="" /></a>Bokor Emas&nbsp;</p>
</div>
<div><a href="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/3-2-b_resize.jpg"><img src="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/3-2-b_resize.jpg?w=225" border="0" alt="" /></a>Mahkota Binokasih Sanghyang Pake merupakan Legitimasi Penerus Pajajaran kepada<br />
Prabu Geusan Ulun selaku Nalendra Sumedanglarang&nbsp;</p>
</div>
<div><a href="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/3-3-f_resize.jpg"><img src="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/3-3-f_resize.jpg?w=300" border="0" alt="" /></a>Siger Mahkota Binokasih Sanghyang Pake</div>
<div></div>
<div><a href="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/3-4-j_resize.jpg"><img src="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/3-4-j_resize.jpg?w=300" border="0" alt="" /></a>Ikat Bahu Pasangan Mahkota Binokasih&nbsp;</p>
</div>
<div><a href="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/4-b-_resize.jpg"><img src="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/4-b-_resize.jpg?w=300" border="0" alt="" /></a>Badik Curug Aul Senopati Pajajaran Jayaperkosa</div>
<div><a href="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/2-7-b_resize.jpg"><img src="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/2-7-b_resize.jpg?w=300" border="0" alt="" /></a>Wayang Golek Peninggalan Pangeran Soegih</div>
<div><a href="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/d15a_resize.jpg"><img src="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/d15a_resize.jpg?w=225" border="0" alt="" /></a>Keris Ki Dukun Prabu Gajah Agung&nbsp;</p>
</div>
<div><a href="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/100_2826_resize.jpg"><img src="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/100_2826_resize.jpg?w=300" border="0" alt="" /></a>Pedang Pangeran Soegih&nbsp;</p>
</div>
<div><a href="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/ngp-3_resize.jpg"><img src="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/ngp-3_resize.jpg?w=205" border="0" alt="" /></a>Keris Naga Sastra Pangeran Kornel</div>
<div><a href="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/1-6-b_resize.jpg"><img src="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/1-6-b_resize.jpg?w=300" border="0" alt="" /></a>Seperangkat Meubel Jepara Adipati Soeriatmadja ketika mendapat gelar &#8220;Pangeran&#8221; dari Adipati Sosroningrat (Ayahanda RA Kartini)&nbsp;</p>
</div>
<div><a href="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/1-7-d_resize.jpg"><img src="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/1-7-d_resize.jpg?w=225" border="0" alt="" /></a>Baju Tolak Bala Zaman Pangeran Soegih (Adipati Koesoemah Adinata)</div>
<div><a href="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/1-7-e_resize.jpg"><img src="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/1-7-e_resize.jpg?w=225" border="0" alt="" /></a>Pakaian Prajurit Sumedanglarang&nbsp;</p>
</div>
<div><a href="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/3-4-s_resize.jpg"><img src="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/3-4-s_resize.jpg?w=300" border="0" alt="" /></a>Tempat Sirih&nbsp;</p>
</div>
<div><a href="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/9_resize.jpg"><img src="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/9_resize.jpg?w=300" border="0" alt="" /></a>Kujang Pajajaran Zaman Peninggalan Prabu Geusan Ulun</div>
<div><a href="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/13-3_resize.jpg"><img src="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/13-3_resize.jpg?w=300" border="0" alt="" /></a>Gamelan Parakan Salak tahun 1883</div>
<div><a href="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/16b_resize.jpg"><img src="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/16b_resize.jpg?w=300" border="0" alt="" /></a>Kereta Naga Paksi Tahun 1836&nbsp;</p>
</div>
<div><a href="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/gongafeungjpg_resize.jpg"><img src="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/gongafeungjpg_resize.jpg?w=246" border="0" alt="" /></a>Goong Ageung Parakan Salak yang pernah ikut andil dalam Pembukaan Menara Efiel di Paris</div>
<div><a href="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/2-2-b_resize.jpg"><img src="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/2-2-b_resize.jpg?w=225" border="0" alt="" /></a>Puade Tahun 1836&nbsp;</p>
</div>
<div><a href="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/16c_resize.jpg"><img src="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/16c_resize.jpg?w=300" border="0" alt="" /></a>Keretek&nbsp;</p>
</div>
<h2>Kamis, 2009 Juli 23</h2>
<p><a name="9185602240384200013"></a></p>
<h3><a href="http://sejarahastrologimetafisika.blogspot.com/2009/07/perkembangan-terakhir-proyek-penulisan.html">Perkembangan Terakhir Proyek Penulisan Buku Sejarah Kerajaan Nusantara</a></h3>
<p><strong>Perkembangan Terakhir Proyek Penulisan Buku Sejarah Kerajaan Nusantara<br />
22 Juli 2009<br />
(Recent Development of Project “History of Indonesian Kingdoms and Princely States, July 22th 2009)<br />
</strong><br />
Pada  hari ini berhasil dikumpulkan data sejarah 118 kerajaan di Indonesia!  Saya berharap akan mendapatkan lebih banyak data lagi untuk melengkapi  buku saya.<br />
(Today I am able to collect the historical records of 118  kingdoms and princely states. I hope to get more datas to complete my  book)</p>
<p>Akhirnya, saya berhasil juga mengumpulkan data 118 kerajaan  yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, padahal sebelumnya saya  dilanda pesimisme akan dapat menyelesaikan proyek ini. Meskipun baru  sepertiga dari keseluruhan jumlah kerajaan yang ada (300 kerajaan),  tetapi perkembangan hari ini boleh dikatakan menggembirakan. Saya  optimis akan dapat mendapatkan sisanya lagi. Adapun data  kerajaan-kerajaan yang dapat saya kumpulkan hingga hari ini adalah  sebagai berikut:</p>
<p>Today, I am able to collect historical record of  118 kingdoms an princely states in Indonesia; which are located from  Sabang until Merauke. In the begining, I was overwhelmed by such a  feeling of uncertainty whether I can finish this project or not. But  today’s development seems bring promises for the future, although the  records are still one third of the 300 kingdoms and princely states ever  existed. I am optimist that I can get the rest. The list of already  available kingdoms is as following:</p>
<p>Kerajaan-kerajaan di Jawa Barat<br />
1.       Banten<br />
2.       Priangan<br />
Kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah dan Timur<br />
Demak, Pajang, Mataram<br />
3.       Surakarta<br />
4.       Yogyakarta<br />
5.       Mangkunegaran<br />
6.       Pakualaman<br />
7.       Madura<br />
Kerajaan-kerajaan di Aceh<br />
8.       Aceh<br />
Kerajaan-kerajaan di Gayo (kejuron)<br />
9.       Cek<br />
10.   Buket<br />
11.   Karang<br />
12.   Linggo<br />
13.   Petiambang<br />
14.   Serbojadi Abok<br />
15.   Siah Utama<br />
Kerajaan-kerajaan di Sumatera Utara, Barat, dan Timur<br />
16.   Asahan<br />
17.   Batak<br />
18.   Deli<br />
19.   Langkat<br />
20.   Minangkabau<br />
21.   Indrapura<br />
22.   Inderagiri dan Keritang<br />
23.   Kampar<br />
24.   Kepenuhan<br />
25.   Kuantan dan Kandis<br />
26.   Kuntur Daressalam<br />
27.   Pelalawan<br />
28.   Riau Lingga<br />
29.   Rokan<br />
30.   Segati<br />
31.   Siak Sri Inderapura<br />
32.   Tambusai<br />
Kerajaan-kerajaan di Sumatera Selatan<br />
33.   Jambi<br />
34.   Palembang<br />
Kerajaan-kerajaan di Bengkulu<br />
35.   Sungai Serut<br />
36.   Selebar<br />
37.   Depati Tiang Empat<br />
38.   Sungai Lemau<br />
39.   Sungai Itam<br />
40.   Anak Sungai<br />
Kerajaan-kerajaan di Bali<br />
41.   Badung<br />
42.   Bangli<br />
43.   Buleleng<br />
44.   Gianyar<br />
45.   Jembrana<br />
46.   Karangasem<br />
47.   Klungkung<br />
48.   Mengwi<br />
49.   Tabanan<br />
Kerajaan-kerajaan di Kalimantan Barat<br />
50.   Kubu<br />
51.   Landak<br />
52.   Meliau<br />
53.   Mempawah<br />
54.   Pontianak<br />
55.   Sambas<br />
56.   Sanggau<br />
57.   Selimbau<br />
58.   Simpang<br />
59.   Sintang<br />
60.   Sukadana<br />
61.   Matan<br />
62.   Tayan<br />
63.   Bunut<br />
64.   Jongkong<br />
65.   Piasa<br />
66.   Suhaid<br />
67.   Silat<br />
Kerajaan-kerajaan di Kalimantan Tengah dan Selatan<br />
68.   Banjar<br />
69.   Kotawaringin<br />
Kerajaan-kerajaan di Kalimantan Timur<br />
70.   Berau<br />
71.   Bulungan<br />
72.   Gunung Tabur<br />
73.   Kutai Kartanegara<br />
74.   Pasir<br />
75.   Sambaliung<br />
76.   Tanah Tidung<br />
Kerajaan-kerajaan di Sulawesi Utara<br />
77.   Bolaang<br />
Kerajaan-kerajaan di Sulawesi Tengah<br />
78.   Banawa<br />
79.   Bangga<br />
80.   Banggai<br />
81.   Bungku<br />
82.   Buol<br />
83.   Dolo<br />
84.   Kulawi<br />
85.   Mori<br />
86.   Moutong<br />
87.   Palu<br />
88.   Parigi<br />
89.   Poso<br />
90.   Sigi<br />
91.   Tawaili<br />
92.   Tojo<br />
93.   Toli-Toli<br />
94.   Una-Una<br />
Kerajaan-kerajaan di Sulawesi  Selatan<br />
95.   Bone<br />
96.   Gowa<br />
97.   Tallo<br />
Kerajaan-kerajaan di Sulawesi Tenggara<br />
98.   Laiwui</p>
<p>Kerajaan-kerajaan di Maluku<br />
99.   Ternate<br />
Kerajaan-kerajaan di Nusa Tenggara Barat<br />
kerajaan-kerajaan di Pulau Sumbawa<br />
100.                        Bima<br />
101.                        Dompu<br />
102.                        Pekat (Papekat)<br />
103.                        Sanggar<br />
104.                        Sumbawa<br />
105.                        Tambora<br />
Kerajaan-kerajaan di Nusa Tenggara Timur<br />
Kerajaan-kerajaan di Pulau Flores<br />
106.                        Larantuka<br />
107.                        Manggarai<br />
Kerajaan-kerajaan di Pulau Timor<br />
108.                        Amabi<br />
109.                        Amanatun<br />
110.                        Amanuban<br />
111.                        Amarasi<br />
112.                        Amfoan<br />
113.                        Foenay<br />
114.                        Helong<br />
115.                        Insana<br />
116.                        Kupang<br />
117.                        Lamakmen<br />
118.                        Miomaffo<br />
119.                        Molo</p>
<p>Sumber :<br />
<a href="http://sejarahastrologimetafisika.blogspot.com/2009/07/perkembangan-terakhir-proyek-penulisan.html">http://sejarahastrologimetafisika.blogspot.com/2009/07/perkembangan-terakhir-proyek-penulisan.html</a><br />
<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong><strong>Royal Families of the World</strong><strong> <a name="world"><img src="http://www.nobility-royalty.com/1x1.gif" border="0" alt="" hspace="0" vspace="0" width="1" height="1" align="bottom" /></a></strong></p>
<p><strong><a name="world"> </a></strong><strong><a name="world"></a></strong></p>
<div><strong><a name="world"></a></strong></div>
<div><img src="http://www.nobility-royalty.com/1x1.gif" border="0" alt="" hspace="0" vspace="0" width="1" height="11" align="bottom" /></div>
<div>The  following is a list of heads of royal families and royal heads of state  and in some cases the royal heir. This page, however, is incomplete and  in some cases controversy exists about who is the rightful head. We are  working to make this list as accurate and inclusive as possible. The  valid and genuine Princes of India and most of the &#8220;de jure&#8221; royalty of  Asia are unfortunately not included. Any additions or corrections are  most welcome. Thank you.</div>
<div><img src="http://www.nobility-royalty.com/1x1.gif" border="0" alt="" hspace="0" vspace="0" width="1" height="11" align="bottom" /></div>
<p><a name="world">Source :<br />
</a><strong><a name="world"></a><a href="http://www.nobility-royalty.com/id59.htm">http://www.nobility-royalty.com/id59.htm</a></strong></p>
<p><strong> </strong><strong> </strong></p>
</div>
<div>
<p>Diposting oleh Aa Kumis Bdg   di <a title="permanent link" rel="bookmark" href="http://arihm.blogspot.com/2009/09/kronologis-harta-soekarno.html"><abbr title="2009-09-01T16:48:00+07:00">4:48 PM</abbr></a> <a href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=24430083&amp;postID=1505544028457856647">4 komentar</a></p>
</div>
</div>
<div id="blog-pager"><a id="Blog1_blog-pager-older-link" title="Older Posts" href="http://arihm.blogspot.com/search?updated-max=2009-09-01T16%3A48%3A00%2B07%3A00">Older Posts</a> <a href="http://arihm.blogspot.com/">Home</a></div>
<div>
<div>Subscribe to: <a href="http://arihm.blogspot.com/feeds/posts/default" target="_blank">Posts (Atom)</a></div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silsilahbpku.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silsilahbpku.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silsilahbpku.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silsilahbpku.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silsilahbpku.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silsilahbpku.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silsilahbpku.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silsilahbpku.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silsilahbpku.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silsilahbpku.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silsilahbpku.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silsilahbpku.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silsilahbpku.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silsilahbpku.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silsilahbpku.wordpress.com&amp;blog=18742161&amp;post=22&amp;subd=silsilahbpku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silsilahbpku.wordpress.com/2011/01/03/indonesian-national-treasure/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bdd00ed24caa2a566054dc67d3293ca4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">totokzemblem</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://id.embassyofindonesia.eu/wp-content/uploads/2009/04/sby-obama-150x150.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">SBY-Obama di G-20</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.nobility-royalty.com/1x1.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://www.nobility-royalty.com/1x1.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/ajiputih281429_resize.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/100_3354_resize.jpg?w=252" medium="image" />

		<media:content url="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/3-4-o_resize.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/3-2-b_resize.jpg?w=225" medium="image" />

		<media:content url="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/3-3-f_resize.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/3-4-j_resize.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/4-b-_resize.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/2-7-b_resize.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/d15a_resize.jpg?w=225" medium="image" />

		<media:content url="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/100_2826_resize.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/ngp-3_resize.jpg?w=205" medium="image" />

		<media:content url="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/1-6-b_resize.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/1-7-d_resize.jpg?w=225" medium="image" />

		<media:content url="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/1-7-e_resize.jpg?w=225" medium="image" />

		<media:content url="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/3-4-s_resize.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/9_resize.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/13-3_resize.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/16b_resize.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/gongafeungjpg_resize.jpg?w=246" medium="image" />

		<media:content url="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/2-2-b_resize.jpg?w=225" medium="image" />

		<media:content url="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2011/01/16c_resize.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://www.nobility-royalty.com/1x1.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://www.nobility-royalty.com/1x1.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://www.nobility-royalty.com/1x1.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Fisika (Metafisika) Rasa</title>
		<link>http://silsilahbpku.wordpress.com/2011/01/02/fisika-metafisika-rasa/</link>
		<comments>http://silsilahbpku.wordpress.com/2011/01/02/fisika-metafisika-rasa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Jan 2011 04:34:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>totokzemblem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silsilahbpku.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Mekanika klasik bicara tentang gaya yang bekerja pada benda. Ada yang khusus bicara tentang benda diam, disebut statika. Ada yang bicara khusus benda bergerak, disebut kinematika. Sedangkan dinamika bicara tentang pengaruh gaya terhadap gerak benda. Mekanika klasik adalah istilah dari mekanika yang digagas oleh Isaac Newton, melalui Philosophiae Naturalis Principia Mathematica (1687). Newton berhasil menunjukkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silsilahbpku.wordpress.com&amp;blog=18742161&amp;post=18&amp;subd=silsilahbpku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mekanika klasik</strong> bicara tentang gaya yang bekerja pada benda.  Ada yang khusus bicara tentang benda diam, disebut statika. Ada yang  bicara khusus benda bergerak, disebut kinematika. Sedangkan dinamika  bicara tentang pengaruh gaya terhadap gerak benda. Mekanika klasik  adalah istilah dari mekanika yang digagas oleh <strong>Isaac Newton</strong>, melalui <em>Philosophiae Naturalis Principia Mathematica (1687)</em>.</p>
<p>Newton berhasil menunjukkan pengaruh gaya yang bekerja pada suatu  benda (partikel) terhadap kecepatan benda dalam suatu kerangka inersia  (kerangka yang bergerak dengan kecepatan tetap). Bagaimana jika kita  tidak mengenal gaya-gaya yang bekerja pada suatu benda secara persis?  Apakah kita bisa mengetahui fenomena gerak benda? Hukum Newton tidak  menyinggung masalah ini (?)</p>
<p>Untungnya ada <strong>Hamilton</strong>, yang melalui persamaan <em>Lagrange</em>,  mengarahkan kita untuk meninjau energi total partikel, alih-alih  menggunakan gaya total, sebagai besaran fisika untuk memahami gerak  partikel. Energi total yang dimaksud merupakan selisih antara energi  kinetik, yang berhubungan erat dengan kecepatan partikel, dan energi  potensial, yang berhubungan dengan posisi partikel.</p>
<p>Rasa<br />
Ada manis, ada pahit<br />
Ada asam, ada asin<br />
Itu rasa yang bisa diindera oleh lidah kita</p>
<p>Rasa<br />
Ada senang, ada sedih<br />
Ada ikhlas, ada keterpaksaan<br />
Itu rasa yang bisa diindera dengan hati dan perasaan</p>
<p>Rasa<br />
Bisakah fisika menginderanya?<br />
Ataukah kimia mengindera komposisi kimiawi atau ingredient persenyawaan pembangun suatu rasa?<br />
Atau biarkan metafisika berbicara?</p>
<p>Apa itu rasa? Partikel ataukah energi?<br />
Jika rasa itu partikel, apa itu rasa yang bergerak? Berapa energi  kinetik dan energi potensialnya? Bagaimana menentukan massa dari rasa?  Bagaimana dengan momentum setelah terjadi benturan partikel rasa?</p>
<p>Jika rasa itu energi, bagaimana menjelaskan perubahan atau kekekalan  energi rasa? Apa gejala makro dari perubahan energi rasa itu?</p>
<p>Oh, ya. Aku lihat ada buku berjudul <strong>Quantum Ikhlas</strong>.<br />
Ikhlas adalah rasa. Jadi rasa adalah sebuah kuanta, yaitu paket energi  yang berperilaku juga seperti partikel. Itu kuanta yang aku pelajari  dari <strong>Fisika Kuantum</strong>.</p>
<p>Apapun itu, sebuah pendekatan bisa dipakai untuk lebih memahami rasa.  Tentu, itu penting jika kita bermaksud untuk lebih serius mengelola dan  mengendalikan rasa, yang merupakan anugerah besar Tuhan.</p>
<p>Dan, fisika bukan satu-satunya<br />
Tapi salah satu saja</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silsilahbpku.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silsilahbpku.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silsilahbpku.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silsilahbpku.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silsilahbpku.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silsilahbpku.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silsilahbpku.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silsilahbpku.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silsilahbpku.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silsilahbpku.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silsilahbpku.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silsilahbpku.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silsilahbpku.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silsilahbpku.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silsilahbpku.wordpress.com&amp;blog=18742161&amp;post=18&amp;subd=silsilahbpku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silsilahbpku.wordpress.com/2011/01/02/fisika-metafisika-rasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bdd00ed24caa2a566054dc67d3293ca4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">totokzemblem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SUNDA NUSANTARA SEBAGAI INDUK BANGSA</title>
		<link>http://silsilahbpku.wordpress.com/2011/01/02/sunda-nusantara-sebagai-induk-bangsa/</link>
		<comments>http://silsilahbpku.wordpress.com/2011/01/02/sunda-nusantara-sebagai-induk-bangsa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Jan 2011 02:35:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>totokzemblem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silsilahbpku.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Gusti.MKH.Damanik Wed, 17 May 2006 01:33:50 -0700 SUNDA NUSANTARA SEBAGAI INDUK BANGSA Sunda Nusantara merupakan salah satu sejarah yang sangat perlu kita pelajari dan kita ungkap bersama. Dengan sepintas orang dikacaukan dengan nama Sunda Kelapa. Pada dasarnya walaupun ada kemiripan nama, tetapi mempunyai makna lain. Sunda Kelapa identik dengan Batavia, Betawi, Jayakarta, Jakarta sebagai Ibu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silsilahbpku.wordpress.com&amp;blog=18742161&amp;post=15&amp;subd=silsilahbpku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p>Gusti.MKH.Damanik<br />
Wed, 17 May 2006 01:33:50 -0700</p>
</div>
<div>
<pre>SUNDA NUSANTARA SEBAGAI INDUK BANGSA
Sunda Nusantara merupakan salah satu sejarah yang sangat perlu kita
pelajari dan kita ungkap bersama.
Dengan sepintas orang dikacaukan dengan nama Sunda Kelapa. Pada
dasarnya walaupun ada kemiripan nama, tetapi mempunyai makna lain.
Sunda Kelapa identik dengan Batavia, Betawi, Jayakarta, Jakarta
sebagai Ibu Kota Negara Kesatuan Negara Republik Indonesia sekarang
ini.
Sedangkan Sunda Nusantara merupakan suatu Negara yang berbentuk
Kerajaan dengan Pemerintahannya berdasarkan Konstitusi Parlementer
Demokrasi Sejati Reformasi Kerakyatan dan Kemakmuran Bangsa Sunda
Tanah Air di daratan Sunda Nusantara.
Wilayah : Sunda Nusantara memiliki wilayah yang terbentang dari
barat sampai timur dari Jawa sampai dengan Papuniginia (Irian),
bentangan dari selatan sampai dengan utara, mulai dari Timor sampai
dengan selat Malaka-Singapura.
Dalam bentangan ini diklasifikasi dalam bentuk besar kecilnya Nusa
(Pulau) itu sendiri dengan klasifikasi:
1.Klasifikasi kepulauan Sunda Besar :
Jawa(Jawa Dwipa), Sumatera (Andalas), Kalimantan (Borneo), Selat
Malaka-Singapura, Papua Nuginia (Irian)
2.Klasifikasi Pulau Sunda Kecil :
Kepulauan Maluku, Bali, Lombok, Sumbawa, Timor, Sumba, Pulau2 kecil
lainnya yang sampai sekarang masuk pengakuan Negara Kesatuan
Republik Indonesia..

Bangsa :
Bangsa Sunda Nusantara sudah berumur 86000.000 (delapan puluh enam
juta tahun silam) merupakan bangsa tertua di Asia Tenggara sebagai
induk bangsa yang melahirkan bermacam-macam suku-suku di
wilayah /daratan Sunda Nusantara-Sunda Melayu, yang sekarang berubah
nama Negara Kesatuan Negara Republik Indonesia.
Politik :
*Kerajaan Sunda Nusantara sejak abad 15 sudah mengadakan hubungan
diplomatic pada Negara-negara seluruh dunia, sampai dengan saat ini
secara de facto, de yure dan legitimate masih mendapatkan pengakuan
(Internationalle recognized Negara-negara seluruh dunia di bawah
naungan Badan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Mahkamah
International di negeri Belanda.
* Pada akhir perang dunia ke II, kedatangan penjajah bernama
Netherland India Commisiton Administration (NICA) tepatnya tahun
1945-1950 menyerahkan kekuasaannya kepada Republik Indonesia Serikat
(1950) dan mengakibatkan timbulnya pemerintahan baru di bawah
pimpinan Mr. Ir Soekarno dengan beberapa kali pergantian pimpinan
sampai dengan sekarang ini.
* Pemerintahan tersebut diatas berkembang di wilayah Negara lama
yaitu wilayah daratan Kerajaan Maha Raja Sunda-Sunda Nusantara-Sunda
Melayu Nusantara dengan pimpinan kepala Negara dan Kepala
Pemerintahan Sunda-Sunda Nusantara pada abad 18 ini di pimpin oleh
kaisar Achmad (SERI BADUGA MAHARAJA KAISAR SULTAN ACHMAD AL-MISRI)
yang beristana di Jakarta, Bogor, Cipanas, Sorosowan (Banten) dan
Pandegelang.

Sejarah :
Pada abad 18 dengan pesatnya perkembangan Agama Islam di wilayah
Sunda Nusantara pimpinan Sunda Nusantara telah menganut Agama Islam
dengan patuh seperti pada masa 1513-1552 SERI BADUGA BAGINDA
MAHARAJA SUSUHUNAN SYARIEF HIDAYATULLAH AL-MISRI (Sunan Gunung Jati
Wali Sanga/Sembilan) lahir di Mekkah tahun : 1488. yang merupakan
anak dari pasangan RAJA MESIR SYARIEF ABDULAH AL-MISRI (Generasi ke
22 ROSUL SAW) dan NYAI RATU RARA SANTANG AL SARIPAH SITI MUDA'IM
yang wafat di Madinah thn 1528 di makamkan di keluarga Rosul.Sunan
Gunung Jati menikah dengan (Permaisuri) CROWN PRINCE PANGERAN PUTRI
PEMBAYUN yang merupakan putri dari PB. Brawijaya V.  Ajaran Agama
Islam ini dipegang teguh oleh para ahli wari tachta kerajaan
terutama sebagai pimpinan kepala Negara dan kepala pemerintahan.
Pimpinan tertinggi SERI BADUGA MAHARAJA KAISAR SULTAN ACHMAD AL-
MISRI yang wafat pada tahun 1840 di desa Burakan rembang Jawa
Tengah. Dalam peperangan terbuka (10 Mei 1810) dapat menumpas
pasukan Gubernur Jenderal Hindia Belanda  Herman Wiliem Daendeles.
Dalam peperangan itu ditaklukkan (10 Mei 1810-1811) Gubernur
Jenderal HW Daendeles beserta pasukannya menyerah tanpa syarat dan
H.W daendeles dipenjarakannya. Istana Kepala Negara dan Kepala
Pemerintahan terletak di Jakarta, Bogor, cipanas dan sorosowan
(Banten).

Thomas Stamford Raffles (1810-1816) dengan akal cerdiknya mengajak
pimpinan tertinggi Kepala Negara dan kepala pemerintahan Kerajaan
Maharaja Sunda-Sunda Nusantara Kaisar Achmad pergi jalan-
jalan/pelesir ke pulau Banda Maluku (Pulau Sunda Kecil) dengan
alasan menyambut kemenangan tanpa syarat terhadap penumpasan H.W
Deandeles. Selanjutnya Kaisar Achmad di tinggalkan begitu saja
dengan tangan diikat di pulau Banda dan pemerintahan Sunda Nusantara
diambil alih dan pengambilan alihan itu meluas sampai Selat Malaka-
Singapura. Sunda Nusantara yang sudah sejak 86 juta silam dan sudah
berhubungan diplomatic sejag abad 15, perjalanan sejarahnya
mengalami beberapa peristiwa sejarah didalamnya. Dari bentuk
kerajaan hinga Republik sekarang ini.

A ------B------B------C-------D-------E-----F------G-----H

A-H : Bentangan sejarah Sunda Nusantara kurun waktu kurang lebih 86
juta tahun.
B-B : Bentuk Zaman Kerajaan
C : Peristiwa kebangkitan bangsa oleh Alumnus dari Negri Belanda
D : tahun 1945 Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan RI
E : tahun 1947/48 Clash I&amp;II Belanda ingin merebut kembali
F : tahun 1950 Negara Indonesia  Serikat (RIS)
G : tahun 1959 Dekrit Presiden, gugurnya Republik Indonesia Serikat
(RIS) menjadi Republik Indonesia (RI) kembali s/d sekarang
H : tahun 2006 Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Kesejahteraan seluruh bangsa rakyat Sunda Nusantara didaratan Sunda
Nusantara-Sunda Melayu sampai saat ini di simpan di 93 Negara dalam
bentuk assat-asset :
Collaterals in federal reserve certificate of the united states
America Bound Guarantee
Redland Merchant Bank of Switzerland
Obligation certificate of deposit credit Swiss Bank International
Certificate of Swiss Bank Corporation Obligation treasure Bound
National Bank of England
Bank de Netherlands
City Bank New York and United Overseas Bank Singapore
Selain itu asset-asset ini juga berbentuk logam mulia, platinum, dan
benda-benda berharga lainnya yang dikumpulkan oleh Raja-raja di
seluruh Sunda Nusantara di daratan Sunda Melayu Nusantara Bangsa
Sunda Nusantara di daratan Sunda Nusatara di kepulauan Sunda Besar-
Sunda Kecil, Di samping itu masih tersimpan uang sebesar 4000
triliun poundsterling yang tersimpan di Negara Inggris. Dapat
dibayangkan betapa besarnya asset-asset bangsa Sunda Nusantara yang
hingga saat ini masih tersimpan dan tersebar di luar negeri yang di
sebut the making of a super power dan Sunda Nusantara Dollar
Trilion, milik pemerintah Negara Kerajaan Bangsa Sunda Nusantara.
Seandainya Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
dipimpin oleh Bpk. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat ini
berkenan untuk mengakses dan mengakomodasi eksisnya kerajaan Sunda
Nusantara, kiranya sangat membantu mengatasi penderitaan
bangsa/rakyat yang telah mengalami keterpurukan hidup yang menimpa
sampai saat ini. Di samping itu asset-aset tersebut dapat di
pergunakan untuk melunasi hutang pemerintah yang menggunung sejak
Presiden Soeharto sampai dengan saat ini. Sehingga kesejahteraan,
keadilan dan kemakmuran bangsa Indonesia cepat terwujud sesuai
dengan cita-cita yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 khususnya
alinea kedua (tata tentrem karta tur raharja, adil berkemakmuran,
makmur berkeadilan) Insya Allah.
Untuk mendapatkan kebenaran secara akurat, tentunya masih diperlukan
pengkajian, penelitian dan penganalisaaan lebih lanjut. Semoga kita
semua selalu mendapat perlindungan dari Allah SWT, Amien ya
robbal'allamin.

------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--&gt;
Home is just a click away.  Make Yahoo! your home page now.
<a rel="nofollow" href="http://us.click.yahoo.com/DHchtC/3FxNAA/yQLSAA/IotolB/TM">http://us.click.yahoo.com/DHchtC/3FxNAA/yQLSAA/IotolB/TM</a>
--------------------------------------------------------------------~-&gt; 

PENTING..!

attachment akan dihapus &amp; tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu
mengupdate antivirusnya.

Yahoo! Groups Links

&lt;*&gt; To visit your group on the web, go to:
    <a rel="nofollow" href="http://groups.yahoo.com/group/kisunda/">http://groups.yahoo.com/group/kisunda/</a>

&lt;*&gt; To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

&lt;*&gt; Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    <a rel="nofollow" href="http://docs.yahoo.com/info/terms/">http://docs.yahoo.com/info/terms/</a></pre>
</div>
<div>
<ul>
<li>
<div>[kisunda] SUNDA NUSANTARA SEBAGAI INDUK BANGSA Gusti.MKH.Damanik</div>
<ul>
<li> <a name="04129" href="http://www.mail-archive.com/kisunda@yahoogroups.com/msg04129.html">Re: [kisunda] SUNDA NUSANTARA SEBAGAI INDUK BANGSA</a> Dudi Herlianto
<ul>
<li> <a name="04130" href="http://www.mail-archive.com/kisunda@yahoogroups.com/msg04130.html">Re: [kisunda] SUNDA NUSANTARA SEBAGAI INDUK BANGSA</a> mj
<ul>
<li> <a name="04143" href="http://www.mail-archive.com/kisunda@yahoogroups.com/msg04143.html">Re: [kisunda] SUNDA NUSANTARA SEBAGAI INDUK BANGSA</a> Dudi Herlianto</li>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
<li> <a name="04131" href="http://www.mail-archive.com/kisunda@yahoogroups.com/msg04131.html">Re: [kisunda] SUNDA NUSANTARA SEBAGAI INDUK BANGSA</a> Agus K \&#8221;PAKUSARAKAN\&#8221;</li>
<li> <a name="04133" href="http://www.mail-archive.com/kisunda@yahoogroups.com/msg04133.html">Re: [kisunda] SUNDA NUSANTARA SEBAGAI INDUK BANGSA</a> dudi s.suradiredja
<ul>
<li> <a name="04135" href="http://www.mail-archive.com/kisunda@yahoogroups.com/msg04135.html">Re: [kisunda] SUNDA NUSANTARA SEBAGAI INDUK BANGSA</a> hendra damanik
<ul>
<li> <a name="04137" href="http://www.mail-archive.com/kisunda@yahoogroups.com/msg04137.html">Re: [kisunda] SUNDA NUSANTARA SEBAGAI INDUK BANGSA</a> dudi s.suradiredja
<ul>
<li> <a name="04138" href="http://www.mail-archive.com/kisunda@yahoogroups.com/msg04138.html">Re: [kisunda] SUNDA NUSANTARA SEBAGAI INDUK BANGSA</a> kumincir</li>
<li> <a name="04139" href="http://www.mail-archive.com/kisunda@yahoogroups.com/msg04139.html">Re: [kisunda] SUNDA NUSANTARA SEBAGAI INDUK BANGSA</a> mh</li>
</ul>
</li>
<li> <a name="04154" href="http://www.mail-archive.com/kisunda@yahoogroups.com/msg04154.html">[kisunda] Re: SUNDA NUSANTARA SEBAGAI INDUK BANGSA</a> .:: kIPeR pERsIb ::.</li>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
</ul>
</div>
<p>Reply via email to</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silsilahbpku.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silsilahbpku.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silsilahbpku.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silsilahbpku.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silsilahbpku.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silsilahbpku.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silsilahbpku.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silsilahbpku.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silsilahbpku.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silsilahbpku.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silsilahbpku.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silsilahbpku.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silsilahbpku.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silsilahbpku.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silsilahbpku.wordpress.com&amp;blog=18742161&amp;post=15&amp;subd=silsilahbpku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silsilahbpku.wordpress.com/2011/01/02/sunda-nusantara-sebagai-induk-bangsa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bdd00ed24caa2a566054dc67d3293ca4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">totokzemblem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pewaris Pajajaran</title>
		<link>http://silsilahbpku.wordpress.com/2010/12/31/pewaris-pajajaran/</link>
		<comments>http://silsilahbpku.wordpress.com/2010/12/31/pewaris-pajajaran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Dec 2010 06:51:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>totokzemblem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silsilahbpku.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Angkawijaya atau Pangeran Kusumahdinata II, lebih dikenal dengan sebutan Geusan Ulun di nobatkan pada tanggal 10 bagian terang bulan Posya tahun 1502 Saka, bertepatan dengan tanggal 18 November 1580. Ia menggantikan Pangeran Santri yang wafat pada tahun 1579 M. Lajimnya seorang raja, biasanya memiliki simbul-simbul tertentu dari tradisi dikerajaannya sehingga dengan penguasaan simbol tersebut maka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silsilahbpku.wordpress.com&amp;blog=18742161&amp;post=4&amp;subd=silsilahbpku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Angkawijaya atau Pangeran Kusumahdinata II, lebih dikenal dengan sebutan Geusan Ulun di nobatkan pada tanggal 10 bagian terang bulan Posya tahun 1502 Saka, bertepatan dengan tanggal 18 November 1580. Ia menggantikan Pangeran Santri yang wafat pada tahun 1579 M.</div>
<div>Lajimnya seorang raja, biasanya memiliki simbul-simbul tertentu dari tradisi dikerajaannya sehingga dengan penguasaan simbol tersebut maka seorang raja akan lengkap mendapat legitimasi, baik secara de facto maupun de jure.</div>
<div>Sama dengan peristiwa yang dialami Geusan Ulun, pengganti Pangeran Santri. Ia bukan sekedar penguasa Sumedang Larang melainkan juga “diistrenan” sebagai pewaris syah tahta Pajajaran. Masalah ini menjadi sangat menarik untuk dibahas, mengingat saat itu eksistensi Cirebon dan Banten masih ada, bahkan selain memiliki kekuatan riil juga masih trah raja Sunda.</div>
<div>Ada dua simbol yang dapat melengkapi pengesahan pelantikan raja-raja di Pajajaran, yakni : Mahkota raja dan atrbutnya (kalung bersusun dua dan tiga, serta perhiasan lainnya seperti benten, siger, tampekan, dan kilat bahu) serta batu palangka, tempat dilantiknya raja-raja Pajajaran. Memang yang digunakan Angkawijaya pada saat pelantikannya adalah seperangkat Mahkota dan pakaian raja, sedangkan batu palangka telah diboyong Panembahan Yusuf ke Surasowan.</div>
<div>Didalam Pustaka Kertabhumi ½ dikisahkan :</div>
<ul>
<li>
<div><em>“Geusan Ulun nyakrawati mandala ning Pajajaran kang wus pralaya, ya ta sirna, ing bhumi Parahyangan. Ikang kedatwan ratu Sumedang heneng Kutamaya ri Sumedangmandala” (Geusan Ulun memerintah wilayah Pajajaran yang telah runtuh, yaitu sirna, di bumi Parahyangan. Keraton raja Sumedang ini terletak di Kutamaya dalam daerah Sumedang).</em></div>
</li>
</ul>
<div>Kemudian ditegaskan pula, bahwa: “Rakyan Samanteng Parahyangan mangastungkara ring sirna Pangeran Ghesan Ulun” (Para penguasa lain di Parahyangan merestui Pangeran Geusan Ulun).</div>
<div><strong>Simbol raja Pajajaran.</strong></div>
<div>Pasca penyerangan Banten ke Pakuan dan Pakuan sudah tidak berfungsi sebagai ibukota. Sebagian penduduk telah mengungsi ke wilayah pantai selatan, membuat pemukiman baru didaerah Cisolok dan Bayah (mungkin juga cerita komunitas Abah Anom didaerah Ciptarasa mulai dari sini), sebagian lagi mengungsi ke timur, diantaranya terdapat pembesar kerajaan, seperti Senapati Jayaprakosa atau Sanghyang Hawu, Batara Dipati Wiradijaya atau Embah Nangganan, Sanghyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana atau Embah Terong Peot.</div>
<div>
<div><a href="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2010/12/sumedanglarang.jpg"><img src="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2010/12/sumedanglarang.jpg?w=400&#038;h=298" border="0" alt="" width="400" height="298" /></a></div>
<div>Mahkota Raja Pajajaran</div>
<p>Ketika meloloskan diri dari Pakuan, Jayaperkosa membawa (menyelamatkan) Mahkota dan atribut raja Pajajaran ke Sumedang Larang, yang menjadi simbol raja Pajajaran. Atribut sebagai simbol yang perlu dimiliki raja-raja Pajajaran. Selain itu biasanya raja-raja Pajajaran diistrenan diatas batu Gilang batu gilang atau palangka batu sriman sriwacana.</p>
</div>
<div>Berakhirlah jaman Pajajaran (1482 &#8211; 1579), ditandai pula dengan diboyongnya Palangkan Sriman Sriwacana (Tempat duduk tempat penobatan tahta) dari Pakuan ke Surasowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf. Batu berukuran 200 x 160 x 20 cm itu di boyong ke Banten karena tradisi politik waktu itu &#8220;mengharuskan&#8221; demikian. Pertama, dengan dirampasnya Palangka tersebut, di Pakuan tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru. Kedua, dengan memiliki Palangka itu, Maulana Yusuf merupakan penerus kekuasaan Pajajaran yang &#8220;sah&#8221; karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja.</div>
<div>Tentang sakralitas batu tersebut diceritakan pula dalam Carita Parahiyangan di beritakan sebagai berikut :</div>
<ul>
<li>
<div>• &#8220;Sang Susuktunggal inyana nu nyieuna palangka</div>
</li>
<li>
<div>• Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja</div>
</li>
<li>
<div>• Ratu Haji di Pakwan Pajajaran nu mikadatwan Sri Bima</div>
</li>
<li>
<div>• Punta Narayana Madura Suradipati,</div>
</li>
<li>
<div>• inyana Pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata</div>
</li>
</ul>
<div>
<div>(Sang Susuktunggal ialah yang membuat tahta Sriman Sriwacana untuk Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan Pajajaran yang bersemayam di keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati yaitu istana Sanghiyang Sri Ratu Dewata).</div>
<div>Batu Pangcalikan bisa ditemukan, misalnya di makam kuno dekat Situ Sangiang di Desa Cibalanarik, Kecamatan Sukaraja, Tasikmalaya dan di Karang Kamulyan bekas pusat Kerajaan Galuh di Ciamis. Sementara Batu Ranjang dengan kaki berukir dapat ditemukan di Desa Batu Ranjang, Kecamatan Cimanuk, Pandeglang (pada petakan sawah yang terjepit pohon).</div>
<div>Kata Palangka secara umum berarti tempat duduk (pangcalikan). Bagi raja berarti Tahta. Dalam hal ini adalah Tahta Nobat yaitu tempat duduk khusus yang hanya digunakan pada upacara penobatan. Di atas Palangka itulah ia diberkati (diwastu) oleh pendeta tertinggi. Tempatnya berada di Kabuyutan Kerajaan, tidak di dalam istana. Sesuai dengan tradisi, tahta itu terbuat dari batu dan digosok halus mengkilap. Batu Tahta seperti ini oleh penduduk biasanya disebut Batu Pangcalikan atau Batu Ranjang (bila kebetulan dilengkapi dengan kaki seperti balai-balai biasa).</div>
<div>Palangka Sriman Sriwacana sendiri saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surasowan di Banten. Karena mengkilap, orang Banten menyebutnya Watu Gigilang. Kata Gigilang berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.</div>
<div>Kehancuran Pakuan berdasarkan versi Banten dikarenakan ada pengkhianatan dari “orang dalam yang sakit hati”. Konon terkait dengan masalah jabatan. Saat itu ia bertugas menjaga pintu gerbang dan membukanya dari dalam untuk mempersiapkan pasukan Banten memporakporandakan Pakuan. Benteng Pakuan akhirnya dapat ditaklukan. Penduduk Pakuan yang dengan susah payah membangun kembali kehidupannya pasca penyerangan kedua kembali dilanda bencana maut. Mereka dibinasakan tanpa ampun. keraton Sri Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati yang dijadikan simbol Pajajaran dibumi hanguskan.</div>
<div>Sebagian penduduk Pakuan yang ada pertalian darah dengan keluarga keraton, ikut mengungsi dengan satu-satunya raja yang bersedia meneruskan tahta Pajajaran, yaitu Sang Ragamulya Suryakancana, putra Prabu Nilakendra. Ia mengungsi ke wilayah barat laut, tepatnya di lereng Gunung Pulasari Pandeglang, Kampung Kadu Hejo, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang.</div>
<div>Menurut legenda “Kadu Hejo”, di daerah Pulasari (tempat situs Purbakala) terdapat peninggalan seorang raja tanpa membawa mahkota. Ia kemudian memerintah sebagai raja pendeta, tetapi akhirnya dihancurkan oleh Pasukan Banten yang menyerang kerajaan itu.</div>
<div>Ketiadaan pakaian dan perangkat raja dimaksud dapat pula dikaitkan dengan cerita lain. Dalam kisahnya disebutkan bahwa mahkota dan pakain kerajaan Pajajaran disimpan di musium Sumedang (Musium Geusan Ulun). Menurut riwayat mahkota tersebut dibawa oleh Jaya Perkosa dari Pakuan dan adik-adiknya, yakni Batara Dipati Wiradijaya atau Embah Nangganan, Sanghyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana atau Embah Terong Peot, kemudian diserahkan untuk digunakan oleh Geusan Ulun pada saat pelantikannya. Dengan penggunaan perangkat tersebut maka Geusan Ulun dianggap syah sebagai pewaris tahta Pajajaran.</div>
<div>Pasca penghancuran Pakuan kemudian Banten mengarahkan serangannya ke Pulasari, Prabu Ragamulya Suryakancana bersama pengikutnya yang setia berupaya melawan sekuat tenaga. Namun pada akhirnya Ragamulya Suryakancana bersama pengikutnya gugur di Pulasari.</div>
<div>Menurut Wangsakerta dalam Pustaka Rajyarajya Bhumi Nusantara parwa III sarga I halaman 219. : Pajajaran sirna ing bhumi ing ekadaci cuklapaksa Wesakhamasa saharsa limangatus punjul siki ikang cakakala. (Pajajaran lenyap dari muka bumi tanggal 11 bagian terang bulan Wesaka tahun 1501 Saka” bertepatan dengan tanggal 11 Rabiul’awal 987 Hijriyah, atau tanggal 8 Mei 1579 M).</div>
<div><strong>Geusan Ulun Penerus tahta</strong></div>
<div>Prabu Geusan Ulun (1580-1608 M) dinobatkan untuk menggantikan kekuasaan ayahnya, Pangeran Santri. Ia menetapkan Kutamaya sebagai ibukota kerajaan Sumedang Larang, yang letaknya di bagian Barat kota. Wilayah kekuasaannya meliputi Kuningan, Bandung, Garut, Tasik, Sukabumi (Priangan) kecuali Galuh (Ciamis).</div>
<div>Luas daerah Sumedang Larang pada masa Geusan Ulun dapat diteliti dari surat Rangga Gempol 3 yang ditujukan kepada Gubernur Jendral Willem Van Outhorn, yang dibuat pada tanggal 31 Januari 1691. Dalam surat tersebut ia meminta agar luas wilayah Sumedang dipulihkan sebagai jaman Geusan Ulun. Yang membawahi 44 penguasa daerah yang terdiri dari 26 Kandaga lante dan 18 umbul (menurut babad hanya 4 buah yang berstatus kanda lante). Pada waktu itu Rangga Gempol III hanya menguasai 11 dari Kandage Lante.</div>
<div>Jika dibentangkan dalam peta, daerah kekuasaan Geusan Ulun meliputi wilayah Kabupaten Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Bandung. Sebelah timur berbatasan dengan garis Cimanuk – Cilutung dan Sindangkasih (Cideres – Cilutung), sebelah barat garis Citarum – Cisokan. Memang pada saat itu telah ada beberapa daerah yang masuk Cirebon, seperti Ciamis dan Majalengka yang direbut Cirebon dari Pajajaran pada tahun 1528 M, serta Talaga pada tahun 1530 M.</div>
<div>Sebagaimana diuraikan diatas, Geusan Ulun mendapat dukungan dari para Veteran Senapati Pajajaran, yakni Jayaperkosa dan adik-adiknya. Mereka merasa gagal mempertahankan pakuan dan berniat membangun kembali kejayaan Pajajaran melalui Sumedang Larang. Alasan ini pula yang menyebabkan mereka menyerakan perangkat dan simbol-simbol raja Pajajaran ke Sumedang Larang.</div>
<div>Didalam Pustaka Kertabhumi menjelaskan mengenai para senapati tersebut, bahwa :</div>
<ul>
<li>
<div>“Sira paniwi dening Pangeran Ghesan Ulun. Rikung sira rumaksa wadyabala, sinangguhan niti kaprabhun mwang salwirnya” (Mereka mengabdi kepada Prabu Geusan Ulun. Di sana mereka membina bala tentara, ditugasi mengatur pemerintahan dan lain-lainnya). Konon kabar para senapati tersebut masih keturunan Sang Bunisora (Sunda Galuh).</div>
</li>
</ul>
<div>Suatu hal yang menarik tentang pelantikan Geusan Ulun, ketika itu ia masih berumur sangat muda (23 tahun), namun ia disepakati oleh 44 penguasa di tatar Parahyangan untuk menjadi penguasa Parahyangan. Padahal ayahnya sendiri, yakni Pangeran Santri tidak memiliki kekuasan yang luas demikian.</div>
<div>Tentunya ada suatu gerakan yang mampu meyakinkan para penguasa daerah untuk mengabdi kepada Geusan Ulun sebagai penerus tahta Pajajaran. Konon inilah salah satu keberhasilan Jayaperkosa dan saudara &#8211; saudaranya dalam upayanya mempersatukan puing-puing wilayah Pajajaran. Disini pula dapat dinilai tentang kebesaran pengaruh Jayaperkosa bersama adik-adiknya terhadap para penguasa di Parahyangan.</div>
<div>Menurut buku rpmsjb : “Dengan tokoh Jayaperkosa bersama adik-adiknya sebagai jaminan, para raja daerah Parahyangan dapat menerima dan merestui tokoh Geusan Ulun menjadi narendra baru pengganti penguasa Pajajaran yang telah sirna. Faktor Geusan Ulun dan faktor politik inilah yang mungkin yang telah “menunda” penobatan Geusan Ulun menjadi penguasa Sumedang Larang sampai setahun lebih sejak kemangkatan Pangeran Santri”.</div>
<div>Secara politis penobatan Geusan Ulun dapat diartikan sebagai suatu bentuk memproklamirkan kebebasan Sumedang dan mensejajarkan diri dengan Kerajaan Banten dan Cirebon. Selain itu menurut rpmsjb dapat pula disimpulkan adanya pernyataan, bahwa : “Sumedang menjadi ahli waris serta penerus yang sah dari kekuasaan Pajajaran di Bumi Parahyangan. Mahkota dan beberapa atribut kerajaan yang dibawa oleh Senapati Jayaperkosa dari Pakuan dengan sendirinya dijadikan bukti dan alat legalisasi sama halnya dengan pusaka kebesaran Majapahit menjadi ciri keabsahan Demak, Pajang, dan kemudian Mataram”.&nbsp;</p>
<div><strong>Bahan Bacaan :</strong></div>
<ul>
<li>
<div>Sumedang Larang (wikipedia, 17 Maret 2010).</div>
</li>
<li> Sejarah singkat Kabupaten Sumedang (http://www.sumedang.go.id – Pemda Sumedang, 17 Mei 2010</li>
<li> Rintisan masa silam sejarah Jawa Barat – Proyek Penerbitan Sejarah Jawa Barat Pemeirntahan Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat, Tjetjep Permana, SH dkk. 1983 – 1984.</li>
<li> Bupati Di Priangan – dan Kajian Lainnya mengenai Budaya Sunda, Pusat Studi Sunda 2004.</li>
<li> Sejarah Jawa Barat, Yoseph Iskandar – Geger Sunten Bandung 2005.</li>
</ul>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silsilahbpku.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silsilahbpku.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silsilahbpku.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silsilahbpku.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silsilahbpku.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silsilahbpku.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silsilahbpku.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silsilahbpku.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silsilahbpku.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silsilahbpku.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silsilahbpku.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silsilahbpku.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silsilahbpku.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silsilahbpku.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silsilahbpku.wordpress.com&amp;blog=18742161&amp;post=4&amp;subd=silsilahbpku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silsilahbpku.wordpress.com/2010/12/31/pewaris-pajajaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bdd00ed24caa2a566054dc67d3293ca4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">totokzemblem</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://silsilahbpku.files.wordpress.com/2010/12/sumedanglarang.jpg?w=130" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://silsilahbpku.wordpress.com/2010/12/31/hello-world/</link>
		<comments>http://silsilahbpku.wordpress.com/2010/12/31/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Dec 2010 06:44:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>totokzemblem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://silsilahbpku.wordpress.com/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silsilahbpku.wordpress.com&amp;blog=18742161&amp;post=1&amp;subd=silsilahbpku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="https://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/silsilahbpku.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/silsilahbpku.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/silsilahbpku.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/silsilahbpku.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/silsilahbpku.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/silsilahbpku.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/silsilahbpku.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/silsilahbpku.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/silsilahbpku.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/silsilahbpku.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/silsilahbpku.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/silsilahbpku.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/silsilahbpku.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/silsilahbpku.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=silsilahbpku.wordpress.com&amp;blog=18742161&amp;post=1&amp;subd=silsilahbpku&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://silsilahbpku.wordpress.com/2010/12/31/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bdd00ed24caa2a566054dc67d3293ca4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">totokzemblem</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
